
Hari berlalu begitu cepat, setiap orang yang terluka sudah mulai sadar dan pulih dari kondisinya. Namun, tidak dengan Jessi, wanita tersebut masih tertidur untuk waktu yang cukup lama karena racun yang belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya.
Obat penawar racikan Applepen baru bisa memastikan jika janin dalam kandungannya akan aman dari efek racun yang menjalar dan menghentikannya menyebar ke seluruh tubuh.
Hal itu lebih baik daripada sebelumnya karena racun racikan Brian perlahan mulai menggerogoti dan merusak fungsi organ penting dalam tubuh Jesi setiap harinya. Beruntung semua bisa dihentikan tepat waktu sebelum terlambat sebab kondisi wanita tersebut selalu dipantau setiap waktu oleh tenaga medis serta keluarganya tanpa henti.
"Tuan, Nona, Nyonya." George menyapa ketiga orang yang kini berada di kamar perawatan Jessi.
Dia mengunjungi rumah sakit setelah menyelesaikan semua urusannya di kediaman Light. Terlihat Nenek Amber, Jane, dan Nich berkumpul di dalam ruangan tersebut untuk menjaga Jessi secara bergantian.
"Ada apa?" tanya Nicholas.
"Tuan, salah satu bawahan Jerry Morning adalah orang yang berkhianat setelah bertemu dengan Nyonya Jessi beberapa saat yang lalu. Haruskah kita langsung menghukum nya terlebih dahulu, Tuan?"
Hal tersebut tentu saja membuat Nich mengepalkan tangannya dengan kuat karena geram. Berani-beraninya seseorang berkhianat kepada istrinya. Namun, dia juga tidak bisa bertindak gegabah sebelum Jessi sadar. Pria tersebut tidak ingin istrinya kecewa jika memusnahkan para kecoa itu tanpa menunggunya dan hal tersebut bisa merusak suasana hati istrinya yang sedang hamil.
"Biarkan dulu! Cukup siksa dan jangan biarkan mereka mati hingga istriku pulih!"
"Baik, Tuan kalau begitu saya permisi dulu!" George membungkuk hormat. Dia lantas pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk beralih menjenguk Jackson yang sedang menjaga ibunya di ruangan lain.
Sementara itu, Nicholas yang selalu berada di samping Jessi tidak tahan melihat kondisi istrinya yang selalu berbaring dan tak lagi bercanda seperti biasanya.
"Jane, aku titip Jessi sebentar!" Pria tersebut beranjak dari kursi, semenjak sang istri dirawat dia tidak pernah sekalipun pergi dari kamar ini, walaupun nanya sekejap.
__ADS_1
"Kau ingin pergi?" tanya Jane yang duduk di sofa bersama Nenek Amber dengan tangan yang masih terpasang infus karena kondisinya juga masih belum pulih sepenuhnya, tetapi selalu memaksa agar berada di samping adiknya.
"Aku akan pulang sebentar."
"Pergilah!"
Pria tersebut hanya mengangguk sejenak, lalu mengecup dahi istrinya dan mengelus perut rata berisikan benih berkualitas miliknya, sebelum beranjak pergi meninggalkan keluarga kecilnya tersebut.
"Aku akan aku akan segera kembali, Sayang." Dia lantas melangkah keluar ruangan. Biasanya setiap siang Nich akan menunggu Jessi bersama Nenek Amber dan Jane. Lalu, ketika malam tiba Laura akan datang membawakan pakaian ganti putranya dan ikut menjaga menantunya hingga pagi menjelang.
Nich bergerak menuju kediaman Light. Dia tidak bisa hanya menunggu istrinya berbaring begitu saja tanpa melakukan apapun, Brain pasti memiliki sesuatu yang bisa membuat sang istri segera pulih dari kondisinya. Dengan kecepatan tinggi pria tersebut mengemudikan mobilnya untuk pulang.
"Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada istriku!" Sorot matanya terlihat begitu tajam, kilatan amarah tak lagi mampu dipendamnya.
Berhari-hari melihat sang istri terbaring lemah di rumah sakit membuat jiwanya seakan melayang begitu saja. Rasa sakit hanya untuk menunggu dan takut akan kehilangan istrinya kapan saja membuat pria tersebut frustrasi dengan kondisi saat ini.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya pria tersebut tiba di kediaman Light. Langkahnya tegas menuju markas tempat para Terminator menjaga tawanan mereka.
Sesampainya di pintu ruangan tersebut, dia menghentikan langkahnya sejenak. "Kau, carikan aku tikus pengerat!" perintahnya kepada salah satu robot yang berjaga.
"Baik, Tuan."
Selama ini memang Robot Terminator lah yang secara bergantian menjaga tahanan. Bukan tanpa alasan, tetapi banyak anak buah Jessi yang terluka karena pertempuran itu. Entah mengapa anak buah Jerry bisa menyerang membabi buta layaknya robot karena itulah Terminator ditugaskan untuk menjaga agar mereka bisa memulihkan diri. Lagi pula dengan cara ini Nicholas bisa memantau mereka setiap waktu.
__ADS_1
Nich membuka pintu besi tersebut, lantas melangkah memasuki markas besar tempat para tawanan. Mereka di tempatkan terpisah dalam penjara berlapis baja yang bisa dipastikan keamanannya.
"Buka pintunya!" Seorang robot membuka pintu yang telah dilengkapi keamanan total tersebut.
Terlihat Brian terbaring di sebuah brankar dengan kondisi terikat kuat di seluruh tubuhnya. Robot pun meletakkan sebuah kursi untuk Nich duduk.
Pria tersebut menatap Brian dengan amarah yang dia tahan. "Bukankah kau sudah sadar? Kenapa masih berpura-pura?"
Seketika sebuah tawa menggelegar memenuhi ruangan tersebut. Brian membuka mata, melirik pria di depannya. "Melihat ekspresimu saat ini, sepertinya Jessi masih belum mati."
Mendengar hal tersebut, tangan Nicholas mengepal kuat, hingga menampakkan garis biru yang menonjol di kulitnya. Gemuruh dalam dada membuatnya seakan ingin segera membunuh Brian saat ini. Namun, bukan kapasitasnya.
Kembali dia menetralkan emosinya terlebih dahulu. "Istriku sudah sehat, sepertinya racun racikan tidak bekerja pada tubuhnya." Nich sengaja memprovokasi Brian dengan menyebut Jessi sebagai istrinya dan mengatakan bahwa wanita tersebut baik-baik saja agar pria itu kalap dan membongkar segalanya.
"Tidak mungkin! Kau pasti bohong!" Brian tetap teguh pada pendiriannya. Racun yang selama ini dia buat tidak pernah gagal dan mustahil bagi Jessi untuk selamat.
"Jika benar sesuatu terjadi pada istriku bukankah kau juga tidak akan bisa benapas hingga saat ini." Nich menyilangkan kaki dengan elegan, menatap tajam ke arah Brian. "Aku datang kemari hanya ingin memberimu satu kabar baik. Istriku tengah mengandung benih kami, jadi kau bisa mati dengan tenang." Sebuah seringai jahat terlukis indah di wajah tampan Nicholas.
Pernyataannya tentu saja membuat Brian langsung kehilangan kendali. "Tidak, tidak mungkin! Jessi hanya milikku, dia hanya boleh mengandung anakku. Argh! Lepaskan ini, lepaskan! Kalian tidak boleh bahagia!" Pria tersebut terus saja meronta-ronta dengan tubuh yang diikat.
Dia sangat tidak bisa menerima apa yang saat ini terjadi. "Kau pasti bohong! Racun racikanku adalah temuan baru khusus untuknya dan hanya aku yang memiliki penawarnya. Kau pasti bohong!"
"Benarkah? Seharusnya aku mengajak Jessi kemari, tapi mau bagaimana lagi. Dia sedang mengidam ingin makan kaki pedas." Nich perlahan melangkah mendekati Brian, membisikkan sesuatu di telinga pria tersebut. "Bagaimana kalau aku mengambil kakimu untuk dibuat kaki pedas?"
__ADS_1
Brian membelalakkan mata mendengar penuturan Nicholas. Apa pria ini sama psycopathnya dengannya.
To Be Continue....