Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Rencana Jerry


__ADS_3

Kala itu Jessi yang masih menikmati tidur sore tiba-tiba dikejutkan dengan ketukan dari luar pintu kamar. Dengan mata masih enggan terbuka wanita itu mulai terbangun.


"Ada apa mereka menggangguku?" Tidak biasanya ada orang yang berani mengusik mimpinya jika bukan karena hal penting. Oleh sebab itu, meskipun kelopak mata masih enggan terbuka, tetapi tangannya terulur untuk memutar gagang pintu dengan sayup. "Ada apa?"


Terlihat George sudah ada di sana dengan wajah panik. "Nona, terjadi sesuatu pada istri Jackson."


"Apa yang terjadi?" Jessi seketika tersadar dari mimpi dengan nyawa yang mulai terkumpul sepenuhnya.


"Dia diculik ketika sedang menjemput putrinya. Anak buah kita yang menjaga hanya tersisa satu, datang membawa Angelina kemari."


"Sial! Panggil Jackson kemari! Aku akan ganti baju sebentar." Pria itu mengangguk, Jessi lantas kembali menutup pintu. Tidak mungkin dia melawan musuh menggunakan baju tidur.


Tak butuh waktu lama, Jackson yang sedang kacau terlihat mulai memasuki kediaman, sedangkan anak buah yang lain juga sudah berkumpul di ruangan.


"Nona." Dengan wajah emosi yang masih bergelora Jackson menyapa sang nona.


"Kau tahu apa yang terjadi?" Jessi menyilangkan kedua tangan di tubuhnya, dengan pandangan mata tajam menatap anak buahnya tersebut.


Pria itu menggangguk dengan lesu, membuat Jessi memejamkan mata sejenak dan mengembuskan napas kasar. "Katakan!"


Jackson merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah foto yang diterima beberapa hari yang lalu.


"Siapa dia?" Jessi mengernyitkan dahi, melihat seorang wanita dengan kondisi terpasung. Kurus dan tak terawat, sangat memprihatinkan.


"Ibuku."


Wanita itu seketika melebarkan mata menatap tajam ke arah anak buahnya. Selama ini mereka mengira kedua orang tua Jackson sudah tewas dalam kecelakaan, tidak menyangka ternyata ibunya masih hidup.


"Dari mana kau mendapatkannya?" Jessi membaca tulisan di baliknya, lalu memegang foto itu tinggi-tinggi.


"Beberapa hari yang lalu seseorang mendatangi kantor dan mengirim itu."


"Kau mengenalnya?" Pria itu menggeleng, pikiran tentang kedua wanita yang paling berharga dalam hidup membuat Jackson terlihat linglung. "Maurer, cari tahu siapa dia!"


"Baik, Nona." Wanita itu pun menjalankan tugasnya dengan segera.


"Apa lagi yang kau dapat?" Jackson merogoh ponsel di saku dan menyerahkan kepada Jessi, memperlihatkan video di mana ibunya terlihat begitu mengenaskan. Bahkan sepertinya kesehatan mentalnya mulai terganggu.


"Sudah ketemu, Nona." Maurer memperlihatkan video seseorang yang tidak dikenalnya datang ke perusahaan Jaguar Guard, untuk menemui Jackson.

__ADS_1


"Dion." Tangan Jessi mengepal kuat, sedangkan anak buah yang lain juga terlihat merasa geram. Beberapa hari ini keberadaan pria itu menghilang dan sekarang malah berdiri di posisi musuh.


"Tidak bisa dipercaya!" Jessi paling membenci sebuah pengkhianatan, wanita itu terlihat sangat geram mengingat terakhir kali dia dikhianati.


"Kau mengenal pelakunya?" Tatapan tajam ke arah Jackson, seolah bersiap menerkam terlihat jelas di wajah Jessi.


"Jerry."


Tak terasa rasa pening membuat Jessi memijit pelipisnya dengan kedua jemari. "Sial! Sepertinya dia sudah sangat tidak sabar untuk menemuiku."


Tak lama kemudian, ponsel Jackson di tangan Jessi kembali bergetar. Terlihat panggilan dari nomor tak dikenal tertera di layar. Dia mengusap layar benda pipih itu dan terdengar suara seorang pria di seberang sana.


"Hello, Nona. Sepertinya anak buahmu sangat enggan untuk mengkhianatimu." Suara Jerry begitu jelas membuat para anak buah Jessi terkejut.


Sebuah senyum miring terlihat jelas di wajah cantik Jessi, seakan mengejek Jerry. "Tentu saja anak buahku adalah orang yang setia."


"Benarkah! Kalau begitu, mari kita lihat!" Sejenak Jerry menghentikan kalimatnya. "Bagaimana kalau aku mengundangmu untuk minum teh sore di kediamanku?"


"Dengan senang hati aku akan menghadirinya." Awalnya Jessi ingin mencari lebih banyak bukti. Dia tidak menyangka kalau Jerry akan setidak sabaran ini untuk memulai pertarungan dengannya.


"Benarkah? Kalau begitu aku menunggumu. Ingat hanya ada kau dan keponakan iparku tersayang. Jangan membawa rombongan terlalu banyak Kalau kau masih menginginkan nyawa mereka!"


"Aku suka gayamu. Ingat kalau begitu akan disiapkan teh terbaik untuk kalian nanti. Ingat, jika kau membawa suamimu, maka Jackson akan kehilangan istrinya!" Tanpa menunggu jawaban Jerry mematikan sambungan telepon, sedangkan Jessi masih terdiam di tempatnya.


Tidak ada seorang pun yang berani berbicara sebelum Jessi karena aura wanita itu terlihat sangat mengerikan saat ini.


Dia menghirup napas panjang, lalu mengeluarkan dengan kasar. "Sepertinya aku perlu berpenampilan lain untuk mengunjungi bandot tua itu."


"Tapi, Nona. Benarkah Anda akan mendatanginya sendiri? Bagaimana kalau dia merencanakan sesuatu yang buruk?" Maurer terlihat tidak setuju dengan tindakan Jessi kali ini. Sangat berbahaya jika mengunjungi markas musuh hanya berdua dengan Jackson. Apalagi menyelamatkan dua nyawa yang posisinya entah di mana.


"Tugas kalian, mempersiakan segala kemungkinan terburuk! Jangan sampai lengah! Jika terjadi sesuatu, hubungi Jane sesegera mungkin." Jessi lantas melangkah pergi meninggalkan ruang berkumpul. Entah mengapa firasatnya berkata buruk hari ini. Berulang kali wanita itu mengembuskan napas kasar untuk menetralkan kembali perasaan.


Setelah beberapa waktu, dia siap dengan penampilan barunya. "You can do it!" Dia bermonolog pada dirinya sendiri di depan cermin, lantas melangkah keluar.


"Ayo!" Jessi dan Jackson bergegas pergi, meninggalkan kediaman Light. Dengan para anak buah yang mulai bersiap untuk kemungkinan terburuk.


_____________________


Di sisi lain, Jerry masih asyik mengisap cerutu di tangannya, mengembuskan kemepul asap tebal di udara. Setelah mendapatkan kabar jika Jessi menyelidiki kasus yang ditutupinya selama tiga puluh tahun, pria itu tidak mampu lagi menahan diri lebih lama lagi dan membiarkan Jessi mengetahui banyak hal nantinya.

__ADS_1


Posisinya sebagai Presiden masa depan bisa hancur karena meremehkan wanita bau kencur itu. Lebih baik, segera menjalankan rencananya, untuk menyingkirkan wanita berbahaya tersebut sesegera mungkin.


"Bagaimana?" tanya Jerry ketika merasakan ada seseorang mendatangi kamarnya.


"Dia sudah bergerak, Tuan," ujar pria di belakangnya.


"Dengan siapa?" Jerry masih menikmati pahitnya cerutu di bibirnya dengan santai karena semua rencana sudah diperhitungkan sebelumnya.


"Hanya Jackson."


Sebuah senyum miring tersungging di bibir tua itu. "Tidak kusangka dia sungguh memiliki keberanian itu. Patut menjadi putri Alexander." Jerry memang selalu mengingat bagaimana sulitnya pertempuran bersama keluarga itu dulu.


Sebuah luka tembak di dada kanan menjadi saksi bagaimana di harus mengingat saat-saat terkejam dalam hidupnya.


"Tuan, bagaimana dengan keluarga Bannerick?" Pelayan setia di belakangnya selama ini terlihat begitu khawatir karena wanita yang menjadi target utama sang tuan adalah menantu dari keluarga Bannerick.


"Apa yang perlu kau risaukan? Mereka hanya keluarga konglomerat seperti yang lainnya. Hanya mementingkan hartkat dan martabat keluarga." Sorot mata Jerry terlihat segitu mengerikan, mengingat hal paling menyesakkan dari keluarga konglomerat.


Dia sendiri dahulu adalah putra salah satu konglomerat ternama negeri ini. Sayangnya, keluarganya hanya mementingkan harkat dan martabat, serta menantu sederajat pilihan mereka. Hal itu jugalah yang membuat Jerry menjadi seambisius sekarang.


Namun, masa lalu tidak bisa diulang kembali, kekasih hati telah pergi, menyisakan luka yang membekas di hati. Tanpa memberikan sedikit pun pembelaan.


"Bagaimana dengan Brian?"


"Dia juga sudah bergerak, Tuan."


"Bagus." Kemepul asap menguap di udara, seakan menjadi perayaan awal untuk rencananya. Dia memang sengaja memprovokasi Brian agar menculik orang terdekat Jessi melalui anak buahnya sendiri.


Bukan tanpa alasan. Tapi, sangat mustahil untuk menembus pertahanan Jessi ketika wanita itu berada di tempatnya, sehingga dia harus menggiringnya kemari terlebih dahulu.


Sementara itu, Brian tidak sadar jika dirinya sedang dimanfaatkan secara tidak langsung. Selama ini hanya pria itu yang sangat sulit dikendalikan oleh Jerry. Jadi, dia hanya bisa memanfaatkan dengan cara lain.


"Pada akhirnya kau memiliki kelemahan." Senyum bahagia tergambar jelas di wajah Jerry, sebelum akhirnya pria itu membuang cerutu ke lantai dan menginjaknya, lalu berbalik badan. "Ayo! Bukankah kita harus menyambut tamu kehormatan hari ini?"


To Be Continue...


Jessi


__ADS_1



__ADS_2