
Seorang pria paruh baya tengah sibuk menyiapkan diri untuk kegiatan kampanye yang berlangsung tidak lama lagi. Tahun ini dia hendak melangkah lebih jauh sebagai penguasa. Orang serakah tidak puas dengan apa yang dia miliki. Berposisi sebagai pemimpin tertinggi partai masih belum cukup memuaskan hatinya yang haus akan kekuasaan. Jerry Morning kini melangkah menuju kursi Presiden Negara N.
Seorang penjaga bayangan memasuki ruang kerjanya, melaporkan hasil dari tugas yang diberikan sebelumnya. "Tuan."
Pria itu duduk di kursi kebesarannya dan berbicara sambil meninjau dokumen di meja tanpa melihat lawannya. "Apa yang kau dapat?"
"Dia sungguh menyelidiki kasus Tom Evening."
Jerry menganggukkan kepala. "Apa lagi?"
"Dia sepertinya masih mengharapkan kembali mantan istrinya."
Pria paruh baya tersebut langsung meletakkan pena di meja, menautkan kedua tangan sebagai tumpuan dagu, menatap tajam ke arah penjaga bayangan di depannya. "Mantan istri?"
"Apakah wanita itu kelemahannya?"
Diam-diam Jerry Morning memang menyelidiki apa yang dilakukan Brian. Dia mencaritahu apa kelemahan sang anak angkat karena pria itu layaknya bom waktu yang bisa menyerang balik dirinya kapan saja. Jika Marcopolo saja tewas di tangan anaknya sendiri, maka tidak menutup kemungkinan kalau ia bisa menjadi korban selanjutnya.
"Sepertinya Brian sangat terobsesi pada mantan istrinya, Tuan."
"Akan lebih baik jika kita bisa mengendalikan mantan istrinya. Kau selidiki lebih jauh lagi tentang wanita itu!"
"Baik, Tuan." Sang penjaga bayangan bergegas pergi dari hadapan Jerry untuk melaksanakan tugas selanjutnya.
Kali ini Jerry harus bisa menemukan kelemahan anak angkatnya. Pria itu terlalu berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Setidaknya, dia harus memiliki satu kartu truf untuk mengendalikan Brian.
Jerry Morning memanglah orang seperti itu, dia tidak bisa memercayai siapa pun selain dirinya sendiri. Baginya, mereka bisa mengkhianati kapan saja. Apa lagi Brian, sosok yang sangat berbahaya, pria itu layaknya cermin bagi Jerry.
____________________
Di sisi lain, wanita yang mereka bicarakan tengah memacu kuda besinya dengan begitu bahagia, membelah jalan menuju gedung Bannerick Group.
Setibanya di gedung tersebut, seperti biasa dia mendatangi resepsionis terlebih dahulu. Namun, sepertinya mereka tengah asyik berkerumun melihat keributan di depan lift.
"Apa yang terjadi di sana?" tanya Jessi sambil melihat ke arah lift.
Sontak mereka terkejut melihat sang nyonya muda sudah berada di depan meja resepsionis. "Nyonya Muda."
"Aku tanya, apa yang kalian lihat?" Jessi semakin penasaran dengan keributan di depan lift itu. Namun, dia tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Itu, Nyonya." Resepsionis mendekatkan diri berbisik ke telinga Jessi. "Ulat keket datang membuat ulah, padahal Tuan Nicholas sudah menolak pengajuan kerjasamanya."
__ADS_1
Jessi mengangguk, sebuah seringai iblis terlihat di wajah cantik itu. Jadi, itu Emily?
Bukan marah dia malah ikut mengintip di balik meja resepsionis. "Sepertinya tontonan yang menarik, geser sedikit!" Jessi ikut berkumpul bersama karyawan tersebut, menyaksikan perdebatan antara Emily dan penjaga keamanan gedung.
Hal tersebut sontak membuat mereka kagum sekaligus bangga. Sang Nyonya Muda Bannerick ternyata bukanlah wanita sombong, bahkan tidak malu untuk ikut berdesakan. Ditambah penampilannya yang sederhana, semakin membuat para karyawan mengidolakan istri dari pewaris tahta tersebut. Sangat berbeda dengan Emily, sombong dan arogan.
"Minggir! Apa kalian tidak tahu kalau aku itu calon Nyonya Muda Bannerick?" Emily berteriak marah karena para penjaga keamanan terus saja menghalangi jalannya untuk naik ke atas, padahal beberapa hari ini dia sudah berusaha mendekati sang pujaan hati. Namun, selalu saja rencana gagal dengan berbagai cara.
"Kami hanya menjalankan tugas dari Tuan Nicholas, Nona. Beliau melarang Anda untuk memasuki gedung ini lagi." Tiga orang pria merentangkan tangan untuk menghalangi kedua lift agar Emily tidak menerobos masuk. Jika sampai wanita itu nekat ke atas, bisa dipastikan mereka akan kehilangan pekerjaan.
"Bagaimana mungkin? Kau pasti bercanda. Lihat saja kalau nanti! Kalau aku sudah menjadi istri Nicholas, ku pastikan kalian adalah orang pertama yang akan dipecat!" Emily terlihat murka dengan wajah begitu merah padam, mereka hanyalah karyawan rendahan. Namun, berani menghancurkan rencananya.
Para karyawan yang mendengar ancaman tersebut mencebikkan bibirnya. Mereka tentu saja tahu siapa Nyonya Muda Bannerick yang sesungguhnya, dan pastinya bukan Emily. Dalam benak orang-orang yang menyaksikan hal tersebut, wanita itu mungkin sedang gila karena patah hati sang pewaris tahta sudah melepaskan masa lajangnya.
Sementara Jessi yang melihat di balik meja resepsionis hanya menahan tawa mendengar ancaman wanita itu kepada para karyawan. Sungguh tidak tahu malu.
"Bukankah wanita itu gila, Nyonya Muda?" bisik resepsionis.
"Biarkan saja! Ini sangat seru."
Suara Emily yang masih belum menyerah menggelegar di area lobby, dia berusaha menipu para penjaga dengan berbagai alasan."Menyingkirlah! Aku hanya akan menanyakan kerjasama!"
"Maaf, Nona. Tuan muda sudah mengatakan untuk melarang Anda naik ke ruangnya dengan alasan apa pun!"
Sementara di lantai tertinggi Bannerick Group sang tuan muda yang berkutat dengan dokumen di depannya mulai merasa heran. Jessi sudah mengabari akan ke kantor satu jam yang lalu, tetapi kenapa sampai sekarang belum tiba juga. Rasa cemas mulai mendera jiwanya. Apa terjadi sesuatu dengan Jessi?
"Will!"
Willy yang mendengar panggilan dari Nich langsung memasuki ruangan. "Iya, Tuan."
"Apa istriku belum juga tiba?"
"Belum, Tuan. Tapi, saya dengar dari para karyawan Nona Emily sedang membuat keributan di bawah."
"Apa?" Nich lekas berdiri dari kursinya, bergegas melangkah keluar ruangan sambil terus mencoba menghubungi istrinya. "Jangan-jangan dia mengganggu istriku lagi!"
Setelah pria itu turun dan pintu lift terbuka, para penjaga keamanan yang melihatnya lantas membungkuk hormat. "Tuan."
Nich mengedarkan pandangan ke arah penjaga dan Emily yang beradu, tetapi istrinya tidak terlihat di sana.
"Nich!" Emily hendak mendekatinya, dengan sigap para penjaga menghentikan wanita tersebut. "Minggir, aku mau bertemu dengan Nicholas!"
__ADS_1
"Jauhkan wanita itu dariku!" Dengan acuh Nich mengabaikan Emily, bahkan tanpa melihatnya. Dia hanya ingin mencari istrinya saat ini.
"Baik, Tuan."
Nich berjalan ke arah resepsionis. "Apa istriku belum sampai di sini?"
Resepsionis tampak ragu untuk menjawab, dia melirik ke bawah meja tempat Jessi bersembunyi. Hal tersebut jelas di tangkap oleh Nich, pria tersebut meletakkan jari di bibir meminta agar pegawainya itu tetap diam.
Dia mulai mengendap-endap menyusul hingga ke samping istrinya, Nich berbisik tepat di belakang telinga Jessi. "Apa yang kau lakukan di sini, Sweety?"
Jessi yang terkejut sontak hendak berdiri, tetapi Nich menariknya kembali agar kepala wanita tersebut tidak terbentur meja resepsionis. Namun, malah membuat dia dan sang istri terjatuh saling tumpang tindih.
"Nich." Jessi yang kesal menindih tubuh Nich, memukul dada bidang suaminya sambil mengerucutkan bibir.
Melihat bibir ranum berkembang istrinya tentu saja membuat pria itu merasa gemas. Nich menciumnya sekilas, padahal di sana masih ada para resepsionis yang menjadi saksi adegan romantis Tuan dan Nyonya Muda Bannerick.
"Bukankah mereka sangat romantis." Mereka histeris menyaksikan sendiri adegan tersebut secara langsung.
Nich dan Jessi lantas bergerak dari posisinya, keluar dari tempat persembunyian menuju parkiran motor sang istri. "Kita cari makan dulu, Sweety! Aku belum makan siang."
Jessi mengangguk. "Aku ingin makanan di pinggir jalan, Nich!"
Pria itu mengernyitkan dahinya mendengar penuturan istrinya, dia mengenakan helm di kepala Jessi dengan hati-hati. "Apa kau tahu tempatnya?"
Wanita tersebut mengiyakan ucapan suaminya, dia memang terbiasa makan di tempat kalangan bawah, dan Jessi tidak ingin menjadi orang lain setelah menikahi Nich. Dia akan tetap menjadi dirinya sendiri dan berharap Nicholas tidak keberatan dengan hal tersebut.
"Baiklah, ayo!" Nich menaiki motor Jessi, melingkarkan kedua tangan sang istri di perutnya, lantas memacu sang kuda besi ke arena beraspal.
Mereka tidak peduli dengan banyaknya karyawan yang menyaksikan adegan tersebut. Juga seorang wanita yang geram dengan wajah merah merah padam. Dia tidak menyangka jika Jessi masih hidup, bahkan dalam kondisi sehat.
"Bagaimana bisa dia selamat?" Emily menghentakkan kakinya, lantas melangkah meninggalkan gedung Bannerick Group.
Di dalam mobil berulang kali dia mengumpat dan memukul kemudi dengan keras. "Sial! Sial! Sial." Emily mengemudi dengan kecepatan tinggi, kali ini dia harus memikirkan bagaimana cara untuk menyingkirkan wanita itu.
Dia tidak mungkin meminta bantuan kepada Johny lagi, mengingat pria itu malah mengancamnya terakhir kali. "Aku akan mencari pembunuh bayaran yang lain!" Sorot mata Emily menajam, dia sangat membenci Jessi.
"Keberuntunganmu tidak mungkin datang dua kali. Akan ku pastikan kau mati dengan mataku sendiri!" Emily melajukan mobilnya layaknya orang gila, dia bahkan menerobos lampu merah dan menyalip banyak kendaraan di depannya.
To be continue...
Hallo temen-teman pembaca setia,
__ADS_1
Terima kasih buat yang selalu setia menanti setiap episode Jessi, semoga kalian sehat selalu.