Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Charlies Angels


__ADS_3

Siang itu, di sebuah pusat perbelanjaan tak sengaja seorang pria melihat target yang ia cari selama ini ketika sedang membeli pakaian dalam.


Dia adalah anak buah Johny Messis yang mengambil alih tugas kakaknya untuk mencari tahu Patricia dan Maria. Segera pria tersebut mengambil ponsel dan menghubungi Johny.


"Tuan, target kita sedang di pusat perbelanjaan."


"Kau culik dia, dan bawa kemari!" Terdengar suara Johny di seberang panggil, cukup lama dia diremehkan oleh Jerry karena gagal melaksanakan tugasnya. Beruntung kakaknya masih memercayainya dan kembali menyerahkan urusan tersebut padanya.


"Tapi, Tuan. Dia bersama teman-temannya."


"Ada berapa orang?"


"Lima orang wanita."


"Hanya sekelompok wanita, aku akan mengirimkan yang lain ke sana. Kau awasi gerak gerik mereka!"


"Baik, Tuan." Johny memutuskan panggilan dan mengirimkan beberapa orang untuk menyusul salah ke pusat perbelanjaan.


Sementara itu, satu orang kepercayaan Johny tersebut, mengikuti ke mana pun arah Patricia dan yang lainnya melangkah. Dari kejauhan sekilas mereka terlihat seperti teman-teman sosialita wanita kalangan atas pada umumnya.


Namun, yang membuatnya sedikit mengernyitkan dahi adalah seorang wanita paruh baya yang bergabung bersama mereka.


"Rasanya wanita itu bukan ibunya. Apa dia ibu temannya?" Sejenak pria tersebut hanyut dalam lamunannya, hingga beberapa saat kemudian bala bantuan mulai tiba.


"Kita awasi dulu gerak gerik mereka. Jangan bertindak di keramaian!" Teman-temannya mengangguk paham.


Mereka kembali mengawasi ke mana pun targetnya melangkah. Beberapa saat kemudian, terlihat dua orang wanita mulai meninggalkan lokasi.


"Haruskah kita mengikutinya?" ujar salah satu temannya.


"Tidak perlu, target kita bukan mereka. Tapi, wanita termuda di sana."


Ketiga wanita kembali melanjutkan acara belanja, hingga beberapa menit setelahnya mereka sepertinya sudah berniat kembali.


"Kalian ikuti mereka aku akan menyiapkan mobil!"


"Baik."

__ADS_1


Pria tersebut mengikuti langkah Patricia hingga tiba di basemen area parkir. Ketika mereka hendak memasukkan barang belanjaan ke dalam mobil, pria di belakang langsung mendekat ke arah targetnya.


Jessi, Patricia, dan Laura yang sudah tahu hal ini sebelumnya segara berbalik ketika pria-pria tersebut berada di belakangnya. Secepat kilat ketiga wanita menendang musuh hingga jatuh tersungkur.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Jessi dingin.


"Nona, kami hanya menginginkan Nona ini. Jadi, sebaiknya Anda menyerahkannya dan kami akan melepaskan kalian!" Pria tersebut menunjuk ke arah Patricia sebagai target utamanya.


Ketika sudah tahu tujuan mereka, Jessi hanya bisa tersenyum mengejek. "Ambillah, jika kalian bisa membawanya!"


Merasa mendapatkan lampu hijau, pria tersebut mengulurkan tangannya hendak mengambil Patricia. Namun, hal yang tak terduga adalah Jessi mengeluarkan belati kesayangannya dengan cepat dan langsung memotong pergelangan tangan lelaki itu.


"Akkhh!" Teriakan kesakitan dari seorang pria yang memegang tangan kanan yang gemetar karena serangan Jessi.


Hal tak terduga terjadi, ia kehilangan pergelangan tangan kanan dengan darah segar yang bercucuran membuatnya luruh tak berdaya di lantai basemen. Suara teriakan menggelegar memenuhi seluruh area parkir, aroma anyir menyeruak, tetapi tak membuat ketiga wanita itu bergeming takut.


Keempat anak buah Johny yang menyaksikan peristiwa tersebut terkesiap dan langsung melangkah mundur. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan wanita berbahaya yang sulit untuk dihadapi.


Seorang pria mengeluarkan pistol dari sakunya dan langsung menodongkan ke arah Jessi. "Menyerahlah! Serahkan wanita itu, aku akan membiarkan kalian pergi!"


Tanpa membuang waktu, ketika pria itu masih terkejut dengan tindakannya, Jessi langsung memutar tubuh hingga berada di belakang pria tersebut dan langsung menancapkan sebuah belati di leher lawannya. Seketika pria itu limbung, tergeletak tak berdaya setelah nyawanya melayang begitu saja.


Melihat kedua temannya dengan mudah kehilangan nyawa di tangan seorang wanita. Ketiga pria lantas menyerang mereka dengan membabi buta. Pertarungan tak lagi terelakkan, adu kekuatan kembali terjadi dengan begitu sengit. Kini mereka bertarung satu lawan satu setelah kedua temannya tewas hanya dalam hitungan menit.


Jessi kembali melayangkan serangan mematikan kepada salah satu lawan. Namun, bukan hal mudah untuk ditaklukkan karena mereka juga merupakan orang-orang terlatih di kelompok mafia Virgoun.


Berulang kali dia menghindari pukulan tangan pria tersebut, terbatasnya ruang gerak di basemen parkir membuat Jessi terpaksa berlari, lalu menapak pada bagaian depan salah satu mobil yang terparkir hingga membuat wanita itu melayang di udara dan langsung mengayunkan kaki tepat di kepala lawannya.


"Akh." Pria tersebut jatuh tersungkur karena tidak menyangka akan mendapat serangan dadakan dari Jessi.


Sementara itu, Laura dan Patricia tak kalah tangguhnya dengan Jessi. Mereka berkolaborasi untuk menjatuhkan lawan. Serangan ganda mereka gunakan untuk menyerang, pertama Patricia mengecoh menggunakan pukulan dan tendangan khas beladiri. Lalu, ketika pria-pria itu fokus hanya padanya, Laura langsung menyemprotkan Paper Spray ke arah mata sebanyak mungkin hingga membuat kedua pria menutup mata dengan tangannya.


Ketiga wanita beda usia dengan kemampuan masing-masing, mampu untuk melumpuhkan musuh hanya dalam sekejap mata.


Setelah menghujam musuh dengan berbagai serangan, ketiga orang pria yang tersisa habis babak belur oleh 'Charlies Angels' beda usia tersebut.


Jessi menindih salah satu pria yang menjadi lawannya dengan kuat. "Katakan! Siapa yang mengirim kalian?!"

__ADS_1


Berulang kali pria itu memberontak agar terlepas dari wanita di atasnya. Namun, sia-sia yang ia dapatkan. "Cepat katakan!"


"Jangan harap!" Pria tersebut mencoba mengulur waktu.


Dia yakin bala bantuan akan segera datang karena seseorang di antara mereka masih ada yang menunggu di mobil untuk kondisi darurat.


Namun, hal yang tidak ia duga adalah Jessi bukanlah orang yang berbelas kasih. Secepat kilat wanita tersebut memutar kepala lawan hingga lehernya langsung patah dan tewas dalam hitungan detik.


"Mom, Pat. Jangan buang waktu! Kita harus segera pergi dari sini!" Laura dan Patricia mengangguk, mengerti apa yang dimaksud Jessi.


Suara alarm mobil-mobil yang terhantam menyebabkan para penjaga akan segera datang pastinya, dan mereka tidak ingin masuk berita karena berkelahi di basemen parkir.


Laura membunuh lawan dengan menggunakan tali tas milikinya, melilitkan di leher, menarik dengan kuat untuk mencekik pria itu sampai tewas. Sementara Patricia melepaskan high heels yang dia kenakan dan langsung menancapkan di mata musuhnya hingga menembus bagian kepala.


"Cepat!" Jessi membuka pintu mobil agar Laura dan Patricia segera masuk.


Akan tetapi, hal tak terduga kembali terjadi. Dua mobil SUV yang tidak dia kenal kembali berdatangan.


"Sial!" Jessi mendengus kesal melihatnya, belum sempat mereka bernapas masalah baru sudah datang lagi.


"Cepat masuk! Biar Mommy yang mengemudi!" Laura langsung bergerak ke arah kursi kemudi, sedangkan Jessi berada di samping, dan Patricia di belakang.


"Mommy yakin?" Jessi memasang sabuk pengaman di tubuhnya.


"Jangan remehkan wanita tua ini, Sayang!" Setelah semua masuk, Laura langsung mengerakkan tuas persneling dengan cepat dan langsung menginjak pedal gas di kaki dalam-dalam.


Segerombol pria yang menghalangi jalan seketika berhamburan ketika melihat mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi di area parkir. Hal tersebut sontak menimbulkan seringai iblis di wajah Laura. "Cuma punya satu nyawa, beraninya menghalangi jalanku!"


"Mommy awas!" Jessi menutup mata ketika sebuah tanjakan khas parkiran melingkar di depan mereka. Namun, Laura malah tertawa dan tanpa mengurangi kecepatan dia memainkan tuas, rem, gas, dan stir di tangannya secara bersamaan.


Hal tersebut tentu menyebabkan sensasi yang berbeda pada penumpang di dalamnya. Tikungan parkir tidak lebih dari sirkuit mobil bagi Laura. Dia terlihat begitu bahagia setelah sekian lama akhirnya bisa kembali melakukan drifting di area terbatas.


Segala teknik mengemudi sudah menjadi makanan Laura sejak muda. Drifting dan powersliding bukanlah hal yang sulit bagi wanita paruh baya tersebut.


Teknik understeer, clutch kick, hand braking, oversteer, tauge drifting, tandem, clipping point, LSD, demon chamber, dan power slide sudah menjadi teman hidup Laura. Sebelum akhirnya dia bertemu dengan Michael dan memutuskan untuk menghentikan karir.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2