
Setibanya mereka di ruangan, Damien pun meletakkan sang adik di kursi dengan hati-hati. Wanita tersebut mengamati seluruh sudut ruang sang kakak, tak jauh berbeda dengan milik Nicholas, hanya saja tak ada foto keluarga atau siapa pun di sini.
Hingga tak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk dari luar. "Masuk," ucap Damien.
"Mian, sudah waktunya makan siang. Apa kalian ingin makan siang bersama?" tanya Dove setelah memasuki ruangan. Wanita itu berharap bisa makan siang bersama mereka, serta mengetahui situasi sekarang dan memastikan siapa wanita yang kini berada di samping Damien.
Hal itu, tentu saja ditangkap oleh Jessi yang langsung menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. "Kakak, aku lapar. Tapi, Kakak Ipar tadi sudah makan banyak di rumah. Bagaimana kalau kalian di sini saja? Nanti aku bungkus 'kan untukmu," ujar Jessi sambil mengedipkan sebelah mata pada Damien, dan berharap pria itu mengerti maksudnya.
"Pergilah! Dove, titip adikku! Dia sedang hamil." Damien hanya sekilas melihat ke arah Dove, sebelum akhirnya tatapan pria itu kembali melihat Jane di sampingnya. Jessi sudah bersusah payah membawa wanita tersebut kemari, tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan semua itu.
Sementara itu, Dove hanya bisa mengeratkan gigi di sela senyuman palsu melihat perhatian Damien kepada Jane. Namun, dengan segera Jessi menyadarkan wanita itu dan mengajak keluar ruangan. "Ayo!"
Dove terpaksa mengikuti langkah kaki Jessi keluar dari ruangan itu. Sebelum dia menutup pintu ruangan, sekilas wanita itu melihat Damien sedang melangkah mendekat ke arah Jane dengan raut wajah yang lain dari biasanya. Sungguh sebuah pemandangan yang membuat hatinya panas dingin seketika.
__ADS_1
"Ayo, cepatlah! Aku lapar!" ujar Jessi sedikit berseru. Dove pun terpaksa menutup pintu dan kembali mengiringi langkah kaki wanita yang tengah hamil di depannya itu.
"Apa kau sudah lama bekerja di sini?" tanya Jessi sambil menekan tombol lift di depannya.
"Kurang lebih sepuluh tahun."
Tidak ada nada ceria yang terdengar dari mulut Dove. Wanita itu tak lagi menampakkan senyum setelah mereka hanya berdua saja. Tubuhnya ada di samping Jessi, tetapi pikirannya melayang membayangkan apa yang dua sejoli itu lakukan di ruangan Damien. Mustahil pria tersebut menikah tanpa sepengetahuannya.
"Apa karena sepuluh tahun itu sudah membuatmu besar kepala?" Jessi berbicara tanpa melihat ke arah Dove ketika sedang berada di dalam lift, tentu saja wanita tersebut langsung terkejut mendengar pertanyaan Jessi.
"Bukankah tidak etis jika kau sudah bekerja selama sepuluh tahun tapi masih tidak memiliki etika dan rasa hormat terhadap atasanmu?" Sejenak Jessi membalikkan tubuh hingga keduanya saling berhadapan di dalam lift. "Seharusnya kau tahu, meskipun kalian adalah sepasang kekasih, tetapi tetap harus menjaga wibawa dan kehormatan Kak Damien sebagai pimpinan perusahaan ini."
Sorot tajam Jessi berhasil membuat suasanya di dalam sana terasa mencekam. Dove bahkan harus bersusah payah hanya untuk menelan ludahnya sendiri. Tanpa terasa tangan wanita itu mengepal kuat hingga ujung jemarinya terasa dingin.
__ADS_1
Jika saja wanita di hadapannya bukannlah adik Damien, dia pasti akan membantah semua ucapannya. Namun, Dove sungguh dibuat mati kutu kali ini. Hingga beberapa saat kemudian, suara lift terbukan seakan membawa oksigen ke dalamnya.
"Ah, kita sudah sampai. Ayo!" Dalam sekejap mata Jessi mengubah ekspresinya. Wanita yang tadinya dingin dalam berbicara seolah menjadi orang lain yang tampak begitu ceria ketika mereka tiba.
Dove hanya bisa membeku di tempat melihat Jessi yang tampak lain dari sebelumnya. Hingga sesaat kemudian, dia pun ikut melangkah ke arah kantin di belakang Jessi.
"Kau tahu, aku sangat senang sekali dengan keadaan Kak Damien sekarang ini. Lihat 'kan tadi? Kakakku terlihat sangat bahagia. Sungguh pasangan yang sempurna!" ujar Jessi dengan tawa kecil. Dove hanya mendengarkan ocehan Jessi dengan sebal. Wanita tersebut bahkan meletakkan piring ke meja cukup keras.
Namun, nyatanya Jessi tak memedulikan hal itu. Dia malah terus berceloteh ria dan tak membiarkan hati Dove dingin walaupun hanya satu detik. "Aku yakin, banyak yang iri dengan hubungan mereka. Ya meskipun tak seromantis suamiku, setidaknya Kak Damien bukanlah pria tak berkelas yang memilih sembarang wanita untuk jadi pendamping."
Jessi terus berbicara sambil menyuap makanan ke dalam mulut. Berbeda dengan Dove yang sejak tadi terdiam sambil mengepalkan tangan, bahkan sendok di genggaman bisa saja bengkok jika terus menerus mendengar kalimat provokasi Jessi.
"Tapi aku juga yakin dengan rasa cinta yang ada di dalam hati mereka. Tak akan ada celah yang bisa orang lain lewati untuk mengganggu apalagi memisahkan mereka." Sejenak Jessi mendekatkan wajah ke arah Dove yang sudah merah padam sejak tadi. "Apa kau tahu? Kakak Ipar bilang Kak Demian sangat hot ketika bermain ranjang. Aku rasa sebentar lagi Barrack Corp akan memiliki pewaris," bisik Jessi dengan sebuah seringai dalam hati melihat kemarahan di wajah Dove.
__ADS_1
To Be Continue..