
Berita tentang putri kedua keluarga Night, kembali menggemparkan publik. Jika yang pertama karena skandal dirinya bersama ketiga pria di sebuah kamar hotel. Kini kabar selanjutnya tentang kematiannya akibat Penyakit Menular Seksual menyebar dengan cepat hanya dalam hitungan menit.
Jessi yang saat itu sedang berada di rumah sambil menonton serial drama kesukaannya beberapa hari ini hanya menyunggingkan sedikit lekuk bibirnya ke atas. Hal yang sudah dia duga sebelumnya. Namun, tak menyangka akan secepat kilat publik mengetahui faktanya.
Seperti kata pepatah 'Seperti apa cara hidup seseorang, seperti itu pula kematiannya'. Kini Emily sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Namun, publik bukannya bersimpati, tapi malah geram dan menyumpahi wanita tersebut karena dianggap menjatuhkan harkat dan martabat seorang perempuan.
Kripik kentang di tangan tak henti-hentinya masuk ke dalam mulut Jessi. Berita yang sudah dia prediksi sebelumnya hanya akan menjadi angin lalu begitu saja. Tidak ada istimewanya dengan membunuh musuh lainnya. Wanita tersebut lantas mengganti siaran televisi untuk melihat serial drama favoritnya saja.
"Membosankan." Melihat berita tentang Emily yang menjadi topik utama pembahasan di beberapa stasiun televisi membuat wanita tersebut mendengus kesal.
Tak lama kemudian, George bergerak dari arah luar mendekati Jessi. "Nona." Seperti biasa, dia selalu membungkuk sedikit sebagi tanda hormatnya.
"Ada apa?"
"Ada kabar baik dan kabar buruk."
Wanita tersebut menoleh untuk menatap ke arah George, meletakkan keripik di meja dan membersihkan jemarinya yang terkena bumbu. "Katakan kabar buruknya lebih dulu!"
"Kabar dari Jackson, seorang pegawai melakukan penggelapan dana proyek pengembangan produk di Light Holdings, Nona."
Seakan tidak terkejut Jessi hanya mengangguk kecil mendengar laporan George. Baginya itu hanyalah salah satu masalah umum yang berasal dari keserakahan manusia. "Berita baiknya?"
"Besok Mario sudah boleh kembali."
"Apa? Benarkah?" Jessi lebih terlihat antusias ketika mendengar anak buahnya sudah sembuh dibandingkan dengan berita lainnya.
Sudah cukup lama Mario dalam kondisi terbaring di laboratorium suaminya, tentu saja dia akan sangat bahagia ketika mengetahui pria itu sudah bisa kembali.
"Iya, Nona. Maurer baru saja mengabari saya."
"Bagus, ayo kita bereskan masalah kantor sebelum dia pulang! Aku tak ingin Mario mati muda karena baru sembuh sudah harus mengurus korupsi. "Jessi bergegas berdiri dari sofa. "Tunggu di sini! Aku akan berganti pakaian lebih dulu."
Entah apa yang terjadi padanya, tetapi sekarang wanita tersebut sangat memperhatikan penampilan dan image feminimnya. Dia tidak lagi berpakaian sederhana seperti sebelumnya dan sangat menyukai makanan super pedas.
__ADS_1
Tak perlu menunggu lama, Jessi sudah bersiap dengan penampilan barunya. Menggunakan pakaian serba putih, dengan celana panjang menutupi kaki jenjang tak membuat wanita tersebut kehilangan pesona cantiknya. Apapun yang dia kenakan, pasti membuat siapa pun terpesona.
Ketika hendak melangkah pergi, Jessi melihat Patricia yang juga baru turun dari kamarnya.
"Apa kau akan bepergian hari ini, Patricia?"
Patricia yang hendak pergi ke dapur menghentikan langkahnya. "Tidak, Nona."
"Jika ingin keluar bawalah beberapa pengawal bersamamu! Mereka mungkin masih menginginkanmu."
"Baik, Nona."
"Aku pergi dulu." Jessi menepuk pundak Patricia perlahan lantas melangkah keluar bersama George.
Kini dia dan Patricia sudah layaknya saudara dekat yang saling memerhatikan. Jessi merasa harus lebih bertanggung jawab dalam menjaga keselamatan keduanya. Samuel sudah berjasa besar kepada keluarga Alexander sebelum akhirnya bernasib naas.
Ini bukanlah sebuah balas budi, tetapi perasaan sebagai sesama manusia yang ditinggalkan orang terkasih sejak dini. Baginya dengan bekerja sama akan lebih mudah menemukan dalang di balik semua ini.
George dan Jessi bergerak menuju Light Holdings, sebuah perusahan produk i-gaming dengan karyawan yang tak pernah tahu siapa pemilik aslinya kecuali, Mario dan asistennya.
Beda lagi ceritanya bagi Jackson, sejak awal pria tersebut menguasai bidang keamanan, pengawasan, dan pengawalan. Jadi, untuk masalah perusahaan besar seperti Light Holdings tentu saja dia pasti kesulitan mengambil keputusan, sehingga membutuhkan bantuan Jessi.
Setibanya di perusahaan Jessi melangkah dengan pasti. Para staf dan karyawan tidak menyambutnya karena tidak pernah melihat pemilik asli perusahaan tersebut sebelumnya.
Dia melangkah menuju resepsionis, seperti yang biasa Jessi lakukan ketika mengunjungi Bannerick Group. Namun, baru pertama kali wanita itu melihat sang resepsionis sudah membuat suasana hatinya terasa buruk.
Karyawannya bukannya menyambutnya dengan sopan, tetapi malah sibuk menambahkan lipstik merah darah di bibirnya, hingga membuatnya terlihat seperti baru saja memakan bayi. Jessi mengetuk meja di depan resepsionis itu saking kesalnya.
"Tunggu sebentar!" Hanya kalimat itu yang ia ucapkan untuk menyambut Jessi dan tetap melanjutkan acara dandannya.
Sejenak Jessi memejamkan mata, menghirup dalam-dalam oksigen yang berada di sekitarnya untuk menetralkan emosi yang membuncah seketika, sedangkan George di belakang sudah membatin jika wanita angkuh itu pasti akan habis oleh nonanya kali ini.
"Kau! Pergilah ke bagian personalia dan ambil pesangonmu!" Suara santai, tetapi tegas dari Jessi berhasil membuat lipstik di tangan wanita tersebut langsung tercoret panjang di pipinya.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Kau pikir siapa dirimu mau memecatku begitu saja!" Resepsionis yang tidak terima itu malah membentak Jessi, hingga menyebabkan banyak orang menatap ke arah mereka. "Asal kau tahu saja, aku sudah bekerja sejak perusahaan ini berdiri!"
Habis, habis, habis sudah. Nyawamu tak tertolong lagi, batin George.
Sebuah senyum smirk tersungging indah di wajah Jessi. Ciri khasnya ketika menemukan mangsa empuk yang akan menjadi target penindasan.
"Benarkah! Berapa tahun kau bekerja di sini?" Jessi menopang dagu dengan tangannya di depan wanita tersebut, senyum iblis mengembang di wajahnya berhasil membuat sang resepsionis sulit untuk menelan ludahnya sendiri.
Kilatan tajam dari manik mata Jessi terlihat sangat menakutkan. Namun, dia berharap wanita itu akan semakin menantangnya.
"Aku sudah bekerja selama lima tahun." Wanita tersebut menekan setiap kalimatnya dengan menunjukkan kelima jarinya dan tindakannya berhasil membuat Jessi tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan ngawur dari resepsionis itu.
"Lima tahun kau bilang?" Tangan Jessi dengan cepat mengayun di udara dan mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi wanita tersebut, hingga meninggalkan bekas merah serta sedikit darah keluar di sudut bibir bergincu itu.
Raut wajahnya berubah garang, membuat siapa pun yang memandang saat ini bergidik ngeri. "Perusahaan ini bahkan baru aku dirikan tiga tahun yang lalu dan kau sudah berani menipuku!" Jessi berteriak dengan lantang, sedangkan sang resepsionis meliriknya tajam.
Luka di sudut bibirnya tak membuat wanita tersebut jera dan malah kembali menyiram kobaran emosi Jessi dengan kalimatnya yang bodoh. " Apa kau sedang bermimpi di siang bolong? Jelas-jelas perusahaan ini adalah milik Tuan Mario. Jadi, jangan mengaku kalau kau mendirikan perusahaan ini karena wanita tua sepertimu mungkin hanya mengejar kekayaannya saja."
Wanita itu menatap remeh ke arah Jessi, meskipun dia menggunakan pakaian branded, dan masih cantik. Akan tetapi, enggan untuk mengakui hal itu karena sejatinya, resepsionis itulah yang mendambakan Mario sejak memasuki perusahaan ini. "Cih, jangan-jangan kau salah satu wanita merangkak di ranjangnya dan bermimpi menjadi Nyonya di perusahaan ini."
Mendengar hal tersebut George tentu saja geram dan mulai berbicara. "Jangan sembarang kalau bicara!"
Namun, Jessi menahannya dan malah tersenyum begitu lebar, seakan menemukan mainan baru yang menyenangkan hatinya setelah cukup lama dia bosan karena tidak ada lagi korban kejahilannya.
"Bagaimana kalau benar? Apakah itu menjadi masalah buatmu?" Seringai jahat terukir indah di wajah Jessi. George di sampingnya hanya bisa berharap wanita itu tidak menjemput ajalnya sendiri dengan memprovokasi sang nona yang sudah mulai mengeluarkan taringnya.
"Kau!" Wanita itu bergegas keluar dari balik tempat kerjanya untuk menghampiri perempuan di depannya dan berniat memberikan pelajaran. Namun, dengan cepat George menahannya untuk melindungi Jessi. "Lepaskan! Aku harus memberinya pelajaran, beraninya wanita tua itu merayu Tuan Mario."
Usia Mario memang terbilang cukup muda ketika menduduki posisi CEO di Light Holdings karena ketika Jessi menemukannya dulu, pria tersebut masih berusia sekitar dua puluh tahun. Perbedaan umur yang cukup jauh jika dibandingkan dengan Jessi.
Suara tawa kembali menggelar memenuhi seluruh lobi utama. Para karyawan lain semakin tegang menyaksikan perdebatan sengit antara kedua wanita tersebut.
Resepsionis itu memang terkenal dengan keangkuhannya dalam melayani setiap tamu yang datang ke perusahaan ini. Hanya para petinggi dan pria kaya yang disambut dengan baik. Ditambah posisinya sebagai karyawan lama membuatnya semakin arogan serta suka menindas para pekerja dengan posisi rendah.
__ADS_1
Akan tetapi, siapa yang menyangka jika siang ini adalah hari terakhir ia bekerja dan mungkin akan menjadi akhir dari hidupnya di dunia.
To Be Continue...