
Pagi harinya setelah perdebatan panjang sepasang suami istri semalam akibat Jessi berkeinginan mencoba sensasi baru yang akhirnya tetap dituruti oleh Nicholas, kini wanita tersebut bersiap untuk melakukan kegiatan lainnya sesuai dengan rencana.
Berulang kali Jessi menatap pantulan dirinya di cermin. Hamil tiga dengan usia tujuh bulan membuat tubuhnya terasa bengkak. Bahkan dia tak lagi bisa menggunakan high heels ataupun sepatu ukurannya lagi. “Oh, Tuhan. Kenapa tubuhku berubah seperti babi?” gerutunya sambil melihat timbunan lemak di bagian manapun serta menatap jijik pada diri sendiri.
Entah berapa kali Jessi mencoba baju-baju miliknya. Namun, hanya ada baju tidur berenda yang nyaman untuk dikenakan. Tetapi dia tak mungkin keluar dengan mengenakan itu. Bisa-bisa nantinya dia dibabat habis oleh suaminya lagi. Jessi pun memilih turun dengan mengenakan bathrobe, hingga tak sengaja matanya melihat seorang pelayan baru dengan baju motif kembang-kembang berwarna ungu yang terlihat cukup longgar. “Kau yang di sana?” panggil Jessi sambil perlahan menuruni tangga yang kini terhalang perutnya.
“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya sang pelayan itu dengan sopan.
Untuk sejenak Jessi mengamati penampilan wanita paruh baya yang rambutnya digelung ke atas tersebut dengan seksama. “Berputar!” Dia bahkan mengisyaratkan agar wanita itu agar berputar.
Sang pelayan baru hanya bisa menurut sambil mengernyitkan dahi melihat tingkah majikannya. Apa dia baru saja salah mengenakan pakaian. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, seragam yang diberikan oleh pelayan senior tak muat ditubuhnya yang berukuran hampir XL, sehingga dia belum mendapatkan pakaian kerjanya. Lagi pula rekan-rekannya juga berkata jika tidak apa-apa ketika memakai baju biasa karena penghuni rumah ini juga tidak akan mempermasalahkan hal itu selama pakaiannya masih sopan.
“Baju apa yang kau pakai ini?’ tanya Jessi setelah mengamati kain motif bunga-bunga yang cukup ramai mewarnai pakaian yang dikenakan wanita itu.
"Oh, ini daster, Nyonya," jawab pelayan tersebut.
__ADS_1
"Lepaskan itu! Berikan padaku! Aku akan menggantinya dengan uang."
"Tapi, Nyonya. Apa yang salah dengan pakaian ini? Apa menurut Anda baju ini terlalu seksi di tubuh saya?" Pelayan tersebut tampak khawatir jika sang majikan merasa tidak nyaman melihat pakaiannya. Padahal bekal pakaian yang dia bawa kemari semuanya daster. Bisa-bisa tekor sebelum gajian kalau majikannya menyuruh untuk membuang benda itu.
"Kau ini bicara apa?" tanya Jessi dengan heran karena sang pelayan tampak kebingungan dengan perintahnya.
"Nyonya, saya mohon jangan buang daster saya ini, Nyonya." Wanita tersebut bahkan sampai bersimpuh demi bisa menggunakan daster kesayangannya. Bukan hal mudah bagi orang bertubuh gemuk sepertinya untuk mendapatkan pakaian yang nyaman.
"Siapa bilang aku mau membuangnya? Aku mau pinjam. Bajuku di atas sudah sempit semua. Apa kau tidak melihat aku bahkan turun hanya menggunakan handuk!" Jessi hanya bisa mencebikkan bibir melihat pelayan barunya yang salah paham.
"Benarkah?" tanya Jessi dengan raut wajah kegirangan dan dengan cepat pelayan itu mengangguk. "Tunggu apa lagi, kalau begitu siapkan semuanya ke kamarku. Nanti kamu beli lagi yang baru!" ujar Jessi senang akhirnya dia mendapatkan pakaian yang sesuai untuk perut buncitnya.
"Se–semuanya, Nyonya."
"Ya, bawa ke kamarku sekarang. Oke!" Jessi lantas kembali ke kamar untuk berhias terlebih dahulu. Melihat fashion yang digunakan pelayan barunya, dia jadi ingin mencepol rambutnya ke atas juga seperti wanita itu.
__ADS_1
Hingga tak lama kemudian, sang pelayan pun datang membawa banyak daster yang sudah dirapikan sebelumnya. "Ini, Nyonya."
"Letakkan di sana! Nah ambil sebagai gantinya!" Dia mengisyaratkan agar pelayan mengambil amplop coklat berisikan uang di meja rias tersebut sambil merapikan rambutnya.
Pelayan pun hanya menurut dan melihat isi di dalamnya. "I–ini terlalu banyak, Nyonya." Dia bahkan sampai membelalakkan mata melihat jumlah fantastis yang baru dilihatnya sekarang.
Sejenak Jessi mengamati pelayan tersebut. "Apa kau tak butuh uang?"
"Tentu saja butuh, Nyonya. Siapa orang yang tak butuh uang," ucap pelayan itu sambil terkekeh dan mendekap amplop coklat di tangannya.
"Ya sudah ambil saja itu!" Sejenak Jessi menurunkan pandangannya pada alas kaki berwarna putih dengan srampat hijau bertuliskan logo swallow milik pelayannya. Sepertinya itu juga sama dengan ukuran kakinya. "Tinggalkan alas kakimu itu!"
Hal itu sontak membuat sang pelayan membelalakkan mata. "Sandal jepit ini, Nyonya," tanyanya memastikan jika dia tak salah dengar. Namun, majikannya hanya mengangguk sambil menambahkan sesuatu di pipinya.
Mak tak mau, dia pun melepaskan alas kaki yang baru dibuka plastiknya sejam yang lalu tersebut sambil mengecutkan bibir sejenak. 'Orang kaya emang beda. Rada sarap!' batinnya dalam hati lalu melenggang pergi meninggalkan sang majikan.
__ADS_1
To Be Continue...