
Tak terasa mobil mereka telah sampai di wilayah kediaman Light. Terlihat semua orang menunggu dengan khawatir di sana. Jessi dan Nich mulai keluar dari kendaraan, melangkah memasuki rumah.
Segera Nenek Amber melangkah mendekati cucunya dan memberikan handuk yang sudah dia siapkan sebelumnya. "Apa yang terjadi padamu, Sayang?" Wanita tua itu tampak begitu khawatir melihat kondisi Jessi yang mulai memucat akibat kehujanan.
Sementara Damien juga menyerahkan handuk tebal lainnya untuk Nicholas. Semua orang berkumpul di sana setelah mendengar kabar dari Jane, jika Jessi tengah kalap kali ini.
Jessi menatap Jackson, Patricia, dan Maria yang berdiri di depannya. Hingga tak lama kemudian, suara langkah kaki Jane, Olivia, dan Alice mulai terdengar memasuki kediaman.
Mereka semua menatap Jessi dengan pikirannya masing-masing. Wanita yang selama ini tegar dan kejam kepada musuh-musuhnya tiba-tiba saja berubah menjadi sendu. Dia langsung bersimpuh di depan Jackson serta yang lainnya, sambil menundukkan kepala. Air matanya kembali mengalir tanpa diminta.
"Nona."
"Jessi."
Mereka berseru secara bersamaan melihat apa yang dilakukan oleh Jessi. Nich menghampiri istrinya, dan mencoba memintanya untuk berdiri, tetapi wanita tersebut masih tak bergeming dari posisinya.
Sejenak Jessi menata hatinya, mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan maksudnya. Perasaan bersalah ini seperti sebuah batu yang menghantamnya dengan keras tanpa memberinya ruang untuk bernapas.
"Maafkan aku." Sebuah kalimat lirih yang Jessi ucapkan dengan tubuh yang bergetar. Isakan tangisnya begitu memilukan bagi setiap insan yang mendengarnya. "Maafkan aku."
Hanya kalimat itu yang berani untuk Jessi ucapkan, dia kembali bersujud berulang memohon ampun kepada orang-orang di depannya. "Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku." Isakan tangis benturan antara dahi dan lantai membuat mereka segara berlari menghampiri wanita tersebut.
"Nona, apa yang Anda katakan?" Maria memeluk Jessi dengan lembut, menahan agar wanita tersebut tidak terus-terusan bersujud kepada mereka.
"Maafkan aku, Bibi." Air mata Jessi mengalir dengan begitu deras layaknya rintik hujan di luar, hingga membuat tubuhnya yang lemah bergetar. Gejolak dalam dada tak mampu untuk dia tanggung, rasa sesak yang menyeruak seakan menahan kalimatnya agar hanya berhenti di kalimat tersebut. "Maafkan aku."
"Sssttt tenanglah, Sayang. Kami memaafkanmu, ini semua bukanlah salahmu." Maria mencoba untuk memenangkan Jessi, meskipun dia tidak tahu apa yang membuat wanita dalam pelukannya menjadi seperti ini. Namun, sebagai seorang ibu, sangat menyakitkan melihat kondisi Jessi saat ini.
"Ini salahku, jika Paman Samuel tidak menyelidiki tentang keluargaku, dia tidak akan kehilangan nyawa." Sejenak Jessi menghentikan kalimatnya, sesak di dadanya sungguh sangat menyakitkan. Namun, dia tetap mencoba untuk kembali berbicara. "Seandainya ayah Jackson tidak bekerja sama dengan Paman Alex, mungkin kalian masih bisa berkumpul saat ini."
Mereka semua langsung mendekap Jessi secara bersamaan. Ternyata hal yang membuatnya seperti ini adalah rasa bersalah, padahal bukan dia yang melakukan semua ini.
"Nona, itu adalah jalan pilihan keluarga kami. Semua ini bukanlah salah Anda." Jackson akhirnya membuka suara, mengeluarkan apa yang dia pikirkan sejak tadi.
__ADS_1
"Kami sudah ikhlas dengan kepergian mereka. Tapi, kami juga butuh penjelasan dari orang-orang yang tega membunuh keluarga kita tanpa tahu di mana kesalahannya. Bahkan memanipulasi publik kondisi sebenarnya."
Jessi menatap Jackson dalam-dalam, kali ini pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Hingga beberapa saat kemudian, pandangannya mulai mengabur. Dia sudah tak mampu lagi untuk menahan tubuhnya yang lemah. Tanpa mengucapkan sepatah kalimat pun, Jessi langsung tergeletak lemah di pelukan Maria.
"Nona."
Nich langsung mengambil alih tubuh Jessi untuk menggendongnya ke dalam kamar. "Panggilkan Dokter Hendrick segera!"
"Baik, Tuan."
Semua orang merasa panik melihat kondisi Jessi yang memucat, Nich melangkah menuju kamar dengan segera. Dia mengganti pakaian basah istrinya dengan baju hangat, lalu menyelimuti hingga ke atas dadanya. Berulang kali pria tersebut menggosok tangan Jessi sambil meniupnya, menyalurkan hawa panas dari mulut ke tangan sang istri.
Hingga tak lama kemudian, Dokter Hendrick datang bersama Stella. "Apa yang terjadi?"
Jessi terlihat begitu pucat dengan pipi yang memerah, menandakan bahwa wanita tersebut sudah mulai demam akibat kehujanan.
"Cepat periksa!" Nich berdiri dari posisinya, agar Dokter Hendrick lebih leluasa memeriksa pasiennya.
Dokter Hendrick mulai memeriksa kondisi Jessi, beberapa saat kemudian, Nenek Amber datang bersama yang lainnya. "Gantilah pakaianmu juga, Nak! Nanti kamu masuk angin, biarkan Nenek yang menjaga Jessi!"
Setelah selesai Nich keluar, terlihat hanya ada Nenek Amber yang sedang memeras kain kompres untuk meredakan demam Jessi. Dia melangkah mendekati istrinya. "Apa kata dokter, Nek?"
"Istrimu hanya demam biasa karena kehujanan. Jangan khawatir!"
"Biarkan aku, Nek!" Nich mengambil alih kain di tangan Nenek Amber, dengan telaten pria tersebut merawat istrinya yang sedang sakit.
"Kalau begitu Nenek pergi dulu, obat dan bubur ada di atas nakas kalau nanti Jessi bangun."
Pria itu hanya mengangguk, sambil masih fokus menatap cantik istrinya yang kini terlihat pucat. Dikecupnya dahi yang panas itu secara perlahan, sebagai seorang pria, Nich berjanji akan melindungi Jessi dan seluruh keluarganya dalam menghadapi musuh masa lalu yang masih belum terlihat kali ini.
"Tenanglah, Sweety! Aku selalu ada untukmu."
Berulang kali Nich mengganti kompres yang sudah kering, sambil menyeka buliran keringat yang keluar akibat panasnya suhu tubuh sang istri. Meskipun, dia sendiri lelah, tetapi dia tidak ingin beranjak dari posisinya.
__ADS_1
______
Tengah malam Jessi mulai mengerjapkan matanya secara perlahan. Pemandangan sang suami yang tertidur membungkuk dari posisi duduk di sebelahnya membuat wanita itu tersenyum tipis. Tubuhnya yang masih lemas membuatnya sulit untuk bergerak, padahal tenggorokannya seakan kering dan meminta untuk segera melepaskan dahaganya.
Mau tak mau Jessi mengusap pucuk kepala suaminya. Membuat pria tersebut mulai membuka matanya. "Kau sudah sadar, Sweety?"
Jessi hanya mengangguk. "Kau ingin apa? Biar aku ambilkan, Sayang?"
"Haus." Lirih Jessi berbicara, suaranya terdengar serak karena tubuh yang masih lemas dan tenggorokan terasa kering.
"Sebentar." Nich mengambil minuman di atas nakas, lalu membenarkan posisi Jessi agar setengah duduk dengan bersandar di tubuhnya, lantas menyodorkan gelas yang dia bawa.
"Pelan-pelan, Sweety." Jessi meneguknya perlahan, hingga dahaganya berkurang.
Setelah selesai Nich meletakkan kembali gelas ke atas nakas, lalu menyandarkan istrinya di kepala ranjang. "Makanlah dulu, Sweety! Kau harus minum obat."
Sang istri hanya mengangguk. Nich menyuapkan sedikit demi sedikit bubur kepada Jessi dengan perlahan, hingga mangkuk itu bersih. Lalu menyerahkan beberapa butir obat untuk diminum.
"Tidurlah lagi, Sayang!" Nich kembali merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan setelah semuanya selesai. Dia meletakkan punggung tangan di dahi istrinya. "Syukurlah, demammu sudah reda."
"Terima kasih, Suamiku." Nich hanya tersenyum mendengar kalimat lirih istrinya, lalu mengecup dahi Jessi perlahan.
"Jangan lagi menyalahkan dirimu sendiri, Sweety! Hatiku sakit melihatmu sakit dan terluka. Kepergian mereka bukanlah salahmu. Mari kita ungkap semuanya agar hatimu lega!"
Jessi mengiyakan perkataan suaminya. Beruntungnya dia, untuk pertama kali dalam hidupnya ketika merasa hancur, masih ada sang suami yang merawatnya. Semoga keluarga kecilnya selalu bahagia, dan semua masalah ini segera terungkap.
Malam kian larut, suasana semakin sunyi. Sepasang suami istri saling berpelukan dalam remang cahaya kamar, menguatkan di kala sang istri tengah terluka. Menjaga layaknya sebuah permata, menimang dengan lembut agar Jessi kembali terlelap dalam mimpinya.
Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu dan keluargamu kali ini, Sweety!
Nich mendekap erat tubuh istrinya yang lemah. Naluri sebagai suami untuk melindungi Jessi meningkat tatkala melihat sisi lemah sang istri yang selama ini tak pernah dia lihat.
Mungkin hanya Tuhan yang tahu, seberapa besar cinta Nich kepada Jessi. Dia berjanji akan membalas perbuatan mereka lebih menyakitkan dari apa yang dialami istrinya.
__ADS_1
To Be Continue...