Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Kebakaran


__ADS_3

Malam sunyi semakin sepi di kala para warga sudah beristirahat di rumah masing-masing. Hanya ada suara semilir angin dan hewan yang masih terdengar sayup-sayup di telinga setiap jiwa yang masih terjaga.


Seorang pria dengan hati-hati mengawasi situasi sebuah rumah sejak tadi di atas pohon. Hingga setelah beberapa saat kemudian, tampak lampu kediaman tersebut mulai dipadamkan, tanda bahwa penghuninya sudah beristirahat.


Lary segera bergerak dengan hati-hati. Pria itu terlebih dulu menutup semua jalan masuk dari luar, serta memastikan agar penghuni di dalamnya tidak bisa lolos sebelum ditolong orang lain.


"Bos Broto pasti akan menambah lagi bonusku setelah ini," gumam Lary seorang diri bangga akan ide gilanya yang akan menghasilkan pundi-pundi uang nantinya dari Broto. Tanpa memikirkan bagaimana nasib korban nantinya jika rencana itu tak tak berjalan lancar. Padahal semua bayaran yang dia terima hanya dihabiskan untuk bermain judi atau sabung ayam di desa lainnya. 


Perlahan dia menghubungi bosnya terlebih dahulu sebelum melancarkan aksi agar pria itu tiba tepat waktu nantinya. "Semua sudah siap, Bos," ujar Lary setelah panggilan terhubung. 


"Baiklah, aku akan ke sana." Suara Broto terdengar begitu antusias di ujung panggilan. Lalu segera mematikan sambungan tanpa membuang waktu.


Lary pun segera memasukkan ponsel ke dalam saku dan mengambil jerigen berisikan bahan bakar. Tanpa berlama-lama dia lantas menyiram benda tersebut dengan hati-hati di setiap sudut rumah agar tidak ketahuan. Setelah dirasa cukup, pria itu segera melangkah menjauh dan melemparkan korek api yang seketika menyambar bahan bakar. 


Kobaran si jago merah perlahan mulai melahap bangunan sederhana tersebut. Api semakin besar di kala membakar benda yang mudah terbakar. Asap tebal menyebar ke ke udara, memberi warna pada langit yang awalnya gelap hingga berubah menjadi merah menyala. Pria tersebut segera menjauh dari lokasi agar tidak dicurigai para warga nantinya. 


"Nyawa kalian ada di tangan  Juragan Broto sekarang," ucapnya dengan sinis lalu melenggang pergi. 


Sementara itu, dua penghuni rumah yang menjadi sasaran Lary di dalam tengah beristirahat di kamar masing-masing. Namun, entah mengapa Jane merasa tidak enak malam ini hingga wanita tersebut terjaga untuk waktu yang cukup lama meskipun semua lampu rumahnya sudah padam. 


Tak lama kemudian, dia mendengar seseorang seperti tengah bergerak di luar rumahnya. Jane menelisik kondisi di luar dari balik jendela dengan hati-hati. "Siapa dia?" 


Jane mengernyitkan dahi di saat melihat bayangan hitam yang mengendap-endap di luar rumahnya. Hal itu tentu saja membuat wanita tersebut merasa aneh dengan situasi saat ini. Tanpa membuang waktu, dia segera melangkah menuju kamar Stella dengan hati-hati tanpa menyalakan lampu agar pelaku di luar tidak menaruh curiga. 

__ADS_1


"Stella, Stella!" Jane memanggil sang adik dengan lirih sambil mengguncang tubuh yang sudah terlelap dalam mimpi tersebut. "Stella, Stella!"


Merasa ada yang membangunkannya, Stella pun mulai mengerjapkan mata. "Kakak." 


"Sssttt, jangan banyak bicara dan dengarkan aku!" Jane berbicara dengan nada berbisik dan meletakkan jarinya di bibir sang adik. Stella yang mengerti langsung mengangguk cepat dan seketika diam. "Kita harus segera pergi karena ada yang mencoba mencelakai kita." 


Stella hanya melingkarkan jari telunjuk dan jempol sebagai isyarat jika dia paham maksud Jane. Keduanya pun segera melangkah keluar dari kamar dengan mengendap-endap. Mereka bergandengan tangan menuju bagian belakang rumah. Namun, sayangnya pintu tersebut seperti terhalang sesuatu hingga tak bisa dibuka dari dalam. 


"Sialan sepertinya ada yang ingin bermain-main denganku!" umpat Jane kesal dengan situasi saat ini. 


"Bagaimana ini, Kak?" Kepanikan sekaligus takut tergambar jelas di wajah Stella yang tangannya mulai terasa dingin karena takut tidak bisa membantu Jane jika memang terjadi sesuatu yang buruk. 


Namun, Jane mencoba untuk menenangkan kepanikan adiknya dengan sabar dan tak habis akal. "Tenanglah! Kita tidak akan mati hari ini. Ayo!" 


Keduanya berusaha bergerak keluar melalui cerobong asap di perapian rumah itu. Musim yang kadang tak pasti memang membuat setiap rumah memiliki perapian sendiri untuk menghangatkan diri di saat dingin. 


Kotornya dinding hitam berabu di cerobong tak jadi masalah bagi keduanya untuk terus memanjat naik dengan susah payah layaknya seekor laba-laba. Hingga tak lama kemudian, keduanya tiba di bagian atas bangunan rumah. "Cepat lompat dan segera sembunyi!" 


Stella mengangguk paham dan segera melakukan apa yang diperintahkan Jane. Keduanya pun segera melompat dari atap dan bersembunyi di kejauhan tempat. Hingga tak lama kemudian, keduanya melihat seseorang mulai membakar bagian depan rumah mereka dan melarikan diri. 


"Siapa dia?" Jane mengepalkan tangan dengan kuat, baru mereka berada di desa beberapa hari, tetapi sudah ada yang berani bermain-main dengannya. "Kau awasi di sini! Awasi situasi dan tunggu aku kembali! Aku akan mengikutinya."


"Baik, Kak. Hati-hati!" 

__ADS_1


Jane segera melangkah pergi untuk mengikuti pelaku pembakaran rumahnya, sedangkan Stella berjaga dari kejauhan mengawasi situasi rumah mereka yang mulai dilahap si jago merah. 


"Kebakaran! Kebakaran!" Para warga mulai berlarian dan berteriak panik ketika melihat rumah salah satu warga berkobar. Hingga tak lama kemudian, Juragan Broto sungguh datang sebelum api menyebar. 


"Apa penghuninya masih di dalam?" tanya Broto pada setiap warga yang mulai membantu memadamkan api. 


"Tidak tahu, Juragan. Tapi, bahaya di dalam sana, Juragan." 


Layaknya seorang pahlawan kemalaman, juragan Broto segera berlari ke dalam rumah tersebut melalui jalan dengan api yang tak terlalu besar. Dia melalui pintu belakang seperti yang diarahkan Lary sebelumnya. 


Pria tersebut dengan cepat berlari menyusuri setiap kamar yang masih utuh. "Jane, Stella!" teriaknya memanggil penghuni rumah, tetapi tak mendapatkan sahutan. 


"Sial! Mereka sudah melarikan diri. Aku harus buru-buru pergi sebelum mati terpanggang," gumamnya dengan kesal di saat mendapati rencananya tak berjalan sesuai harapan.


Pria tersebut segera melangkah keluar, disambut tanya para warga. "Bagaimana, Juragan?" 


"Tidak ada orang, mereka sudah pergi! Cepat padamkan apinya!" Dengan wajah kesal dan tanpa memedulikan para warga yang kesulitan memadamkan api, pria tersebut bergegas pergi meninggalkan lokasi dengan banyak umpatan kesal di mulut busuk dan tuanya. 


Dia mengemudi dengan mencoba menghubungi Lary, tetapi tak mendapatkan jawaban dari pria itu. "Sialan! Kabur ke mana dia?" 


Berulang kali, Juragan Broto memukul stir kemudi demi melampiaskan kemarahan. Bisa bahaya nanti kalau nanti warga tahu dialah dalang di balik semua itu. Apalagi rencana aksi heroiknya sudah gagal total. "Ke mana perginya kedua wanita itu? Sepertinya aku terlalu meremehkan mereka."


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2