Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Sepuluh Pulau Tenggelam


__ADS_3

Keesokan harinya, hari di mana seharusnya pernikahan Jessi digelar kini berubah menjadi pesta untuk George dan Olivia. Keduanya menikah di atas kapal pesiar mewah dan segala fasilitasnya, dengan segala biaya yang ditanggung oleh Gery Selay. Banyak tamu undangan yang menyaksikan momen tersebut, termasuk Rosa yang kini berdiri di antara para tamu dengan menyimpan dendam pada Jessi dalam hatinya. 


'Lihat saja nanti! Jika aku tidak bisa menghancurkanmu. Maka akan aku hancurkan anak-anakmu kelak,' batin Rosa dengan sorot tajam melihat Jessi dan Nicholas di kejauhan yang tampak begitu mesra membuatnya sakit mata.


Namun, sebuah cengkeraman tangan di pundaknya cukup kuat, seketika menghancurkan lamunan wanita tersebut. "Jangan membuat masalah jika masih ingin hidup tenang sebagai putriku dengan segala fasilitasnya," bisik Gery di telinga Rosa dengan nada sedikit mengancam. 


"Aku tidak melakukan apapun, Ayah," ucap mengubah ekspresi menjadi tersenyum menampakkan deretan gigi putih yang tak ada selipan cabai merah pada Gery Selay. 


"Bagus." Gery menepuk pelan bahu Rosa, lalu melangkah pergi meninggalkan putri tirinya untuk menemui Jessi dan Nicholas di sisi lain.


Entah berapa kerugian yang sudah dia tanggung demi mengatur kompensasi pada Jessi. Mungkin hampir seperempat dari harta yang dimiliki. Pria itu bahkan harus membuang egonya dan merendahkan diri ke media, untuk meminta maaf agar publik tak gempar atas apa yang terjadi. Pemilihan Presiden semakin dekat, dia tidak ingin hanya karena Rosa semua kesempatannya setelah kepergian Jerry hilang begitu saja. Dialah satu-satunya kandidat terkuat saat ini, jadi Gery berharap Keluarga Bannerick maupun Light tak lagi menyimpan dendam dan mendukungnya menuju kursi Kepresidenan.


"Dasar penjilat! Kalau bukan karena keluarga Chasney yang menahanku. Kali ini aku pasti sudah membunuh wanita sialan itu," gumam Rosa lirih dengan tangan yang terkepal kuat menatap tajam Gery di kejauhan. Di mana pria tersebut mengeluarkan senyum palsu pada sepasang suami istri yang duduk di rantai tertinggi dunia bisnis itu. 


Rosa bisa menahan semua emosinya ini karena bujukan sang ayah kandung. Ia mengatakan jika harus bersabar dan menunggu waktu yang tepat kalau ingin pembalasan dendam pada mereka berjalan lancar. 


Kematian Rossi sudah membuka mata mereka jika lawan yang dihadapi bukanlah orang gampangan. Apalagi Jessi dan Nicholas yang bahkan mampu membinasakan mafia Virgoun dan kekuasaan Jerry Morning hanya dalam hitungan hari. Sedikit saja kesalahan maka akan berakhir fatal pada Rosi maupun Ayahnya kalau sampai Jessi mengetahui hal itu. Lagi pula masih ada bayi suci dengan segala kemurniannya yang bisa keduanya manfaatkan untuk memupuk dendam yang menggelora dan dilatih sebagai mesin pembunuh yang sempurna nantinya.


Akan tetapi, bisikan dari belakang kembali membuyarkan lamunan Rosa. "Daripada sibuk memikirkan dendam, lebih baik kau coba untuk mendekati pria kaya di sini agar hidupmu jadi lebih enak," ujar Ibunya membisikkan kalimat provokasi agar putrinya bisa lebih bermanfaat dan membuatnya semakin kaya.


"Maksud, Ibu?" 


"Ibu dengar ada salah satu pewaris konglomerat Negara K di sini. Tapi, dia juga memegang perusahan milik wanita itu. Kalau kau bisa menggaetnya, pastinya hidup kita tidak perlu lagi kekayaan Gery yang tak seberapa dibandingkan mereka." Pandangan sang Ibu terus mengedar ke segala arah mencari-cari orang yang dia maksud. 

__ADS_1


Informasi yang dia terima dari teman-teman sosialita selalu akurat. Apalagi jika sudah bicara tentang pengusaha muda yang kaya, tetapi masih sendiri. Jika Nicholas, jangan tanya lagi, bahkan meskipun pria itu masih sendiri tidak ada yang mampu mendekatinya, apalagi sekarang sudah memiliki istri yang kaya dan berbahaya. Mengantarkan nyawa namanya kalau sampai mengusik mereka. 


"Maksud, Ibu. Dia aslinya putra konglomerat tapi lebih memilih menjadi bawahan wanita itu?" tanya Rosa memastikan. 


"Iya, tapi jangan salah. Meskipun bekerja di bawah wanita itu. Dia memegang posisi tinggi di perusahaan, bukan sekedar karyawan biasa. Bahkan posisi yang biasanya diduduki oleh pemilik perusahaan." Sesaat kemudian pandangannya menemukan sosok Mario dengan wajah datar di kejauhan. "Itu dia. Cepat dapatkan dia dan kau tak akan hidup susah seperti Ayahmu itu!"


Kedua tangan Rosa terkepal kuat, dalam hatinya cukup muak dengan kelakuan sang ibu. Wanita tersebut selalu saja menyuruhnya untuk mencari pria kaya, bahkan tak peduli berapa umurnya. Selain itu, watak gila harta jugalah yang sudah memisahkan dia dengan Keluarga Chasney. Wanita itu menangkap pria yang lebih kaya—Gery Selay—dan memilih berpisah dengan ayah kandung Rosa, memisahkannya dengan Rossi. 


Akan tetapi, kali ini Rosa setuju dengan usulan ibunya. 'Jika pria itu adalah bawahannya. Bukankah artinya aku bisa mendapatkan banyak informasi nanti darinya! Sekali dayung sepuluh pulau akan tenggelam di makan ombak,' ucapnya dalam hati lengkap dengan sebuah seringai iblis di wajahnya. 


Rosa melangkah dengan dengan arogan melewati beberapa tamu yang sesekali menyapanya. Dia sedikit membusungkan dada dan mengangkat dagu ketika langkahnya semakin dekat pada target sasarannya. 


"Awh," rintihnya dengan lihai di saat pura-pura tersandung kaki setibanya di hadapan Mario. Sayangnya, pria itu tak menyambut tubuhnya seperti harapannya, bahkan hanya melirik sinis wanita yang beruntungnya tidak terjerembab ke lantai tersebut. 


Belum sempat Rosa berbicara, tanpa mengucap sepatah kata pun, Mario tetap meletakkan kedua tangannya di saku dan melangkah pergi di saat melihat sang adik yang tampak cantik mengenakan gaun. 


Rosa yang melihat pengabaian pria itu hanya bisa semakin geram dengan tingkah keluarga Jessi yang terkesan arogan. 'Sialan! Kenapa wataknya sama saja dengan wanita itu?' Sorot matanya tak beralih dari langkah Mario. Hingga ketika pria itu menghampiri seorang gadis cantik sambil tersenyum dalam hatinya sungguh mengobarkan api kebencian yang semakin membara. 


"Jika dia bisa tersenyum seperti itu pada gadis lain. Kenapa tidak padaku? Brengsek!" gumam Rosa lirih sambil mengentakkan kaki dan berbalik arah melangkah pergi. "Lihat saja nanti! Aku akan menaklukkanmu dan membuatmu bertekuk lutut di bawah kakiku!" 


Tanpa disadari apa yang Rosa lakukan terlihat jelas oleh Jessi yang sedari tadi selalu mengedarkan pandangan. Beruntungnya dia sudah bertemu Anna untuk misi merayu Mario dan Jessi yakin, Anna mampu menyingkirkan wanita medusa kedua itu dari anak buahnya. 


Meskipun memaafkan atas apa yang dilakukan, bukan berarti Jessi akan tinggal diam. Hanya saja dia tahu, masih ada akar dibalik kebencian Rosa yang lebih besar sedang mengumpulkan kekuatan untuk menyerangnya. Maka dari itulah, Jessi membiarkan Rosa bebas agar mereka bisa melakukan pergerakan lebih. 

__ADS_1


Namun, di saat mereka berani menyentuh dan melakukan hal buruk lagi pada orang-orangnya. Jangan salahkan Jessi yang kejam! Salahkan dia yang memilih menuruti orang di belakangnya. 


"Sweety, apa yang kau cari?" tanya Nicholas melihat sang istri yang tubuh di sampingnya, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. 


"Bukan apa-apa, Sayang. Hanya saja aku bahagia melihat kebahagian mereka." Jessi berdalih sambil menatap George dan Olivia di pelaminan dengan senyum yang mengembang. "Sayang, bagaimana kalau kita melakukan resepsi lagi?" 


"Lagi?" Nicholas hanya bisa membelalakkan mata mendengar keinginan istrinya. "Tapi, Sweety. Kau 'kan sedang hamil besar. Bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu?" 


Bukan masalah biaya atau kerepotan jika membuat pesta yang membuat Nicholas khawatir, melainkan kondisi isinya yang berbadan empat dan usia kehamilannya yang semakin mendekati hari melahirkan. 


"Sayang, tapi ini juga keinginan mereka," ucap Jessi menggoyangkan tangan suaminya sambil mengusap perut buncit mengeluarkan jurus andalan seraya mengerucutkan bibir.


Nicholas hanya bisa menghela napas kasar jika sang istri sudah seperti itu. Ujung-ujungnya Jessi pasti akan merengek sampai apa yang diinginkan terpenuhi. "Baiklah, nanti kita konsultasi ke dokter dulu apakah diperbolehkan atau tidak."


"Kita adakan di Pulau Ceria."


"Apa pun yang kau inginkan, Sweety," jawab Nicholas sambil melengkungkan bibir menampakkan ketampanannya yang tak habis dimakan usia.


Jessi yang mendengar hal itu langsung mengecup pipi Nicholas dengan wajah semringah. "Kau memang yang terbaik, Suamiku." 


Sebuah senyuman sang istri selalu saja membuat rasa ego di hati Nicholas luruh seketika. Dia pun hanya mengangguk kecil sambil kembali merengkuh bahu sang istri agar kepalanya bersandar padanya. Sungguh semua ini terasa begitu membahagiakan memiliki istri yang sangat dicintai juga anak-anak yang akan mewarnai hari-harinya sebentar lagi. 


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2