Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Patung Themis


__ADS_3

"Apa misimu berhasil kali ini?" Terdengar suara bariton seorang pria yang sangat dikenalnya selama ini di dalam video tersebut.


Tak terasa tubuh Jessi mematung di tempatnya ketika melihat video yang menayangkan gambar sang mantan suami di dalamnya. Dia terdiam untuk waktu yang cukup lama, hingga sebuah genggaman tangan Nicholas menyadarkannya dari lamunan.


"Apa kau juga mengenalnya?" Jessi seketika menatap tajam seolah tak percaya ke arah George, saat ini semua terasa begitu membingungkan baginya.


Pria itu mengangguk kecil. "Dia diumumkan sebagai anak sah dari Marcopolo tujuh tahun yang lalu." George mencoba mengingat kembali wajah dalam video tersebut. Saat di mana Brian menginjakkan kaki di dunia mafia, dia memang diperkenalkan sebagai putra dari Marcopolo yang hilang. Bahkan penyambutannya sangat meriah di kala itu. Jadi, ketiga keluarga besar pasti tahu siapa pria tersebut.


"Marcopolo? Sesepuh mafia yang melegenda dengan kejahatannya?" Jessi semakin meninggikan suara, menuntut jawaban, menatap seakan tak percaya ke arah George, perasaannya sungguh seperti dipermainkan kali ini.


George mengangguk, membenarkan kalimat yang keluar dari mulut sang nona karena memang begitulah kenyataannya.


Tubuh Jessi bergetar, sebelah tangan mengepal kuat. Darah seakan mengalir deras ke ubun-ubunnya, hingga membuat ujung jemari terasa begitu dingin. Wajah cantik itu mulai pucat pasi, dengan manik mata yang sangat mengerikan.


Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar, bahkan saat itu mereka masih menjadi sepasang suami istri bersama Brian. Namun, pria itu tidak pernah sekali pun menceritakan tentang keluarga kandungnya, selain dia berasal dari panti asuhan di Pedesaan Negara X.


Jika Brian adalah putra sah Marcopolo dan kakak dari Johny Messis yang notabene adalah pemimpin mafia Virgoun, berarti semua penyelidikan kejatahan selama ini merupakan ulah dua bersaudara itu. Dengan dibantu pemerintahan di bawah kepemimpinan Jerry Morning, serta perlindungan jajaran tertinggi kepolisian Barron Night.


Cukup sudah, wanita itu lemas sambil memejamkan mata. Semua yang terjadi saat ini tak mampu lagi dia cerna dengan akal kewarasannya. Jessi menghembuskan napas panjang, mendongakkan kepala sambil memejamkan mata untuk waktu yang cukup lama, hingga akhirnya memilih untuk berdiri dari posisinya menatap lekat wajah suami yang setia menenangkan di sampingnya di kala dirinya kacau seperti ini.


"Sayang, aku ingin pergi ke rumah lama." Merasakan tangan istri dalam genggamannya sudah begitu dingin dan bergetar karena terkejut mengetahui kenyataan ini, Nicholas mengangguk kecil. Dia sendiri baru tahu faktanya sekarang, pantas saja ketika menyelidiki tentang Brian hanya ada data kosong yang didapatnya.


Pria tersebut cukup tahu bagaimana terkejutnya Jessi karena hal ini. Kebohongan, pengkhianatan, bahkan kejahatan orang yang pernah mengisi hati seakan membunuh batin istrinya jika tak kuat menahan segalanya.


"Aku temani." Dia ikut berdiri dari posisinya sambil masih menggenggam erat tangan kecil sang istri, sedangkan Jessica hanya mengangguk kecil.


"Rapat dibubarkan!" ujar Jessi.

__ADS_1


Semua orang di dalam ruangan dibuat bingung akan tingkah keduanya, tetapi mereka hanya bisa mengikuti perintah sang majikan tanpa banyak bertanya. Selama ini memang tidak ada satu anak buah pun tahu status Jessi yang sesungguhnya adalah seorang janda.


Sepasang suami istri tersebut langsung melangkah meninggalkan ruangan menuju garasi mobil. Awalnya Jessi ingin meminta menggunakan motor, tetapi melihat kondisi istrinya, serta dinginnya cuaca membuat Nicholas mengizinkan memakai kendaraan dengan atap terbuka saja. Perjalanan cukup jauh dan akan memakan waktu lumayan lama. Dia hanya tak ingin istrinya sakit setelah ini.


Jessi menyadari akan hal itu. Untung saja hari ini adalah weekend, jadi suaminya memang tidak menerima pekerjaan di hari seperti sekarang dan lebih memilih menemani sang istri seharian penuh.


Sebagai pasangan suami istri yang masih baru, tentu saja Nicholas tak ingin membuang waktu hanya dengan mencari uang dan menumpuk kekayaan. Saat-saat bersama istrinya adalah obat dari segala kepenatan setelah bekerja di hari-hari lainnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya, udara di luar sudah cukup dingin dan istrinya memaksa untuk membuka atap. Angin berembus kencang mengibarkan rambut indah istrinya. Dia duduk di bagian atas sambil merentangkan kedua tangannya.


"Aaaa!" Jessi berteriak sekuat tenaga, jalanan yang sepi membuatnya bebas untuk melakukan apa pun tanpa mengkhawatirkan kenyamanan pengguna jalan yang lain.


Setiap embusan angin dingin yang menerpa wajahnya seakan membawa pergi beban hidupnya. Menurut Jessi angin dan air adalah elemen terbaik untuk meluruskan kembali pikiran kacaunya.


Setelah menempuh waktu cukup lama, mereka akhirnya tiba di rumah terbengkalai keluarga Alexander. Hawa dingin, sunyi, dan mencekam menambah kesan menyeramkan bangunan tua itu. Tanpa sadar embusan semerbak angin membawa sebuah aroma bunga yang menenangkan, meskipun bulu kuduk sudah meremang, tetapi tekad kuat untuk membongkar segala teka-teki membuat Jessi menyakinkan diri untuk melangkah memasuki kawasan kediaman tersebut.


Namun, wanita itu mengangguk kecil. "Aku akan baik-baik saja." Jessi mendekat ke arah suaminya, melingkarkan kedua tangan di antara bahu dan leher suaminya, memeluk dengan erat sambil menghirup aroma maskulin sebagai pengisi kekuatannya.


"Selama ada kamu, aku akan baik-baik saja, Sayang." Jessi mengendurkan pelukan sambil tersenyum ke arah suaminya, setelah mengumpulkan keberanian.


"Ayo!"


Mereka melangkah memasuki kawasan kediaman terbengkalai itu. Udara dingin membuat tumbuhan di sekitar mulai layu bahkan mati karena perubahan cuaca yang terjadi.


"Apa yang ingin kau cari, Sweety?" Embusan angin menerbangkan daun kering yang berguguran di seluruh penjuru, seakan menyambut kedatangan sepasang suami istri di pintu masuknya.


"Aku yakin ayah pasti memiliki bukti yang kuat hingga membuat mereka memilih untuk menutup rapat kenyataan yang sesungguhnya."

__ADS_1


Suara engsel berderit ketika tangan Jessi mendorong pintu kayu yang sudah lapuk di makan usia terdengar begitu jelas hingga menusuk gendang telinga. Tidak ada perubahan dari bangunan ini sejak kali terakhir mereka datang. Hanya sampah pepohonan dan tumpukan debu beterbangan sebagai tuan rumah di sini.


Mereka kembali menyusuri tiap ruang yang ada di sana. "Kira-kira di mana ayah akan menyimpan bukti, Sayang?" Jessi tidak memiliki ingatan sedikit pun tentang rumah ini, sehingga cukup kesulitan untuk mengira-ngira ruangan mana yang harus diselidiki.


"Kita cari di kamar orang tuamu dulu!"


"Ayo!" Mereka melangkahkan menaiki tangga, menuju lantai dua. Sebelumnya, penjelajahan mereka terhenti di ruang bayi. Kini, sepasang suami istri itu berjalan menuju kamar lainnya.


Dibukanya sebuah pintu salah satu kamar, terlihat ruang yang luas dan berantakan. Ukurannya lebih besar dibandingkan dengan kamar lainnya. Mereka mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.


"Sweety, jika barang bukti di sini berupa kertas, mungkin sudah hancur dimakan usia. Tapi, tiga puluh tahun yang lalu tidak ada penyimpanan data seperti sekarang." Jessi mengangguk, membenarkan dugaan suaminya. Akan tetapi, dia tidak akan menyerah dengan begitu mudah.


Terlihat sebuah patung Themis dengan membawa sebuah pedang dan timbangan di tangannya, sebagai simbol keadilan. Jessi melangkah mendekat, mengambil benda yang menarik perhatiannya tersebut.


Ayahnya adalah seorang Jaksa Eksekutor, sangatlah wajar jika memiliki patung seperti ini di rumahnya.Terbuat dari logam membuat benda itu masih utuh, meskipun sudah tiga puluh tahun lamanya. Jessi membersihkan kotoran yang melekat di sana menggunakan bajunya begitu saja.


Baginya, ini merupakan salah satu peninggalan kenangan kedua orang tuanya yang tersisa. Nich melihat apa yang dilakukan istrinya lantas mendekat. "Apa yang kau lakukan, Sweety?"


"Aku membersihkan ini, Sayang." Jessi menggosok dengan kuat karena debu yang menempel cukup tebal.


"Jika mau, bawa saja pulang, Sayang. Kita bisa membersihkan di rumah nanti."


Tanpa memandang sang suami Jessi terus menerus menggosok patung tersebut, hingga tak terduga, mulai muncullah sebuah ukiran di bagian bawah benda tersebut.


"Ini." Nich dan Jessi saling menatap tak percaya, apakah ini jawaban atas pencarian mereka.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2