Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Lagi-lagi Bumil


__ADS_3

Setelah menyelesaikan semua urusan di desa, Jessi dan Stella kini ikut serta tinggal di rumah Damien bersama dengan Jane. Misi mereka kali ini adalah menyatukan kedua insan yang tak kunjung menunjukkan perubahan dalam hal percintaan tersebut


Sementara itu, Nicholas kembali ke Negara N karena urusan pekerjaan. Dia terpaksa menitipkan istri di rumah Damien karena keinginan ibu hamil itu sendiri yang merasa bosan di Negara N karena tidak ada hal menarik, serta Jessi masih ingin melepas rindu dengan Jane dan Stella untuk beberapa hari ke depan. Sebelum pesta pernikahannya di kapal Pesiar.


Hari ini, Stella terpaksa harus berangkat kuliah dari tempat Damien. Beruntung jarak kampus dengan kediaman itu tidaklah terlalu jauh jika menggunakan mobil dan Damien sudah menyediakan untuk mereka, sehingga gadis tersebut bisa kembali belajar tanpa hambatan.


"Jane, kenapa di sini sangat membosankan," tanya Jessi sambil memakan keripik kentang di tangannya dan berulang kali mengganti siaran televisi.


Sebagai pengangguran abadi saat ini. Jessi yang tengah hamil dan Jane yang baru sembuh dari luka tentu saja tidak diperkenankan untuk bekerja dan hanya tinggal di rumah sambil menikmati hidup. Lagi pula memang mereka tidak punya pekerjaan  di negara ini selain menghabiskan uang Damien maupun Nicholas dan berbuat ulah jail.


"Huft, bukankah lebih baik tinggal di desa dan melihat membangun rumahku. Sungguh menyebalkan tinggal dengan pria tak tahu malu itu." Di mulut Jane terus menerus menggerutu, tetapi dalam hatinya sungguh berbunga-bunga. Apalagi kehadiran Jessi dan Stella membuat suasana antara dia juga Damien menjadi tidak canggung ketika di rumah. Sayangnya pria itu adalah seorang workaholic, atau bisa dibilang gila kerja. 


Rumah di desa yang hanya menyisakan abu belum tahu lagi akan dia buat seperti apa. Rencananya Jane ingin membangun rumah impian sederhana sendiri nantinya agar sungguh bisa mewujudkan keinginan sang ibu di surga.


Di sini mereka setiap hari hanya melihat Damien menghabiskan waktu dengan tumpukan dokumen, entah di rumah, padahal seharusnya itu pekerjaan kantor. Namun, hal yang tak keduanya tahu adalah Damien memilih pulang lebih awal dan membawa pekerjaannya kembali demi berada di rumah bersama orang-orang terkasihnya.


"Jane, bagaimana kalau kita bermain?" tanya Jessi dengan antusias mengeluarkan ekspresi imut kepada kakaknya. 


Jane hanya bisa menghela napas panjang jika Jessi sudah bertindak seperti itu karena kalau tidak dituruti, wanita tersebut pasti akan merengek bayinya nanti bisa marah sebab keinginannya yang tak dikabulkan. "Sekarang apa lagi yang kau inginkan?" tanya Jane sambil meraih minuman di depannya. 


"Ayo kita ke kantornya Kakak Ipar!" 

__ADS_1


"Keinginan bayimu lagi?" Jessi mengangguk dengan cepat, sedangkan Jane hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak jika melihat tatapan mencurigakan dari Jessi.  "Apa yang ingin kau lakukan?" 


"Kejutan. Ayo cepat!" Tanpa berbasa-basi Jessi langsung mengambil tas kecil di kamarnya dan menarik Jane agar segera beranjak pergi. 


Mau tak mau Jane pun hanya bisa menuruti wanita hamil tersebut dengan perasaan malas. Namun, dalam hatinya juga penasaran seperti apa kantor tempat kerja Damien. 


Mereka pun segera pergi ke garasi dan melajukan kendaraan menuju Barrack Corp, tempat di mana banyak perusahaan kecil di bawahnya dan tidak ada satupun yang mengenal keduanya. 


Beberapa saat kemudian, keduanya pun tiba di gedung pencakar langit tersebut. Meskipun mereka cukup lama tinggal di Negara X sebelumnya, tetapi Jessi dan Jane belum pernah berkunjung ke tempat itu. "Ternyata kakakku cukup lumayan kaya. Apa kau tak ingin menjadi Nyonya Barrack, Jane?" tanya Jessi sambil berdecak kagum melihat kesuksesan kakak kandungnya itu. 


"Cih, mengkhayal! Kau sudah melihat gedungnya sekarang apa yang ingin kau lakukan?"


"Damien! Keluar kau!" Suara keras teriakan Jessi yang menggelegar membuat Jane seketika membelalakkan mata dan langsung melepaskan tangan adiknya serta melangkah mundur. 


Para karyawan pun mulai menghentikan aktivitasnya dan saling berbisik melihat seorang wanita hamil yang berteriak memanggil pemilik perusahaan sambil menangi itu. 


"Damien Brengsek!" Buliran hangat sungguh berkumpul di pelupuk mata Jessi membuat para karyawan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan wanita itu. "Kau! Panggil Damien Barrack kemari! Bisa-bisa dia menelantarkan aku setelah membuatku bunting seperti ini!" 


Riuh bisik-bisik para karyawan mulai terdengar begitu keras, mereka sama sekali tak menyangka jika bos yang selama ini terkenal dingin begitu tega meninggalkan seorang wanita yang tengah hamil tanpa tanggung jawab. Jessi yang terduduk di lantai tampak begitu rapuh dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya.


 "Damien! Kau harus bertanggung jawab padaku dan anak kita," ujar Jessi dengan lirih sambil mengatupkan kedua tangan dan sedikit mengintip melihat reaksi para karyawan di sana.

__ADS_1


Mereka sungguh iba dengan air mata buaya Jessi. Hingga seorang karyawan pun bergegas menuju lantai atas untuk melaporkan kejadian itu para sang atasan. Dengan hati-hati seorang pria mengetuk pintu ruang rapat karena Damien sedang berada di sana untuk mendiskusikan proyek baru. 


"Masuk." Suara sahutan dari dalam membuat seorang karyawan masuk dan langsung membisikkan sesuatu di telinga Damien. 


"Maaf, Tuan. Di bawah ada wanita mengatakan meminta pertanggungjawaban Anda," bisik pria itu. 


"Tanggung jawab?" Damien hanya menautkan kedua alisnya mendengar penuturan sang karyawan tersebut, dan apa yang mereka bicarakan samar-samar terdengar oleh Dove yang saat itu duduk di kursi samping  Damien. 


"Aku akan ke sana," ujar Damien sambil berdiri dari posisinya. "Rapat kita tunda dua jam ke depan. Lanjutkan pekerjaan kalian masing-masing!"


Tanpa membuang waktu Damien melangkah mengikuti sang karyawan yang memanggilnya tadi. Hingga setibanya di lantai utama, dia melihat Jessi yang duduk di lantai sambil menangis dengan Jane yang berada tak jauh dari sang adik dengan menutup wajah. 


Damien segera melangkah mendekati adiknya dan membantu wanita itu berdiri. "Jessi, apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria tersebut.


"Damien, tega-tega kau meninggalkan aku dan anak kita demi memilih wanita sialan itu!" tunjuk Jessi pada Jane di posisi yang tak jauh darinya. 


Keduanya hanya bisa membelalakkan mata, begitu pula dengan para karyawan yang menyaksikan kemarahan Jessi sejak tadi. Tak lupa dengan Dove yang tadinya mengikuti karena rasa penasaran kini wanita itu hampir saja pingsan di kejauhan karena lututnya lemas melihat wanita hamil di depan Damien.


Dia tidak menyangka jika Damien sanggup berbuat seperti itu pada wanita. Bahkan hingga membuatnya mengandung benih, padahal selama ini pria tersebut tak terlihat dekat dengan siapapun. Nyatanya diam-diam malah mengecewakan.


To Be Continue 

__ADS_1


__ADS_2