
Entah ke mana kedua pria itu membawa Jessica pergi. Mereka tiba-tiba berhenti di sebuah rumah tua yang tak terawat dengan suasana sunyi yang semakin mencekam, setelah lama menempuh perjalanan panjang. "Ayo cepat turun?" ujar Si Kurus tak lagi menampakkan keramahannya pada Jessica seperti sebelumnya.
"Rumah siapa ini, Paman? Apa ini rumah Hanzel yang terbuat dari coklat itu?" tanya Jessi pura-pura polos karena sebelumnya mereka menyebutkan coklat sebagai iming-iming, padahal dia sendiri tidak terlalu peduli dengan tokoh dongeng.
Tanpa menjawab pertanyaan si kecil, pria kurus langsung saja mendorong-dorong tubuh mungil itu agar segera masuk ke rumah, sebelum ada yang melihatnya. Furnitur dalam hunian tersebut tampak sudah tua dan sedikit berdebu.
Jessica melihat sekeliling, matanya mengitari setiap sudut, memerhatikan satu per satu lukisan kuno yang menempel di sana. Setelahnya, dia melangkah ke ruang tengah, di mana ada satu anak laki-laki yang duduk seorang diri di sofa hitam, usianya tidak begitu jauh dengan Jessica. Namun, tubuhnya terikat oleh tali dan langsung menatapnya tanpa berkedip.
"Itu siapa? Anak Paman? Kenapa diikat?" tanya Jessica penasaran. "Apa dia si gila yang suka memberontak jadi harus diikat?"
Pria kurus hanya bisa membulatkan mata sepenuhnya mendengar kalimat si kecil yang sungguh semakin membuat kepalanya berdenyut nyeri. "Jangan banyak bertanya! Sebaiknya kalian bermain dulu di sini, nanti Paman kembali lagi," tutur si penculik menyuruh Jessica bergabung dengan anak lelaki itu, sambil mengikatnya sama seperti bocah pria tersebut.
"Paman, apa yang kau lakukan?" teriak Jessica berpura-pura meronta-ronta, padahal dia sudah menyembunyikan sesuatu sebelum turun dari mobil di balik pakaiannya jika memang terjadi sesuatu yang buruk nantinya.
"Jangan cerewet! Lebih baik kalian berkenalan. Kita lihat saja nanti, orang tua siapa di antara kalian yang lebih kaya." Pria itu kemudian meninggalkan dua anak kecil tersebut ke lantai atas, sedangkan salah satu penculik lainnya masih menikmati berpelukan ria dengan mobil yang baru mereka sewa. Padahal tanpa keduanya sadari jika mengembalikan kendaraan itu nanti akan terkena kerugian yang cukup besar.
"Hei, kamu kenapa diam? Apa mulutmu hanya di pakai untuk makan saja? Kalau punya mulut buat ngomong juga?" tanya Jessica pada bocah yang sedari tadi tengah menatapnya, tetapi tak menjawab sedikitpun pertanyaan Jessica. "Aku sedang bertanya, jawablah! Kenapa malah melihatku seperti itu, dasar lelaki aneh! Menyebalkan!" umpat Jessica kesal dan langsung menyandarkan tubuhnya yang terikat di sofa dengan susah payah karena tangan yang terikat.
"Kamu cantik." Sebuah kalimat yang keluar dari mulut bocah kecil di sampingnya membuat Jessica seketika menoleh padanya setelah sekian lama keduanya terdiam.
"Kau memiliki penglihatan yang bagus. Aku memang cantik. Tentu saja, aku seorang putri yang terlahir dari Ibu tercantik sedunia," ucap Jessica dengan bangga membayangkan Jessi tua yang tak pernah ada habisnya jika memarahinya. Namun, memang benar ibunya itu sosok yang cantik, karena mampu menggaet seorang Nicholas Bannerick hingga terciptalah bibit premium sepertinya juga kedua kakaknya.
"Nama kamu siapa? Kamu diculik juga?" tanya bocah pria tersebut dengan masih menatap Jessica tanpa berkedip seolah tahu apa yang dia rasakan.
__ADS_1
"Panggil aku, Je."
"Nama yang cantik. Secantik parasmu," ujar pria kecil itu tanpa ragu karena memang baginya ini pertama kali melihat gadis cantik di hadapannya, sedangkan semua bocah perempuan di sekolahnya tidak ada yang membuatnya tertarik seperti saat ini.
"Terima kasih. Kamu masih kecil sudah pandai merayu. Pasti kalau nanti dewasa akan menjadi saingan Kak Jo nanti." Jessica tertawa karena membayangkan jika keduanya dewasa dan berebut wanita di klub malam seperti apa yang dilihatnya beberapa malam yang lalu. Di mana Jessica mengikuti Mario bekerja dan malah mendapati matanya harus ternoda karena dua pria yang memerebutkan satu wanita. "Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu di sini?"
"Sejak pagi. Apa kamu tidak melihat, aku bahkan juga masih memakai seragam sepertimu? Mereka menculikku saat berangkat sekolah," jelasnya.
"Oh begitu. Apa kau lapar? Ngomong-ngomong aku lapar sekali. Rugi rasanya kalau kita diculik tapi mereka tidak memberi makan. Ayo bekerja sama!" ajak Jessica sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Bekerja sama bagaimana?" tanya bocah pria itu bingung dengan jalan pikiran gadis manis yang ternyata juga tidak takut diculik seperti kebanyakan teman wanitanya yang merepotkan.
"Cepat merintihlah! Pura-pura sakit perut, kalau perlu pingsan sekalian, aku akan memanggil mereka." Tanpa membuang waktu, Jessica langsung mendorong bocah pria tersebut dengan kasar hingga dia terjerembab di lantai dan meringis kesakitan. Bukan hanya tubuh bocah itu yang masih terikat, tetapi Jessica mendorongnya tanpa aba-aba dan seketika mengejutkannya.
"Bagus." Jessica menjawab singkat, kemudian dia berteriak lantang memanggil penculiknya. "Paman! Paman! Hallo ... kemarilah! Anak ini mau mati karena tidak kalian beri makan! Apa kalian mendengarku? Cepatlah!"
Tak lama kemudian, kedua penculik itu pun datang menghampiri Jessica dari dua arah yang berbeda. "Ada apa teriak-teriak?" seru mereka bersamaan.
"Apa kalian tidak melihat? Dia hampir mati kelaparan!" bentak Jessica pada keduanya memerlihatkan bocah pria yang meringis kesakitan di atas lantai dengan tubuh yang masih diikat.
"Apa yang terjadi padamu, hah? Jangan mati dulu!" ujar si gemuk yang langung mengangkat tubuh bocah kecil tersebut kembali ke sofa.
Beruntungnya bocah itu berakting seperti apa yang Jessica inginkan seolah tak berdaya dan hampir mati begitu saja. "Hei! Bangun!" Pria gemuk tersebut berulang kali menepuk pipi bocah kecil dengan rasa khawatir kalau sampai tawanannya tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Buka dulu talinya, Paman. Apa kalian bodoh? Jelas-jelas dia sakit masih saja mengikatnya. Kalian pikir bocah ingusan seperti kami bisa kabur dari sini," ujar Jessica dengan suara cemprengnya yang membahana, menambah kepanikan kedua pria itu.
Mau tak mau keduanya pun mengikuti kata-kata gadis kecil tersebut dan melepaskan ikatan Jessica maupun bocah satunya.
Si pria gemuk lantai membaringkan tubuh bocah pria di sofa sambil sesekali mendengar detak jantung juga deru napas dari hidungnya. "Masih bernapas, Bos? Kita harus bagaimana?" tanya si gendut lagi.
"Dia lapar, Paman! Apa kalian tidak tahu sebelum di culik dia sama sekali belum sarapan. Dan lihat itu." Jessica menunjuk sebuah jam di dinding. "Sudah jam berapa sekarang? Bahkan waktu makan siang juga sudah lewat. Lihat saja nanti kalau sampai di mati! Pasti dia akan menjadi tuyul yang bergentayangan menghantuimu untuk meminta tumbal makanan," ucap Jessica membuat si bocah pria hampir saja tertawa.
"Lalu kami harus bagaimana? Apa kamu bisa memasak?" tanya si kurus dengan bodohnya.
"Paman, pikir bocah sekecil aku bisa memasak?" Jessica berbalik bertanya. Sejenak keduanya saling berpandangan lantas menggelengkan kepala dengan cepat serentak.
Melihat rencananya berjalan mulut. Jessica menghela napas berat layaknya sang ibu di rumah ketika menghadapi kenakalannya. "Nah itu tahu. Kenapa punya otak hanya disembunyikan? Belikan aku dan dia makanan, pizza, spaghetti, burger, dan tacos."
"Hah? Apa? Di sini tidak ada makanan seperti itu, adanya nasi padang atau beli di warteg," ucap si Gendut seketika membayangkan sebuah restoran kesukaanya dari dengan menu negara lain yang berada di negara ini.
"Tidak! Dia tidak akan mau, Paman mau dia mati di sini? Makanan seperti itu, bisa-bisa membuat kami anak kecil alergi dan keracunan!" Jessica berkilah sambil mencebikkan bibir seolah tahu apa yang di pikirkan dua pria di depannya.
Lelaki dewasa di depannya lagi-lagi hanya bisa mendengus kesal. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Gadis kecil itu sungguh merepotkan dengan segala tingkah dan bicaranya yang begitu pedas tanpa bisa di saring sedikitpun.
"Tunggu apalagi, Paman! Cepat pesan! Kalian mau dia mati sebelum uangnya datang pada kalian?" bentak Jessi seolah mengingatkan mereka jika uang tebusan dari bocah kecil itu akan segera datang.
To Be Continue...
__ADS_1