
Apa yang salah dengan cinta. Dia datang tanpa diminta, lalu pergi menyisakan luka. Entah berbalas atau bersama, keduanya sama-sama berat untuk dijalani jika memang hanya satu sisi yang memperjuangkannya.
Tidak ada manusia yang bisa menahan diri untuk jatuh cinta. Apa lagi pada lawan jenis yang dianggap sebagai standar kehidupan. Meskipun harus menunggu berapa lama, nyatanya perasaan itu tetap ada. Hingga ketika takdir membiarkannya pergi bersama orang lain untuk meraih kebahagiaan, barulah insan tersebut akan sadar jika dia adalah korban perasaan.
Ruangan rapat kembali hening untuk waktu yang cukup lama. Jessi hanya bisa mengiba melihat nasib Dove saat ini. "Kau terlalu sibuk mencoba menggapai mimpimu, tapi tak sadar sudah ada pria lain di belakang menantimu bangun dari mimpi panjang itu."
"Tapi, aku mencintai Damien. Bukan Rahmat," ucap Dove dengan jujur. Meskipun telah berbuat jahat untuk kali ini. Nyatanya dia tetaplah gadis polos yang hanya tahu cara mencintai Damien. Dia bahkan tidak pernah berpacaran dan terfokus mengejar pria tersebut dengan cara halus. Namun, keadaan memaksanya membocorkan rahasia pada desainer perusahaan lawan yang notabene merupakan sahabatnya sendiri.
__ADS_1
"Apa kau tahu? Dirimu terlalu berharga untuk menjadi jahat." Jessi menyibakkan anak rambut wanita yang kini menatapnya itu ke belakang layaknya menasihati seorang adik dengan lembut. "Jangan investasikan dirimu untuk orang yang salah! Karena jika kau melakukan hal itu, terlebih dengan sepenuh hati, ketika perasaanmu tak berbalas hanya akan membuatmu hancur. Bahkan bisa jadi butuh waktu seumur hidup untuk kembali bangkit," ucap Jessi dengan lembut.
Nyatanya luka hati yang diberikan oleh Brian, masih membekas hingga sekarang di hati Jessi. Dia tidak ingin ada wanita lain menjadi lemah karena sebuah perasaan dan menjadikan cinta sebagai obsesi seperti Emily. "Perempuan berhak untuk bahagia. Bersama atau tanpa seorang pria. Sayangilah dirimu sendiri dan renungi apa yang sudah kau lakukan ini!"
Setiap perempuan berhak untuk mencintai siapapun, tetapi yang harus dia cintai untuk pertama kali adalah diri sendiri. Tidak ada yang bisa melarang orang lain jatuh cinta karena ia datang dengan sendirinya, tetapi tak dapat pula memaksa mendapatkan balasan. Sebab itulah, arti sebuah pengorbanan melihat kebahagiaan orang yang dicinta.
Mendengar kalimat Dove seketika membuat Jessi langsung melayangkan tangan dan mendaratkan tamparan keras yang meninggalkan bekas merah panas bercampur nyeri menjadi satu. "Sadarlah! Cinta bukan hanya tentang memiliki dan pasti punya konsekuensi sisi gelap yang harus kau tanggung walau menyakitkan. Jangan jadi bodoh hanya karena pria hingga membuatmu gelap mata!" teriak Jessi dengan nada tinggi dan membuat Dove semakin terluka.
__ADS_1
Namun, sedetik kemudian Jessi memeluk Dove dengan lembut. Bukan salahnya mencintai Damien selama sepuluh tahun. Hanya saja Tuhan memang tak mengizinkan perasaan wanita itu berbalas karena dalam hati pria itu telah bertakhta nama Jane dengan segala kasihnya.
Padahal Dove sudah berusaha sebaik mungkin dengan cara yang benar untuk menyentuh hatinya. Sayangnya semua hanya meninggalkan luka.
"Suatu saat pasti akan ada semburat cahaya yang mampu menerangi jiwamu. Cinta itu nyata, bukan sekedar mimpi belaka. Cobalah untuk mencintai dirimu sendiri! Baru kau akan tahu makna sesungguhnya dari semua itu,bukan hanya dalam angan yang membunuhmu perlahan." Jessi menasehati Dove dengan lembut, dari yang dia ketahui, wanita tersebut sebenarnya tidaklah jahat dan berniat buruk. Hanya saja sebuah kekhilafan membuatnya salah jalan.
"Sekarang pilihan ada di tanganmu. Kau mau tetap memaksakan perasaanmu pada Damien atau tidak. Tapi, kupastikan kehancuranmu ada di tanganku jika kau sampai mengusik kebahagian mereka." Jessi berdiri dari posisinya dan kembali duduk, setelah melihat Dove mulai tenang dan tak lagi terisak.
__ADS_1
To Be Continue...