Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

Matahari dan bulan bergantian menjalankan tugasnya, menghangatkan bumi dengan teriknya serta menemani menyaksikan mimpi setiap umat manusia. Hari berlalu begitu saja, masalah kehidupan tidak akan ada hentinya selama jiwa masih dalam raga.


Melihat kondisi Angelina yang sudah mengalami perkembangan membuat Jessi merasa lega. Dia membebas tugaskan Jackson sementara, semua pekerjaan dialihkan kepada Mario dan Maurer.


Jessi mengerti kalau Jackson juga perlu memiliki waktu pribadi bersama keluarganya untuk menebus perpisahan dua tahun lamanya. Dia juga ingin semua anggotanya bahagia, itulah harapan Jessi.


Setiap hari dia selalu menyibukkan diri dengan memberikan motivasi kepada para korban wanita, dengan didampingi Dokter Devi untuk setiap perkembangannya.


Jessi melangkah mendekati Olivia, salah satu korban dengan kondisi terparah saat itu. Dia duduk di sampingnya. "Bagaimana? Apa kau merasa lebih baik sekarang?"


"Iya, Nona."


"Apa kau yang ingin kau lakukan selanjutnya?"


"Kami ingin balas dendam!" Netra Olivia berubah saat mengatakan hal itu.


"Apa kau akan menghabiskan masa mudamu untuk balas dendam?"


"Apalah artinya masa muda? Jika aku bahkan tidak bisa membantu adikku ketika dia berada di ambang kematian!" Olivia menundukkan kepalanya. Dia kembali mengingat tentang adiknya yang telah di perkosa, lalu di ambil organ tubuhnya tepat di depan matanya.


"Baiklah, tetaplah di sini aku akan membantumu!" Jessi mengulurkan tangannya kepada Olivia.


"Apa Nona akan membantu kami membalas dendam?" Olivia menatap lekat wanita di cantik di depannya ini.


"Tergantung kemampuan kalian. Aku tidak akan menerima seonggok sampah yang hanya bisa mengundang lalat."


Olivia langsung menyalami tangan Jessi. "Terima kasih, Nona. Terima kasih."


"Kalian harus ingat! Jika ingin menjadi anggotaku tidaklah mudah. Aku sendiri yang akan melatih kalian, tetapi jangan harap aku akan berbelas kasih!" Jessi melangkahkan kakinya menuju pintu. "Aku juga tidak menerima pengkhianat! Jadi, kalian buang jauh-jauh pikiran itu jika ingin selamat."

__ADS_1


Mereka mengangguk paham. Lalu, terdengar sua Jessi dari luar yang menggelegar. "Semuanya berkumpul di halaman sekarang!"


Mendengar suara Jessi, semua penghuni mansion bergerak menuju halaman utama, termasuk George dan anak buahnya. Mereka berbaris rapi sesuai dengan kelompoknya masing-masing.


Jessi melangkahkan kakinya menuju halaman. Dia melihat Maria dan Patricia juga ikut berkumpul. Telunjuk Jessi lantas menunjuk mereka. "Kalian juga ingin berlatih?"


Mereka hanya mengangguk.


"Baiklah, banyak pemula di sini. Aku ingin dalam tiga hari kalian berlatih bersama anak buah George, dan Mario! Termasuk anda Nyonya Maria dan Nona Patricia." Jessi menekankan suaranya.


"Aku tidak akan membeda-bedakan kalian di sini. Jika tiga hari ke depan aku lihat kalian tidak memiliki perkembangan sama sekali. Silakan angkat kaki dari sini!" Suara lantang dan tegas Jessi menggema di seluruh bangunan itu.


"Baik, Nona!" seru mereka serentak.


Nenek Amber yang melihat dari kejauhan tersenyum bangga, cucunya kini sudah dewasa. Dia layaknya cahaya matahari yang menyinari bumi, membantu siapa pun yang kesulitan dengan caranya sendiri.


Tanpa sadar buliran bening mengalir di pipi wanita tua itu. Seandainya saja suaminya masih ada, dia pasti akan sama bangganya.


Namun, tiba-tiba saja suaminya meminta agar dia segera pindah ke Negara X demi bayi mungil itu.


"Kalian harus segera pergi dari negara ini dan hiduplah di pedesaan Negara X," ucap suaminya.


"Apa maksudmu, Sayang? Kenapa kita harus pindah, dan siapa bayi yang kau bawa ini?" Dia bertanya sambil membantu suaminya memasukkan barang ke dalam koper.


"Kau harus membawa anak ini pergi sejauh mungkin. Kita tidak punya banyak waktu sekarang, dia adalah anak kedua Nyonya Samantha. Kau harus ingat dia tidak boleh menginjakkan kaki di Negara ini sebelum dia menjadi orang yang kuat." Suaminya menyerahkan bayi itu kepadanya.


Dia bingung dengan apa yang di sampaikan oleh suaminya. Dia memang belum pernah bertemu dengan anak kedua Nyonya Samantha karena dia masih dalam masa pemulihan pasca pengangkatan rahim akibat kanker serviks yang dideritanya.


"Aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak lagi. Kondisinya sedang tidak baik, kalian harus segera pergi dari sini. Bawa ini bersamamu!" Suaminya memberinya setumpuk uang cash, dan sebuah kalung liontin. "Jangan pernah menarik uang dari bank! Ingat kalian harus mengubah identitas begitu tiba di sana!"

__ADS_1


"Lalu, kau akan ke mana?"


"Aku masih harus menyelamatkan Tuan Muda. Kau harus ingat, aku akan selalu bersamamu di mana pun dan kapan pun?" Suaminya mencium kening istrinya, lalu mengantarkannya ke dalam mobil tua di garasi rumah. "Kau harus menjaganya baik-baik, Sayang. Aku mencintaimu!"


Dia lekas pergi ke Negara X sesuai dengan perintah suaminya. Membawa seorang balita yang mungkin baru berusia satu tahun saat itu, Dia mengubah identitasnya dan juga bayinya. Bahkan dia menambah usia bayi agar satu tahun lebih tua dari seharusnya, demi menghindari masalah. Dia memberi nama anak itu Jesslyn Light, sebuah cahaya yang menyinari dunia dengan kepribadian yang teguh dalam menggapai setiap keinginannya.


Suaminya adalah seorang pelayan di kediaman Keluarga Alexander. Mereka adalah keluarga yang sangat baik dan suaminya merupakan orang kepercayaan Nyonya Samantha.


Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, pasangan suami istri itu masih mau menerima suaminya bekerja di kediaman mereka, sehingga dia bisa menjalani perawatan dan operasi yang memakan waktu serta biaya tidak sedikit itu.


Setelah kejadian hari itu, dia menjalani kehidupannya bersama Jessi, sesuai dengan perintah suminya. Dia tidak lagi tahu bagaimana kabar suaminya? Dia juga tidak tahu kejadian apa yang menimpa keluarga tersebut, sehingga menyebabkan mereka harus berpisah dengan cara yang menyakitkan seperti ini?


Karena itu lah dia membawa Jessi kembali ke Negara ini. Dia merasa cucunya telah siap menghadapi apa pun yang akan dilaluinya. Terbukti dari caranya menghadapi Brian yang saat itu masih berstatus suaminya sendiri.


Nenek Amber semakin hari dibuat kagum dengan perubahan pada diri cucunya selama di negara ini. Dia melihat cucunya tidak lagi menahan setiap keinginan yang dia miliki. Jessi yang sekarang mirip dengan Nyonya Samantha dulu, seorang wanita yang baik hati dengan caranya tersendiri.


Pelukan seseorang dari belakang membuyarkan lamunan Nenek Amber. "Apa yang Nenek pikirkan, hmm?"


Dia mengelus tangan cucunya di pundaknya. "Nenek hanya bangga padamu, melihat dirimu yang sekarang, kakekmu juga pasti merasakan hal yang sama."


"Apa aku mirip seperti kakek?" Jessi menggerakkan kepalanya melihat wajah neneknya.


"Kalian sangat mirip, sama-sama pemberani dan berhati malaikat."


TBC.


Hallo temen-temen. Gimana ceritanya menurut kalian? Udah misterius belum?


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan hadiahnya ya.

__ADS_1


Dukungan kalian adalah semangat terbesar Author dalam berkarya.


__ADS_2