Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Lubang Neraka Vs Rudal Rusia


__ADS_3

Selepas menyelesaikan tumpukan berkas-berkas di mejanya, Nich lantas bersiap untuk kembali pulang. Kali ini pria itu bukan kembali ke mansion kedua orang tuanya. Melainkan, menuju kediaman sang istri—Jesslyn.


Senyum mengembang sepanjang perjalanan di wajah pria tampan nan rupawan tersebut. Dia berjalan menuju area parkir dengan membawa paper bag pemberian ibunya tadi.


Setelah memasuki mobil, Nich memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Light. Pernikahan sudah dilaksanakan, janji suci telah diucapkan, tetapi malam pertama belum juga mereka lakukan.


Pria tersebut mengemudi dengan tersengih sendiri. Hingga tak terasa mobilnya sudah memasuki area kediaman Light.


Semua anak buah di kediaman tersebut sudah tahu jika mereka sudah menikah ketika berada di Negara K. Setiap orang yang Nich lalui membungkuk hormat padanya karena kini dia sudah resmi menjadi suami Jessi.


Nich melangkahkan kakinya memasuki kediaman, terlihat Jessi sedang menonton Televisi bersama Jane. Sang istri menoleh ke arahnya melihat kedatangan suaminya.


"Kau sudah pulang, Suamiku?" Jessi berdiri dari posisi duduknya untuk menghampiri Nich.


Pria itu mengangguk lantas mendekatkan kepala Jessi padanya dan mengecup dahi istrinya sejenak. Tentu saja hal tersebut membuat wanita itu tersipu malu. Perasaan bahagia yang sudah lama tidak ia terima kini dihadirkan kembali oleh Nich.


Namun, tidak dengan Jane. Melihat hal tersebut dia mencebikkan bibirnya dengan kesal. "Cih ... aku tahu kalian sudah halal. Tapi, jangan menebar asmara di depanku!"


Jessi menatap tajam ke arah Jane. "Syirik! Ayo, Sayang kita ke kamar saja!" Dia bergegas menarik suaminya menuju kamar mereka.


Setibanya di kamar Jessi membantu Nich melepaskan jas yang ia kenakan, meletakkan paper bag dari tangan suaminya ke atas nakas. "Apa yang kamu bawa ini, Sayang?"


"Pemberian mommy tadi. Dia datang ke kantor membawakan itu."


"Mandilah! Akan aku siapkan pakaian ganti!" Jessi menyerahkan handuk kepada sang suami agar bergegas membersihkan diri.


Pria tersebut mengangguk patuh, lantas menuju kamar mandi. Perasaan diperhatikan oleh sang istri ternyata membuat Nich merasa sangat bahagia. Jika saja tahu akan sebahagia ini, sudah pasti dia akan menikahi Jessi sejak pertemuan pertama mereka ketika berusia enam tahun.


Sementara Jessi menyiapkan pakaian ganti suaminya di walk in closet. Setelahnya dia menunggu sang suami di atas ranjang sambil menanyakan perkembangan Mario pada Maurer.


Sejak kembali ke Negar N, Maurer fokus menunggu kakak dan ayahnya yang berada di laboratorium milik Nich, dan Jessi mengizinkannya. Dia sendiri belum sempat mengunjungi Mario karena banyaknya urusan yang harus ditangani sendiri. Wanita itu tidak mungkin hanya merepotkan anak buahnya yang sudah terlalu banyak urusan.


Beberapa saat kemudian, Nich keluar menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Jessi menelan salivanya sendiri dengan susah payah akibat melihat jejeran otot sixpack milik suaminya itu.


"Nich, kenapa kau tidak pakai baju? Kan sudah aku siapkan di dalam."

__ADS_1


"Untuk apa aku mengenakan pakaian jika hanya akan dilepas kembali." Nich melangkah menuju meja rias, mengeringkan rambutnya yang basah dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Sementara Jessi mengernyitkan dahinya mendengar kalimat ambigu sang suami. "Nich, kapan kau akan mengajakku ke laboratoriummu?"


"Apa kau ingin mengunjunginya, Sweety?"


"Tentu saja. Aku juga ingin melihat kondisi Mario secara langsung."


"Besok kita ke sana." Nich meminum botol ramuan herbal yang diberikan ibunya tadi hingga tandas. Lalu, ia merebahkan dirinya di pangkuan sang istri yang tengah selonjoran di ranjang.


Jessi mengelus pucuk kepala sang suami dengan lembut sambil memainkan ponselnya membalas pesan dari Maurer.


"Sweety."


"Hmm." Jessi hanya berdehem membuat suaminya melingkarkan kedua tangan di pinggangnya yang ramping dan membenamkan wajah di perut istrinya.


"Nich, geli." Jessi tergelak akibat gerakan kepala Nich yang membuat perutnya serasa tergelitik.


"Sweety, apa kau tidak kedinginan?" Nich melepaskan satu per satu kancing piyama Jessi dengan perlahan, membuat wanita itu tahu apa maksud suaminya.


Jessi yang mengetahui hasrat sang suami lantas menundukkan kepalanya, memberikan kecupan manis yang lembut, membuat mereka berdua saling memejamkan mata menikmati sensasi yang hadir secara alamiah dalam diri masing-masing.


Mereka berdua saling menautkan bibir, menyesap dan bertukar saliva dengan lembut. Tidak ada jejak kasar yang dilakukan oleh Nich. Pria itu memperlakukan istrinya layaknya sebuah kaca yang mudah pecah.


Melihat tidak ada penolakan dari Jessi, Nich mengubah posisinya. Pria tersebut menindih sang istri tanpa melepaskan pangutannya. Dia memang belum pernah melakukan hubungan badan, tapi Nich hanya mengikuti naluri yang menuntunnya.


"Nich." Jessi memanggil nama suaminya di sela-sela pangutan mereka, merasakan sesuatu yang tegak berdiri dengan kokoh menempel di tubuhnya.


Dia menikmati setiap kecupan dari sang suami, Nich melepaskan kancing terakhir yang masih terpasang pada baju tidur Jessi. Lama kelamaan bibir pria tersebut berpindah ke leher putih jenjang istrinya, memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana, membuat sang empu mendesis merasakan gelenyar aneh dalam dirinya. "Iisssshh."


Tangan pria tersebut menyusuri setiap jengkal tubuh Jessi, mendarat di dua gunung tertinggi himalaya dan meremas perlahan, membuat sang pemilik mengeluarkan suara sensasional dari bibirnya. "Akh."


Tak cukup di sana. Bibir Nich mengecup setiap kulit putih yang dia lalui, menyesap dua squishi yang ukuranya sebesar telapak tangannya. Rasa melayang membuat Jessi mencengkeram rambut suaminya, membenamkan wajah tersebut semakin dalam di dadanya.


"Nich, cepatlah aku sudah tidak tahan!" Jessi merasakan sesuatu yang gatal di lubang nerakanya sejak tadi.

__ADS_1


Nich dengan segera mengusap lembut lembah menuju lubang neraka milik istrinya yang sudah banjir akibat ulahnya. "Kau sudah basah, Sayang."


Pria tersebut mengusap lembut kacang hazelnut milik Jessi, membuat wanita itu semakin sering mengeluarkan suara eksotis.


"Akh, Nich." Jessi semakin meracau ketika suaminya memasukkan jari ke dalam lubang neraka miliknya.


"Call me, Baby!"


"Nich, issh, akkhh."


Merasa lubang neraka milik sang istri sudah semakin banjir dan siap sebagai medan pertarungan tempat berkumpulnya para bibit-bibit kecebong berkualitas, membuat pria itu melepaskan belitan handuk di pinggangnya. Memperlihatkan rudal rusia yang sudah aktif tegak berurat dengan gagah dan siap untuk bertempur.


Jessi melebarkan matanya melihat ukuran rudal rusia jumbo milik suaminya. "Nich, kau yakin itu asli?"


"Tentu saja, kau bisa merasakannya sendiri, Sweety." Dia bersiap mengarahkan rudal rusia miliknya ke lubang neraka istrinya.


Namun, baru akan menempel suara pintu di gedor dengan keras tanpa henti mengganggu aktivitas mereka, membuat Nich mendengus kesal karenanya. "Akan aku bunuh kau kalau tidak penting."


Nich kembali membelitkan handuk di pinggangnya, dengan kesal dia membuka pintu. Terlihat Jane berdiri dengan wajah tak berdosa. "Ada apa kau mengganggu malam pertamaku?"


"Apa aku mengganggu aktivitas kalian?" Jane melihat tampilan Nich dari atas sampai bawah, membuat wanita itu menahan tawanya.


"Cih ... kau pasti sengaja melakukannya."


"Jessi! Moon mau melahirkan apa kau tidak ingin melihatnya? Malam pertama bisa dilakukan besok lagi." Jane berteriak dari dekat pintu, membuat pria di depannya melebarkan mata karena kesalnya.


TBC.


Hallo temen-temen pembaca setia,


Selamat Natal dan tahun baru bagi kalian yang menjalankan.


Part ini aku buat karena komentar dari salah satu pembaca kemarin yang meminta agar Nich segera melepas keperjakaannya.


Terima kasih kakak yang sudah berkomentar, sehingga menghasilkan ide baru bagi author.

__ADS_1


Semoga menghibur, dan selamat berhalu.


__ADS_2