Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Keluarga Alexander ( Part.3 )


__ADS_3

Jessi masih terpaku mendengar kenyataan di depan matanya. Dadanya terasa bergemuruh, awan hitam terlihat jelas di matanya. Hingga suara cacing di perutnya membuyarkan lamunan semua orang.


Jessi menahan senyum malunya, sedangkan yang lain hanya tertawa. "Aku belum makan sejak tadi!"


"Mari kita makan malam terlebih dahulu!"


Mereka hendak menuju meja makan. Namun, terdengar suara sebuah mobil datang. Terlihat Jane yang mulai masuk ke dalam rumah.


"Ada apa ramai-ramai di sini?" ujarnya.


"Oh ... kakak ipar datang melamarmu!"


Jane menatap Damien dengan tajam, sedangkan yang dilihat hanya tersenyum. "Selamat malam, Nona Jane."


"Sudah ayo kita makan lebih dulu," ujar Nenek Amber.


Mereka makan malam dalam satu meja bersama. Tersedia banyak menu di sana.


"Di mana Bibi Maria dan Patricia, Nek?"


"Mereka kembali berkumpul dengan Olivia dan yang lainnya. Koki sudah menyiapkan makanan untuk mereka semua di sana."


Jessi hanya menganggukkan kepalanya. "Kakak Ipar, apa kau menyukai udang?"


"Aku tidak bisa dibilang suka, tetapi masih boleh memakannya."


Jessi langsung meletakkan banyak udang saus sambal di piring Damien. "Kalian memang pasangan serasi. Jane sangat menyukai udang."


"Apa kau tidak mau menawariku juga, Sweety?" Nich mengerucutkan bibirnya, dia merasa tersaingi dengan adanya Damien.


"Apa yang kau sukai, Sayang?" Jessi melebarkan senyumannya kepada Nich.


Nich hanya bisa menahan diri agar tidak mencium bibir manis menggoda iman itu. "Daging."


Jessi mengambil sepotong daging dengan sendoknya, lalu menyuapkan kepada Nich. "Aaa."


Nich membuka mulutnya, belum sampai daging itu di bibirnya, Jessi meletakkan lagi sendoknya. "Paman, jika aku berasal dari negara ini, bukankah Keluarga Alexander juga memiliki kediaman?"


Nich hanya mendengus dengan ingatan Jessi yang tak tahu tempat.


Alex menjawab pertanyaan keponakannya.


"Kediaman Alexander berada cukup jauh dari sini. Kita bisa melihatnya besok, tetapi rumah itu sudah terbengkalai sejak tiga puluh tahun lalu, tak tahu bagaimana kondisinya sekarang!"


Jessi mengangguk. "Kalian menginaplah di sini malam ini!"

__ADS_1


Ketika Jessi hendak menyuapkan sendok ke dalam mulutnya, Nich lebih dulu memegang tangannya dan melahap makanan miliknya.


"Nich .... " Jessi mengerucutkan bibirnya.


Semua orang dibuat tersenyum dengan tingkah konyol sepasang calon suami istri ini.


"Baiklah. Jessi bukankah kau akan segera menikah dengan Nich?" tanya Alex.


"Iya ... Paman jangan lupa datang sebagai pendampingku ke altar!"


Alex tersenyum, dia merasa bahagia bisa menggantikan sang kakak menikahkan putrinya.


"Aku pasti datang. Kapan kalian akan menikah?"


"Aku menunggu Angelina membaik lebih dulu. Aku tidak mau bersenang-senang di atas penderitaan orang lain!"


"Kau serius menikah dengannya?" Jane menunjuk sendok di tangannya kepada Nich.


"Tentu saja, aku tak mau menjadi single abadi seperti kalian!"


Jane hanya mencebikkan bibirnya. Acara makan malam berjalan dengan canda dan tawa. Alex dan Damien merasa lega karena Jessi mau menerima mereka dengan lapang dada. Ditambah lagi orang yang selama ini mereka cari dirawat oleh istri Paman Han.


Setelah acara makan malam kaum muda duduk di taman belakang, sementara orang tua sudah beristirahat di kamarnya. Jessi duduk di antara Damien dan Nich, sedangkan Jane sibuk dengan harimau adiknya.


"Kakak, ceritakan tentang hidupmu?"


"Emm ... kenapa kau belum juga menikah, Kak?"


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Jika aku belum menemukanmu, aku tak akan mendekati wanita manapun, apa lagi menikah." Damien menggelengkan kepalanya.


"Tapi kau sudah tua! Bagaimana jika selamanya kau tak menemukanku?"


Damien menatap lekat manik biru adiknya. "Aku akan tetap mencarimu sampai kapan pun! Terima kasih sudah selamat dan hidup bahagia."


Jessi langsung memeluk kakaknya. "Kita cari keadilan keluarga kita sama-sama!"


Damien mengangguk. "Sudahlah, calon suamimu sudah bersiap menerkamku."


Jessi melepaskan pelukkannya. "Pergilah dengan Jane, Kak! Biarkan aku berkencan dengan Nich!"


Damien berdiri mengacak-acak rambut Jessi. Lalu, dia pergi menyusul Jane.


"Apa kau bahagia, Sweety?"


"Belum." Jessi menatap wajah calon suaminya yang rupawan. "Nich, menurutmu apa yang alasan mereka menyakiti keluargaku?"

__ADS_1


Nich menarik tubuh Jessi ke bahunya. "Kita bisa mencaritahu secara perlahan. Kejadian itu sudah sangat lama dan saksi mata juga sudah tidak ada."


Jessi mengangguk. "Apa kau tidak pulang?"


"Tidak, aku akan menemanimu hingga besok."


Jessi meletakkan kepalanya di bahu Nich. "Terima kasih, Nich. Sudah menemani disaat aku membutuhkanmu."


"Everything for you, Sweety."


Malam harinya mereka beristirahat di kamar masing-masing. Tampak semua orang sudah terlelap dalam mimpinya. Jessi berdiri di tepi balkon kamarnya, dia masih gugup dengan hari esok. Bukan hal mudah untuk menerima kenyataan yang menyakitkan ini.


"Apa yang kau risaukan, Sweety?" Nich memeluknya dari belakang, embusan napasnya begitu terasa di telinga Jessi.


"Entahlah, tetapi firasatku berkata buruk kali ini."


Nich memutar tubuh Jessi menjadi berhadapan dengannya. "Tenanglah, aku akan selalu melindungimu!"


Nich memeluk Jessi dengan erat. "Mari istirahat!"


Mereka berjalan menuju ranjang dan tidur berdampingan. Tidur malam merupakan jembatan terbaik antara keputusasaan dan harapan. Ketika kegelapan mengistirahatkan pikiran yang lelah dengan cahaya bulan yang menenangkan hati.


Hari telah berganti, mereka bersiap menunju kediaman Alexander tiga puluh tahun yang lalu. Jessi tetap setia dengan motornya bersama Nich. Banyaknya kenyataan hidup yang baru dia ketahui membuatnya ingin menikmati semilir angin langsung, sedangkan Damien dan Alex tetap menggunakan mobilnya.


Mereka melaju membelah jalan raya pagi-pagi sekali, Alex tidak ingin jika pergerakan mereka diketahui seseorang. Mereka menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya.


Dari kejauhan Jessi sudah bisa melihat sebuah kediaman besar yang terbengkalai, tidak ada pemukiman warga di sekita sana. Tempat ini sungguh terlihat angker bagi siapa pun yang melihatnya.



Mereka mulai memasuki area depan bangunan itu. Sangat jelas terasa bahwa bangunan ini tidak pernah ada yang menempati begitu lama. Terlihat banyak properti yang sudah mulai rapuh, dinding yang berjamur, dan kaca-kaca jendela yang pecah.


Banyak tanaman mulai merambat di dinding, hawa dingin menyeruak begitu memasuki area halaman rumah itu. Mereka mulai turun dari kendaraannya. Tidak ada kilasan kenangan ketika Jessi menatap rumah itu. Namun, tidak dengan Damien, masih teringat jelas ketika keluarganya di bantai tak tersisa oleh banyak orang.


Mereka memburu seluruh penghuni kediaman itu tanpa terkecuali. Dia yang saat itu masih kecil, bahkan melihat sendiri bagaimana satu persatu keluarganya dibantai tanpa ampun. Namun, dia hanya bisa diam dan bersembunyi di dalam ruangan kecil sesuai dengan perintah Paman Han.


Ingatan itu terekam sempurna dalam memorinya, tetapi dia hanya bisa menyimpan untuk dirinya sendiri. Sesuai perintah ayahnya agar tidak memberitahukan apa pun yang dia lihat kepada adik maupun pamannya. Demi keselamatan mereka.


TBC.


Hallo temen-temen selamat beraktifitas.


Udah hari senin aja ni,, jangan lupa Vote nya yuk


Supaya author lebih semangat dalam berkarya.

__ADS_1


Tanpa dukungan kalian author hanyalah remahan rengginang.


__ADS_2