
Hari yang tepat untuk memulai aksi telah tiba. T membawa informasi bahwa Seo Ya ji bersedia untuk menemui Jessi siang ini. Mereka akan bertemu di sebuah restoran mewah kawasan kota Strawberry.
Jessi bergerak ke restoran menggunakan mobil lain yang dia beli. Karena mereka cukup lama di Negara K, satu kendaraan saja tidak cukup memadai untuk semua orang yang kini beraksi secara bersamaan, sedangkan Nich sedang sibuk untuk mencarikan pesawat yang akan digunakan calon istrinya besok.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, meskipun Jessi tidak mengenal wilayah ini, tetapi dengan kecanggihan teknologi sekarang bukanlah hal sulit untuk menemukan lokasi restoran yang dimaksud.
Setibanya di lokasi Jessi memarkirkan mobilnya, lalu berjalan memasuki restoran. Seorang pelayan menyambut dengan ramah, membungkukkan tubuh terlebih dahulu sebelum berbicara.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
"Reservasi atas nama Seo Ya Ji."
"Oh, Nyonya Ya Ji. Mari saya hantarkan, Nona!" Pelayan lantas berjalan menuju lantai atas, sedangkan Jessi mengikuti dari belakang.
"Ini ruangannya, Nona. Silakan!" Pelayan membuka pintu VIP tersebut.
"Terima kasih." Jessi memasuki ruangan, sedangkan pelayan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Jessi melihat seorang perempuan duduk dengan wajah sombong. Keangkuhan yang khas dari perempuan konglomerat terlihat jelas. Dia menggunakan pakaian dan perhiasan yang sangat glamour seakan meletakkan seluruh kekayaan di tubuhnya.
Sementara Seo Ya Ji memicingkan mata ketika menatap Jessi dari atas sampai bawah. Wanita itu seakan meremehkan penampilan Jessi yang biasa saja.
"Apakah kau orang yang ingin bertemu denganku?" tanya Seo Ya Ji.
"Iya." Jessi duduk dengan santai tanpa menunggu wanita di depannya mempersilakan. Dia juga tidak memedulikan ekspresi Seo Ya Ji yang jelas meremehkan penampilannya yang terbilang sangat biasa.
"Ada apa kau ingin bertemu denganku?" Wanita itu menyeruput minuman di gelasnya dengan sangat elegan.
"Aku hanya ingin membicarakan tentang suamimu!" Jessi menatap lekat ekspresi apa yang akan dia peroleh dari perempuan ini.
Wanita itu langsung melebarkan matanya mendengar Jessie menyebut nama suaminya. "Ada apa dengan suamiku? Apa kau mengenalnya?" Dia meletakkan kembali gelasnya, dengan raut wajah yang memerah menandakan bahwa dia sedang menahan amarah.
Semua perubahan ekspresi Seo Ya Ji terlihat jelas di mata Jessi. Wanita itu bukanlah orang biasa karena bisa dilihat kecemburuan yang besar di wajahnya.
Jessi menaikkan sebelah sudut bibirnya. Ternyata mudah sekali memprovokasi wanita di depannya hanya dengan menyebut suaminya. Hal ini tentu akan memperlancar rencananya dalam menghancurkan orang-orang berhati iblis itu.
__ADS_1
"Kau tidak perlu cemburu padaku! Aku juga tidak mengenalnya." Jessi menyodorkan sebuah kertas bertuliskan alamat Kim Dae Ho. "Aku hanya memberimu sesuatu. Jika kau ingin mengetahui lebih banyak tentang suamimu, silakan datang ke alamat ini!"
Seo Ya Ji mengambil kertas itu dan membacanya. "Bukankah ini alamat kakak iparku?"
"Datanglah nanti malam jam 07.00! Kau akan menemukan suamimu di sana." Jessi langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan tanpa memedulikan ekspresi wanita yang terkejut dengan apa yang diucapkan olehnya.
Dia berjalan meninggalkan restoran itu untuk menjalankan aksi selanjutnya. Jessi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang akan digunakan untuk konser nanti malam.
Dia berani menanggung segala biaya yang diperlukan untuk acara tersebut. Meskipun pihak penyelenggara awalnya menolak, tetapi dengan kompensasi kerugian yang di tanggung oleh Jessi membuat mereka berpikir ulang. Ditambah wanita itu menawarkan kontrak sebagai sponsor selama satu tahun ke depan, otomatis membuat permintaannya terwujud walaupun hanya memberikan waktu satu hari untuk persiapan.
Setibanya di lokasi yang terlihat ramai Jessi mendekati Olivia dan yang lainnya. "Bagaimana persiapannya?"
"Aman, Nona. Mereka sanggup untuk meramaikan kawasan ini."
"Pastikan agar suara terdengar jelas sampai pria itu keluar dari sarangnya."
"Baik, Nona."
Jessi berkeliling mengawasi sekitar lokasi tersebut, dia bahkan bisa melihat kediaman Kim Dae Ho dari sana. Cukup lama dia berjalan-jalan hingga seorang pria datang menghampirinya.
Pria itu langsung menggenggam tangannya. "Aku sudah memenuhi apa yang kamu inginkan, Sayang. Sekarang giliranmu untuk membayarnya!" Nich membawa Jessi melangkah meninggalkan lokasi bersamanya.
"Apa kau ingin perhitungan denganku, Nich?"
"Tentu saja, aku ini pebisnis dan bukan orang yang dermawan." Nich membukakan pintu mobil agar Jessi masuk.
Jessi masih bingung dengan apa yang dilakukan Nich. Dia memasuki mobil di bagian kemudi lantas memasangkan seat belt wanitanya yang masih ternganga.
Nich mengecup sekilas bibir itu. "Ikuti saja aku, Sweety!"
Dia membawa Jessie pergi meninggalkan lokasi dengan mobilnya. Jessi yang tersadar dari keterkejutannya mulai berbicara. "Bagaimana dengan acara yang di sana?"
"Biar mereka yang menjalankan semuanya, kau cukup duduk manis bersamaku, Sweety!" Nich fokus mengemudikan mobil menuju suatu tempat, dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya.
Jessie cukup bingung kemana Nich akan membawanya pergi. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh mereka tiba di sebuah gereja yang cukup besar.
__ADS_1
Nich menghentikan kendaraannya di depan gereja itu. "Kenapa kita ke gereja? Apa kau ingin berdoa?"
Pria itu tidak menjawab. Dia membukakan pintu dan membawa Jessi menuju sebuah ruangan. Terlihat beberapa orang sudah bersiap di sana.
"Apa yang ingin kamu lakukan, Nich?"
"Sudah, menurut saja, Sweety!" Nich membawa Jessi agar duduk di depan cermin. "Kalian kerjakan!"
Mereka mengangguk dengan perintah Nich. tiga orang waria mulai memoles wajah Jessi, sedangkan wanita itu sendiri masih bingung dengan apa yang dilakukan Nich.
"Mengapa kalian memolesku?"
"Tentu saja agar Anda terlihat cantik di hari yang bahagia, Nona."
"Apa aku sekarang terlihat jelek?" Jessi menatap wajahnya di cermin. "Bukankah ini sama seperti hari-hari sebelumnya? Apa Nich bosan denganku?"
Jessi menatap tajam wanita jadi-jadian di sebelahnya, membuat waria itu merinding seketika. "Nona, jangan menatapku seperti itu! Kau ini sudah cantik alami. Namun, tuan hanya ingin kau berdandan hari ini."
"Kenapa harus berdandan? Aku kan hanya ingin menghabisi para iblis itu malam nanti!" Jessi terus berbicara ketika para make up artist memoles wajah dan rambutnya.
Tak lama kemudian, riasan pun selesai Jessi terlihat begitu cantik dengan riasan natural.
"Anda sangat cantik, Nona." Para waria begitu iri melihat kecantikan yang dimiliki Jessi. "Mari berganti pakaian!"
"Kenapa harus ganti baju juga? Apa kalian sekongkol untuk mengerjaiku?"
"Bukan begitu, Nona. Ayo cepatlah! Sebelum waktu yang baik akan terlewat." Waria itu bergegas mendorong Jessi menuju ruang ganti, dan membantunya mengganti pakaian.
Jessi terkesiap melihat penampilannya di cermin saat ini. Inikah aku?
Make up natural dan gaun putih yang yang indah melekat di tubuhnya membuatnya merasa layaknya bidadari yang datang dari neraka. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat penampilannya sendiri.
Tak lama kemudian, Nich datang menghampiri dengan balutan tuksedo hitam di tubuhnya. Sebuah bunga tampak menjadi hiasan di saku kiri pakaian tersebut.
TBC.
__ADS_1