
"Benarkah? Seharusnya aku mengajak Jessi kemari, tapi mau bagaimana lagi. Dia sedang mengidam ingin makan kaki pedas." Nich perlahan melangkah mendekati Brian, membisikkan sesuatu di telinga pria tersebut. "Bagaimana kalau aku mengambil kakimu untuk dibuat kaki pedas?"
Brian membelalakkan mata mendengar penuturan Nicholas. Apa pria ini sama psycopathnya dengannya. "Tidak! Kau bohong. Jessi tidak mungkin menginginkan kaki pedas! Dia tidak mungkin mengandung! Argh!" Pria tersebut terus saja meronta-ronta, pikirannya menjadi kacau mendengar Jessi hamil.
"Bagaimana bisa racun itu tidak bekerja padanya, sedangkan penawarnya jelas masih dalam gengamanku."
Kena kau, batin Nich. Dia kembali menelisik pikiran kacau Brian. "Apa kau tidak tahu kalau aku sudah mengambil penawarmu itu?"
Sebuah tatapan tajam dilayangkan oleh Brian lengkap dengan sebuah seringai iblis. "Kau belum mendapatkannya. Tidak mungkin kau bisa menemukan tempat penyimpananku."
Nich hanya mencebik santai. "Kita lihat saja! Tempat penyimpanan teramanmu itu, sudah diketahui olehku. Coba tebak, apa yang aku dapatkan di sana?"
"Kau!" Emosi sudah mulai menguasai diri Brian, deru napasnya tak lagi terkontrol. Di saat seperti ini kepalanya serasa ingin pecah, seharusnya dia bisa melampiaskan amarahnya ke pada korbannya. Namun, di saat seperti sekarang pria tersebut hanya bisa menjadi korban dari permainan Nicholas.
"Bawakan yang aku minta!" Nich kembali duduk di kursinya dengan santai, bahkan memainkan kuku jarinya hingga terdengar suara jentikan beberapa kali. Lalu, robot di belakangnya kembali masuk dengan menjinjing dua ekor tikus pengerat di sangkarnya.
"Tuan."
"Letakkan itu di atas perutnya!" Seringai ejekan dari Nich sukses membuat Brian kembali membelalakkan mata dengan jantung berdetak kencang dan tak lagi teratur, pria tersebut mencoba untuk melihat apa yang dilakukan anak buah Nich.
"Apa yang ingin kau lakukan, hah?" Brian mulai merasa panik di saat seorang pengawal merobek pakaian yang dia kenakan. Firasatnya berkata buruk kali, berada di posisi seorang korban sangatlah menegangkan.
Biasanya pria tersebut selalu jadi pengatur siasat penyiksaan untuk para korbannya. Namun, yang terjadi saat ini tidak pernah Brian bayangkan sebelumnya. Akan menjadi sebuah mainan untuk pria di depannya itu.
__ADS_1
"Tentu saja bermain-main seperti yang kau lakukan pada istriku." Nich menunduk untuk mendekatkan kepalanya. "Bermain dengan nyawamu. Bukankah selama ini kau selalu menyiksa para korbanmu? Bagaimana kalau aku memberitahumu, apa yang mereka rasakan ketika menjadi kelinci percobaan para psycopath."
Tawa renyah Nicholas terlihat sangat berbeda dari penampilannya yang rupawan. Layaknya seorang penjahat kelas kakap pria tersebut menertawakan nasib Brian.
"Tidak! Tidak! Jangan siksa aku! Lebih baik kau bunuh saja aku sekalian. Yah bunuh saja!" Brian trus saja bergerak ketika pengawal mulai meletakkan dua ekor tikus di atas perutnya dengan ditutupi sebuah tabung kaca di atasnya. "Bukankah kau menginginkan aku mati! Lebih baik kau membunuhku sekarang sebelum aku kembali membalaskan dendam padamu!"
Brian trus meronta-ronta rasa menggelitik, geli, serta jijik melihat hewan pengerat dengan monyong panjang itu membuat pria tersebut terus menerus berteriak. Tak pernah terpikir dalam benaknya akan terjebak di situasi seperti ini. Dia sendiri pun hanya menggunakan senjata untuk para korbannya dan bukan hewan yang menggelikan.
"Kematian terlalu indah bagi orang sepertimu. Aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan terlebih dahulu sebelum akhirnya kau mati di tangan Jessi. Untuk saat ini, lebih baik camkan dalam pikiranmu jika semenderita apa pun dirimu, aku tidak akan membiarkanmu mati bergitu saja."
Namun, ternyata tak cukup di sana penderitaan Brian karena Nich kembali memerintahkan sesuatu di luar batas ke wajaran.
"Panaskan!" ujar Nich.
"Argh!" Brian mengepalkan tangan dengan kuat di saat tikus mulai menggigit kulitnya menggunakan gigi mereka yang tajam. "Kau bajingan! Kau bukan manusia."
Mendengar penuturan Brian sontak membuar Nich tertawa renyah sambil bertepuk tangan. "Yak, bagaimana bisa kau menyebutku bukan manusia di saat dirimu sendiri adalah iblis?" Sejenak dia kembali menatap robotnya. "Lanjutkan!"
Robot itu pun kembali menyalurkan penyembur api ke tabung kaca tersebut seperti perintah Nicholas.
"Argh! Tidak jangan!" Rasa panas dari tabung kaca membuat tikus di dalamnya panik dan kembali mencari jalan keluar. Rasa perih serta luka akibat daging yang digerogoti oleh mereka membuat Brian berteriak dengan kuat.
Suara decitan keras dari kedua hewan di atas kulitnya tersebut dengan cepat menggigit daging di perut karena mengangganggap hanya itu satu-satunya jalan keluar membuat siapa pun bergidik ngeri saat ini.
__ADS_1
"Tidak, hentikan! Argh! Bunuh saja aku!" Entah berapa banyak darah yang menyiprat di tabung kaca tersebut, hingga warna bening kini berubah menjadi merah. Kematian bagi Brian adalah lebih baik daripada semua penyiksaan ini, rasanya dia sudah tidak tahan menahan perut yang digerogoti secara perlahan oleh kedua hewan pengerat itu.
Di kursi Nich hanya menatap puas ke arah Brian ketika melihatnya tersiksa sedikit demi sedikit. Pria tersebut lantas memejamkan mata, menautkan kedua jemari tangan di atas lututnya sambil memainkan seakan teriakan pria tersebut adalah sebuah melodi nyanyian yang indah.
Hal ini dirasa sangat sepadan mengingat apa yang sudah berani Brian perbuat kepada istri dan calon anaknya. Jika saja pria tersebut tidak kembali mengusik Jessi, mungkin Nich akan membiarkannya hidup sebagai mafia. Namun, nyatanya dia lebih suka bermain-main dengan keluarga Bannerick. Maka jangan salahkan kalau Nicholas bisa bertindak kejam.
Ketika darah yang mengalir cukup banyak akibat gigitan tikus barulah Nicholas memerintahkan T untuk menghentikan aksinya. "Cukup! Anggap ini sebagai hadiah perkenalan dariku!" Nich berdiri dari kursinya untuk merapikan jas yang dikenakan.
"T siram perutnya dengan alkohol dan ambil salah satu kakinya! Berikan kepada kucing kucing istriku! Sepertinya dia sudah tidak lagi membutuhkan kaki untuk berjalan." Hanya senyum mengejek yang Nich perlihatkan dari samping, sedangkan Brian bahkan sudah sangat sulit untuk bernapas setelah melihat perutnya yang terluka cukup parah layaknya sundel bolong.
"Baik, Tuan," ucap T.
"Simpan nyawamu untuk kemudian hari! Kita masih akan bertemu lagi." Nicholas menepuk pipi Brian yang sedang menahan rasa sakit dan langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Suara Brian yang masih terus meronta-ronta akibat kesakitannya terdengar semakin keras di saat sebotol alkohol langsung T siramkan di atas luka segar itu. Teriakannya bisa terdengar di seluruh penjuru markas.
Bahkan Jerry di ruang lain dapat mendengarnya dengan jelas, hingga membuatnya penasaran dan hanya menatap pintu ruang tahanannya.
Langkah kaki Nicholas terhenti di saat melihat Jerry. "Siapkan nyawamu dalam antrean agar bisa merasakan apa yang dia rasakan."
To Be Continue.....
Hai teman-teman, udah senin hlo.
__ADS_1
Jangan lupa vote dan gifnya ya.