
Setelah melihat kedatangan Damien, Jessi langsung mendekat ke arah pria itu dan berteriak dengan amarah yang menggebu serta emosi meluap. "Damien, tega-tega kau meninggalkan aku dan anak kita demi memilih wanita sialan itu!" tunjuk Jessi pada Jane di posisi yang tak jauh darinya.
Sungguh Jessi sangat mahir memainkan perannya, hingga membuat kedua kakaknya hanya bisa membelalakkan mata, begitu pula dengan para karyawan yang menyaksikan kemarahan Jessi sejak tadi. Tak lupa dengan Dove yang tadinya mengikuti karena rasa penasaran kini wanita itu hampir saja pingsan di kejauhan karena lututnya lemas melihat wanita hamil di depan Damien.
"Apa maksudmu, Jes?" tanya Damien dengan raut wajah kebingungan.
Bukannya menjawab, Jessi malah terisak sambil menutup mata dengan tangannya, mengeluarkan air mata buaya yang membuat para karyawan bersimpati pada wanita tersebut. "Apa bagusnya dia dibanding aku, Dam? Apa karena sekarang aku sudah gendut karena mengandung benihmu jadi kau memilih dia?"
Jane hanya bisa menutup wajah dengan tangannya. Tingkah ibu hamil yang satu itu sungguh sangat memalukan baginya, sedangkan Damien yang sadar tengah dijahili oleh adiknya lantas berkacak pinggang sambil menghela napas panjang. "Hentikan aktingmu atau aku akan meminta Nicholas membawamu pulang sekarang!" ujar Damien sambil merogoh ponsel di sakunya.
"Ish, jangan!" Jessi segera mengambil ponsel dari tangan kakaknya itu dan langsung berubah ekspresi layaknya tak pernah terjadi apa-apa. "Kakak, jangan marah! Aku kan kemari hanya ingin menemani istrimu. Dia bilang malu kalau datang kemari sendirian, makanya aku perkenalkan dia pada karyawan dengan cara seperti ini," ucap Jessi sambil mengedipkan matanya beberapa kali agar sang kakak tidak marah.
Bagaimana bisa Damien marah, secara tidak langsung Jessi malah mengumumkan kepada seluruh karyawan perusahaan jika Jane adalah istrinya. Tentu saja pria itu hanya bisa tersenyum dan mengangguk kecil. "Ya sudah, ayo ke atas!"
"Gendong." Jessi mengulurkan tangan sambil mengerucutkan bibir agar kakaknya mau menurutinya.
__ADS_1
Sementara itu, Dove yang melihat Jessi memanggil Damien dengan sebutan kakak merasa lega. Meskipun dia belum yakin jika wanita di kejauhan adalah istri pria tersebut karena belum pernah mendengar mereka menikah.
Setelah menetralkan perasaannya, Dove melangkah mendekati Jessi yang hendak di gendongan pria tersebut. "Siapa dia, Mian?" Niat hati ingin memperkenalkan diri, tetapi wanita itu malah mendapatkan tatapan tajam dari Jessi.
"Adik kandungku," ujar Damien tanpa menoleh ke arah Dove dan malah melihat ke Jane. "Sayang, ayo!"
Dove seketika kembali membelalakkan mata ketika mendengar Damien menatap kepada Jane sambil memanggilnya sayang, sedangkan kedua tangannya memondong Jessi di depan. Namun, keterkejutan itu tentu saja ditangkap oleh mata elang sang ibu hamil yang melihat jelas kecemburuan di wajah Dove.
'Cih, lihat saja bagaimana aku menghabisimu nanti,' batin Jessi dilengkapi sebuah seringai yang tercetak jelas di wajahnya.
Hal itu tentu saja membuat Jane mendengus kesal sambil melangkah mendekat ke arah mereka, tetapi masih menutup wajahnya dengan satu tangan. "Kakak adik sialan!" gumamnya di sela langkah.
Ketiga orang itu pun lantas bergerak pergi menuju ruangan Damien, meninggalkan Dove yang masih mematung di tempatnya mendengar kalimat Damien. Sementara itu, para karyawan kini paham siapa kedua wanita yang membuat keributan tersebut.
Dalam hati para wanita yang mengagumi Damien sungguh merasa kecewa karena nyatanya pria itu sudah tak lagi sendiri. Namun, perempuan yang paling terpukul di sini adalah Dove sebab sebelumnya dia sudah berencana mengungkapkan perasaan, tetapi malah harus menerima kenyataan pahit saat itu.
__ADS_1
To Be Continue ....
Hai teman-teman, jangan lupa komentar yang banyak ya!
Sama kaya kalian yang suka di up banyak bab.
Rissa juga suka kalau dapat komentar panjang.
Komentar tiga baris pasti rissa jadikan komentar populer berstempel HOT
Terima kasih.
Salam Sayang Rissa Audy
__ADS_1