
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Kate akhirnya tiba di kediaman Light. Dia melihat tinggi dan gagah gerbang utama menuju mansion Jessi membuatnya terkesima untuk pertama kali. "Benarkah ini rumahnya? Bahkan kediaman Barron tidak sebesar ini."
Berulang kali Kate menekan klakson mobilnya dengan kencang, memaksa agar penjaga membukakan gerbang. "Hei, cepat buka 'kan pintunya!" Dia terus menerus membuat keributan di luar pagar, tetapi penjaga gerbang tidak menanggapi sebelum mendapatkan perintah dari tuan rumah.
Tidak mungkin bagi Kate untuk memaksa masuk dan menabrak pagar besar di depannya. Bisa-bisa bukan gerbang terbuka, malah mobilnya yang ringsek tak tersisa. Cukup lama dia membuat keributan, hingga membuat wanita itu mengumpat kesal. "Sialan! Dia pasti sengaja membuatku menunggu. Lihat saja nanti, aku akan langsung memberimu pelajaran!"
Tak lama kemudian, penjaga gerbang membukakan pintu. Tanpa membuang-buang waktu, Kate segera menginjak pedal gas mobilnya dan langsung melesat menuju kediaman utama. Cukup jauh jarak untuk masuk ke dalam kawasan mansion mewah itu.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Kate dibuat terkagum-kagum dengan tatanan yang dihadirkan. "Sialan! Rumahnya bahkan lebih luas dari kediaman kakak. Keturunan siapa dia sebenarnya."
Beberapa saat kemudian, Kate turun dari mobil dan membanting pintu mobil dengan kuat. "Jesslyn, keluar kau!" Dia terus melangkah, berteriak, sambil memanggil nama Jessi berulang kali.
"Di mana perempuan sundal itu, hah?!" Dia bertanya pada seorang pria tegap di depannya dengan begitu emosi.
"Ada di taman belakang," ujar pria itu yang tak lain adalah George, dengan sengaja berbicara seperti itu.
Sesuai dengan perintah sang nona agar tamu disambut oleh kucing-kucing peliharaannya, sehingga dia menggiring Kate menuju taman belakang agar keenam harimau itu bermain-main terlebih dahulu dengan wanita paruh baya tersebut.
Tanpa curiga wanita itu melangkah masuk, setelah tiba di taman belakang barulah dia terkejut ketika pintu masuk yang baru saja dilalui langsung ditutup oleh pria yang ditanyanya tadi. "Yak?! Apa yang kalian lakukan?"
Wanita itu mencoba untuk membuka pintu, tetapi sepertinya dikunci oleh pria tadi. "Sialan! Apa mereka mengerjaiku!" Kate mendengus kesal, pandangannya mengedar ke seluruh penjuru. Tidak ada siapa pun di sana kecuali dia seorang diri.
Kate mulai melangkah menyusuri area taman belakang tersebut, sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Entah mengapa jantungnya mulai berdetak kencang kali ini. "Kenapa perasaanku tidak enak? Sialan, di mana sebenarnya wanita sundal itu."
Semakin jauh dia melangkah, suara binatang menggeram samar-samar mulai terdengar, hingga membuat wanita itu terkejut seketika. "Suara apa itu? Apa di sini ada kebun binatang?" Mendadak jantung berdetak cepat, Kate memegang dadanya sambil mengatur napas untuk menetralkan perasaannya.
Hingga tak lama kemudian, seekor harimau putih mulai melangkah mendekatinya. "Apa itu?" Kate yang terkejut berulang kali mengucek matanya, berharap ini hanyalah sebuah halusinasi semata.
Namun sayang, apa yang dilihat oleh matanya bukanlah khayalan semata. Akan tetapi, sungguh nyata karena binatang buas itu mulai melangkah mendekatinya. Kate yang terkesiap langsung bergerak mundur, melihat mulut harimau terbuka lebar, menampakkan gigi taring tajamnya, seakan bersiap untuk mengoyak daging.
"Jangan mendekat!"
__ADS_1
Dia mengulurkan tangannya berharap binatang buas itu menjauh darinya. Namun, bukannya menuruti perintah Kate, hewan tersebut malah kembali mengaum dan tak butuh waktu lama, tiga ekor harimau seukuran gajah berserta kedua anaknya berjalan ke arah mereka.
Melihat hal tersebut, Kate sontak melebarkan kedua matanya dan berteriak dengan keras. "Akkhhh!"
Wanita itu berlari ke arah pintu masuk, dengan panik tangannya terus menggedor pintu. "Buka ... buka! Siapa pun tolong aku!" Suara teriakan terdengar begitu keras, tapi penghuni di dalamnya malah asyik menyaksikan pertunjukan itu dari lantai atas.
Tak bisa membuka pintu, dia pun berlari mengelilingi setiap sudut taman belakang, mencari jalan keluar sambil menghindari kejaran harimau. Mereka mengepung dari segala arah, layaknya bermain kucing-kucingan dan Kate adalah targetnya.
Tanpa sadar tubuhnya bergetar, dia menangis sendirian karena takut akan serangan harimau. "Barron, tolong aku!" Tak sengaja di saat Kate berlari kakinya tersandung langkahnya sendiri, hingga membuatnya jatuh tersungkur di atas rumput. "Akh!"
Dua harimau kecil lantas mendekatinya dengan berlari. "Jangan mendekat! Pergi, pergi ... hus ... hus!" Kate berusaha mengusir anak-anak harimau itu, tetapi induk mereka malah mengeram menyeramkan, hingga membuatnya berteriak keras.
"Akhh!" Kate menutup wajah dengan menyilangkan kedua tangan, sambil memejamkan mata ketika merasakan harimau itu hendak menerkamnya.
Akan tetapi, dia malah merasakan sebuah lidah basah dan kasar menjilat pipinya. Perlahan Kate membuka mata, mengintip secara hati-hati. Jantungnya berdetak sangat cepat karena jilatan dari anak harimau itu. Mereka seperti binatang yang sedang mencicipi seorang menu makan siang.
Rasa terkejut dan takut membuat wanita tersebut seketika pingsan. Tergeletak di atas rumput dengan kehilangan kesadaran. Berniat membalaskan dendam, tapi nyatanya malah Kate Morning yang harus tertimpa kesialan.
"Siapa suruh mencari gara-gara dengan Nona Jessi?" ujar Olivia.
"Benar, tapi jika aku pertama kali datang kemari dan berada di posisinya mungkin juga merasakan hal yang sama." George mengangguk, mengingat pertama kali dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, ketika Jessi menjinakkan dua ekor jaguar di Pulau Ceria. Tanpa sadar pria tersebut bergidik, memeluk tubuhnya.
"Sudah sana, kirim dia pulang sebelum mengganggu tidur siang Nona Jessi!" Olivia mendorong George, hingga membuat pria itu terjungkal.
"Iya, iya, cerewet!" George mendengus kesal lantas berjalan ke arah taman. "Menyebalkan! Datang kemari hanya untuk menyusahkan orang saja!"
_________________
Di sisi lain Jackson yang masih bimbang akan ibunya, selalu murung dan termenung di ruang kerja. Hingga sebuah dering pemberitahuan di ponsel membuyarkan lamunan pria tersebut. Diusapnya layar benda pipih itu, dibukanya sebuah video yang membuatnya terkejut, langsung berdiri dari kursi.
Terlihat sebuah kiriman video berisikan gambar ibunya yang terus-menerus berteriak dan meronta-ronta. "Lepaskan aku! Lepaskan aku brengsek! Biarkan aku menyusul suamiku!"
__ADS_1
Suara teriakan pilu terdengar menyayat hati Jackson. Tak terasa mendengar suara sosok wanita yang dirindukan, selama lebih dari dua puluh tahun lamanya untuk pertama kali, membuat dadanya terasa begitu sesak karena melihat kondisinya yang mengenaskan. Ingin sekali rasanya dia berlari dan membebaskan sang ibu dari cengkeraman pria tersebut.
Namun tak lama kemudian ibunya malah tertawa terbahak-bahak. Jackson yang melihat seketika luruh di kursi dengan mengusap kasar rambutnya. "Hah?!" Berulang kali pria itu mengacak-acak tatanan meja depannya, hingga membuat benda-benda di atas berhamburan entah ke mana.
Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering di sela luapan emosinya. Terlihat nomor tak dikenal memanggil, tertera di layar benda pipih itu. Dengan amarah yang meluap dan deru napas tak teratur, Jackson mengangkat panggilan tersebut, diletakkannya ponsel di samping telinga tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Hello, Jackson. Ah, salah. Seharusnya aku memanggilmu keponakan ipar, benar?" Gelak tawa pria di seberang panggilan membuat Jackson mengepalkan tangannya dengan kuat dan mengerakkan gigi, hingga terdengar begitu jelas oleh Jerry. "Tak?! Apa kau sedang geram?"
"Apa maumu?" Bola mata Jackson memerah karena amarah, suaranya terdengar begitu dingin tak seperti biasanya.
"Ish, ish, ish. Bukankah kau terlalu to the point kepada Pamanmu ini? Seharusnya kau menanyakan kabarku terlebih dahulu sebelumnya, keponakanku tersayang!" Suara gelak tawa kembali terdengar di telinga Jackson. Jerry seperti sedang ingin mempermainkan dirinya saat ini.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni pria sepertimu!" ujarnya dingin.
"Ck, ck, ck. Kau pikir ibumu juga memiliki banyak kesabaran untuk menunggumu?" Pria tidak menghentikan kalimatnya sejenak. "Kupikir kau butuh sedikit dorongan untuk memutuskan secepat mungkin."
Tak lama kemudian, terdengar suara wanita yang sangat dikenalnya kembali terdengar. "Sayang, jangan dengarkan dia. Kami baik-baik saja!"
"Diamlah!"
"Alice!" Jackson yang terkejut emosinya seketika meledak begitu saja. "Apa yang kau lakukan pada istriku, hah?!" Tangannya mengepal kuat, dengan sorot mata tajam seakan bersiap membunuh Jerry saat itu juga.
Gelak tawa Jerry terdengar begitu keras menembus gendang telinganya. "Bagaimana? Haruskah kau berpikir ulang? Sepertinya kau harus segera bertamu kemari bersama nonamu, karena keluargamu tidak akan lengkap tanpa kehadiranmu."
Tanpa menunggu jawaban, Jerry langsung mematikan sambungan panggilan, sedangkan Jackson semakin murka setelah itu.
"Hah?!" Berulang kali dia memukul meja begitu keras, hingga membuat punggung jemarinya terluka dan mengeluarkan banyak darah.
Dia sungguh murka dengan tindakan keluarga istrinya yang selalu memanfaatkan kelemahan orang lain demi kepentingan mereka sendiri.
To Be Continue...
__ADS_1