
Kehilangan kedua orang tua secara bersamaan menjadi pukulan tersendiri bagi Anna. Namun, dia juga tak bisa memungkiri ada rasa kecewa karena keduanya juga tak pernah memerlihatkao rasa cinta apalagi keromantisan di dalam rumah tangga mereka.
Sesuai dengan permintaan ibunya, Anna memakamkan keduanya secara berdampingan. Setelah mengurus pemakaman, Anna memilih mengambil benda kenangan dari sang ibu dan membawanya pergi bersamanya.
Dia memilih kembali ke kota, dan meninggalkan kenangan buruk di desa. Bukan berarti dia biasa saja, tetapi batinnya tetaplah terguncang hebat karena semua itu. Bahkan ketika terlelap Anna terkadang masih juga tersadar karena bermimpi kematian kedua orang tuanya.
Selama ini hanya sang ibu yang selalu mencurahkan sejuta kasih sayang padanya. Namun, kini wanita itu telah tiada. Jadi siapa lagi yang akan menyayanginya.
Sepanjang perjalan kembali Anna hanya terdiam pandangannya kosong entah menatap ke mana. Bahkan dia tidak sadar di saat Mario bukan membawa ke rumah sewanya, melainkan apartemen tempat tinggal pria itu.
“Ayo turun!” ajak Mario dengan lembut. Anna
Anna hanya terdiam dan bergeming di saat Mario mengajaknya naik. Seakan mengetahui kebingungan wanita tersebut. Mario tersenyum dengan lembut. “Ini di tempatku, kau tak perlu khawatir. Ayo naik! Aku khawatir kalau meninggalkan mu seorang diri di tempat mu. Apa perlu aku menggendongmu?”
Anna hanya menggelengkan kepala, belum ada niat baginya untuk berdebat dengan Mario seperti biasanya. Batin wanita tersebut cukup terguncang secara bersamaan. Membayangkan dirinya kini hidup sebatang kara membuat langkahnya gontai.
“Kau boleh menempati kamar itu!” tunjuk Mario pada sebuah pintu. “Biasanya Maurer yang tinggal di sana kalau menginap di sini. Pakailah barang-barangnya dulu. Besok kita cari barang untukmu. Istirahatlah!”
Lagi-lagi Anna hanya mengangguk, keceriaan dalam dirinya seakan hilang dalam sekejap mata. Dia bahkan tidak bisa mencerna sepenuhnya kalimat yang dilontarkan Mario tadi dan langsung melangkah menuju kamar yang di maksud.
Setibanya di kamar Anna langsung menutup pintunya, dia luruh di balik pintu dan kembali menangis sejadi-jadinya. Rasa sesak yang menyeruak memaksa Anna memukul-mukul dadanya sendiri. Cukup lama wanita tersebut melakukan hal itu, hingga sedetik kemudian Anna langsung terdiam dan berdiri dari posisinya dengan tatapan kosong karena sebuah ketukan dari luar.
"Anna, apa kau sudah tidur. Ayo kita makan dulu!" Suara Mario terdengar begitu lembut dari luar. Tidak ada lagi nada datar atau membentak seperti sebelumnya ketika dia menjadi atasan Anna.
Anna pun keluar kamar dan menatap pria yang kini berada di depannya. Mata sembab dan wajah kacau membuat Mario sedikit nyeri melihatnya. Namun, dia juga memahami rasa sakit Anna saat ini. "Ayo!" ucap Mario meraih tangan Anna.
__ADS_1
Keduanya pun makan apa malam apa yang sudah di siapkan Mario tanpa ada sedikitpun obrolan dari keduanya. Mario sesekali melirik Anna yang tengah makan seolah semua itu tak memiliki rasa. Perubahan dalam diri Anna tampak begitu jelas bagi Mario. Ada rasa khawatir dalam dirinya melihat wanita yang di cinta berubah menjadi seperti itu. Dia takut Anna akn membencinya dan berniat meninggalkannya setelah Mario berniat mempersunting wanita tersebut sebagai istrinya.
Setelah makanannya habis Anna lagi-lagi hanya terdiam. Dia hanya melihat keranjang buah di depannya lengkap dengan pisau buah pengupasnya seolah menginginkan buah tersebut.
"Kau mau buah? Mau aku kupaskan?" tanya Mario.
Anna hanya mengangguk, Mario mengambil sebuah apel merah dan mengupasnya secara perlahan. Namun, tak sengaja tangan Mario tersayat pisau kecil tersebut. "Ish, tunggu sebentar!" Mario berniat membasuh darah di jarinya dan menempelkan plaster.
Akan tetapi, di saat Mario berbalik Anna sudah berada di depannya hingga membuat pria tersebut sontak terkejut. "Oh My God, Anna kau mengejutkanku saja."
Piring kotor Anna letakkan di tempatnya, tetapi Mario menahan ketika wanita tersebut berniat membersihkannya. "Biar aku saja," ujar Mario karena kasihan pada Anna.
Tanpa basa-basi atau menolak, Anna hanya membiarkan Mario melakukan semua itu dan kembali melangkah ke kamarnya.
Mario yang selesai mencuci piring hanya bisa mengernyitkan dahi di saat Anna tak mengambil apel yang sudah dia kupas tadi. Meskipun jarinya terluka, tetapi buah tersebut sudah bersih dan siap makan. Jadi, kenapa Anna tak mengambilnya jika memang menginginkan.
Sementara itu, Anna yang berada di dalam kamar yang bisa berdiri mematung menatap ke arah luar. Suasana kamar tampak begitu gelap karena dia tak menyalakan lampu. Bayangan tangan Mario yang terluka terus bergantian dengan saat di mana ibunya tewas karena tusukan benda tajam kala itu, berkecamuk di pikiran Anna, seolah membuatnya berhalusinasi.
Tanpa sadar Anna kembali keluar dari kamar, pandangannya mengedar ke sagala arah di mana Mario sudah tidak ada lagi di sana. Dia bergerak menuju dapur. Wanita tersebut mengambil sebuah pisau buah sebelumnya dan disembunyikan di belakang tubuh.
Dia kembali melangkah untuk mencari kamar Mario yang ternyata tidak dikunci, sedangkan pria tersebut sudah berbaring di atas ranjang tampak seperti merajut mimpi. Anna bergerak perlahan mendekatinya, dengan tatapan kosong. Penampilannya bahkan masih seperti sebelumnya dan belum membersihkan diri.
Anna menaikkan tangannya yang menggenggam pisau tepat di atas tubuh Mario. Namun, ketika wanita tersebut hendak menancapkannya, Mario dengan segera tersadar dan menahan tangan Anna.
“Anna, apa yang kamu lakukan?” Mario menahan tangan Anna dengan susah payah, bola mata wanita itu memerah dan membulat sempurna seolah baru saja kerasukan setan. Anna tak memedulikan apa yang dikatakan Mario saat itu. Dalam pikirannya hanya ingin melakukan apa yang bahkan tak dia sadari jika dalam keadaan waras.
__ADS_1
“Anna!” teriak Mario masih mencoba menahan tangan Anna yang begitu kuat mendorongkan pisau kepadanya.
“Kau pembunuh!” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Anna setelah diamnya sejak kamatian sang kedua orang tuanya.
Mario pun menyerah karena memang dialah yang telah membunuh Ayah Anna tepat di depan putrinya. “Apa ini yang kamu inginkan?” tanya Mario lagi.
Akan tetapi, Anna tidak menjawabnya dan di saat Mario memejamkan melepaskan kedua tangan, dan membiarkan Anna membunuhnya, Wanita tersebut malah kembali luruh di lantai setelah ujung pisau berhasil melukai dada kiri Mario, tetapi hanya luka kecil.
“Anna, Anna! Bangun, Anna!” Tanpa membuang waktu, Mario segera mengangkat tubuh wanita tersebut dan membawanya ke rumah sakit dengan raut wajah khawatir yang terlihat jelas di matanya.
Mario masih mengenakan pakaian tidur, tetapi dia tidak peduli dengan hal itu karena yang terpenting saat ini adalah keselamatan Anna. Dia melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi sambil sesekali melirik Anna di sampingnya.
Setibanya di rumah sakit, Mario langsung menyerahkan Anna ke tenaga medis agar segera di tangani. Dia hanya bisa menunggu sambil mengusap kasar wajahnya melihat apa yang terjadi pada Anna saat ini. Seandainya saja, dia tidak membunuh ayah Anna semua ini pasti tidak akan terjadi. Namun, juga tak menjamin jika pria itu malah berusaha membunuh Anna seperti sebelumnya. Tidak ada yang menyangka jika kondisi Anna akan jadi seperti ini setelah kematian kedua orang tuanya.
Maurer yang mendapat kabar dari sang kakak langsung bergegas menuju rumah sakit. "Kakak," panggilnya dengan terengah-engah karena setengah berlari. "Apa yang terjadi?"
Mario hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Maurer langsung duduk di samping sang kakak mengusap lembut punggung pria itu. Rasa kecewa sekaligus hancur tergambar jelas di wajahnya meskipun dia tak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
"Mungkin kau harus mengurus perusahaan lebih lama. Maafkan Kakak," ujar Mario akhirnya menoleh pada sang adik.
"Bukan masalah besar, yang penting sekarang kesehatan Anna," ujar Maurer menenangkan kakaknya.
Mario hanya bisa menatap sendu ke arah ruangan Anna. Dalam hatinya merasa bersalah atas apa yang terjadi, tetapi dia juga tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya pada Anna begitu saja. Apalagi wanita tersebut sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini.
__ADS_1
To Be Continue...