
"Kau!" Resepsionis itu bergegas keluar dari balik tempat kerjanya untuk menghampiri perempuan di depannya dan berniat memberikan pelajaran. Namun, dengan cepat George menahannya untuk melindungi Jessi. "Lepaskan! Aku harus memberinya pelajaran, beraninya wanita tua itu merayu Tuan Mario."
"Sebaiknya kau diam kalau masih menginginkan nyawamu!" bisik George lirih di telinga wanita tersebut, tetapi ia terus saja memberontak mencoba menyingkirkan pria yang menghalangi jalannya.
Suara tawa dan tepuk tangan dari Jessi terdengar begitu keras menggelar memenuhi seluruh area lobi. Wanita itu bukannya tenang mendengar peringatan George, tetapi malah semakin berniat menyerang Jessi.
"Lepaskan, George! Apa kau tak melihat dia terus memberontak seperti cacing kepanasan?" Seringai mengejek begitu jelas terlihat di wajah cantik Jessi melihat kelakuan buruk karyawannya sendiri.
Entah mengapa, tapi wanita sikap wanita di depannya sangat menyenangkan ketika sedang emosi, hingga membuat Jessi semakin gencar untuk memprovokasi sebelum akhirnya menghabisi keangkuhannya. George menurut, dia tidak lagi menghalangi resepsionis yang ingin menyerang nonanya.
Sementara itu, perempuan yang masih belum sadar akan posisinya kembali mendekat ke arah Jessi. "Jangan pernah mengaku kalau dirimu adalah kekasih Tuan Mario karena usiamu terlalu tua jika dibandingkan dengan ibuku!" Jari telunjuk mengarah ke wajah lawan dengan sorot mata mengancam dari wanita tersebut hanya bisa membuat Jessi mendengus sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya.
Dia selangkah maju untuk membisikkan bisikan setan di telinga resepsionis tersebut. "Apa kau tahu hangatnya ranjang Tuan Mario bisa membuatmu lupa untuk kembali bangun dari mimpi?"
Raut wajah merah padam sudah tergambar jelas di wajah wanita muda itu. Selama ini ia mencoba berbagai cara untuk mendapatkan perhatian dari Mario, tetapi pria tersebut sangat kaku dan tetap tak meliriknya. Bahkan hanya membalas sapaannya pun tidak pernah. Bagaimana mungkin wanita tua di depannya bisa mendapatkan atasannya.
"Jangan sembarangan kalau bicara!" Wanita tersebut merasa iri ketika membayangkan apa yang bisikkan Jessi kepadanya. Emosi perempuan itu semakin meluap-luap hanya dengan memikirkannya saja.
Dalam hati Jessi tersenyum puas, dia tidak menyangka akan mendapatkan sebuah kejutan ketika pertama kali datang ke perusahaannya sendiri. Ternyata anak buahnya cukup populer di kalangan wanita rendahan seperti ini. Untung saja Mario adalah orang yang bertanggung jawab dan tidak pernah menanggapi perempuan medusa seperti ibu tirinya.
Jika dia sampai tergoda, bisa dipastikan Jessi sendiri yang akan menentang dengan keras hubungan mereka. Berulang kali, wanita tersebut hanya mengangguk meledek setiap kalimat yang keluar dari mulut beracun itu.
Anggaplah Jessi sedang baik hari ini. Jadi, dia akan menyingkirkan salah satu fans fanatik Mario yang sudah mendekati tahap gila menurutnya.
"Apa kau tahu dia sangat hebat dalam bermain ranjang?" Jessi kembali membisikkan bisikan setan yang jahat, hingga membuat wanita tersebut melayangkan tangannya di udara hendak menampar perempuan di depannya.
Namun, suara seorang pria yang dikenal menghentikan tindakannya. "Berhenti!"
Teriakan seorang pria yang panik berlari dengan terburu-buru ketika keluar dari lift. Jantungnya berdetak cepat ketika melihat seorang resepsionis hendak menyakiti pemilik perusahaan tempat mereka mengais rezeki.
"Apa yang kau lakukan, hah?!" Dengan napas yang masih terengah-engah, pria tersebut membentak resepsionis dengan keras, hingga membuatnya terkejut.
__ADS_1
"Tuan dia ...." Wanita itu langsung membungkuk hormat ketika melihat pria yang selama ini membantu pekerjaan Mario. Ya, lelaki tersebut adalah Asisten pribadi anak buah Jessi.
"Nona." Tanpa menjawab sapaan sang resepsionis, pria tersebut malah membungkuk hormat kepada Jessi, hingga membuat semua orang yang menyaksikan hal itu tercengang dengan tindakannya.
Jessi hanya tersenyum mengejek ketika melirik wanita yang masih mematung di tempatnya. "Apa seperti ini caramu mendidik karyawan?"
"Maafkan kami, Nona. Maaf tidak menyambut kedatangan Anda." Jantung pria tersebut berdetak kencang, selama ini dia hanya sekali saja melihat Jessi ketika Mario dan Maurer berhalangan untuk mengurus perusahaan.
Saat itu Jessi memintanya untuk datang ke kediaman dan menyuruhnya bekerja sama bersama Jackson sementara waktu, hingga kondisi kembali seperti semula.
Akan tetapi, dia tidak menyangka Jessi langsung datang hari ini juga tanpa mengabari setelah mendengar kabar korupsi salah satu karyawan. Lebih parahnya, sang pemilik perusahaan malah harus berurusan dengan resepsionis yang tidak tahu diri.
"Kau!" Jessi menunjuk salah satu cleaning servis yang berada di lobi tersebut. "Kemarilah!"
Perempuan tersebut malah menoleh ke kanan dan kiri, memastikan apakah benar dia yang di panggil oleh Jessi.
"Iya, kamu! Bibi Cleaning Servis! " Wanita tersebut lantas hendak bergerak mendekat ke arah Jessi. "Bawa sekalian trolimu itu!"
"A–anda memanggil saya, Nona?"
"Iya, apa tadi, Bibi sudah mengepel?"
Kata 'Bibi' menunjukkan sikap sopan Jessi kepada orang yang lebih tua berhasil membuat para karyawan menunduk malu. Termasuk asisten Mario yang berada di depannya.
"Sudah, Nona." Perempuan tersebut menjawab dengan lirih, bahkan tidak berani menatap ke arah Jessi karena rasa takutnya.
"Siram air pelmu kepadanya! Setelah itu, posisi resepsionis bisa menjadi milikmu." Jessi mencoba mengetes sifat seseorang dengan cara itu. Banyak manusia serakah hanya karena ingin memiliki jabatan tinggi rela melakukan segala cara untuk mencapai posisi yang diinginkan.
Sementara itu, resepsionis dan asisten tidak mampu lagi berkata-kata. Apalagi para karyawan yang menyaksikan perdebatan siang itu.
Melihat asisten Mario yang selama ini terkenal kaku seperti tuannya, bahkan menciut ketika berhadapan dengan Jessi membuat rasa percaya diri dari resepsionis itu menghilang seketika. Tamat sudah riwayatnya menjadi bahan tertawaan banyak orang jika dirinya sungguh disiram air pel.
__ADS_1
Rasa bimbang membuat perempuan paruh baya itu bergetar. Hatinya menolak untuk menerima perintah Jessi, tetapi bagaimana jika dia sampai dipecat. Pekerjaannya sekarang adalah satu-satunya penyambung hidup keluarganya selama ini.
"Apa kau keberatan?" Perempuan itu langsung mendongak ketika mendengar pertanyaan Jessi.
Dengan berat hati, dia pun memilih untuk mengikuti hati nuraninya. "M–maaf, Nona." Cuma itu kata yang keluar dari bibir perempuan paruh baya, tanpa sedikit pun polesan lipstik dan hanya ada sisa minyak membasahinya. Mungkin sisa dari noda makan siang.
"Lihat! Bahkan seorang cleaning servis lebih bisa menghargai orang lain dibandingkan dengan kau yang memiliki pendidikan tinggi. Tapi, tak punya hati nurani!" Nada tegas Jessi membuat siapa pun menatap kagum ke arahnya.
"Aku menggaji kalian bukan untuk bermalas-malasan atau merayu lawan jenis. Jika kalian masih ingin bekerja, buang jauh-jauh pikiran itu!" Sejenak Jessi menghentikan kalimatnya untuk menatap tajam ke arah resepsionis yang sudah bergetar sejak tadi. "Silakan angkat kaki dari sini karena perusahaan ini tidak memerlukan karyawan yang memiliki attitude buruk seperti Anda!"
"Kau! Tinggalkan perkerjaanmu!" Jessi kembali menunjuk ke arah cleaning servis, membuat wanita itu syok mendengar perintah wanita di depannya. Hilang sudah pekerjaan yang menjadi penyambung hidup keluarganya sekarang. "Gantikan dia menjadi resepsionis dan sambutlah tamu dengan baik seperti hati nuranimu!"
Kalimat terakhirnya sukses membuat para karyawan ternganga akan tindakannya. Perempuan paruh baya tersebut sudah tidak muda lagi sebab itulah dia hanya bisa menjadi seorang cleaning servis.
Namun, usia dan penampilan bukanlah patokan bagi Jessi. Dia hanya ingin para pengunjung mendapatkan sambutan yang buruk seperti kejadian barusan.
"Kau urus mereka!" Jessi memerintahkan sang asisten, lalu melangkah pergi bersama George menuju ruangan Jackson.
Seperti biasa, Jessi masih memberikan satu kesempatan kepada orang yang mencari masalah dengannya agar menjalani hidup yang lebih baik dan menjadikan hal ini sebagai pelajaran. Namun, jika mereka kembali untuk menuntut balas. Maka hanya ada satu akhir baginya.
Setelah beberapa saat, dia tiba di ruangan Jackson dengan seorang pria yang berlutut di lantai.
"Nona," sapa Jackson.
"Apa dia tikusnya?" Jessi bersandar di sofa dan fokus menatap lekat pria di depannya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam sakunya.
To Be Continue....
Jessi now
__ADS_1