Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Pertempuran


__ADS_3

Setelah mendapatkan pesan dari istrinya Nicholas menyusul Jessi bersama pasukan yang disiapkan Profesor Pinneapple menggunakan helikopter. Kali ini, dia mengaktifkan semua robot Terminator miliknya tanpa kecuali, mereka sudah dilengkapi dengan persenjataan lengkap di setiap tubuhnya, sehingga akan menjadi prajurit terkuat untuk melawan manusia.


Para robot dirancang agar tidak mudah terluka, hanya karena serangan senjata api atau senjata tajam lainnya. Selain itu, bahan utama pembuatan mereka terbuat dari campuran logam menyebabkan mereka lebih mudah untuk menyerang musuh dari jarak dekat maupun jauh.


Kondisi Brian yang selalu menggunakan racun tak terduga, juga menjadi pertimbangan Nicholas agar semakin berhati-hati dalam menjaga istrinya. Jessi bisa saja terluka kapan pun oleh pria tersebut karena kegilaannya.


Jantungnya berdegup kencang kali ini. "Semoga aku tidak terlambat." Membayangkan sesuatu terjadi kepada istrinya membuat rasa khawatir tak berkesudahan semenjak mendapatkan pesan. Dia sendiri tidak menyangka jika Jerry akan bertindak secepat ini.


Setelah menempuh perjalanan udara cukup jauh, mereka mulai memasuki kawasan udara kediaman Jerry Morning. Terlihat dari atas Brain dan beberapa bawahan Jessi yang lain sudah berkumpul di sana. Ditambah serangan para anak buah Jerry dari berbagai sudut kastil mengarah ke Jane dan orang-orang di sekitarnya.


"Lepaskan granat dan gas air mata!" Nich mengenakan kaca mata Goggles dan masker di wajahnya sebelum bersiap untuk turun. "Segera turun dan jangan biarkan lawan melarikan diri! Babat habis mereka sampai tak tersisa!"


"Baik, Tuan."


Tak lama kemudian, beberapa granat dan gas air mata mulai dilemparkan ke segala penjuru kastil. Tempat-tempat anak buah Jerry menyerang dari kejauhan. Setelah itu helikopter merendah dan Nich langsung terjun di posisi yang tak jauh dari sang istri. Dia juga membawa masker dan kaca mata untuk Jessi agar terhindar dari gas air mata yang menyebar di kawasan ini.


Suara ledakan granat menghancurkan kastil menggelegar berulang kali layaknya letupan kembang api. Reruntuhan bahan bangunan mulai berterbangan dan hancur berkeping-keping mengenai siapa pun yang berada di bawahnya.


Perlahan langkah Nich mulai mendekati sang istri yang meringkuk bersembunyi di balik sebuah dinding. "Gunakan ini, Sweety!"


"Nich!" Jessie menoleh ke belakang dia terkejut melihat sang suami yang sudah berada tepat di depannya, untuk sekejap dia mengalungkan tangan di leher pria tersebut seakan sudah cukup lama mereka tak bertemu.


"Pakai ini dulu!" Pria tersebut memasangkan kaca mata Goggles untuk istrinya karena gas air mata bisa membuat padangan terasa pedih.

__ADS_1


"Pegang ini, hati-hati dan jangan sampai terluka!" Dia memberikan sebuah senjata api untuk Jessi, lantas mengecup bibir sang istri sejenak.


Barulah setelahnya Nich memasangkan masker di wajah istrinya. Sementara itu, Jessi hanya bisa tersenyum melihat kelakuan suaminya yang tidak tahu tempat untuk bermesraan.


Di sisi lain, Jerry juga menundukkan tubuhnya, dia tidak menduga akan mendapatkan serangan mendadak. Untungnya para anggota mafia Virgoun sudah berada di sini semenjak kepergian Brian untuk menculik Nenek Amber.


Pria itu mulai berteriak memberikan perintah ke pada anggota mafia Virgoun yang ada. "Ledakkan helikopter itu dan bunuh semua orang di sini! Jangan sampai ada yang tersisa!"


Anggota mafia Virgoun langsung bergerak cepat, mereka layaknya sebuah robot yang dikendalikan oleh Jerry. Seseorang di kastil mulai menjalankan perintahnya, mengarahkan Bazooka–pelontar misil–di pundaknya ke atas. Secepat kilat roket pun muncur ke arah helikopter dan meledakkan benda itu dalam sekejap mata, hingga kilatan merah mengepul mewarnai langit yang masih biru.


Suara ledakannya pun terdengar begitu dahsyat di seluruh penjuru. Jerry tidak main-main kali ini, dia sungguh akan melenyapkan keturunan keluarga Alexander sampai ke akarnya.


Pertarungan antara robot berwujud manusia dan manusia menjadi robot terlihat begitu sengit. Tatapan mereka sama-sama tajam, suara tembakan menggema di mana-mana tanpa jeda.


Tak terkecuali Jessi yang mulai melangkah sambil membidik lawan-lawan untuk membawa Jackson, ibunya, serta Alice ke tempat aman.


Sesekali Jessi menendang orang yang mendekat dan langsung menembak tepat di kepalanya, hingga membuat para anak buah Jerry itu langsung mati, tergeletak tak berdaya di depannya.


"Ayo cepat!" Merasa ada celah Jessi menarik tangan Alice agar melangkah lebih cepat menuju kendaraan yang bawa Jane.


Pertarungan demi pertarungan semakin sengit, Brian bertarung dengan Nich, Olivia mengejar Johny, dan Jane melangkah mendekati Jerry. Sementara itu, anak buah Jessi yang lain dan para Terminator semakin beradu kekuatan dengan bawahan pria tua tersebut.


Jessi melangkah mengamankan Jackson dan ibunya, setelah itu dia bergerak ke kendaraan musuh untuk membebaskan Nenek Amber dan juga Maria.

__ADS_1


Di kejauhan Brian yang melihat Jessi berusaha mengambil tawanannya lantas mulai gusar. Dia menendang Nich, hingga pria itu mundur beberapa langkah lantas melemparkan racun yang bisa memedihkan mata dari sakunya ke arah lawan.


"Aku tidak punya urusan denganmu!" Brian langsung berlari mengejar Jessi. Tak ingin membiarkan Nicholas menyusul mereka begitu saja.


"Kita harus bicara!" Brian menarik tangan Jessi yang tengah berusaha melepas tali pengikat neneknya.


Namun, dengan cepat sebuah tembakan melesat dari Nich di belakang langsung mengarah kepadanya, hingga menyebabkan peluru bersarang di lengan Brian.


"Kau tak berhak menyentuh istriku!" Suara teriakan Nicholas terdengar begitu mengerikan, wajahnya merah padam melihat Brian berani mendekati istrinya.


Sayangnya, Brian mengarahkan sebuah suntikan di leher Jessi untuk menyanderanya, peluru yang bersarang di lengan seolah tak terasa. Padahal pergelangan tangannya juga terluka, tetapi amarah pria tersebut tak jauh berbeda dengan Nich. "Kau jangan ikut campur!"


Sorot matanya penuh dengan permusuhan menatap pria di depannya, sambil tangan kiri menahan leher Jessi dan sebelah kanan menyiapkan sebuah suntikan racun jika wanita tersebut berani menolaknya.


"Apa yang kau inginkan, Brian? Kau gila, hah!" Jessi berusaha meronta-ronta, tetapi kegilaan Brian sedang berada di ambang batas wajar. Jadi, tenaganya tetap kalah dengan kekuatan pria tersebut. Apa lagi Brian sedang dalam kondisi tidak stabil.


"Aku ingin kita kembali bersama, Sayang. Kau tahu? Aku sudah menyingkirkan Rossi dari kehidupan kita. Mari kita mulai rumah tangga yang baru dan tinggalkan pria itu!" Lirih Brian berbisik begitu dekat di telinga Jessi, hingga membuat wajah Nich semakin berang melihatnya.


"Kau gila, Brian. Aku mencintai Nicholas, selamanya begitu, ada atau tidaknya dirimu hanya akan menjadi sampah masa lalu!" Kalimat tegas dari Jessi berhasil menyulut emosi Brian.


Sisi gelapnya kembali berada di titik terburuk saat ini. Sebuah seringai miring tersungging di wajah pria tersebut sambil menatap Nicholas yang menodongkan pistol ke arahnya. "Jika kau tidak mau kembali padaku. Maka jangan harap bisa hidup bahagia bersamanya! Lebih baik kita sama-sama melangkah ke neraka!" Sebuah tawa dari Brian menggelegar begitu keras, diiringi jarum suntik yang menancap sepenuhnya di leher Jessi.


"Jessi!" Nich yang terkejut seketika menembakkan pelurunya berulang kali ke arah Brian, hingga keduanya luruh bersamaan.

__ADS_1


"Sayang!"


To Be Continue...


__ADS_2