
"Apa maksudmu?" Jane yang terkejut seketika berdiri dari posisinya dan menatap tajam ke arah Dove. Amarah dalam dirinya seakan berkumpul menjadi satu lengkap dengan kemelut cemburu di kala ada wanita lain yang menginginkan prianya.
"Aku juga mencintai Damien, Jane! Dengan kondisimu yang seperti ini, mustahil kalian bisa hidup bersama dalam waktu lama," ucap Dove seolah dia tahu apa yang terbaik untuk mereka.
"Kau pikir dengan aku meninggalkan Damien dia akan berpaling kepadamu?" Menyadari jika cintanya diinginkan wanita lain membuat kemelut emosi dalam diri Jane memuncak seketika.
"Jane, aku sudah mencintainya selama sepuluh tahun. Jika kau tidak datang, mungkin kami bisa bersama setelah menemukan adik—" Belum sempat Dove menyelesaikan kalimatnya, Jane sudah lebih dulu memotong perkataan wanita itu.
"Jika selama sepuluh tahun saja dia tidak melirikmu, kau masih berharap dia berharap melihatmu setelah ini?" Jane yang emosi mengeluarkan sorot tajam dengan berkacak pinggang di depan Dove. "Ah, aku tahu. Kau ingin menjadi malaikat penyelamat yang hadir di saat dia terpuruk karena kepergianku. Benar begitu?"
"A–aku." Dove tidak mampu berkata-kata, dia tidak menyangka respons Jane akan sangat berbeda padahal wanita itu jelas bisa mati kapan saja. Namun, dia mencoba memutar otak agar bisa memprovokasi emosi Jane. "Jane, jangan egois! Apa kau tidak pernah membayangkan bagaimana nasib Damien jika kau mati begitu saja. Aku hanya tidak ingin dia terluka dan hanya bisa terpuruk."
__ADS_1
"Egois kau bilang?" Sejenak Jane mendongakkan kepalanya, sepertinya dia harus menyadarkan wanita di depannya agar segera tersadar dari mimpi panjang. "Jika memang Damien harus terluka karena kematianku, maka itu akan lebih baik daripada aku meninggalkannya sekarang setelah apa yang kami lalui," ucap Jane dengan tegas dan menghunuskan sorot tajam menatap lurus ke arah Dove.
"Jane!" Dove berteriak dengan keras sambil ikut berdiri karena geram akan kalimat yang diucapkan Jane. Dia bahkan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat melihat keras kepala wanita di depannya.
Biasanya wanita akan memikirkan tentang perasaan orang dicinta jika memang mengetahui umurnya tidak panjang lagi. Akan tetapi, Jane sebelumnya sudah memutuskan untuk meraih kebahagiaan bersama Damien karena dokter menjelaskan kalau peluang hidupnya tinggi asalkan bersedia menjalani operasi dan terapi.
Karena itulah, Jane tidak takut akan setiap gertakan wanita di depannyq. Dia berjalan satu langkah mendekat ke arah Dove hingga jarak di antara mereka tampak sangat dekat bahkan bisa membunuh hanya dengan tatapan mata saja. "Jangan harap aku akan meninggalkan Damien di sisa hidupku ini! Jika memang kau menginginkannya, maka tunggulah aku mati. Tapi aku pastikan, saat itu Damien akan hidup dalam bayang-bayang kenangan indah bersamaku selama hidupnya, meskipun kelak kau memiliki raganya!"
Untuk sesaat Jane tertawa kecil mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut beracun Dove. Entah dia harus marah atau merasa bersyukur karena wanita itu telah menyadarkannya seberapa dia berharap bisa hidup bahagia bersama Damien.
Jane menunjukkan jarinya tepat di depan mata Dove tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun. "Kau bukan Tuhan yang tahu kapan aku akan mati. Jadi berdoalah agar Dia segera memanggilku jika memang kau menginginkan Damien. Tapi, sebelum itu, aku sarankan agar kau segera sadar dari mimpi panjangmu itu."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Jane segera melenggang pergi tanpa memedulikan teriakan Dove yang tampak frustrasi akan setiap kalimatnya.
"Jane! Arg!" Dove hanya bisa berteriak dengan keras sambil mengacak-acak rambutnya sendiri setelah merasa gagal memengaruhi Jane. "Lihat saja! Aku tidak akan membuatmu tenang, tanpa aku Damien tidak akan bisa menjalankan perusahaan itu selancar sekarang."
Dia hanya bisa melampiaskan emosinya pada angin yang tidak terlihat serta rumput taman tak berdosa. Dove berulang kali mengentakkan kaki di tanah karena merasa gagal memengaruhi Jane.
Hal yang tak Dove tahu adalah Jane melenggang pergi dengan hati yang terluka di balik ketegasannya saat itu. Sebab itulah dia memilih segera melangkah pergi sebelum semakin jauh ucapan Dove melukai dirinya. Baru beberapa menit yang lalu, dokter memberinya semangat karena bisa sembuh, tetapi sesaat kemudian malah datang kata-kata kejam yang sebenarnya tak mampu dia sanggah.
Mana ada wanita yang menginginkan pasangannya menderita. Namun, untuk kali ini saja, biarlah Jane dibilang egois. Dia hanya ingin merasakan bahagia, meskipun akhirnya Tuhan tetap mengambil nyawanya.
TO be Continue...
__ADS_1