
Lain halnya dengan Damien yang berkutat dengan kesibukan di kantor. Kini Jane menikmati hidupnya di desa dan jauh dari tumpukan berkas menyebalkan yang meskipun menghasilkan banyak uang, tetapi selalu membuat otaknya lelah untuk memikirkan segala kemungkinan.
Kini wanita tersebut menikmati hidup dengan menjadi seorang tukang kebun di ladangnya sendiri. Dia menanam banyak bibit sayuran organik dan juga buah-buahnya di lahan di sekitar pekarangan rumahnya. Meskipun tak terlalu luas, tetapi malah bisa membuat Jane tidak perlu kerepotan mencari pekerja karena bisa mengurusnya seorang diri. Lagi pula semua hasilnya hanya akan digunakan untuk konsumsi sendiri, bukan untuk dijual ataupun bisnis yang membutuhkan banyak ruang.
Jane menghabiskan waktu selama seminggu ini dengan berkutat bersama tanah, pupuk, serta tanaman yang sudah dia beli sebelumnya. Dibantu Stella keduanya bercocok tanam dan menghias rumah dengan penghijauan agar terasa lebih asri dan nyaman untuk ditempati.
"Stella, bagaimana kalau kita membeli sapi?" tanya Jane setelah selesai menanam golden berry alias ciplukan di sebuah pot. Buahnya yang berwarna kuning keemasan membuat wanita tersebut memetik sebiji untuk merasakan manisnya buah itu.
"Sapi?" Stella hanya bisa mengernyitkan dahi mendengar penuturan kakaknya. "Untuk apa, Kak?"
"Kotorannya bisa digunakan untuk pupuk, susunya kamu minum. Lumayan ngirit bulanan."
"Ish, Kak Jane bisa aja. Terserah, Kakak lah."
"Nanti kita siapkan dulu kandangnya," ujar Jane kembali mengambil sebuah tanaman untuk dipindah ke pot yang lebih besar.
Stella hanya bisa mengangguk kecil mendengar keinginan Jane. Meskipun hidup di desa, nyatanya tak membuat jiwa bisnis dalam diri Jane surut begitu saja. Tidak perlu membeli banyak hewan, cukup satu atau dua saja agar dia bisa mengurusnya sendiri dan tidak mencolok di mata penduduk desa lainnya.
Tak lama kemudian, keduanya mulai membersihkan peralatan hendak beristirahat. Namun, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di sekitar pekarangan rumah yang membuat keduanya saling berpandangan.
"Siapa?" tanya Jane pada Stella, tetapi gadis itu hanya mengendikkan bahunya.
Sesaat kemudian, seorang pria berkaca mata hitam tampak turun dari mobil tersebut dan melangkah ke arah keduanya dengan tertawa hambar. "Ternyata ada warga baru di sini, ya." Pria tersebut lantas mengulurkan tangan kepada keduanya dengan tersenyum menggoda. "Kenalkan, saya Broto. Pemilik peternakan sapi di sana," tunjuknya ke arah suatu peternakan.
__ADS_1
Sebagai warga baru yang tak ingin mencari masalah dengan terpaksa Jane membalas uluran tangan pria tersebut. "Salam, Tuan Broto. Saya Jane dan ini adik saya Stella."
Namun, sesuatu mulai membuat Jane merasa risi karena Broto tak kunjung melepaskan pergelangan tangannya sehingga wanita itu menarik tangan dengan paksa.
"Jangan panggil saya tuan! Usia kita tidak jauh berbeda 'kok." Broto tersenyum genit sambil memindai setiap inchi tubuh Jane yang membuat wanita tersebut seketika memutar kedua bola mata dengan malas di kala mendengar penuturan pria tua di depannya.
'Sudah bau tanah masih saja suka bermain api,' batin Jane dengan wajah yang sama sekali tak menunjukkan kesan ramah.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Tuan Broto. Silakan lanjutkan perjalanan Anda." Tanpa basa-basi Jane langsung melangkah pergi membawa tangan Stella agar menjauh dari pria tua tersebut.
"Tunggu, tunggu!" Dengan beraninya Broto malah menghentikan langkah Jane dengan memegang bahu wanita tersebut. Hal itu membuat Jane seketika berbalik badan dan memelintir tangan pria tua itu.
"Apa yang Anda inginkan, hah? Jangan membuatku marah!" teriak Jane tanpa melepaskan bekukan di tangan Broto.
"Sebaiknya Anda segera pergi dari sini sebelum kesabaranku habis!" Jane melepaskan tangan Broto dengan mendorong pria tersebut ke depan hingga dia hampir terjerembab.
Sejenak Broto berdiri tegak sambil menggerakkan bahunya yang sakit. "Tenang saja, kita masih memiliki banyak waktu untuk saling mengenal. Permisi!" Pria itu masih tersenyum genit lalu melangkah pergi meninggalkan rumah Jane.
Broto–seorang pria paruh baya yang berusia hampir enam puluh tahun. Matanya jelalatan ketika melihat ada wanita cantik di desa itu. Memiliki peternakan terbesar di desa membuatnya menjadi pria terkaya yang suka memanfaatkan uangnya untuk menindas warga desa lainnya.
Tak jarang warga miskin di desa itu berutang kepadanya dan harus mengembalikan uang dengan bunga fantastis atau nilai kerja kontrak seumur hidup. Selain itu, dia juga memanfaatkan uangnya untuk menikahi wanita desa yang diinginkan dan kini dua bersaudara itu adalah sasarannya.
Sementara itu, Jane hanya bisa mendengus kesal sambil menghela napas lega setelah mobil itu bergerak pergi dari rumahnya. "Pria tua sialan!"
__ADS_1
"Kakak, kok aku curiga ya dengan pria itu." Stella langsung bergelayut di tangan Jane setelah melihat pria itu pergi.
"Tenang saja! Ada kakak di sini," ujar Jane dengan tersenyum.
"Nona kalian warga baru, ya?" Seorang bocah tiba-tiba saja berlari ke arah mereka setelah tadinya menyaksikan keributan itu di balik sebuah pohon. Jane hanya mengangguk kecil, melihat bocah cilik itu.
"Hati-hati, Nona. Pak Broto itu juragan sapi di desa ini. Dia suka berbuat semena-mena pada wanita cantik yang sudah diincarnya."
Kedua saudara itu pun kembali saling berpandangan setelah mendengar peringatan sang bocah. Jane memang tinggal di desa yang berbeda dengan tempat tinggalnya terdahulu karena ketersediaan tempat saat itu. Dia membeli rumah kawasan yang berbeda ketika tinggal bersama Nenek Amber dan Jessi sehingga belum terlalu mengenal situasi di desa ini.
"Terima kasih sudah memberi tahu kami," ujar Jane kepada bocah yang membawa seekor kambing kecil di tangannya itu.
"Pak Broto suka memaksa wanita cantik agar mau menikah dengannya. Istrinya saja sekarang ada sembilan."
"Terima kasih sudah mengingatkan, Nak. Siapa namamu?" tanya Jane sambil mengelus pucuk kepala bocah itu.
"Jojo, rumahku di sebelah sana," tunjuknya pada sebuah rumah yang tak jauh dari pekarangan Jane.
"Baiklah, lain kali aku akan berkunjung ke rumahmu kalau kau mengizinkan. Kenalkan aku Kak Jane, dan ini Kak Stella." Jane memperkenalkan diri pada bocah manis yang ramah itu dengan senyuman berbeda seperti saat perkenalan dengan Broto.
"Tentu saja boleh, Kak. Di sana ada Ibuku yang berada di rumah sendirian karena ayah pergi ke kota. Kalau begitu aku pulang dulu, Kak Jane, Kak Stella." Jojo lantas melambaikan tangan setelah memperingatkan kedua warga baru itu.
Sementar itu, Jane dan Stella bergegas merapikan alat dan beristirahat di dalam rumah. Tanpa memikirkan situasi yang belum pasti tentang juragan Broto.
__ADS_1
To Be Continue...