
Matahari tampak mulai naik ke peraduannya. Sinar hangat menjadi awal kehidupan manusia. Dia menjadi pertanda di mana manusia harus memulai harinya dengan bahagia seiring senyumnya di kala menyinari dunia.
Pagi itu di Negara X sepasang suami istri yang telah lama menjalin rumah tangga masih berpeluk ria di bawah selimut. Akan tetapi, sesaat kemudian sang pria bangun dan berlari menuju kamar mandi.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Jane melihat suaminya bangun tak seperti biasanya. Dia pun ikut beranjak dari posisinya dan menyusul Damien ke kamar mandi. Tangannya terulur memijat tengkuk sang suami yang memuntahkan seluruh isi perutnya di close set. “Kamu kenapa sih?” tanya Jane lagi.
Sesaat kemudian, Damien selesai dengan urusannya dan terduduk lemas di lantai. “Sayang, kamu sakit?’ Jane berulang kali mencoba meletakkan punggung tangannya di dahi sang suami. Namun, sayangnya tidak terasa demam sama sekali, tetapi wajahnya sangat pucat seperti mayat hidup yang hampir mati.
Damien tidak menjawab pertanyaaan istrinya. Dia hanya kembali berbalik dan langsung mengeluarkan isi perutnya yang hanya berisikan air itu. Rasa tidak menyenangkan bergejolak di perutnya dan tertahan di tenggorokan membuat Damien sampai terbatuk tak karuan.
“Sayang kita ke rumah sakit, ya?” tawar jane karena merasa kasihan melihat suaminya sakit untuk pertama kali.
“Tidak, Sayang mungkin aku hanya masuk angin.” Damien mengulurkan kedua tangannya layaknya anak kecil yang meminta sang ibu untuk memeluknya. Jane pun memberikan tubuhkan dan mengusap lembut punggung sang suami.
“Aku mengkhawatirkanmu. Kita ke rumah sakit saja, ya?” bujuk Jane lagi. Sayangnya Damienn hanya kembali menggeleng di pundak istrinya sebagai jawaban.
“Sayang, aku ingin makan pai apel,” ucap damien sambil mentap istrinya.
Jane hanya bisa menghela napas panjang karena merasa suaminya tengah mengalihkan pembicaraan. Namun, dia hanya bisa mengangguk kecil. “Mandilah! Aku akan membuatkanmu sarapan.”
“Siap, Bos.”
Jane hanya bisa mengernyitkan dahi melihat tingkah suaminya itu, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya dan keluar menuju dapur untuk menyiapkan makanan.
Di Eropa dan Amerika, kue sejenis pastry ini dimakan sebagai hidangan pencuci mulut yang disajikan dengan krim kocok dan es krim di atasnya, bisa juga keju. Apple pie biasa disajikan pada musim gugur dan musim dingin. Secangkir coklat hangat dan apple pie adalah kombinasi tepat untuk menghalau dinginnya udara.
__ADS_1
Apple pie berkulit renyah dengan isian buah-buahan manis. Adonan pie yang dipipihkan dalam panci bulat itu kemudian diberi isian berupa selai atau potongan apel kemudian ditutup kembali dengan adonan pastry dan digunting di tepiannya, lalu dipanggang, dan mengeluarkan rasa manis seiring proses pemanggangan. Seringkali juga dicampur dengan bubuk kayu manis untuk memunculkan aroma dan gula palem untuk tambahan rasa manis.
Untuk penggunaan buah apelnya sendiri pun bisa bervariasi berdasarkan musim buah apel. Bisa menggunakan kombinasi dari Jonagold, Fuji, Golden Delicious, Gala, Rom, dan Ida Red.
Jane menyajikan pai buatannya di meja lengkap dengan coklat panasnya kali ini. Hingga saat kemudian, suaminya yang tampak sudah rapi terlihat mulai keluar dari kamar. “Kamu yakin tidak perlu ke rumah sakit?” tanya Jane sambil mengambil dasi yang dibawa suaminya dan memasangkan di leher pria itu.
“Aku baik-baik saja, Sayang Terima kasih,” ujar Damien yang langsung mengecup dahi sang istri setelah dia selesai memasangkan dasi.
Damien pun duduk di kursi sambil mengendus aroma Apple pai yang begitu lezat di hadapannya. Baru keluar dari panggangan menjadikan makanan itu berbau cukup harum khas apel yang meleleh di dalamnya.
Tanpa banyak kata, Damien memakan makanan tersebut dengan lahapnya, sedangkan Jane kembali mengernyitkan dahi melihat tingkah aneh sang suami. “Sejak kapan suamiku menyukai makanan manis? Jangan-jangan ada wanita lain yang membuatnya menyukai makanan itu,” batin jane dengan kesal sambil menggigit makanannya sendiri dengan tatapan tajam menghunus pada suaminya.
Setelah selesai dengan sarapannya Damien langsung menyeruput coklat hangat di cangkir dengan begitu nikmatnya hingga tandas. Dia pun lantas berdiri dan mengecup dahi istrinya singkat. “Aku berangkat dulu, Sayang,” ucap Damien sambil menghujami wajah sang istri dengan banyaknya ciuman seperti biasa lalu beranjak pergi ke kantor seperti biasanya.
__________
Hari ini Jane mendatangi perusahaan suaminya karena pria itu kembali meminta pai apel buatan sang istri. Namun, alangkah terkejutnya dia di saat kakinya melangkah memasuki perusahaan tersebut sudah ada aroma yang berbeda. "Kaya ada yang aneh," batin Jane sambil mengedarkan pandangan ke segala sisi dan melihat apa yang berbeda dari tempat ini.
"Apa suamiku ada di atas?" tanya Jane pada seorang resepsionis yang berjaga di sana.
"Ada, Nyonya. Silakan lewat sini!" ucap resepsionis tersebut ramah.
Tanpa sengaja Jane mencium aroma apel yang digunakan pegawai itu dan berhenti sejenak. "Parfummu enak. Aroma buah terasa lebih segar, ah jadi perusahaan ini beraroma apel sejak tadi," ujar Jane akhirnya menemukan apa yang berbeda dari tempat ini.
"Ini semua karena perintah dari Tuan Damien, Nyonya. Dia memberi pengumuman pada seluruh karyawannya jika ada yang tidak mengenakan parfum apel akan dipecat," ucap wanita tersebut mengemukakan pendapatnya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Cuma gara-gara parfum kalian mau dipecat?" tanya Jane melebarkan mata hingga membulat sempurna sebab terkejut dengan apa yang baru diketahuinya ini.
"Iya, Nyonya. Bukan hanya parfum, bahkan pengharum ruangan dan alat kebersihan semuanya berubah beraroma apel."
"Kenapa suamiku jadi menyukai apel. Ini aneh." Jane lantas berlalu pergi menuju ruangan suaminya. Benar saja, sepanjang perjalanan hanya ada aroma apel yang menyebar di seluruh arena. Hingga bau itu terasa menusuk indra penciuman Jane yang tampak semakin tajam dan sensitif akan suatu aroma.
Setibanya Jane di lantai tempat di mana ruangan Damien berada, Jane mengernyitkan dahi melihat Dove yang tampak lemas di mejanya. "Kau kenapa?"
"Ah, Nyonya. Maaf tidak menyambut Anda," sapa Dove ramah. Dia memang kembali bekerja setelah selesai melahirkan buah cintanya bersama sang asisten yang juga merangkak sebagai suaminya. Akan tetapi, Jane tidak keberatan dengan hal itu sebab mereka memang sudah melupakan masalah yang terjadi di masa lalu dan hidup bahagia dengan pasangan masing-masing.
Meskipun tampak mustahil untuk melupakan sebuah masalah. Akan tetapi, di saat beberapa pihak saling bekerja sama dan tidak menyimpan dendam serta memutuskan untuk berdamai dengan hati serta memaafkan kesalahan orang lain. Nyatanya mereka masih bisa hidup berdampingan kembali tanpa perlu tindakan ekstrim yang akhirnya hanya merugikan semua pihak.
"Tidak apa-apa. Nah pai apel untukmu!" Jane menyerahkan sebuah kotak berisi pai apel buatannya, tetapi Dove malah menghela napas panjang.
"Haruskah pai apel lagi hari ini, Nyonya?" tanya Dove dengan lemas membayangkan hanya pai apel yang bisa masuk ke mulutnya beberapa hari ini karena sang bos yang sepertinya tengah gila dan hanya memakan makanan tersebut.
"Lagi? Memangnya sejak kapan kamu makan pai apel?" Jane sendiri cukup heran dengan pertanyaan Dove. Dia bahkan baru memberinya pai apel hari ini, tetapi tampaknya wanita tersebut sudah sangat bosan seolah bertahun-tahun memakannya.
"Sudah lama, Nyonya. Beberapa hari ini seluruh karyawan hanya bisa makan pie apel di kantor dan jika ingin makanan lainnya harus makan di restoran itu karena di kantin Tuan Damien hanya mengizinkan chef untuk membuat pai apel selama beberapa hari ini," ujar Dove akhirnya memberitahukan keluhannya pada sang Nyonya.
"Apa? Kenapa suamiku jadi terobsesi dengan pai apel? Dan lagi apa ini? Seluruh ruangan sejak aku menginjakkan kaki di perusahaan bahkan beraroma apel. Apa benar suamiku juga yang mengaturnya?" tanya Jane penasaran, tetapi Dove hanya bisa mengangguk lemas. "Kurang ajar! Dia pasti kena pelet perempuan lain yang menjual pai apel. Akan aku beri dia pelajaran nanti! Lihat saja!" Emosi membuat Jane langsung menerobos masuk ruangan suaminya begitu saja. Padahal Dove sudah mengulurkan tangannya untuk mencegah dan hendak bertanya lebih dulu pada Jane.
Sayangnya sepertinya, Jane tengah dalam mode singa beranak saat itu. "Sudahlah. Nanti pasti mereka juga menyadarinya. Tidak mungkin perubahan di diri Nyonya Jane dia juga tidak merasakannya," ucap Dove bermonolog lalu memilih melanjutkan kembali pekerjaannya.
Lagi pula di dalam sana sudah ada suaminya yang berjaga menunggu bosnya. Meskipun harus berpenampilan aneh karena lagi-lagi permintaan Damien yang nyeleneh hari ini. Sialnya saja harus dilihat oleh Jane.
__ADS_1
To Be Continue....