
Tanpa banyak kata, Damien bergegas membawa Jane keluar dari gereja dan keduanya pun bergerak menuju sebuah hotel. Tempat yang awalnya direncanakan akan digunakan untuk lamaran kini beralih fungsi sebagai persinggahan pertama guna berkermbang biak.
Cukup lama Damien mengemudikan mobilnya, hingga tak terasa malam pun telah tiba. Meskipun belum pergi keluar negeri, tetapi pria tersebut membawa sang istri ke sebuah tempat yang tak kalah indahnya.
Sepanjang perjalanan tangan Damien selalu menggenggam Jane dan tersenyum ke arah wanita tersebut. Ketika dia merasakan hawa dingin mulai menyeruak, pria tersebut segera menyalakan pemanas suhu di dalam mobil.
Hingga tak butuh waktu lebih lama lagi, keduanya pun tiba di sebuah homestay yang terletak di daerah pegunungan. "Di mana kita?" tanya Jane ketika turun dari mobil dan mengamati sekitar.
Hanya ada kegelapan, bahkan lampu rumah kecil itu pun tak dinyalakan. "Ayo!" Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Damien segera menggenggam tangan Jane kembali dal melangkah ke dalam.
Setiap langkah mereka diiringi dengan beberapa lampu yang tampak mulai menyala. Sontak Jane terkesima akan hal itu karena dia belum pernah menerima perlakuan seromantis ini sebelumnya.
"Ini." Jane hanya bisa tersenyum manis begitu pula dengan Damien.
__ADS_1
"Ayo!" Keduanya terlebih dulu melangkah menuju sebuah taman di samping rumah itu. Hingga ketika lampu menyala menampakkan pemandangan romantis sebuah meja lengkap dengan makanan di atasnya tertata rapi, diterangi cahaya lampu kuning menampakkan kesan hangat bagi setiap orang yang melihatnya.
Damien terlebih dulu memersiapkan kursi untuk istrinya dengan senyum yang terus mengembang. "Silakan, Ratuku!"
"Terima kasih," ucap Jane sambil duduk.
Sebelum Damien beranjak ke kursinya sendiri, pria itu terlebih dulu mengecup singkat pucuk kepala istrinya dan melepaskan jasnya untuk sang istri. Karena suasana malam cukup dingin dan Jane masih mengenakan gaun pernikahan yang terlampau terbuka itu.
"Terima kasih," ujar Jane lagi setelah suaminya memainkan jas padanya.
"Aman. Mereka memang ada, tapi itu milik warga di bawah gunung bukan hewan liar," jawab Damien sambil memotong daging di piring dan menyuapkan kepada istrinya.
"Memang benar, seharusnya aku tidak mengkhawatirkan mereka ketika ada serigala yang lebih buas di depanku." Jane mengangguk kecil ketika mengatakan hal itu, tetapi kalimatnya berhasil membuat Damien seketika menjadi buas.
__ADS_1
"Sepertinya aku tidak lagi lapar sama makanan itu. Aku harus memakan yang lainnya." Tanpa membuang waktu, Damien segera menggendong tubuh istrinya yang bahkan masih memegang pisau dan garpu di tangannya. "Akan aku perlihatkan seberapa buas serigala ini."
"Damien, aku masih lapar," gerutu Jane sambil mengerucutkan bibir di gendongan suaminya.
Damien langsung mengecup bibir wanita tersebut hingga membuat Jane melepaskan alat makan di tangannya dan mengalungkan tangan di leher suaminya. Semakin dalam mereka larut dalam kelembutan sembari Damien berjalan menuju rumah sederhana tersebut.
"Kau akan mendapatkan sosis sampai kenyang nanti. Dan berapa kali aku harus bilang belajarlah memanggilku suamimu!" Tanpa membuang waktu, Damien membuka pintu dengan sebelah tangannya.
Meskipun sulit nyatanya pria itu berhasil dan keduanya pun masuk ke kamar yang tampak masih remang-remang karena hanya ada cahaya bulan yang merayap masuk menerangi ruangan. Sungguh sebuah rumah yang walaupun masih berada di dalam negeri, tetapi sangat cocok untuk membelah diri.
To be Continue.
Jeng jeng jeng.
__ADS_1
Lanjut atau skip Nih???