
Di suatu malam, seorang pria tengah berada di laboratorium miliknya, dialah Nicholas Bannerick. Pria itu melihat apa saja yang sedang dilakukan Jessi melalui data milik T dan R karena wanita tersebut lupa tak memberinya kabar sama sekali.
Nich tersenyum melihat Jessi yang baik-baik saja. Namun, banyak data pada T dan R membuat pria ini berpikir jika calon istrinya sedang menghadapi masalah yang sulit, hingga dia lupa untuk menghubunginya.
Suara seorang anak buah datang mengganggu aktifitasnya. Pria itu membungkuk sebagai tanda hormat terlebih dahulu. "Tuan."
"Ada apa?"
"Di kediaman nyonya, ada seseorang yang mengawasi untuk waktu yang cukup lama."
Nich mengangkat wajahnya mendengar hal itu, Jessi memang sudah pergi ke Negara K selama tiga hari. Namun, siapa yang berani mengintai kediaman Light?
"Siapa dia?"
"Mantan suaminya."
"Brian Dominic?" Anak buahnya mengangguk, sedangkan Nich memicingkan matanya. Rasa cemburu seakan meluap mendengar mantan suami calon istrinya mengintai kediaman Light. Mungkinkah dia ingin kembali kepada Jessi? Tidak akan ku biarkan!
Nich memang mengetahui bahwa mantan suami Jessi adalah Brian Dominic. Namun, dia belum tahu identitas aslinya karena pria itu juga pandai menyembunyikan fakta.
"X, kau awasi kediaman itu. Jangan biarkan hal buruk terjadi di sana!"
"Baik, Tuan."
Nich merogoh ponsel di sakunya. Dia menghubungi asistennya—Willy.
"Iya, Tuan Muda." Terdengar suara sayup dari seberang, mungkin pria itu masih terlelap dalam tidurnya karena waktu memang masih dini hari.
"Aku akan pergi ke Negara K. Kau urus semua masalah perusahaan. Jika terjadi sesuatu hubungi daddy! Jangan menggangguku!"
Nicholas adalah anak tunggal. Jadi, dia hanya bisa menyerahkan segala urusan kepada Willy dan daddynya dalam keadaan seperti ini. Lagi pula selama ini Michael sudah cukup bersantai sejak semua pekerjaan diwariskan kepada Nich.
"Baik, Tuan Muda." Nich langsung mematikan sambungan teleponnya, lantas memanggil salah satu anak buah yang lain. "Y!"
"Iya, Tuan." Seorang pria berwajah datar mendekat ke arah tuannya.
"Kau siapkan penerbangan! Kita berangkat ke Negara K sekarang, menyusul T dan R."
"Baik, Tuan." Pria itu pergi melaksanakan apa yang diperintahkan oleh tuannya.
Nich merogoh kotak cincin dalam sakunya. Aku akan bergerak cepat kali ini. Tidak akan ku biarkan kau berkesempatan mengambil istriku.
★★★★★
Di sisi lain, Jessi tengah sibuk menyusun rencana untuk menemukan Mario. Selama di Negara K, mereka mengawasi kediaman Kim Dae Ho sepanjang waktu, dengan bantuan R yang menyusup dan menyusuri setiap sudut rumah itu.
__ADS_1
"Nyonya," ujar R.
"Apa yang kau dapat kali ini?" Jessi tengah duduk di balkon sambil melihat kediaman Dae Ho.
"Bunga yang mereka tanam bukanlah bunga biasa."
"Maksudmu?" Kedua alis Jessi bertautan saat mendengar pernyataan R.
"Semua adalah bunga beracun."
"Bunga beracun? Kau yakin?"
"Sangat yakin, dan karena itulah para pelayan di sana dipotong lidahnya agar tidak membocorkan rahasia."
"Apa? Lidah mereka dipotong? Jadi, karena itu mereka semua bisu?" Jessi membelalakkan matanya mendengar hal itu. Bagaimana bisa ada orang sekejam ini hidup dengan begitu nyaman?
"Siapa yang memotong lidah mereka?"
"Kemungkinan Park Eun Seok. Karena pria itu bukan hanya menderita mysiphobia, tetapi juga misophonia."
"Misophonia? Oh Tuhan, apa dia sarang penyakit?"
"Tidak tahu, Nyonya."
"Jadi, lidah mereka dipotong agar tidak menimbulkan kebisingan dan juga membocorkan rahasia?" Jessi menunduk, memijat pelipisnya yang terlalu banyak memikirkan kondisi penghuni kediaman Dae Ho yang mengerikan. "Apa lagi yang kau dapat?"
Jessi yang terkejut langsung berdiri tegak. "Shitt! Jadi, benar mereka adalah pemasok untuk kelompok yang bergerak di Negara N?"
"Kemungkinan."
"Mereka sungguh gila." Jessi kembali meletakkan bokong di kursi sambil meminum kelapa mudanya dengan cepat. "Ngomong-ngomong apa efek bunga yang mereka tanam?"
"Buta, lumpuh, cacat, mati otak hingga kematian."
Wanita itu langsung menyemburkan air kelapa di mulutnya sambil berteriak menyumpah serapah. "Apa mereka itu hewan? Mengapa beracun sekali, beraninya membuat manusia yang tidak bersalah menjadi korban percobaan? Bajingan seperti mereka bahkan tak pantas untuk mengirup oksigen dari Tuhan."
Jessi mengibaskan tangan di samping kepala, wajahnya yang merah padam akibat kemarahan seakan meluap layaknya gunung yang hendak menyemburkan lava. Otot leher menegang, sedangkan satu tanganya berkacak pinggang.
"Lihat saja! Apa yang akan aku perbuat pada kalian? Aku akan menggantikan tugas malaikat pencabut nyawa untuk mengantarkan kalian ke alam baka." Sorot matanya menajam, Jessi sungguh geram dengan keluarga tiri Mario dan Maurer. Mereka harus segera mendapatkan balasan.
"Nyonya, saya harap Anda tidak berusaha memasuki kediaman itu!"
"Kenapa?" Jessi menoleh dengan cepat menatap R di sampingnya.
"Karena terlalu berbahaya mengirup udara dari bunga-bunga itu."
__ADS_1
"Bukankah itu artinya nyawa Mario juga dalam bahaya? Kau sudah temukan di mana pintu rahasia itu?"
"Sepertinya ada di kamar anaknya. Namun,dia tidak keluar kamar beberapa hari ini. Jadi, saya tidak bisa memasukinya."
Jessi kembali memikirkan bagaimana cara memancing pria itu keluar. "Ah ... kita buat pria itu keluar dari sarangnya."
"Caranya, Nyonya?"
"Kita buat kebisingan di area ini. Apa ada acara yang akan segera dilaksanakan di wilayah ini?"
R membuka ponsel pintarnya, mencari kegiatan apa yang dimaksud Jessi. "Ada satu yang akan dilaksanakan besok malam, Nyonya."
"Apa?"
"Konser boy band BTS, yang akan diselenggarakan di pusat kota."
"Pindah lokasinya agar digelar di dekat sini! Lalu, minta agar memaksimalkan kebisingan hingga mencapai kediaman Dae Ho! Kita sponsori biaya kegiatan mereka." Jessi lantas berteriak memanggil kedu anak buahnya. "Olivia! Maurer!"
"Ya, Nona." Kedua wanita itu berjalan mendekati Jessi dan R.
"Bantu R mengurus pekerjaannya!"
"Baik, Nona." Mereka berkolaborasi melaksanakan apa yang diminta Jessi, meninggalkan apartemen dan menjalankan tugas masing-masing.
Karena memindah lokasi konser hanya dalam waktu satu hari bukanlah hal yang mudah. Apa lagi dengan banyaknya penonton yang akan hadir di acara tersebut. Ditambah biaya yang dikeluarkan pastinya bukanlah jumlah yang sedikit. Akan ada banyak pihak yang akan terlibat di sini.
"T!" Jessi berteriak memanggil T yang langsung datang dalam sekejap mata. "Undang istri sah pria brengsek itu agar mau bertemu denganku."
"Baik, Nyonya."
Semua orang melaksanakan tugasnya masing. Hanya tinggal Jessi seorang diri di apartemen. Dia kembali meneropong kediaman Kim Dae Ho, dan mulai memikirkan rencana apa yang akan lakukan untuk membalas para manusia laknat itu.
Jessi fokus menatap kediaman itu. Bagaimana kira-kira kondisi Mario? Jika ayah dan pelayan di sana saja kehilangan salah satu fungsi tubuh mereka. Hingga suara seseorang berbisik di telinga membuat tubuh Jessi meremang. "Apa yang sedang kau lakukan, Sweety?"
"Nich." Wanita itu terkejut hingga melepaskan teropong di tangannya. Namun, di tangkap oleh Nicholas.
"Apa kau sudah melupakanku, Sweety?" Nich mengeluarkan raut wajah manjanya dengan mengerucutkan bibir.
Jessi yang masih belum tersadar dari rasa terkejut tetap ternganga menatap pria di belakangnya. "Apa aku berhalusinasi karena kurang tidur?"
TBC.
Hallo temen-temen, terima kasih buat kalian yang sudah bersedia meninggalkan komentar di setiap episode yang kalian baca.
Jujur terkadang author juga kehilangan semangat untuk menulis karena real life ataupun pembaca yang menurun.
__ADS_1
Namun, berkat kalian yang selalu memberikan semangat lewat komentar, membuat ide dalam otak Author mengalir kembali.
Terima kasih untuk kalian pembaca setia yang bersedia menunggu dan meninggalkan jejaknya.