
"Nona, aku mohon maafkan aku," ujar Rosa mengiba. Dia bahkan memohon dengan tubuh bergetar karena takut pada para harimau yang mengerumuninya sejak tadi.
"Berikan aku alasan! Kenapa aku harus memaafkanmu yang sudah berani membunuh salah satu kucing kesayanganku?" jawab Jessi ketus sambil terus memakan camilan di tangannya. "Jika alasan itu masuk akal, aku mungkin akan melepaskanmu. Tapi, kalau kau berani berbohong. Jangan salahkan aku jika dirimu hanya akan menjadi santapan makan malam mereka."
"A–aku." Rosa tergagap tak tahu harus memberikan alasan apa. Dia berulang kali melirik ibu dan ayahnya secara bergantian demi meminta pertolongan. Tak mungkin baginya untuk mengatakan jika semua ini karena Rosi, yang jelas notabene wanita itu adalah perebut Brian dulu. Bisa-bisa bukannya diampuni malah langsung dieksekusi.
Namun,mau bagaimana lagi, tatapan tajam Jessi serta eraman para harimau sukses membuatnya ketakutan akan semua ini. "Katakan apa adanya!" ujar Gery Selay memberikan saran.
"Ayah." Suara Rosa terdengar sangat lirih karena wanita tersebut mengeratkan gigi agar Jessi tak mengetahui apa yang dia katakan.
Hingga suara tegas Jessi membuat Rosa terkejut seketika. "Jangan coba-coba menipuku kalau kau hanya memiliki satu nyawa!"
"Cih, apa sulitnya mengakui kesalahanmu? Haruskah aku membantumu mengaku?" decih Laura dengan sebuah senyum seringai iblis di wajahnya.
Wanita tersebut lantas melirik ke arah menantunya, sejenak Jessi mengernyitkan dahi memikirkan apa yang dimaksud ibu mertua. Namun,sesaat kemudian, dia melebarkan mata dan ikut tersenyum seperti Laura. "Venus!"
Harimau itu langsung mengaum cukup keras tepat di depan wajah Rosa hingga membuat wanita tersebut pucat pasi karenanya. Dia menjerit sekuat tenaga di kala melihat taring tajam binatang pemakan daging itu. Bayangan rasa sakit jika kulitnya terkoyak gigi hewan di depannya seketika membuka mulut. "Ampuni aku! Ampuni aku! Semua ini karena Rosi," ujarnya sembari menutup mata dengan tubuh bergetar.
"Rosi?" Sejenak Jessi mengernyitkan dahi. Benar dugaannya, wanita tersebut jelas mengenal Rosi, secara wajah keduanya tampat sangat mirip meskipun tak seiras. "Jadi, kau sungguh mengenalnya?"
__ADS_1
"I–iya. Keluarga Chasney mengatakan jika Rosi mati di tanganmu dan suaminya tak memedulikannya juga karenamu!" bentak Rosa mengeluarkan segala isi hatinya atas kemarahan yang menimpa saudara kembarnya.
Bukannya takut atau pun iba, Jessi malah tergelak begitu keras hingga suaranya menggema di seluruh ruangan. Bagaimana bisa mereka mengatakan jika Jessi adalah tersangka, sedangkan perselingkuhan dimulai dari keduanya.
Dia sudah memberikan kesempatan pada mereka agar bisa memulai hidup baru, tetapi apa yang terjadi? Semua orang malah menyalahkannya atas apa yang tak Jessi lakukan. Benar apa yang dikatakan Brian sebelum kematiannya, jika pria itu telah membunuh Rosi dengan tangannya sendiri.
"Apa kau tahu jika mereka hanyalah pasangan gelap di belakangku tiga tahun yang lalu? Dan sekarang dengan mudahnya kau mengatakan jika aku membunuhnya? Padahal karena dia aku sudah kehilangan bayi dalam kandunganku karena itulah aku memilih pergi dan tak lagi mengusik mereka!" Sejenak Jessi berdiri dari posisinya dan mendongakkan kepala untuk menghirup udara dalam-dalam.
"Aku memang membiarkan Brian mati di depan mataku beberapa minggu yang lalu. Tapi, bukan berarti aku yang membunuh Rosi." Jessi menatap tajam ke arah Rosa yang juga menoleh kepadanya di saat harimau itu duduk diam dan menyaksikan obrolan. "Cih, aku bahkan tak pernah melihatnya setelah meninggalkan rumah itu."
Jessi kembali duduk di pangkuan sang suami. "Ngomong-ngomong bukankah saat itu Rosi hamil? Bagaimana dengan bayinya? Tidak mungkin 'kan Brian tega membunuh darah dagingnya sendiri?"
Namun, sayangnya Jessi seakan mengetahui kegalauan Rosa. "Jika dia bersama kalian. Sebaiknya rawatlah dengan baik! Jangan biarkan sikap jahat orang tuanya mendarah daging. Dia hanya bayi tak berdosa."
Siapa pun yang mendengar penuturan Jessi pasti hatinya langsung dingin karenanya. Bagaimana pun juga dia bukanlah manusia kejam dan bayi itu juga tak melakukan dosa apa pun selama kelahirannya. Apa yang dilakukan orang tuanya bukan salahnya selama dia berada di tangan orang yang tepat, anak itu juga berhak bahagia. Seperti Jane.
Sejenak Jessi kembali menatap keluarga Gery Selay secara bergantian. Meskipun Rosa sudah keterlaluan karena berusaha membunuhnya, tetapi Jessi juga bukanlah manusia tak berbelas kasih. Pada dasarnya wanita tersebut selalu memberikan kesempatan kedua bagi musuh-musuhnya, tak terkecuali Brian dan Jerry Morning. Namun, mereka lebih memilih kembali mengusik sehingga dia tidak memiliki pilihan selain memusnahkannya.
Akan sangat tidak adil jika Jessi membunuh Rosa saat ini juga karena kalau dilihat dari keluarganya Gery Selay dan Istrinya sangat menyanyangi wanita tersebut. Mungkin dia hanya gelap mata sejenak dan termakan provokasi orang lain.
__ADS_1
Jessi kembali menghela napas panjang. "Baiklah, aku akan memberikan kalian satu kesempatan untuk menembus dosa. Aku ini wanita baik, tentu saja harus berbelas kasih. Iya, kan, Sayang?" tanyanya pada Nicholas sambil mengalungkan tangan di leher pria tersebut.
Nich hanya mengangguk, sedangkan ibu mertuanya bergumam lirih. "Baik hati konon."
"Karena publik sudah tahu pesta pernikahanku gagal disebabkan sebuah insiden tak terduga. Aku harap kau mengakui hal itu pula ke publik. Ku beri waktu satu kali dua puluh empat jam atas ucapan maafmu itu," ucap Jessi lagi.
Rosa seketika membelalakkan mata mendengar permintaan Jessi. "Apa kau gila, hah? Bukankah itu artinya sama saja aku mengumumkan diri mengakui semua itu adalah tindakan ku?"
Jessi hanya mengangkat acuh kedua bahunya sambil tersenyum iblis. "Itu semua terserah kau saja. Mungkin, Nona Rosa akan lebih menyukai menjadi santapan makan malam Venus dan yang lainnya. Aku pastikan khusus untukmu rasanya tidak akan sakit."
"Rosa, turuti saja kemauannya! Ibu hanya memiliki seorang putri. Bagaimana bisa kami membiarkanmu mati dimakan hewan buas itu." Sang ibu berusaha membujuk anaknya. Gery Selay sudah divonis mandul jika Rosa juga harus meregang nyawa bagaimana bisa dia mendapatkan warisannya. Bisa-bisa laki-laki itu akan menikahi janda beranak yang lainnya jika hal itu sampai terjadi.
"Tapi, Bu—" Rosa masih enggan melakukan semua itu. Namun, Gery Selay segera memotong ucapan putrinya.
"Kami akan melakukan apa pun yang Anda minta, Nona." Dalam benak mungkin kemarahan publik tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan suasana hati Jessi. Gery tidak ingin terseret lebih jauh dan hanya berakibat fatal pada dirinya sendiri.
Kesempatan untuk menduduki kursi pemerintahan semakin terbuka lebar setelah musnahnya Jerry Morning dan Barron Night. Sehingga dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kalau bisa bekerja sama dengan dua keluarga paling berpengaruh saat ini.
"Aa, untukmu aku juga punya permintaan," ujar Jessi kepada Gery Selay.
__ADS_1
To Be Continue...