
Sang dokter hendak melakukan prosedur Episiotomi. Sebelum nantinya terjadi robekan yang cukup fatal. Dia menyelipkan kedua jarinya untuk melindungi kepala yang hendak keluar tersebut. Lalu menyuntikkan anestesi di bagian yang akan dia gunting. Namun, ketika wanita tersebut memegang gunting Nicholas malah berteriak padanya. "Hei! Apa kau mau membunuh istriku, hah?"
"Diamlah, Nich! Aku sudah tidak tahan lagi!" geram Jessi yang langsung mencengkeram rambut suaminya hingga berada tepat di depan perut bagian bawah Jessi.
Tanpa membuang waktu, dokter segera menggunting secara miring area perineum agar jalan keluar sang bayi lebih luas, sehingga tidak menyebabkan robekan spontan yang nantinya lebih besar dan parah.
Nicholas seketika membelalakan mata di saat istrinya menahan kepalanya, sehingga dia melihat dengan jelas bagaimana bagian inti tubuh seorang wanita digunting sedemikian rupa. Tak lama kemudian, kepala seorang bayi keluar lengkap dengan darah serta cairan pelicin di sekujur tubuhnya.
Ingin sekali Nicholas pingsan saat itu juga. Proses yang dia lihat terlalu dekat dan tak memberinya ruang untuk berpaling, bahkan hanya sekedar berkedip. Dia terus menyaksikan bagaimana sang buah hati keluar dari perut istrinya dengan begitu menyakitkan.
Dengan cepat dokter menjepit sebuah tali pusar yang menghubungkan keduanya dan memotongnya tanpa ragu. Nicholas tidak bisa membayangkan betapa sakitnya sang istri merasakan semua ini, hingga dia hanya bisa membeku dan berdenyut saat itu juga.
"Tuan, putra pertama Anda telah lahir," ucapan sang dokter seketika menyadarkan Nicholas dari keterkejutannya di saat sang bayi merah yang diusap darahnya menggunakan selimut mulai menangis.
Putra pertama tampak begitu tampan bahkan sejak dilahirkan. Sayangnya Nicholas terlalu syok akan pengalaman yang baru saja terjadi. Dia bahkan tidak mampu berkata-kata dan tampak seperti orang bodoh yang kehilangan arah.
"Tolong peluk dia di dada Anda, Nyonya." Dokter menyerahkan sang bayi kepada Jessi untuk sementara, sembari menunggu reaksi selanjutnya tiba.
"Tampannya anak, Mommy," ucap Jessi memeluk bayi mungil tersebut dengan rasa haru yang langsung menyeruak mengembangkan kebahagiaan di hatinya. "Bukankah dia mirip seperti dirimu, Sayang?"
Mendengar Jessi berbicara Nicholas masih menatap tak percaya kepada keduanya secara bergantian. Dia mengingat bagaimana bayi sebesar itu tadi keluar dari bagian inti sang istri.
__ADS_1
Tak ada kecupan romantis dari suaminya yang terlalu syok. Dia terus membeku melihat bayi yang tampak membuka mata menatap sang ibu dengan sorot suci dan wajah tak berdosa itu.
Akhirnya setelah sekian lama kebahagiaan sempurna yang Jessi nantikan telah tiba. Meskipun sakit selama proses kontraksi, tetapi melihat wajah tampan putra pertamanya semua itu seolah menjadi bayaran atas perjuangannya sejak tadi. Bahkan jika dia harus melakukannya berulang kali. Maka Jessi akan sangat bersedia berjuang demi melahirkan buah cintanya.
Tangisan bayi pertama sejenak menggema cukup lama. Dia seolah menyambut hari bahagia pertama kali datang ke dunia dengan segala permasalahannya. Beruntungnya helikopter segera mendarat dan tim medis pun sudah bersiap di sana.
"Tuan, tolong lepaskan jas Anda sementara untuk membalut putra Anda!" ujar sang dokter dengan sopan.
Nicholas pun langsung melepas kain tersebut tanpa banyak bicara. Sang bayi mungil pertama dia gendong setelah memberinya kehangatan dari jas yang dikenakan. Sejenak dia menatap bayi mungil dalam dekapannya.
'Hei! Kenapa kau baru lahir sudah menyakiti Ibumu, hah? Awas saja kalau nanti menyakitinya lagi, aku tidak mau memberimu adik' batin Nicholas pada putranya yang tidak mengerti apa-apa.
"Kondisi darurat! Bayi pertama sudah lahir," ucap dokter tersebut memberikan informasi pada tim medis di sana.
Namun, suara sang dokter kembali membawanya ke alam sadar. "Tuan, ayo cepat! Putra Anda lainnya masih harus berjuang demi melihat dunia."
Dari sana sontak Nicholas kembali tersadar jika Jessi tengah hamil tiga. Sayangnya, nasib sepertinya sedang mengujinya agar melihat bagaimana seorang wanita berjuang seorang diri demi anak-anaknya. Nyatanya para anak hadir membawa kejutan tak berkesudahan dan kembali menyadarkan Nicholas dari lamunannya.
Bayi pertama di tangannya lantas diambil alih oleh perawat, sedangkan Nicholas langsung melangkah menyusul istrinya yang mulai dibawa pergi.
"Sweety, kau harus kuat. Bertahanlah!" Dia menggenggam erat tangan Jessi dan kembali bergerak menuju ruang persalinan. Melihat bagaimana istrinya meringis kesakitan dengan buliran keringat tak berkesudahan dan wajah pucat sejak tadi membuat Nicholas merasa kasihan.
__ADS_1
Semakin erat Jessi menggenggam tangannya untuk menyalurkan rasa sakitnya. "Sayang, kalau aku mati jangan membenci anak-anak, ya! Kau harus menjaga mereka dengan baik. Awas saja kalau sampai dirimu memberinya Ibu Tiri. Walau sebaik apa pun, aku tidak akan terima dan memilih menghantuimu selamanya!" cerocos Jessi tak karuan ketika sang rasa sakit kembali datang.
"Kau ini bicara apa? Kita akan membesar anak-anak bersama. Tidak ada kata pisah meskipun hanya sekejap mata. Jika malaikat kematian mendekat, aku akan menghajarnya nanti. Biar dia mengambil dokter yang berani menggunting tubuhmu ini saja." Sepasang suami istri tersebut saling berbicara hal yang aneh-aneh.
Para tim medis yang tadinya tegang hampir saja tertawa melihat bagaimana seorang dokter malah disumpah serapan oleh pasiennya. Padahal proses gunting jalan lahir merupakan hal yang biasa dilakukan secara spontan di saat kondisi sang ibu dicurigai akan mendapatkan robekan parah.
Namun, Nicholas yang tidak tahu hal itu dan melihat semua dengan jelas di pikirannya hanya bisa mengumpat dan menyumpahi dokter. Pengalamannya saat ini terlalu ekstrim dan akan dia ingat sepanjang hidupnya agar lebih mencintai serta menghargai istrinya.
Akan tetapi, sesaat kemudian dokter mengisyaratkan untuk berhenti. "Tunggu."
Sebuah kepala kembali keluar, tampaknya bayi-bayi dalam perut Jessi memang sudah tak sabaran untuk segera melihat dunia. Tidak perlu waktu lama seorang bayi kembali lahir dalam perjalan menuju ruang persalinan. Hingga proses melahirkan ekstrim tersebut sontak menjadi pengalaman tersendiri bagi tenaga medis lainnya.
Suara tangisan bayi kembali menggema di udara. "Selamat, Tuan. Atas kelahiran putra kedua Anda," ujar dokter tersebut ketika bayi mungil laki-laki kembali hadir menyusul kakaknya melihat dunia. Tangisan bayi kedua lebih keras dari kakaknya. Dia seakan mengerti jika Ayahnya tengah kesal melihat kesakitan istrinya.
Nicholas hanya bisa diam membisu dan berulang kali menghujami kecupan di dahi sang istri. Dia tak mampu berkata-kata melihat bagaimana istrinya berjuang melahirkan buah hati mereka yang lahir lebih awal dua minggu dari hari perkiraan. "Lihat, Sweety! Putra kedua kita tampak sangat tampan. Kau harus kuat dan terus sadar bersama kami. Kita harus membesarkan mereka bersama!"
Jessi hanya bisa mengangguk kecil di tengah deru napasnya yang terengah-engah. Tanpa sadar buliran hangat mengalir di sudut matanya. Rasa haru kembali memenuhi relung hati mengingat betapa Tuhan begitu baik hati memberinya titipan yang selama ini dia nanti.
Setelah dirasa aman dan tenang, Jessi pun kembali didorong menuju ruang persalinan. Di mana hanya sang anak terakhirnya yang lahir sesuai kaidah tempat kelahiran seharusnya.
Tanpa menunggu lama, Jessi pun kembali mengejan dan mendorong bayi terakhir dari perutnya. Namun, entah mengapa rasanya berbeda dari sebelumnya. Para tim medis tampak panik dan berulang kali membalikkan layaknya ayam yang menggantung terbalik dengan dipegang kakinya di atas.
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu pada bayiku?" tanya Jessi yang langsung khawatir di saat dia tidak mendengar tangisan bayi seperti sebelumnya.
To Be Continue..