Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Pejabat Perdagangan Manusia


__ADS_3

"Kedua." Dua buah kunci di sampingnya di serahkan ke depan Jackson dan Alicia. "Itu adalah hadiah pernikahan dariku yang tertunda terlalu lama."


"Nona."


Hati siapa yang tak tersentuh memiliki atasan sebaik Jessi, tidak ada rasa iri di hati orang-orang yang menyaksikan momen itu. Perasaan kagum membuat mereka bertambah yakin untuk mengikutinya.


"Sudahlah, jangan menolak!"


Dua buah kunci untuk sebuah rumah mewah yang kini dijadikan sebagai tempat pesta dan satu lagi untuk mobil mewah yang mereka gunakan sebelumnya.


"Ketiga, Jaguar Guard 2 akan diresmikan dalam dua hari ke depan." Riuh tepuk tanganan langsung memenuhi area taman itu. Semua kembali senyap ketika Jessi mengangkat tangan.


"Selanjutnya, selamat datang untuk kelompok utama Jaguar dari tim George, dan selamat datang untuk kelompok tersembunyi Angels dari Olivia. Kalian adalah item utama Jaguar." Suara tepuk tangan kembali riuh untuk beberapa saat .


"Jackson akan menjadi CEO kalian, aku harap kalian mau bekerjasama! Sekian, silakan lanjutkan makanan kalian!" Jessi kembali duduk di bangkunya.


Ramainya acara berlangsung hingga tengah malam karena Angelina juga butuh istirahat, mereka mulai kembali ke tempat tinggal masing-masing.


************


Hari ini adalah awal langkah bagi Jackson untuk memulai pembalasannya, mereka berkumpul di pusat informasi tersimpan, yaitu Kasino Light. Semua informasi penting dunia atas maupun bawah tersedia di sana, hasil dari pegawai sekaligus mata-mata.


"Apa yang kalian dapatkan?" Maurer mengarahkan laptopnya, sementara yang lain masih mencari-cari dalam dokumen.


"Dia bermain sangat cantik. Mertuamu berbakat memanipulasi, Jack!"


Jackson mengangguk karena kenyataannya memang begitu.


"Semua kejahatannya tertutup rapat, publik hanya tau dia berhati mulia. Berarti dia bekerja untuk seseorang." Jessi mengetuk-ketuk jemarinya di meja. "Maurer, cek seluruh CCTV sekitar pelabuhan di hari Angelina hilang!"


Maurer meraih kembali laptopnya, jemari yang indah menari-nari dengan cepat di atas keyboard laptopnya. Manik amber itu fokus menatap rangkaian huruf dan angka di depannya.


Hasilnya terlihat beberapa vidio kegiatan sore hari di pelabuhan. Setelah cukup lama mengamati, telunjuknya menekan lagi beberapa tombol.


"Nona."


Jessi menatap sebuah vidio yang ditemukan oleh Maurer, sebuah senyuman tersungging di wajah cantiknya. "Jika tidak menemukan bukti pasti, maka kita pancing mereka!"

__ADS_1


"Maurer, unggah vidio ini di media massa! Retas semua penyiaran di negara ini, buat agar beritanya menyebar hingga ke kolong tikus sekalipun!"


"Baik, Nona."


Tak perlu waktu lama, sebuah vidio berjudul 'Pejabat Perdagangan Manusia' mulai menjadi tranding topic di berbagai kalangan. Hal ini menyebabkan kehebohan di kalangan masyarakat, mereka menghardik sang pejabat dalam tayangan singkat tersebut.


Banyak orang berspekulasi tentang siapa pelaku dalam tayangan tersebut. Berita terus menerus naik membuat geram siapa pun yang melihatnya.


Di sebuah ruangan yang luas seorang pria paruh baya geram melihat berita itu, tangan mengepal menggebrak meja di depannya. Wajah merah padam dengan bola mata yang sudah hampir keluar dari tempatnya. Amarah meluap layaknya gunung yang siap untuk erupsi, dialah Barron Night.


"Siapa yang berani bermain-main denganku?"


Dia mengambil ponsel, lalu menghubungi orang kepercayaan yang selalu membantunya menutupi setiap kejahatan.


"Hapus berita itu, sekarang!" Napasnya memburu naik turun dengan gigi yang mengerat karena amarah.


"Baik, Tuan," jawab suara di seberang panggilan.


Selang beberapa waktu ponselnya berdering, anak buah tadi kembali menghubunginya.


"Temukan orang itu secepatnya! Atau aku akan membunuhmu!" Dia langsung melemparkan ponselnya ke sembarang arah, hingga hancur berkeping-keping.


"Aku tidak akan membiarkan kalian lolos!" Barang di meja mulai berhamburan, kemarahan membuatnya kalap. Sudah cukup lama tidak ada orang yang berani menentang dirinya.


Sementara di lain tempat Johny yang melihat berita itu mulai berdiskusi dengan kakaknya.


"Sepertinya ada yang mulai mengusik bisnis kita," ujar Johny.


"Belum tentu. Bisa jadi dia hanya mengincar Barron, tetapi tidak menutup kemungkinan mereka akan mengacaukan kita juga."


Mereka bermain billiard bersama dengan beberapa orang yang hanya melihat saja di ruangan itu.


"Dia cukup cerdik, meskipun ayah sudah menutup rapat kejahatannya, orang itu masih mampu menemukan satu titik kesalahan." Pria itu mulai membungkukkan tubuhnya, direntangkan tangan kiri di atas meja billiard dengan stik yang sudah terselip antara jari telunjuk dan jempolnya. Dia menyodok cue ball hingga bola itu menggelinding mengenai bola lainnya dan masuk ke dalam lubang salah satu sisi meja.


"Iya, anak buahku bahkan belum menemukan identitasnya." Johny memahami bahwa lawan mereka tidak dapat dianggap remeh.


"Jika Barron cukup bodoh, dia pasti tidak akan tinggal diam dan itulah yang mereka inginkan."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan kita?"


"Apa yang perlu kau khawatirkan? Orang yang mereka tangkap mungkin hanya tinggal tubuh yang membusuk sekarang."


Johny berdiri menyangga kepalanya dengan stik billiard menatap kakaknya dengan rasa kagum, kecerdasannya memang patut untuk diapresiasi. "Kau meracuni mereka?"


Suara tepuk tangan dan tawa dari Johny menggema di seluruh ruangan. Dia memang sangat mengagumi cara kerja kakaknya, meskipun mereka berasal dari rahim yang berbeda. Namun, darah iblis Marcopolo tetaplah mengalir dalam diri dua bersaudara itu.


Ditambah kakaknya yang tidak menginginkan tahta Virgoun membuatnya tak perlu khawatir dengan perebutan kekuasaan. Karena jika sampai dia menginginkan itu, maka Johny tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Pria itu lebih berbahaya dari pada Marcopolo dan lebih licik dari ayah angkat mereka.


"Bagaimana dengan pengiriman barang dari Negara K?" tanya sang kakak.


"Mungkin dalam tiga hari sudah akan sampai, mereka mengirimkan banyak barang kali ini. Cukup lumayan untuk menutupi kerugian kemarin."


"Berhati-hatilah saat menerima barang! Aku menang." Pria itu berdiri menghampiri adiknya menepuk bahunya dengan pelan. "Aku pergi dulu, berusahalah lagi sebelum menantangku bermain."


Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu melangkah pergi.


"Yak?! Apa kau ingin membantai orang lagi?" Teriakan Johny begitu keras, tetapi hanya lambaian tangan yang dia dapat.


Kakaknya memang memiliki kelainan pada dirinya, jiwanya gelap dan suka dengan aroma darah. Bahkan tak jarang dia meminum darah korban yang dibunuh. Teriakan dari orang yang kesakitan bagaikan alunan lagu yang indah di telinganya. Membuatnya menyiksa mereka lebih parah lagi.


Tak cukup satu orang yang dia ambil nyawanya. Terkadang dia mengambil nyawa orang yang sedang dimadu asmara. Baginya tidak boleh ada yang berbahagia di atas penderitaannya.


Kegilaan dalam dirinya tidak ada yang mampu menandingi di klan Virgoun, dia bahkan tega mengambil dengan tangannya sendiri organ-organ tubuh manusia yang masih hidup untuk diperjual belikan. Baginya nyawa manusia tidaklah berarti.


TBC.


Hallo temen-temen pembaca setia Jesslyn.


Aku mau sedikit cerita nih dari komentar sebagian pembaca.


Cerita ini memang halu karena pada dasarnya sebuah novel adalah isi dari kehaluan para Author yang dituangkan dalam bentuk tulisan.


Genre dari cerita ini adalah Action dan Misteri. Jadi, bukan misteri lagi dong. Kalau dalam sekali baca kalian bisa menebak alur ceritanya. Tenang saja setelah ini author akan membuat part surpise sebagai jawaban untuk kalian yang menanyakan kondisi Brian dan Rossi.


Sekian curahan hati Author, selamat membaca, dan jangan lupa untuk selalu mendukung karya author. Salam sayang dari Rissa Audy.

__ADS_1


__ADS_2