
Jessi dan anak buahnya mengumpulkan para korban yang sudah sadar dan juga terluka di tempat yang luas. Mario yang mendengar kabar dari nonanya langsung menyusul ke mansion. "Mario, panggil Dokter Hendrik beserta beberapa rekannya kemari!"
"Baik, Nona."
Jessi melihat ketakutan di wajah para korban, yang semua adalah wanita. Dia mendekati seorang wanita yang duduk dengan badan bergetar hebat. Dia mencoba menenangkan wanita tersebut. "Tenanglah! Kalian sudah aman di sini!"
Wanita itu menatap lekat ke arah Jessi. Dia memberanikan diri untuk berbicara. "A-apakah kamu bu-bukan salah satu dari me-mereka?"
Jessi menggelengkan kepalanya. "Sepupuku juga menjadi korban mereka. Aku sudah membawa kalian keluar dari para penjahat itu!"
Perempuan itu lantas memindai keseluruhan ruangan tempat mereka berada. Rasa trauma saat melihat Mario datang terlihat jelas di mata mereka. Badannya bergetar hebat saat melihat lelaki.
"Pergi ... pergi ... aku mohon lepaskan kami!" Wanita itu mengibaskan tangannya melihat lelaki yang datang.
Jessi memahami hal ini. Dia lantas meminta Mario dan anak buahnya untuk meninggalkan ruangan terlebih dahulu. "Keluarlah!"
Setelah Mario dan lainnya keluar Jessi memeluk wanita yang bergetar itu. Tak peduli dengan tubuhnya yang kotor. Rasa iba sebagi sesama wanita membuatnya ingin menguatkan perempuan di depannya.
"Tenanglah! Hanya ada aku di sini." Jessi mengelus punggung wanita itu dengan lembut.
Hingga suara Mario di earpiece terdengar di telinga Jessi. "Nona, dokter sudah datang."
"Apa ada dokter wanita di sana?"
"Ada."
"Biarkan dokter wanita saja yang masuk!"
Seorang dokter wanita lantas memasuki ruangan, dia terkejut pertama kali melihat para korban wanita yang penuh dengan luka. Hingga suara Jessi membuyarkan lamunannya. "Periksalah mereka!"
__ADS_1
Dia memeriksa dengan sedikit gugup. Apa Dokter Hendrick ingin mengantarkannya ke ambang kematian?
Jessi yang melihat dokter wanita itu juga gemetar, dia menghela nafas panjang. "Kau juga tenanglah! Mereka adalah korban yang aku selamatkan, bukan korbanku! Jadi, kau tak perlu segugup itu!"
Dokter itu mengangguk. Dia mulai melakukan tugasnya, memeriksa satu per satu wanita yang pingsan dan terluka.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Jessi.
"Nona, banyak dari mereka yang mengalami traumatic. Bahkan ada yang sudah di tahap PTSD ( Post Traumatic Stress Disorder ). Kondisi kejiwaan mereka sangat tidak baik saat ini. Mungkin mereka akan banyak berhalusinasi dengan apa yang mereka alami sebelumnya," jelas dokter.
Jessi mengangguk paham, dilihat dari respon mereka melihat lelaki, sangat jelas mereka mengalami trauma yang tinggi.
"Apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kondisi mereka?"
"Untuk pemulihan sebaiknya dilakukan dengan memberikan motivasi untuk mengatasi ketakutan mereka. Saya sudah menyuntikkan vitamin dan juga merawat luka-luka mereka. Sementara ini, biarkan mereka beristirahat lebih dulu, Nona."
"Kau! Tinggallah di sini untuk merawat mereka. Aku akan menyewamu dengan bayaran tiga kali lipat dari gajimu sampai mereka membaik!" Dokter itu melebarkan matanya mendengar bayaran tiga kali lipat.
"Mario, siapkan kamar untuk Dokter ... ?" Jessi menunjukkan tangannya ke arah dokter itu.
"Devi, Nona."
"... Dokter Devi, di sekitar sini!" Jessi memerintahkan Mario melalui earpiece di telinganya.
"Baik, Nona," jawab Mario dari seberang.
"Keluarlah! Cari Mario untuk meletakkan barang-barangmu nantinya." Jessi lantas mendekati lagi wanita yang kondisi mentalnya paling terguncang. Dia merasa iba melihat kondisi wanita itu.
Jessi mengelus pucuk kepala wanita itu, merapikan anak rambutnya ke belakang telinga. "Aku akan membantumu melakukan apa yang kau inginkan! Jadi, lekaslah sembuh agar kau bisa mewujudkan cita-citamu!"
__ADS_1
Setelah melihat semua wanita dan anak-anak sudah terlelap. Jessi meninggalkan ruangan itu, membiarkan mereka beristirahat.
****
Di sisi lain Jackson dan Maurer membawa Angelina ke Bannerick Hospital. Di sana Angelina langsung di bawa masuk ke ruang operasi karena kondisinya yang terluka parah.
Alice yang mendapat kabar dari Jessi langsung menyusulnya ke rumah sakit. Alice berlari mencari Jackson dengan berurai air mata. Dia merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi dengan putrinya.
"Sayang!" Alice berlari memeluk Jackson yang sedang menunggy di depan ruang operasi putrinya.
"Maafkan aku! Maafkan aku! Ini semua salahku yang tidak bisa menjaga putri kita!" Alice menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya.
"Ini semua juga salahku yang tidak mampu menjaga kalian, Sayang." Jackson mengelus pucuk kepala istrinya, buliran hangat di matanya pun ikut luruh dengan penyesalannya. "Seandainya saja, aku segera membawa kalian bersamaku. Mungkin kalian tak perlu mengalami hal buruk ini."
Alice dan Jackson saling menyesali atas apa yang terjadi dengan putri mereka. Sebagai orang tua, dia merasa gagal. Melihat kondisi putrinya yang menjadi korban atas kejahatan keluarga Night.
"Aku akan membuat mereka membayar atas apa yang mereka perbuat!" Sorot mata Jackson menajam, dia tidak lagi peduli kalau mereka adalah keluarga dari istrinya. Lagi pula selama ini mereka juga tidak pernah menganggap istrinya sebagai keluarga. Mereka hanya menganggap istri dan anaknya sebagai barang negosiasi untuk keuntungan mereka sendiri.
Alice menganggukkan kepalanya. Dia tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi dengan keluarga Night. Baginya mereka sudah sangat keterlaluan memanfaatkannya. Jackson sudah terlalu banyak berkorban untuk keluarga kecil ini. Dia hanya akan mengikuti apa yang diinginkan suaminya.
Dokter keluar dari ruang operasi. Jackson dan Alice langsung mendekati dokter itu. "Bagaimana kondisi putri kami, Dok?"
Dokter membuka masker di wajahnya. "Syukurlah pasien lekas dibawa kemari jadi kami masih dapat menyelamatkan nyawanya. Tulang rusuk kiri pasien patah menyebabkan robekan pada limpanya. Robekan telah mengoyak pembuluh darah segmental sehingga mengakibatkan hilangnya suplai darah organ hingga 25 persen."
Dokter menghela nafasnya sejenak lantas kembali menjelaskan. "Kami terpaksa mengangkat sebagian limpa yang rusak, dan menghentikan pendarahan di dalam perut. Pasien mungkin tidak bisa hidup normal seperti sebelumnya karena akan lebih rentan terhadap infeksi."
Mendengar penjelasan dokter, tubuh Alice langsung lunglai. Dia terduduk di lantai dengan masih dipeluk suaminya. Isakan tangisnya tak kunjung berhenti, matanya sembab karena uraian air mata yang mengalir deras di pipinya. Dia sungguh merasa bersalah kepada putrinya. Seandainya saja bisa ditukar, dia ikhlas jika harus menggantikan posisi putrinya.
Jackson dan Alice sama-sama terpukul mendengar pernyataan dokter. Mereka sungguh tidak menyangka jika anak yang bahkan tidak berdosa harus menanggung semuanya. Dia dengan teganya dijadikan tumbal demi keuntungan keluarga Night. Sementara Maurer hanya bisa melaporkan kondisinya pada Jessi.
__ADS_1
Dokter dan perawat mulai memindahkan Angelina ke ruang ICU. Kondisinya kini secara medis belum stabil. Pasien masih memerlukan pemantauan ketat hingga kondisinya memungkinkan. Dia belum bisa bernapas sendiri dan memerlukan bantuan pernapasan melalui mesin ventilator, untuk melanjutkan pernapasan. Dia membutuhkan perawatan yang cermat untuk mengoptimalkan peluang pemulihan dari kondisi krisisnya. Sementara Maurer, dia hanya bisa melaporkan hal ini kepada Jessi.
TBC.