
Jessi tersadar ketika tubuhnya tiba-tiba di angkat oleh seseorang, tetapi suara seorang wanita membuatnya untuk memilih tetap menutup matanya.
"Jangan menambah beban pikirannya dengan memaksakan kehendakmu, Son!"
Dalam hati Jessi terasa hangat, inikah yang namanya nasehat seorang ibu kepada anaknya?
Dia merasa tubuhnya dibopong hingga menuju sebuah kamar. Pria itu merebahkan tubuhnya dengan perlahan, lalu menutup selimut hingga ke atas dadanya.
"Maaf jika aku membebanimu, Sweety! Aku hanya terlalu khawatir." Nich menyibakkan anak rambut yang menutupi kelopak mata Jessi, dia lantas mengecup cukup lama dahi wanita itu. "Aku mencintaimu."
Jessi merasa tersentuh di hati, keluarga ini sungguh begitu tulus menyayanginya seperti Nenek Amber dan Jane. Dia bergumam lirih setelah Nich keluar dari kamar. "Aku juga mencintaimu."
Andaikan, kedua orang tuanya masih hidup. Mungkin dia juga akan merasakan bahagianya memiliki keluarga yang utuh. Jessi kembali memejamkan mata, mencoba untuk merajut mimpinya.
Sementara Nich pergi ke dapur setelah keluar dari kamar itu. Seorang pelayan mendekat apabila tuan mudanya memerlukan sesuatu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Di mana koki?"
"Ada di belakang, Tuan. Haruskah, saya panggilkan?"
Pria itu mengangguk, pelayan bergegas mencari koki untuk melayani sang tuan muda.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya koki.
"Kau, bantu aku memasak kaki ayam pedas!" Nich memasang sebuah apron di tubuhnya.
Permintaan Nich membuat para pelayan dan koki ternganga. Apakah tuan mudanya sedang mencoba memasak untuk nyonya muda?
"Apa yang kalian lihat? Cepat siapkan bahan-bahannya!" Nich menggelengkan kepala, dia merasa heran melihat tingkah para pelayan di rumahnya.
Mereka lantas bergegas menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kaki ayam pedas di atas meja.
"Apa pertama harus aku lakukan?" tanya Nich.
"Tuan Muda, bagaimana kalau kami saja yang memasak?" Koki merasa sungkan melihat sang tuan muda berkutat di dapur.
"Aku ingin menjadi suami yang sempurna. Apa kau ingin menghalangiku?" Tatapan tajam Nich membuat mereka pasrah dengan keadaan.
"Ti—tidak, Tuan. Kalau begitu silakan kupas bawangnya terlebih dahulu! Biarkan saya yang membersihkan kaki ayamnya!" Koki berjalan ke wastafel untuk memulai pekerjaannya.
__ADS_1
"Mana yang namanya bawang?" Nich bingung dengan bahan-bahan di depannya.
"Ini, Tuan. Bawang merah dan bawang putih." Koki menunjukkan kedua bahan.
"Oh, dikupas kan?" Nich mengambil bawang putih terlebih dahulu, sedangkan koki kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan kaki ayam.
Para pelayan berjajar mengintip tuan muda yang terjun langsung ke dapur, hanya karena ingin menjadi suami yang sempurna. Awalnya, mereka kagum dengan keahlian Nich. Namun, sesaat kemudian, pria itu menunjukkan kelemahannya.
Dia terus-menurus mengusap hidung, matanya terasa pedih ketika mengupas bawang merah yang seukuran bawang bombay itu. Mendengar suara tuan muda yang seperti menangis membuat sang koki menoleh ke arahnya.
"Tuan, apa yang .... ?" Dia menganga seketika, sedangkan para pelayan yang mengintip di belakang hanya bisa menahan tawa.
"Mengupas bawang. Apa kau tidak bisa melihatnya?" Nich menjawab sambil terus menyedot ingus di hidungnya.
"Tapi, Anda mengupas semua bagian bawang merah itu." Koki merasa sedih melihat bagian-bagian bawang merah yang berserakan dan hanya menyisakan inti bagaian dalam saja.
"Kulitnya terlalu banyak."
"Itu bukan kulit, Tuan. Itu adalah bawang merahnya." Koki memasang wajah memelas mendengar penjelasan Nich.
"Kau mengatakan untuk mengupas bawang. Jadi, aku kupaslah. Sekarang apa masalahnya di sini?" Nich heran melihat tingkah koki yang terlihat begitu menyedihkan.
Mereka memasak bersama dengan lebih banyak koki yang bekerja. Nich kesulitan ketika minyak meletup-letup ke arahnya membuat pria itu lebih memilih untuk menyerah. Membiarkan koki dan pelayan untuk menyelesaikan masakan.
Laura yang baru turun dari kamarnya melihat putra tercinta berkutat di dapur. Dia mendekat ke arah para pelayan yang mengintip.
"Apa yang terjadi?"
"Nyonya." Para pelayan membungkuk melihat kehadiran Laura. Mereka layaknya ibu-ibu rumpi yang tengah asyik mengintai tetangganya.
"Tuan muda sedang mencoba menjadi suami yang sempurna," bisik pelayan.
"Dia ... memasak? Untuk istrinya?" Jari Laura menunjuk ke arah Nich.
Para pelayan serentak mengangguk. Laura melebarkan mata melihat Nich yang rela melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Pria itu bahkan belum pernah sekalipun mengambil air minum untuk dirinya sendiri.
Terlihat buliran keringat membasahi wajah Nich karena rasa tegang ketika berada di dapur. Berulang kali dia mengusap dahi dengan punggung tangannya. Hingga sebuah hidangan berhasil disajikan di piring.
Nich melepaskan apron di tubuh, lalu meletakkan hasil karyanya di meja makan.
"Apa yang kau buat, Son?" Laura berjalan mendekat hendak mengambil sebuah kaki ayam dengan tangan, tetapi anaknya dengan segera menampiknya.
__ADS_1
"Jangan makan yang ini, Mom! Mintalah pada koki! Ini khusus untuk istriku."
Laura mencebikkan bibir dengan raut wajah kesal. "Dasar, bucin."
"Apa itu, Mom?" Nich heran dengan ibunya yang sering menggunakan bahasa tidak dia mengerti.
"Bukan apa-apa!"
Laura mendengus kesal, hingga kedatangan Michael kembali mencerahkan suasana hatinya.
"Sayang, kau sudah pulang! Kenapa larut sekali?" Laura mengambil jas yang dilepaskan oleh suaminya.
"Maaf, aku membantu Willy bertemu klien tadi karena bosnya melarikan diri." Michael melirik putranya yang masih asyik menatap ceker pedas dan tidak mempedulikan keromantisan mommy dan daddynya.
"Ya sudah, mari makan malam!" Laura menggiring suaminya untuk duduk di kursi. "Nich, panggil Jessi turun! Cacing di perutnya pasti sudah berpesta sejak tadi."
Pria itu melangkah ke kamar untuk membangunkan Jessi. Setelah beberapa saat, terlihat mereka menuruni tangga.
Michael yang melihat luka di pipi Jessi secara spontan bertanya. "Ada apa dengan wajahmu, Nak?"
"Ah, ini hanya luka ringan, Dad." Jessi meletakkan bokongnya di kursi makan sebelah Nich.
Melihat satu piring penuh kaki ayam pedas di hadapannya membuat Jessi menelan salivanya sendiri. Makanan di depannya sangat menggoda.
"Makanlah!" ucap Michael.
Jessi merasa sedikit canggung, akhirnya dia memilih makan menggunakan sendok dan garpu. Namun, hal itu terlihat jelas di mata Nich. Dia menggunakan tangannya sendiri secara langsung untuk menyuapi kaki ayam kepada Jessi.
"Aaaa," ujar Nich.
Jessi menerima suapan itu, memakan kaki ayam menggunakan sendok memang cukup menyulitkan.
"Cih ... kau menebar keromantisanmu di depan kami. Daddy, jangan mau kalah! Aaaa." Laura membuka mulut agar Michael menyuapinya.
Pria itu menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang sama saja dengan Nich. Dia lantas menyuapkan sepotong daging agar Laura merasa puas.
Laura yang menerima suapan lantas melirik Nich. "Lihat, daddymu tetap romantis meski termakan usia!"
Jessi hanya tersenyum melihat tingkah lucu Laura yang selalu bisa menghidupkan suasana. Dia sungguh beruntung bisa berada di antara keluarga ini.
TBC.
__ADS_1