
Siang hari telah berganti. Kini, malam mulai bertugas untuk menerangi bumi bersama kilau bintang di langit. Sesuai dengan apa yang diinginkan Emily, mereka mulai bergerak menuju hotel tempat drama akan dimulai.
Jessi bergerak bersama George, anak buah, serta suaminya. Nich tidak akan mungkin mengizinkan istrinya beraksi tanpa pengawasan langsung darinya.
Kali ini Nich berperan sebagai pembunuh bayaran yang mereka sewa, dengan menggunakan topi juga masker pria tersebut memulai penyamaran. Dia menggendong Jessi, menuju lantai atas. Wanita tersebut berpura-pura pingsan dan lemah untuk mengelabuhi Emily.
Sementara di lantai tertinggi sebuah gedung perhotelan seorang pria, wanita, sutradara, dan tiga aktor lainnya sudah menanti kedatangan mereka dengan hati berbunga. Dengan santainya Emily meminum wine di ruangan tersebut tanpa curiga. Dia sudah merasa bahwa kemenangan telah berada di depan mata, ketika mendengar saingannya sudah berhasil mereka bawa.
"Ternyata mereka cukup kompeten juga. Tak sia-sia aku mengeluarkan banyak uang." Emily memutar wine di dalam gelas, menghirup aroma harum yang keluar dari minuman mahal tersebut. Tanpa dia sadari, salah satu gigolo yang disewa adalah anak buah dari musuhnya dan sudah mencampurkan sesuatu ke dalam anggur itu.
Tak lama kemudian, suara pintu diketuk dari luar mulai terdengar.
"Buka pintunya!" ujar Emily.
Teman Emily lantas membukakan pintu. Terlihat George masuk diikuti oleh Nich di belakangnya.
"Nona," ucap George.
Emily berdiri dari posisi duduknya, memastikan wanita yang mereka bawa adalah Jessi. Sebuah seringai licik terukir jelas di wajahnya, seakan mengejek wanita yang kini berada di tangan pembunuh bayaran itu.
"Letakkan dia di ranjang!"
Nich melangkah perlahan, meletakkan tubuh Jessi dengan hati-hati di atas ranjang. Tangan dan kaki dan istrinya tengah diikat guna menyakinkan akting mereka. Jika bukan karena permintaan Jessi, sudah pasti dia tidak akan menyetujui hal ini.
Pria tersebut lantas berdiri di samping ranjang tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Terlihat semua orang yang ada di kamar tersebut hanyalah lelaki yang sudah mereka sewa sebelumnya, termasuk sang sutradara dan para gigolo di samping Emily.
Dengan angkuhnya Emily mendekat ke arah Jessi. Membuka selotip yang menutup mulut saingannya itu.
"Bangunlah!" Dia menepuk pipi Jessi dengan begitu keras untuk menyadarkannya.
Hal tersebut sontak membuat Nich mengeratkan gigi, dan mengepalkan tangan dengan kuat, sorot matanya tajam, serta wajah merah padam yang tertutup masker menimbulkan aura mengerikan. Wanita ini sungguh menguji kesabarannya. Seandainya, istrinya mengizinkan sudah pasti dia memilih untuk membunuh Emily sejak dulu.
Sialan.
Beberapa saat kemudian, Jessi mulai mengerjapkan matanya. Dia berakting terkejut dengan apa yang terjadi, dan berperan sebagai wanita yang lemah kali ini.
"Kau!" Jessi melebarkan mata mengeluarkan ekspresi takut ketika melihat Emily di depannya, dia meronta-ronta demi meyakinkan aktingnya di depan wanita tersebut. "Apa yang kau lakukan, hah?!"
Suara tawa menggelegar dari seorang wanita di depannya terdengar begitu keras memenuhi ruangan tersebut. Emily begitu bahagia melihat Jessi dalam posisi meronta-ronta tak berdaya di atas ranjang.
"Lihatlah di sekelilingmu! Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu." Emily menatap tajam ke arah Jessi sambil menyunggingkan senyum kemenangan. "Nich pasti akan membencimu setelah melihat semua ini. Jangan salahkan jika aku mencelakaimu! Salahkan dirimu sendiri yang berani merebut pria idamanku!"
__ADS_1
Emily kembali tertawa dengan begitu lantang, dia tidak curiga sama sekali dengan akting Jessi yang meyakinkan. Hingga tak lama kemudian, suara wanita di depannya juga ikut tertawa, membuat Emily heran lantas menghentikan aksinya.
"Kau tak takut?"
Jessi menyeringai, mendengar pertanyaan Emily. Membuat wanita itu semakin murka melihat keberanian saingannya.
"Kau sedang mengejekku!" Emily cukup heran dengan wanita di depannya. Jessi bukannya ketakutan seperti yang dia bayangkan dan malah mengejek seakan ini bukanlah hal buruk. Dia melangkah ke depan mencengkeram dagu Jessi dengan kuat. "Kenapa kau ikut tertawa? Apa kau sedang mengejekku? Dengan situasimu sekarang mustahil bagimu untuk lepas dari genggamanku!" Emily menghempaskan wajah dagu Jessi dari cengkeramannya.
"Bukankah kau menertawakan sesuatu yang lucu? Aku hanya melakukan hal yang sama. Apa salahnya dengan itu?" Sorot mata Jessi menajam seakan bersiap menusuk wanita di depannya.
Emily tertawa heran, dari mana datangnya keberanian Jessi dalam kondisi seperti ini?Tidakkah dia takut sesuatu akan terjadi padanya?
"Kau benar-benar j*lang!" Emily bergerak dengan cepat hendak menampar pipi Jessi. Namun, pria di samping ranjang malah menahan gerakan tangannya. "Apa yang kau lakukan, hah?!"
Tanpa menjawab pertanyaan wanita di depannya, Nich menghempaskan tangan Emily dengan begitu kuat. Hal tersebut sontak membuatnya murka. "Aku membayarmu mahal untuk menghabisinya! Bukan malah membantunya dan menghalangiku memberi pelajaran pada wanita sundal ini!"
Pria tersebut masih tidak menjawab dan hanya diam saja. Sontak Emily menatapnya dengan tajam. Melihat pemandangan di depannya tentu saja membuat Jessi kembali tertawa, mengeluarkan hawa layaknya seorang iblis yang berhasil menjerat musuhnya.
Emily merasa heran dengan sikap Jessi yang begitu merendahkannya. Namun, sedetik kemudian, dengan mudahnya Jessi melepaskan ikatan di tangan dan juga kakinya, karena memang tali tersebut sebelumnya sudah direncanakan agar mudah untuk dilepas.
"Kau!" Emily memucat memundurkan langkahnya. Dia baru sadar jika sudah salah perhitungan, bukan Jessi yang masuk ke dalam jebakannya, tetapi wanita tersebut sudah berhasil untuk menjeratnya.
"Apa?"
Emily menelan salivanya sendiri dengan susah payah menatap raut wajah mengerikan Jessi dari dekat membuatnya tergagap. "A–apa yang kau lakukan?"
Dia mulai bergetar, wajahnya memucat, rasa bangga yang tadi diperlihatkan menghilang entah ke mana. Sementara temannya diam-diam mencoba untuk keluar dari situasi yang berbalik ini.
Secepat kilat Jessi melemparkan belati kecil ke arah pria tersebut tanpa melihatnya. Laki-laki itu langsung berdiri mematung dengan George menahan tangannya ketika hendak membuka pintu. Dia memucat melihat benda tajam yang menancap di pintu hanya berjarak sehelai benang dari wajahnya. Sepertinya kali ini nasibnya sudah berada di ujung tanduk.
"Jangan biarkan satu tikus pun berhasil kabur dari sini!" Semakin tajam Jessi menatap Emily, membuat wanita itu memundurkan langkah hingga menempel di dinding kamar. "Kau sendiri yang cari masalah denganku!"
Emily mulai menggeliatkan tubuh, hawa panas menyeruak dalam dirinya. Darah seakan berdesir menyebabkan hasrat yang menggelora tak tertahankan. "Apa yang kau lakukan padaku?"
"Hal sama seperti yang ingin kau lakukan padaku." Jessi berbisik di telinga Emily. Wanita itu semakin bergerak tak karuan, menandakan bahwa obat miliknya yang dicampurkan wine sudah mulai bereaksi.
"Jalankan rencana selanjutnya!" Jessi dan Nich melangkah pergi hendak meninggalkan kamar tersebut.
"Bagaimana dengan pria ini, Nona?" tanya George.
"Bawa dia ke markas!" Jessi melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Sementara di dalam ruangan sudah ada dua pria gigolo suruhan George dan juga seorang sutradara dengan kondisi kesehatan yang sama.
Emily semakin merah padam, dan bergerak tak karuan ketika di kunci dengan tiga pria tersebut. Amarahnya memuncak di kala hasratnya meningkat. "Wanita sialan! Kenapa semua menjadi berbalik kepadaku!"
Wanita tersebut semakin mengumpat kesal dan berteriak keras tidak karuan. Sementara ketiga pria hanya menatapnya dari kursi sesuai dengan perintah Jessi sebelumnya. Membiarkan kamera menyala sambil menunggu Emily tak lagi mampu bertahan dengan reaksi obat tersebut.
"Sial! Sial! Sial!" Emily mulai membuka satu persatu pakaian yang dia kenakan, lalu bergerak mendekati ketika pria tersebut. "Kalian bantulah aku!"
Namun, ketiganya malah menolak. Sesuai dengan perintah Jessi, mereka boleh beraksi di saat Emily sudah mengeluarkan sisi sebenarnya dalam dirinya. "Tidak, Nona. Kami tidak berani."
"Bukankah Anda menyewa kami untuk wanita tadi?" ujar pria yang lainnya.
"Sekarang tugas kalian memuaskan aku! Wanita sialan itu! Berani-beraninya dia mencampurkan obat ke dalam minumanku!" Emily semakin gusar. Dia tidak sadar jika kamera dalam kondisi menyala, wanita itu terus bergerak memancing ketiga pria di depannya agar membantu memuaskan hasrat yang kini telah terlanjur membara.
Obsesi membawanya ke dalam lubang kehancuran. Hal ini hanyalah awal dari akhir baginya karena Jessi sudah menyiapkan hukuman yang tepat bagi Emily.
Dia bukanlah seorang pemaaf. Tinggal menunggu waktu untuk Emily menemui Raja Yama di Neraka.
________________
Sementara sepasang suami istri setelah keluar dari kamar tersebut mereka bergerak menuju lantai tertinggi hotel.
"Kau ingin membawaku ke mana, Nich?" Jessi mengernyitkan dahi melihat suaminya menekan tombol lift yang mengarah ke lantai tertinggi gedung ini.
"Menghabiskan malam bersama, Sweety. Apa lagi yang bisa dilakukan sepasang suami istri di hotel?"
Mereka keluar dari lift, Jessi mengedarkan pandangan, terlihat hanya ada satu pintu di sana. Hal tersebut sontak membuat Jessi menatap tajam suaminya. "Jangan bilang satu lantai ini adalah milikmu!"
"Hanya salah satu investasi." Nich dengan santai menggunakan sidik jarinya untuk membuka kamar tersebut. Lalu, membawa sang istri masuk ke dalam kamar.
Bukan hanya kamar, ini adalah ruang suite room dengan fasilitas terbaik, terluas, dan termewah di hotel ini. "Dari sini kau bisa dengan mudah mengawasi mereka."
Nich menyalakan televisi di ruangan tersebut. Terlihat aktivitas yang dilakukan oleh Emily terekam jelas melalui sebuah siaran khusus dewasa.
"Ini." Jessi menatap takjub ke arah suaminya. Dengan segera dia berlari pelukan Nich, melompat agar pria tersebut menggendong layaknya bayi koala.
Dia menghujamkan banyak kecupan di wajah Nich sambil tersenyum riang. "Kau memang yang terbaik, Suamiku."
Nich hanya tersenyum melihat tingkah manja sang istri. "Berterima kasihlah dengan cara yang benar!" Dia melangkahkan kaki menuju sebuah kamar dengan menggendong istrinya, sedangkan Jessi semakin erat melingkarkan tangan di leher suaminya.
Malam tersebut bukan hanya malam panas bagi Emily, tetapi juga untuk sepasang suami istri yang tengah memadu kasih demi menyemai benih bermutu tinggi ke dalam rahim sang istri.
__ADS_1
To be Continue...