Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Bandot Tak Tahu Malu


__ADS_3

"Aku kemari untuk menuntut balas!" Seru Jane dengan deru napas naik turun karena emosi yang semakin meluap mendidihkan darah ke kepala.


"Apa maksudmu?" Seolah tidak tahu apa-apa, Juragan Broto berusaha bertingkah biasa saja. Namun, dia seketika membelalakkan mata di saat melihat anak buahnya diseret oleh Damien dengan kondisi babak belur.


Damien melemparkan anak buah Broto itu ke lantai hingga pria tersebut terjerembab dengan kepala hampir mencium kaki Juragan Broto yang langsung melangkah mundur.


Broto menatap serius wanita dan pria yang ada di hadapannya. Namun, sesaat kemudian, dia tertawa kecil, sungguh tak menyangka dengan wanita incarannya yang sangat pemberani. Bahkan mengetahui semua perbuatannya hanya dalam hitungan jam.


"Baiklah, karena kau sudah mengetahui semuanya, tidak ada alasan bagiku untuk menutupi semua itu," ujar Broto dengan bangga sambi melangkah mendekat ke arah Jane dengan sarung di pinggangnya. "Lagi pula hartamu sudah habis terbakar, daripada hidup luntang lantung di jalan tak ada kepastian, sekarang aku menawarkanmu untuk jadi istri kesepuluhku. Bagaimana?"


Pria itu menoel dagu Jane dengan genit dan seakan tak menyesali apa yang baru saja dia perbuat. Semua orang hanya bisa saling berbisik ketika Juragan Broto dengan tak tahu malu menawarkan sang warga baru posisi istri kesepuluh. Jika saja itu adalah warga desa biasa, sudah pasti tidak punya pilihan selain menurut jika masih ingin selamat.


Akan tetapi, hal itu tak berlaku bagi Jane yang sedari tadi sudah menabuh gendang permusuhan di dalam hatinya. Dia langsung memegang kedua bahu Broto dan mengangkat lutut dengan kuat hingga mendaratkan sebuah hantaman keras tepat di kejantanan pria tua tersebut.


Broto seketika tersungkur di lantai memegang benda pusaka yang selalu dia banggakan selama ini, pria tersebut meringis kesakitan sambil menatap geram ke arah Jane. "Wanita sialan! Dasar tak tahu diuntung!"


"Kau yang tak tahu diuntung! Seharusnya Tuhan memberimu umur panjang bukan untuk menindas rakyat kecil. Tapi apa yang kau lakukan sudah terlanjur membuat-Nya marah dan mengirimku kemari untuk mencabut nyawamu." Jane memukul Broto menggunakan tongkat golf yang tadi dia bawa dengan membabi buta. Wanita tersebut sungguh mengerikan layaknya kerasukan iblis dan mengeluarkan sisi buruk yang sebelumnya dia tahan.

__ADS_1


Broto hanya bisa menyilangkan tangan sambil meringkuk dari serangan Jane yang tak berkesudahan, sedangkan sang istri kesembilan hanya bisa meringkuk di pojokan karena ketakutan hebat ketika pertama kali menyaksikan penyiksaan seperti itu tepat di depan matanya. Dalam hatinya ingin sekali membantu Jane membabat habis pria tua bangka tak tahu diri tersebut, tetapi Damien di belakang Jane mencoba melerai.


"Cukup, Jane." Damien langsung memeluk Jane dari belakang karena merasa emosi wanita tersebut sudah tak terkontrol lagi, sedangkan para warga yang menyaksikan malah puas melihat Juragan Broto disiksa tanpa mencoba melerainya. "Jane, cukup! Dia bisa mati."


Dengan susah payah Damien menghentikan emosi Jane, hingga beberapa saat kemudian wanita tersebut menghentikan ayunan stik golf di tangannya. Sayangnya, Juragan Broto seperti orang tak tahu diri, padahal sudah babak belur dihabisi Jane, tetapi dia masih berani menantangnya dengan kata-kata bodoh.


"Kau tahu? Kalau saja kau mau menjadi istri kesepuluhku aku tidak akan melakukan hal itu dan hidupmu akan enak," ujar Juragan Broto sambil memegang wajahnya yang penuh luka. "Ayolah, apa salahnya kalau kau menikah denganku. Aku kaya, aku terpandang, aku jamin kau tidak akan hidup kekurangan!"


Kalimat gila Juragan Broto sukses membuat semua orang yang mendengarnya geram termasuk, Jane dan Damien.


"Dalam mimpimu, bajingan! Sampai kapan pun, dia tidak akan pernah mau jadi istrimu apalagi selirmu!" teriak Damien marah dan berbalik memukul Broto dengan tangannya sendiri.


Damien mengambil alih apa yang dilakukan Jane. Dia langsung marah mengetahui wanitanya diincar bandot tua itu, bahkan tempat tinggalnya dibakar hanya demi menjadikan Jane sebagai istrinya. "Berani-beraninya kau mengusik istriku, hah?"


Semua orang yang mendengar apa yang dikatakan Demian hanya bisa membelalakkan mata karena rasa terkejut, tak terkecuali Jane di belakang. Wanita tersebut mematung di kala Damien mengatakan jika dia adalah istrinya.


Broto hanya bisa menerima setiap pukulan itu dengan pasrah tanpa bisa melawan karena orang yang seharusnya menjaga sudah dikalahkan oleh mereka sejak awal. Beruntungnya, sebelum pria itu tewas babak belur, Istri pertama, Maya, dan juga John tiba-tiba saja datang ke lokasi tersebut.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? Apa kalian gila hanya melihatnya tanpa berbuat apa pun?" teriak sang istri pertama yang langsung merengkuh tumbuh suaminya yang sudah mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya.


"Jane, apa yang sudah Paman lakukan?" tanya John pada Jane di depannya.


Sebelumnya Maya dan sang ibu menghampiri rumah Pengacara John, keduanya mengatakan jika warga baru berbuat ulah di rumah mereka. Posisi rumah John yang berada di ujung dan jauh dari pemukiman warga lainnya membuat pria itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Oh, jadi dia Pamanmu? Pria gila yang membakar rumahku hanya karena alasan konyol!" Jane berteriak marah kepada John, sedangkan pria itu hanya bisa bingung dengan situasi saat ini. Baru sekarang dia cukup lama berada di desa karena biasanya pria tersebut hanya pulang seminggu sekali dan pergi lagi.


"Apa maksudmu?" John cukup bingung dengan arah pembicaraan Jane. Bukankah secara langsung dia mengatakan jika Broto membakar rumah itu sebelumnya.


"Apa kau bodoh? Sebenarnya sebagai pengacara siapa yang kau bela selama ini? Hanya penguasa tak punya hati, atau rakyat jelata yang menjadi korban kegilaannya?" Dengan wajah geram berulang kali Jane menunjuk John. Bukan hanya wajah Jane yang merah padam, tetapi kilatan tatapan juga tubuh bergetar karena geram tergambar jelas dalam diri wanita tersebut.


"A–aku–" Belum sempat John melanjutkan kalimatnya Jane sudah dulu mendahuluinya.


"Akan aku tunjukkan apa itu keadilan!" Jane berlalu pergi meninggalkan John yang masih bingung dengan maksud wanita tersebut. Baru kali ini dia melihat sendiri bagaimana sifat asli Jane yang bahkan tak pernah bisa dibayangkan sebelumnya.


"Tunjukkan di mana peternakan kebanggaan bandot tua itu padaku!" Jane berhenti sejenak setelah berbicara pada warga desa lainnya. Dia lebih dulu melirik sinis ke arah Broto dan istrinya sebelum kembali melangkah pergi.

__ADS_1


To Be Continue..


__ADS_2