
Kala benih cinta mulai bersemi, tak ada satu pun orang yang sanggup menyangkalnya. Mau seberapa keras dirimu menolak kehadirannya, tetapi hanya dengan membayangkan kepergiannya sudah membuat batinmu sesak dan bergejolak. Akan tetapi, itu semua bukanlah akhir dari semuanya, melainkan awal dari kehidupan dua insan yang mencoba bersama. Pernikahan mungkin tak selalu menjanjikan kebahagiaan, hanya tinggal bagaimana setiap manusia mencoba mempertahankannya di saat setiap cobaan mendera rumah tangganya.
Siang itu, Mario bertekad menemui kedua orang tua Anna di daerah lain. Meskipun dia belum tahu bagaimana kondisi mereka, tetapi dia akan berusaha meyakinkan nanti. Demi mendapatkan restu dan meminang wanita yang kini berada di sampingnya. Daripada hanya menjanjikan kata cinta yang akhirnya berakhir luka. Lebih baik langsung menikahinya agar bisa hidup bersama dan memiliki hak penuh satu sama lain.
Pikiran yang tadinya mengira Anna akan bunuh diri sudah cukup membuka mata Mario. Jika dia tak ingin kembali kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya tanpa bisa berbuat sesuatu. Dia harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat. Meskipun Mario sendiri belum tahu bagaimana respons adiknya nanti, tetapi dia yakin, Maurer akan mengerti perasaannya dan mendukung keputusannya.
Sejenak Mario menghentikan laju mobilnya dan menepi di pinggir jalan raya. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang adik karena Jessi tidak bisa dihubungi sejak tadi. Pekerjaannya cukup banyak jika ditinggalkan begitu saja. Beruntungnya anak buah buah Jessi bisa kompak dan saling mengisi jika memang ada kondisi darurat seperti ini. “Sebentar, aku akan menelepon Maurer dulu,” ujarnya pada Anna di sebelah.
Wanita itu hanya mengangguk, ada senyum yang ditahan dalam hatinya melihat perubahan signifikan dari Mario saat ini. Sang Bos datar dengan segala kecuekannya membuat Anna tidak terbiasa dengan sikap ramah dan mudah senyumnya yang sekarang. Meskipun tampak lebih manusiawi, tetapi jantungnya serasa terus di ajak lari maraton. Belum apa-apa sudah Anna sudah berdebar, padahal pria itu juga belum mengutarakan maksudnya mengantarkan Anna pulang kampung. Apakah berniat memecatnya atau malah melakukan hal lainnya.
Pandangan Anna melayang jauh menatap jendela mobil dan memandang hamparan pepohonan di luar demi menetralkan kegugupannya. Sesaat kemudian, Mario sudah selesai dengan urusannya kembali menyala mobil dan melanjutkan perjalanan. “Di daerah mana kampung halamanmu?” tanyanya tanpa menoleh pada gadis di sampingnya karena fokus kembali pada jalur.
“Di daerah New Era, Bos.”
“Bukankah itu cukup jauh? Kenapa kau bisa tersesat di sini?” Mario mencoba bercanda, sayangnya tak pernah membuat lelucon membuat gurauannya terasa kering kerontang seperti jangkrik di atas padi tertiup angin. Sama sekali tidak lucu hingga hanya mengeluarkan bunyi krik krik sendirian.
“Aku memang tersesat, Bos. Semua karena Ayahku yang meninggalkan aku di sini dan menghilang lagi entah ke mana setelahnya. Aku ditinggalkan di klub malam tempat bekerja sebelumnya dengan alasan di suruh bekerja. Makanya aku takut keluar dari tempat itu nanti tidak bisa pulang. Tapi, bertemu Nyonya Jessi rasanya seperti sesuatu tersendiri. Entah dari mana keberanian datang dan aku pun keluar dari tempat itu.” Sejenak Anna menghentikan kalimatnya untuk tertawa kecil, tetapi terdengar cukup miris. “Padahal aku bisa saja menjadi gelandangan kalau aku tidak bertemu dengannya lagi. Atau menjadi sesuatu yang lebih buruk jika bertahan di tempat itu.”
__ADS_1
Begitulah jalan hidup Anna yang sesungguhnya. Dia bukan berasal dari golongan kaya, bahkan kampung halamannya cukup terpencil dari area perkotaan. Akan tetapi sang ayah yang memaksanya bekerja di luar tempat tinggal dengan alasan agar Anna mandiri, padahal dia hanya dijadikan bulan-bulanan rentenir yang menagih utang ayahnya.
Anna bukanlah lulusan dari sekolah ternama. Maka dari itu pengetahuannya pun terbatas. Apalagi jika tidak mendapatkan pengajaran yang tepat, dia bisa saja salah pergaulan.
Entah bisikan dari mana seorang ayah mampu membuang anaknya jauh dari keluarga, tanpa memikirkan bagaimana nasib Anna yang tinggal di kota jauh dari tempat tinggalnya. Bukan perkara mudah bagi gadis yang terbiasa dengan suasana kampung, tetapi dipaksa terbiasa dengan hiruk pikuk suasana klub malam. Mengingat awal kehidupannya di kota, sedikit menyesakkan dada Anna seketika hingga sudut matanya berair mengingat hal itu.
Tanpa aba-aba sebuah tangan kekar mengambil tangan mungilnya yang tidak putih dan tak terlalu hitam, hanya sedikit kuning langsat bak sawo yang matang dan manis sempurna. Anna Menoleh pada Mario yang masih mengemudi dengan satu tangan menggenggam tangannya. Keduanya saling terdiam untuk beberapa saat, hingga sedetik kemudian, barulah mulut pria itu mulai terbuka.
“Sekarang kau memiliki aku sebagai penunjuk arahmu agar tak tersesat lagi. Pergilah bersamaku. dan pulanglah padaku! Aku akan berdiri di satu tempat agar kau selalu ingat jalan yang harus kau lalui.”
“Bukan! Ini teknik marketing penjualan rumah! Menyebalkan,” umpat pria tersebut melepaskan genggaman tangannya dengan kasar dan melirik ke arah lain karena rasa kesal di hatinya. Dia kira Anna akan tersentuh dan mengerti apa yang diucapkan seperti biasanya. Di mana Anna selalu cekatan dalam bekerja. Nyatanya mereka sama-sama nol jika berurusan dengan perasaan. Membuat Mario jadi malu saja.
“Oh, aku kira, Bos tadi merayuku. Ternyata menawarkan jual rumah toh. Aku mana mampu beli rumah di kota, Bos. Tempat yang aku tinggali saja sewanya bulanan kok. Daripada membeli rumah sendiri di kota dengan harga selangit itu, lebih baik aku membeli tanah di kampungku dan mempunyai ladang yang luas supaya ibuku tak perlu lagi bekerja keras di bawah orang-orang yang menyebalkan itu. Dan aku juga bisa pulang kampung serta tinggal bersama ibuku lagi tanpa harus bekerja keras di bawah bos dingin yang menyebalkan sepertimu." Anna berceloteh ria tanpa sadar mengucapkan kalimat sakral yang seharusnya tidak dia ungkapkan.
Mario sontak kembali menghentikan laju mobil dan menatap tajam Anna di sampingnya. "Jadi kau tidak suka bekerja di bawah, Bos dingin dan menyebalkan sepertiku?" tanya Mario dengan tatapan menghunus seolah siap menerkam Anna kapan saja.
"Bu–bukan begitu, Bos. Maaf, aku salah bicara tadi." Tanpa keduanya sadari, mereka kini berbicara cukup santai dan tidak terlalu formal seperti sebelumnya ketika bekerja. Keduanya tak lagi membatasi diri dan lebih menjadi diri sendiri karena perasaan nyaman tanpa mereka ketahui.
__ADS_1
Anna pun lebih aktif menunjukkan kepolosannya yang sebelumnya selalu berbalut profesionalitas kerja, sedangkan Mario lebih menampakkan perhatian maupun kesalnya pada Anna. Padahal biasanya hanya ada sikap datar serta dingin dalam bekerja hingga hanya ada yang asisten pria yang sanggup melayani kecuekannya.
Tanpa aba-aba, Mario langsung menarik tengkuk Anna dan menempelkan kedua bibir mereka. Perlahan pria tersebut mulai menautkan, serta menyesap lembut daging kenyal juga ranum dengan polesan bibir rasa ceri itu. Namun, Anna hanya terdiam mematung seolah syok serta belum sadar sepenuhnya atas apa yang terjadi. Wanita tersebut tampak beberapa kali mengerjapkan mata karena merasa sebuah mimpi indah baru saja menyapa.
Hingga detik berikutnya, Mario menggigit kecil bibir bawahnya dan Anna berteriak kecil sambil membuka mulutnya. Tanpa membuang waktu, Mario yang haus akan kasih sayang dan tak pernah merasakan jatuh cinta mulai memasukkan lidahnya ke rongga mulut Anna sambil sesekali tersenyum kecil ketika menyapu semua itu. "Manis," ucap pria tersebut setelah selesai berciuman dengan Anna dan mengusap sudut bibir wanita tersebut.
"Apa yang baru saja kau lakukan, Bos?" tanya Anna yang tampak masih tercengang.
"Menciummu. Memangnya apa lagi?"
"Tapi, kenapa kau seperti baru saja membantu ulat bulu bermetafora, Bos. Banyak kupu–kupu beterbangan di kepalaku," ucap Anna dengan polosnya mengungkapkan apa yang baru saja dia rasakan hingga Mario tak tahan lagi untuk kembali mengecupnya singkat.
"Kita lanjutkan lagi nanti bermetaforanya. Perjalanan masih jauh," ujar Mario kembali menjalankan mobil.
Entah berapa banyak mobil itu berhenti sejak tadi. Jika tidak segera dilanjutkan, bisa-bisa mereka tidak segera sampai di lokasi tujuannya. Walaupun hari masih siang, tetapi perjalanan kali ini cukup jauh dan memakan waktu.
To Be Continue..
__ADS_1