
Jessi dan Jane bukan dilahirkan dari satu rahim, tidak sedarah bahkan berbeda dalam segala hal. Mereka hanya sepasang anak yang bernasib sama, kesepian sejak kecil hingga tumbuh bersama dan saling melengkapi. Ikatan persaudaraan keduanya terlalu erat jika harus hancur karena ulah Jerry Morning.
Memang bencana dan musibah datang silih berganti membawa hikmah. Selain digunakan sebagai pengingat, tetapi juga menunjukkan pembuktian akan kuatnya hasrat untuk menjaga hubungan persaudaraan. Tidak ada perjalanan hidup yang mulus, tetap akan hadir tikungan, tanjakan, bahkan jalan buntu dalam suatu permasalahan.
Diuji dengan sejauh mana mereka mampu menyelesaikan semua masalah dan tetap menjaga indahnya persaudaraan meskipun tanpa ikatan darah. Dendam hanya akan membawa permusuhan, tetapi memaafkan menciptakan sebuah perdamaian yang kini menenangkan hati dua insan tersebut.
Mereka menjadi penguat satu sama lain dalam segala kondisi. Saling menghibur kala bosan melanda, menjemput di saat salah satu tersesat, mengangkat di waktu terjatuh, dan mengulurkan tangan untuk membantu saudaranya bangkit. Hubungan persaudaraan mereka lebih erat dari apa pun di dunia ini.
Setelah keduanya saling meluapkan segala isi hati hingga membuat mereka tenang dan tak ada lagi air mata mengalir, Jessi mulai mengemasi barang-barang Jane yang berserakan di lantai. Namun, sang kakak malah menghentikannya.
"Kau sedang hamil, biar nanti aku menyuruh orang membersihkannya. Kondisimu juga masih belum pulih," ujar Jane yang masih merebahkan diri di sofa.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit." Jessi mengambil barang-barang yang sudah rusak di lantai dan membuang ke tempat sampah.
Tak lama kemudian, suara ketukan dari pintu membuat Jessi melangkah mendekatinya. Dia membuka dan terlihat sang suami membawa beberapa kantong makanan di tangannya.
"Apa yang kamu beli, Sayang?" Aroma harum makanan yang dibawa Nich seketika menyambut indra penciuman Jessi. Sebagai ibu hamil memanglah hidungnya kini lebih tajam daripada sebelumnya.
"Aku membeli bubur dan beberapa makanan kesukaanmu, Sweety." Nich masuk ke dalam, lalu meletakkan kantong plastik di atas meja dapur lantas menyusunnya di piring.
Jessi melangkah mendekati suaminya sambil memeluknya dari belakang. "Apa yang bisa aku bantu, Sayang."
"Duduk dan diamlah saja, Sweety!" ujar Nich sambil mengacak pucuk kepala istrinya. "Kalau perlu temani saja kakakmu! Dia sepertinya baru saja patah hati."
"Sialan kau!" Jane mendengus kesal mendengar perkataan Nich dan langsung melemparkan bantal ke arah mereka. Jika saja dia tidak sakit sudah pasti wanita tersebut akan menendang pria itu agar keluar dari sini.
__ADS_1
Akan tetapi, sesaat kemudian sebuah senyum mengembang di wajahnya ketika melihat keromantisan sepasang suami istri tersebut. Adiknya sudah terlihat begitu bahagia bersama Nicholas, rasanya sudah cukup untuk Jane mendampingi Jessi sampai di sini.
Sesaat kemudian, Jessi datang membawa semangkuk bubur untuk Jane. Dia berjalan sambil meniup kepulan panas tersebut secara perlahan, lalu duduk di samping kakaknya.
"Nah, makan!" Perlahan-lahan Jessi menyuapi Jane dengan sabar, hingga membuat Nich hanya mencebikkan bibir melihatnya.
Keduanya memang layaknya kucing dan anjing jika bersama Jessi, sama-sama berebut perhatian dan kasih sayang. Mereka makan bersama dengan saling menyuapi, Jessi kepada Jane, sedangkan dirinya sendiri dilayani oleh suaminya.
Setelah beberapa saat mereka selesai makan, Jane pun terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya. "Jangan sakit lagi! Cepatlah sembuh aku pulang dulu!" ujar Jessi.
"Pergilah!"
Dia terlihat enggan meninggalkan sang kakak seorang diri, tetapi tubuhnya sendiri mulai terasa lelah. Mungkin karena kondisinya yang masih belum pulih. "Haruskah aku menemanimu saja?"
"Pergilah sebelum suamimu mendadai beruban jika kau tetap di sini!" Jessi mengalihkan pandangannya menatap Nich. Benar apa yang dikatakan Jane, wajah suaminya sekarang bahkan tidak lagi layak untuk dipandang.
Setibanya di luar, Jessi bukan menekan tombol lift untuk turun, tetapi malah naik. "Sayang kita ke tempat Damien dulu ya?"
"Terserah kau saja, Sweety. Jangan terlalu lelah!" Jessi mengangguk.
Mereka bergandengan tangan menuju lantai atas, Jessi meletakkan kepalanya di pundak sang suami untuk beberapa saat. "Sayang, jika kau jadi Damien, apa dirimu juga akan menjauhiku?"
Nich melepaskan genggaman tangannya, lalu memeluk bahu sang istri. "Aku tidak bisa mengatakan akan menjauh atau mendekat jika jadi Damien."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena kita tidak tahu bagaimana dia merawat luka sendirian selama ini." Sejenak Jessi mendongak menatap wajah suaminya.
Benar apa yang dikatakan Nicholas, Damien tumbuh seorang diri dengan luka yang membekas cukup dalam di usianya. Dia hidup sendirian, di kala seluruh keluarganya menghilang, bahkan harus mengubah identitas demi bertahan.
Meskipun ada Paman Alex, tetapi mereka juga tidak bisa hidup bersama demi keselamatan keduanya. Di usianya yang masih kecil saat itu, Damien juga sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kejamnya para mafia tersebut dalam membantai seluruh penghuni kediaman Alexander.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu, bagaimana Damien bangun dari mimpi buruknya setiap malam. Kehilangan kasih sayang sejak kecil dan dipaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya menjadikan hatinya dipenuhi dendam akan bayang-bayang kematian keluarganya.
Berbeda dengan Jessi yang tidak mengingat apa pun tentang kejadian masa itu. Meskipun dia tak memiliki orang tua, tetapi masih ada Nenek Amber dan Jane. Mereka memberinya kasih sayang melimpah, melebihi dirinya sendiri.
Suara embusan napas kasar dari Jessi terdengar begitu jelas. "Kau benar, Sayang. Dia bahkan masih trauma ketika kita pertama kali mengunjungi rumah lama."
Tak lama kemudian, lift pun terbuka. Mereka melangkah keluar menuju apartemen Damien. Hari masih siang, entah apakah pria itu ada di tempatnya atau tidak. Namun, ternyata hanya dalam beberapa ketukan pintu sudah terbuka.
"Kau datang, Nak. Ayo masuk!" Terlihat Paman Alex membukakan pintu dan memersilakan keduanya untuk masuk. "Bukankah kau baru saja sembuh, kenapa sudah bepergian, tadinya aku ingin mengunjungimu nanti malam."
"Aku ingin bertemu Damien, Paman. Apa dia ada?" tanya Jessi sembari melangkah masuk ke dalam apartemen tersebut.
"Kakakmu. Dia mengurung diri di kamar beberapa hari ini." Alex duduk di kursi ruang tamu, sedangkan Jessi langsung celingukan mencari kamar kakaknya.
"Di mana kamarnya, Paman?"
"Paling ujung!" Tangannya menunjuk sebuah pintu di sudut, lalu menuangkan teh di depannya kepada Nich. "Kau duduk saja di sini, Nak temani aku minum teh. Mereka mungkin membutuhkan waktu untuk mengobrol layaknya kakak beradik."
"Apa terjadi sesuatu dengan Damien, Paman?" tanya Nich sambil meraih cangkir teh tersebut.
__ADS_1
"Entahlah, apa yang aku tahu tentang masalah anak muda seperti kalian."
To Be Continue....