Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Bertemu Jessi


__ADS_3

Setelah menghampiri neneknya Jessi berjalan menuju ke sebuah ruangan tersendiri yang dia siapkan untuk Gery. Dia adalah tawanan spesial, sehingga Jessi meletakkannya di ruang yang berbeda dengan yang lainnya.


"Apa kau sudah menemukan kelompok mana yang kita hadapi waktu itu?" Jessi bertanya kepada Maurer yang sedang berjalan beriringan bersamanya.


"Belum, Nona. Mereka benar-benar ahli kali ini, saya akan berusaha lebih baik lagi untuk mencari tau!" Maurer merasa rendah diri karena tidak bisa menemukan lawan mereka saat ini.


Jessi menepuk pelan bahu Maurer. "Tenanglah, bukan salahmu belum bisa menembus ranah mereka! Melihat keahliannya menyembunyikan diri, baru bisa dibilang mereka lawan yang seimbang. Terlalu membosankan untukku kalau mereka berasal dari kelompok yang biasa-biasa saja."


Ceklek.


Mereka memasuki sebuah ruangan tempat Gery berada.


"Apa kau terbiasa tinggal di sini, Tuan Gery?"


"Lepaskan aku! Kau bilang akan melepaskan aku setelah menemukan orangmu!" Gery memberontak karena ikatannya.


"Tenanglah sebentar! Aku akan memberimu cenderamata lebih dulu, sebelum melepaskanmu!" Jessi menadahkan tangan kanannya, Maurer memberikan sebuah chips kecil padanya.


Gery melebarkan matanya melihat itu. "Apa yang ingin kalian lakukan, hah?!


"Brisik!" Maurer menyumpal mulutnya dengan kain.


Embbh! Embbh!


Dia memberontak sekuat tenaga.


"Diamlah sebentar! Ini tidak akan lama!" Jessi menyayat tengkuknya menyelipkan chips kecil itu dalam dagingnya.


Aarrgghh!


"Bukankah kain itu berguna untuk menahan rasa sakitmu!" Maurer datang mendorong sebuah trolley berisikan tunggu bara api, dan alat untuk membuat tato.


"Mana yang kau inginkan?" Jessi mengambil kain di mulut Gery.


"Apa yang ingin kalian lakukan!" Tubuh Gery gemetar, dia tidak menyangka jika wanita bisa sekejam ini.


"Ini adalah syarat terakhir jika kau masih ingin pulang!"


"Apa kalian berjanji akan membebaskanku setelah ini?"


Jessi mengangguk. Gery menatap kedua alat itu bergantian, mungkin tato lebih baik dari pada cap besi.


"Kalau begitu tato saja."


Jessi lantas menato tengkuk Gery, dia mengukir gambar sebuah teratai di atas chips yang dia pasang.



"Kau harus ingat! Jangan pernah sekali pun membocorkan apa kau lihat kepada siapa pun, atau chips itu akan meledakkan tubuhmu hanya dengan satu kata dariku!"


Gery mengangguk, dia sangat mengadari betapa bahayanya wanita di depannya ini. Dia lebih memilih untuk tidak lagi berurusan dengannya.

__ADS_1


"Maurer, antarkan tamu kita kembali ke rumahnya!" Jessi melepaskan sarung tangan karet yang dia gunakan.


"Baik, Nona." Maurer melepaskan ikatan Gery dan membawanya keluar ruangan itu.


"Jangan merindukanku! Kelak aku akan mengunjungimu lagi." Suara teriakan Jessi membuat bulu roma Gery bergindik. Dia merasa seperti mendengar bisikan malaikat kematian di telinganya.


*****


Di sisi lain Damien mengunjungi perusahaan Bannerick Group bersama pamannya. Mereka ingin mencoba meminta tolong kepada Nich untuk mempertemukannya dengan Jessi.


"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu!" Resepsionis menyapa mereka dengan ramah.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Nicholas."


"Maaf sebelumnya, apakah Tuan sudah membuat janji temu sebelumnya?"


"Belum."


"Mohon tunggu sebentar, Tuan!" Resepsionis lantas menghubungi atasannya. "Maaf dengan Tuan siapa?"


"Damien Barrack."


Resepsionis lantas meletakkan kembali teleponnya.


"Silakan, Tuan Damien. Tuan Muda Nich sudah menunggu di ruangannya."


"Terima kasih."


Damien dan Alex lantas berjalan menuju ruangan Nich.


"Masuk!" Suara Nich terdengar dari dalam ruangan.


Ceklek.


"Selamat siang, Tuan Nich," sapa Damien.


Nich berdiri dari duduknya mengancingkan jas yang dia kenakan. "Selamat siang, Tuan Damien. Silakan duduk!"


Mereka duduk di kursi yang tersedia di ruangan itu.


"Mohon maaf mengganggu waktu Tuan Nich, kenalkan ini paman saya Alex Barrack"


Nich hanya mengangguk. "Jadi ada perlu apa, Tuan Damien. Saya pikir urusan bisnis sudah kita bahas kemarin, apakah ada masalah dengan hal itu?"


"Oh, bukan, Tuan Nich. Maksud kedatangan kami kemari ingin meminta bantuan secara pribadi kepada anda!"


"Bantuan? Apa yang bisa saya bantu?"


"Kami ingin bertemu dengan Nona Jessi!"


"Jessi! Kenapa kalian ingin bertemu dengannya?" Nich memicingkan matanya mendengar tamunya ingin menemui calon istrinya.

__ADS_1


"Ini adalah masalah keluarga. Kami memilih untuk menemuinya melalui Tuan Nich karena saya mendengar anda adalah calon suaminya. Selain itu, tempat ini cocok untuk menghindari pengawasan." Alex mencoba untuk meyakinkan Nich.


"Keluarga! Pengawasan? Kalian tunggu sebentar!" Nich lantas merogoh ponsel di sakunya, perasaannya mengatakan bahwa mereka membawa sesuatu yang penting bagi Jessi.


Dia menghubungi Jessi berulang kali, hingga panggilan ketiga baru terdengar jawaban dari seberang.


"Aku akan membunuhmu jika tidak penting!" Suara lantang Jessi dari seberang membuat Nich menjauhkan ponselnya dari telinganya. Kedua tamunya menahan bibirnya agar tidak tertawa mendengar Jessi berbicara.


"Cih ... mengapa kamu selalu menyapaku dengan kalimat ekstrim, Sweety?" Nich mengerucutkan bibirnya mengatakan hal itu.


"Ada apa?"


"Bisakah kau ke kantorku sekarang, Sweety? Seseorang ingin bertemu denganmu!"


"Aku? Siapa? Apakah penting?"


"Sepertinya cukup penting jika kau menolaknya hanya untuk melanjutkan tidur siangmu!"


Nich mencoba untuk menebak apa yang sedang dilakukan wanitanya yang suka sekali tidur.


"Baiklah, tunggulah sebentar!" Jessi langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban Nich.


Mereka berbincang masalah bisnis terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Jessi.


Beberapa saat kemudian, pemain utama yang dinantikan tiba.


Ceklek.


Semua orang yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu.


"Ada perlu apa kau mencariku?" Jessi langsung masuk dan duduk di samping Nich.


Alex tercengang saat pertama kali bertemu Jessi. Dia diam membatu melihat wanita di depannya. Jessi adalah wajah Samantha ketika muda, tidak perlu tes apa pun untuk membuktikan kebenarannya karena wajah ini lah yang dia ingat sejak 40 tahun yang lalu.


Alex sangat mengenal Samantha karena mereka menempuh jalur pendidikan yang sama bersama dengan David juga.


Alex berjalan mendekati Jessi. Dia memegang dengan lembut pipi wanita itu, tanpa terasa buliran hangat terjatuh di pipinya yang sudah mulai berkeriput. Dia seperti melihat masa lalu di depannya, penyesalan tidak dapat menyelamatkan keluarga tepat waktu.


Jessi hanya menatap Alex dengan tatapan bingung. Mengapa lelaki tua ini menangis saat melihatnya?


"Yakk, Pak Tua?! Kenapa kau menangis? Cengeng sekali!" Jessi berkata dengan keras sambil mengusap buliran air mata di pipi pria itu.


Nich dan Damien hanya bisa menahan tawanya. Jessi memanglah pandai merusak suasana, sedangkan Alex tersenyum. Jessi sungguh mirip dengan Samantha, begitu pula dengan sikapnya.


"Apa namamu Jessi?" tanya Alex.


"Iya, Jesslyn Light."


"Nama yang cantik, seperti orangnya."


"Aku memang cantik. Jangan bilang kau kemari karena ingin menjadikanku istri mudamu?"

__ADS_1


Ketiga lelaki beda usia itu langsung melebarkan matanya mendengar penuturan Jessi yang benar-benar di luar ekspektasi mereka. Dia sangat berterus terang tanpa melihat situasi dan kondisi.


TBC.


__ADS_2