
Kebakaran di sebuah rumah menyebabkan kepanikan para warga sekitar, tetapi tidak dengan seorang pria yang kini tengah bergembira. Di bawah remang lampu jalan desa dan sayup-sayup teriakan para warga di kejauhan, Lary dengan hati yang berbunga mengayuh sepeda sambil bersiul ria, bayangan akan banyaknya bonus yang nantinya diterima dari juragan Broto membuat pria itu bergegas pergi ke desa lain untuk bersenang-senang.
Tanpa dia sadari Jane mengikuti langkah pria tersebut dengan setengah berlari sambil bersembunyi di balik pohon yang berjajar di tepi jalan agar tidak ketahuan.
Tak lama kemudian, pria tersebut berhenti di sebuah pondok, di mana banyak pria lainnya tengah bermain judi ala bapak-bapak pos ronda.
"Pada ngapain 'nih?" tanya Lary sambil meletakkan sepedanya di samping pondok.
"Biasa," jawab seorang pria sambil melemparkan sebuah kartu poker ke tumpukan lainnya.
"Don, besok aku pesen ayam terbaik." Lary segera duduk di samping pria yang bernama Gendon.
"Siap. Asal ada ini nih." Gendon menggesekkan ibu jari dan telunjuknya sebagai tanda jika semua bisa diatasi asalkan ada uangnya.
"Tenang aja. Besok Juragan Broto pasti kasih bonus lagi." Sebuah senyum pongah bangga akan apa yang baru saja pria tersebut lakukan membuat teman-temannya seketika menatap antusias ke arahnya.
Seperti biasa, jika mendapatkan uang lebih dari Juragan Broto, Lary akan menggunakannya uang membeli ayam sabung. Di mana judi seperti itu sudah biasa terjadi di desa tersebut dan dianggap sebagai hiburan. Hanya saja harga ayam yang diadu lebih mahal dari ayam konsumsi, sehingga dia selalu membeli ketika baru saja menyelesaikan tugas seperti malam ini.
"Siapa sasaran Juragan Broto kali ini?" tanya ketiga pria yang kini menatap penasaran ke arah Lary.
Teman-teman Lary sudah hafal betul dengan pekerjaan pria itu dalam melayani Juragan Broto. Jika bayaran yang diterima tidaklah sedikit, pasti Lary baru saja melakukan sesuatu yang nekat dan berbahaya seperti mencari cara bagi calon mangsa gadis desa incaran bandot tua itu.
__ADS_1
"Itu, warga baru Desa Rambutan Gundul. Kayaknya Juragan Broto udah ngebet banget, sampai-sampai mau berbuat nekat." Lary sendiri juga masih belum tahu bagaimana wajah Jane dan seperti apa wanita tersebut. Baginya wanita desa adalah sama saja, palingan berwajah seperti Maya atau Ndoro Broto sang istri pertama juragan.
Hal itu dikarenakan memang sangat jarang ada wanita cantik di desa ini, bukan karena keturunan, tetapi para bocah yang masih di bawah umur kebanyakan dikirim atau pindah ke tempat lain oleh keluarga mereka agar tidak diincar oleh Juragan Broto jika kelak tumbuh menjadi gadis cantik.
"Dasar ,ya. Bandot tua doyan daun muda. Nggak inget apa umur bau tanah, kalau semua wanita desa cantik diembat dia, apa jadinya kita-kita ini." Keempat pria di tempat itu memanglah masih lajang karena tidak ada lagi warga desa yang cantik sebagai kembang desa yang bisa menarik perhatian para jantan di sana. Hanya menyisakan para wanita tua dan sudah berkeluarga dengan wajah di bawah rata-rata.
"Yang penting aku sudah ada. Ya, sudah jangan lupa pesananku! Mau ngapelin janda desa sebelah dulu!" ujar Lary hendak meninggalkan teman-temannya. Padahal waktu sudah sangat larut, tetapi malah menjadi saat berkencan terbaik bagi pria seperti Lary.
Tanpa mereka sadari, Jane mendengar semua obrolan para pemuda pembuat rusuh di desa itu dengan sangat jelas. Wanita tersebut mengepalkan tangan dengan sangat kuat dan emosi yang meledak. "Juragan Broto sialan!"
Jane segera kembali mengikuti Lary yang kembali mengayuh sepeda menyusuri jalan desa. Wanita tersebut bergegas berlari mengambil jalan pintas dan berdiri tepat di depan sepi jalan yang dilalui pria tersebut dengan emosi tingkat tinggi.
"Beraninya kau membakar rumahku, hah?" teriak Jane dengan keras sambil melangkah tegas mendekati pria tersebut.
"Mampus aku!" Sadar akan siapa wanita di depannya Lary bergegas hendak memutar sepedanya.
Namun, belum sempat pria itu mengayuh sepeda kembali, Jane sudah lebih dulu menarik bocengan di bagian belakang sepeda. "Mau kabur ke mana?"
Melihat tidak ada jalan lain, Lary pun melepaskan sepedanya dan menatap dengan sorot tajam ke arah Jane. "Jangan salahkan aku bertindak kasar, Nona."
Lary segera melayangkan kepalan tangan ke arah Jane, tetapi dengan mudahnya wanita itu menghindar hingga membuat pria tersebut seketika membelalakkan mata. Dia tak menyangka jika wanita di depannya bisa beladiri. Hal yang sangat langka bagi wanita di desa itu.
__ADS_1
Dengan mudahnya Jane menangkap lengan Lary dan memutarnya ke belakang. "Katakan di mana juragan Broto sekarang!" teriak Jane cukup keras hingga mampu memekakkan telinga Lary.
"Dasar wanita tak tahu diuntung!" Tubuh yang gagah serta tenaga kuat membuat pria itu dengan mudahnya melepaskan diri dari Jane. "Bagaimana kau bisa kabur dari kebakaran itu, hah?"
Lary cukup penasaran, bagaimana bisa wanita itu terlepas dari rencana yang sudah dia susun matang-matang. Padahal pria tersebut sampai mengawasi beberapa jam di sekitar rumah itu dan memastikan jika kedua penghuninya tidak ada yang keluar. Namun, entah bagaimana caranya, kini perempuan tersebut malah menuntut balas.
"Kau mencari lawan yang salah, Botak!" Tanpa membuang waktu Jane segera menyerang Lary dengan sangat cepat. Meskipun pria di depannya bertubuh tegap dan gagah, tetapi Jane yang memang sudah dibekali ilmu beladiri sejak ibunya masih ada, bukanlah wanita yang mudah untuk dikalahkan pria itu.
Tidak ada keraguan di setiap kalimat Jane dan secepat kilat wanita tersebut berlari ke arah pria botak tersebut dan melayangkan sebuah tendangan memutar tepat di wajah Lary hingga membuat laki-laki tak punya malu itu langsung tersungkur di jalan.
"Kurang ajar! Kau mau bermain-main denganku hah!" Pria tersebut menatap tajam ke arah Jane dengan geram sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah akibat ayunan kaki wanita di depannya. Tak ingin harga dirinya direndahkan, Lary segera bangkit dan berbalik menyerang Jane dengan membabi buta.
Wanita itu terus menghadapi pria yang dikenal sebagai orang suruhan Juragan Broto tersebut dengan lincah. Dia bukan hanya menendang, tetapi juga melayangkan pukulan keras di tubuh Lary secara cepat, sambil sesekali menunduk dan memiringkan kepala demi menghindari pukulan lawan.
Tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan yang cukup sulit dari Jane bahkan Lary sudah babak belur di berbagai bagian tubuh. Pria tersebut akhirnya mengeluarkan sebuah kerambit–pisau genggam–di balik tubuh demi melindungi diri.
"Jangan salahkan aku jika kau mati malam ini, Nona!" ujar Lary bersiap menggenggam benda tajam itu dengan sangat kuat dan bersiap menyerang.
To Be Continue...
__ADS_1