Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Awal Pembalasan


__ADS_3

"Jangan harap bisa lolos dari sini!" Tembakan peluru dari belakang, dengan cepat melesat tepat di samping Jerry yang hendak melangkah menaiki kapal, hingga membuat pria itu terkejut dan terdiam di tempatnya.


Terlihat Damien, Michael, dan Laura berhasil mengejar langkah mereka. Mengingat orang-orang terkasih yang terluka akibat ulah Jerry membuat ketiganya mengambil alih tugas Jessi dan Jane, rasa geram pada kelicikan pria tersebut membuat mereka tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.


"Jangan bermimpi bisa lari setelah melukai menantuku!" Perlahan Laura dan yang lainnya mendekat sambil menodongkan senjata ke arah lawan. Situasi yang menegangkan kembali bisa dirasakan siapa pun di sana.


Namun, gelak tawa masih bisa terdengar dari mulut kotor Jerry. Meskipun situasi saat ini membuatnya was-was, tetapi dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka. "Serang para bandot tua itu!" ujarnya pada kedua pria di sampingnya.


Segera kedua pria tersebut melangkah mendekat dan mengeluarkan dua buah belati di tangannya untuk menyerang. Melihat hal itu Laura langsung melangkah mundur.


"Suamiku, kau saja yang melawannya! Aku akan melindungimu dengan doa dari sini!" ujarnya dengan nada bercanda.


Michael masih bisa tertawa kecil mendengar penuturan sang istri. "Kau awasi pria tua itu! Tunggu di sini!" Dia mengelus rambut istrinya sekejap, lalu melangkah dengan tegas mendekati musuh bersama Damien.


Empat orang saling beradu kekuatan fisik, tetapi kelicikan Jerry tak cukup di sana. Dia mengambil senjata api di belakang tubuh, dan hendak menembak mereka. Pria itu tidak peduli jika pelurunya kemungkinan akan salah sasaran karena gerakan pertarungan yang begitu gesit dari keempat orang tersebut.


Namun, belum sempat jari telunjuk Jerry menekan pelatuk. Laura lebih dulu melayangkan tembakannya hingga mengakibatkan pistol di tangannya terjatuh seketika.


"Pengecut sepertimu sepertinya sangat suka bermain licik!" Sebuah seringai mengejek terlihat indah di wajahnya yang masih awet muda.


Jerry hanya bisa menatap dengan geram ke arah Laura dengan sorot mata tajam dan tangan yang terkepal erat. "Wanita sialan! Seharusnya kau habiskan waktumu untuk bersenang-senang! Bukan malah mengacaukan urusanku!"


"Menangkapmu adalah kesenanganku." Senyum lebar terukir di wajah Laura ditambah dengan nada mengejeknya berhasil membuat Jerry semakin kesal karenanya.

__ADS_1


Pria tersebut lantas melirik Barron Night yang berada di atas kapal dan mengangguk kecil. Mengisyaratkan agar pria itu membidik Laura dari sana.


Barron Night pun membidik di tempat persembunyiannya, melesatkan tembakan dari senapan laras panjang di tangan, dan mengarahkan kepada satu-satunya wanita tua di medan pertempuran tersebut.


Akan tetapi, dari arah lain robot-robot Terminator dan anak buah Jessi yang lainnya sudah berhasil membantai mafia Virgoun beserta anak buah Jerry yang lainnya hingga tak tersisa. Setelah itu mereka pun bergegas menyusul ketiga orang terpenting saat ini.


T yang merasakan bahaya dari kapal mengincar Laura dengan segera mengangkat tubuh wanita tersebut, sehingga berpindah posisi aman. Bersamaan dengan itu, sebuah peluru tembakan dari Barron hanya bisa mendarat di tanah yang diinjaknya sebelumnya.


Melihat trik kotor seperti itu, Laura pun melebarkan mata sambil menatap kesal ke arah Jerry. "Kau curang! Berani-beraninya menyerang dari belakang!" Wanita tersebut sungguh geram dengan siasat licik Jerry yang tak berubah sejak awal pertarungan.


Meskipun suasana saat ini sangat tidak menguntungkan, tatapi Jerry masih bisa tertawa. "Siapa yang kau sebut curang? Bukankah seperti ini baru bisa dinamakan pertarungan!"


"Tertawalah sepuasmu! Ingatlah kalau itu adalah saat-saat terakhir kau bisa tertawa!" Laura tersenyum mengejek, lalu menoleh ke arah Terminator di sampingnya. "Ledakkan kapalnya sampai tak tersisa!"


"Baik, Nyonya."


Dia langsung mengarahkan Bazooka tersebut ke kapal. Peluru Roket yang melesat dengan cepat membuat Jerry hanya bisa melebarkan mata melihat kecanggihan manusia di depannya. Jika saja pria tersebut yang memiliki teknologi seperti itu, sudah pasti tak akan membutuhkan waktu lama untuk berkuasa dan bisa menjadi orang nomor satu di dunia.


Sayangnya semua itu hanyalah angan-angan semata karena Roket peluru melesat dengan cepat, meledakkan seluruh bagian kapal hingga dentumannya terasa begitu dahsyat. Kemepul asap tebal dan nyala api panas bisa dirasakan oleh semua orang di sana.


Empat orang yang bertarung terpental jauh, tetapi hanya mengalami luka ringan karena posisinya tidak terlalu dekat dengan kapal. Sementara itu, Jerry yang berada di tepi terlempar hingga beberapa meter dengan luka bakar cukup parah, dan tak sadarkan diri, sedangkan Barron Night di dalam kapal hanya bisa menerima kematian tak terduga tersebut sebab harus tewas seketika.


Laura tersenyum puas melihat awal dari penyiksaan Jerry Morning. "Kau pantas mendapatkannya! Amankan mereka! Jangan biarkan mati sebelum menantuku pulih!"

__ADS_1


"Baik, Nyonya."


Wanita itu segera melangkah untuk membantu suaminya yang terluka ringan. "Kau baik-baik saja, Sayang?"


Michael yang masih sadarkan dirihanya mengangguk dan semua orang kini bisa merasa lega atas keberhasilan menangkap Jerry Morning, Brian, dan juga Johny.


____________


Di sisi lain, Nicholas masih merasa khawatir melihat kondisi istrinya. Dia segera membawa Jessi, Nenek Amber, Maria dan ibunya Jackson ke rumah sakit. Tak lupa Nich juga memanggil Applepan kemari, membawa temuan penawar yang dimilikinya.


Pria tersebut hanya bisa mondar-mandir dengan raut wajah khawatir di depan ruang tempat para dokter menangani istrinya. Jantungnya berdegup kencang tak karuan mengingat wajah istrinya yang sudah mulai membiru ketika dibawa kemari.


Berulang kali dia memukul dinding rumah sakit dengan keras. Nich merasa gagal menjaga keselamatan istrinya kali ini. "Bodoh! Bodoh Bodoh!" Pria tersebut meluapkan segala amarah kepada dirinya sendiri.


Sementara itu, Willy yang kini berada di sampingnya hanya bisa menatap iba ke arah tuan mudanya. Nicholas tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia pun tidak menyangka jika tuan dan nyonyanya adalah orang-orang dari dunia hitam.


Beberapa saat kemudian, Dokter Hendrick mulai keluar dari ruangan. Nich pun langsung mendekat dengan begitu antusias. "Bagaimana kondisi istriku?"


Dokter Hendrik melepaskan masker di wajahnya. "Beruntung Jessi sudah melewati masa kritis. Tapi, kondisi janin dalam kandungannya masih perlu pemantauan lagi."


"Janin?" Nich melebarkan mata menatap Dokter Hendrick, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "I–istriku hamil?"


Air mata seakan berkumpul di pelupuk mata Nich. Rasa haru, bahagia, khawatir, dan semua perasaan seakan mengbrak-abrik jiwanya saat ini. Tidak tahu apakah harus senang atau sedih dengan berita membahagiakan tersebut.

__ADS_1


To Be Continue....


__ADS_2