Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Pingsan


__ADS_3

Angin berembus dengan kencang, mengibarkan rambut seorang wanita yang baru saja memakamkan abu ayahnya. Awan hitam mulai bergulung, berkumpul di atas kepala seakan mengetahui isi hatinya. Tidak ada haru, tak ada air mata, hanya kesunyian untuk waktu yang cukup lama. Jane duduk di samping pusara kedua orang tuanya.


Wanita tersebut terdiam dalam waktu yang cukup lama, hingga akhirnya mulutnya mulai berbicara. "Ibu, aku sudah menepati janjiku." Sejenak wanita tersebut menghentikan kalimatnya untuk menenangkan hati. "Aku membawanya ke sampingmu. Semoga kau menyukai hadiahku dan memaafkan aku."


Kembali dia terdiam rasa sesak hingga tak mampu bernapas membuatnya mulai menitikkan buliran hangat sebening kristal di pipi cantik tanpa polesan bahan kimia itu. "Ibu, pantaskah aku bahagia? Kenapa kau harus meninggalkanku?"


Seberapa banyak Jane berbicara, gundukan tanah tak akan mampu untuk menjawabnya. Ibu, pantaskah aku menyukainya, sedangkan dia tak pernah melihat ketulusanku?


Apa hal yang paling menyakitkan di dunia ini? Tuhan menghadirkan seorang pria kepadanya setelah tiga puluh empat tahun lamanya Jane tak tahu apa itu cinta. Sebanyak apa pun wanita tersebut mencoba menyanggahnya, tetapi kenyataan nama Damien telah terukir di dalam hati membuatnya sesak seorang diri.


Dia pantas dicintai orang yang lebih baik. Setidaknya Jane pernah merasakan apa itu cinta, hal yang mampu membuat seseorang tersenyum, tertawa, menangis, juga kecewa secara bersamaan.


Ketika dua hati saling terpaut, tetapi kenyataan malah menjauh membuat kedua insan itu saling menyiksa diri. Mereka hanyalah korban permainan takdir menyakitkan, tetapi tidak ada satu pun yang berani untuk memperjuangkan.


Rasa ego dan naif, menyanggah sesuatu yang tak mampu ditolak, menjauhi hal yang membuatnya ingin mendekat, mencoba melupakan cinta yang hadir untuk pertama kalinya bagi kedua insan, membuat mereka hanya ibarat saling menghunuskan pedang pada hati masing-masing.


Cukup lama Jane terdiam, hingga langkah seorang pria mulai mendekatinya. "Jane, sepertinya hujan akan turun. Ayo kita kembali!"


Sentuhan tangan John di bahu membuatnya menatap pria di sampingnya untuk sejenak. Bukan Damien.


Sedari tadi pria itu menunggu di dekat mobil karena harus menghubungi klien dan urusan pekerjaan lainnya. Namun, Jane tak kunjung kembali dan masih mematung untuk waktu yang cukup lama, sehingga dia memilih menghampirinya karena awan mendung mulai nampak di atas kepala.


Tatapan mereka saling bertemu karena Jane yang masih belum tersadar dari lamunannya. Hingga beberapa saat kemudian, wanita tersebut terkulai lemas tak berdaya.


"Jane, Jane! Jane, apa yang terjadi?" Rasa panik mulai menguasai diri John Maxton. Pria itu segera mengangkat tubuh Jane ke atas tangan dan membopongnya menunju mobil.


Langkah tergesa dan wajah panik mulai terlihat di wajah pria itu. "Oh, Tuhan, Jane. Kau kenapa?" ujar pria itu setelah meletakkan Jane di kursi penumpang.


Wajah Jane tak lagi berseri, hanya ada kulit pucat pasi dengan tonjolan kelopak mata sembab menampakkan banyaknya buliran hangat yang sudah dia alirkan di pipi cantiknya. Tanpa membuang waktu, John pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


_________________________________


Di sisi lain, Jessi sedang mendatangi apartemen kakaknya guna mengunjungi Paman Alex. Rencana resepsi pernikahan akan dilaksanakan tiga hari kemudian, sehingga dia memerlukan pamannya untuk menjadi pendamping menggantikan sang ayah nantinya.

__ADS_1


"Paman, di mana Kakak?" tanya Jessi sambil celingukan ke arah lain di apartemen tersebut.


"Sepertinya sedang pergi ke gym tadi." Alex duduk sambil menyalakan televisi di depan mereka. "Entahlah, apa yang dia lakukan di sana. Lagi pula hanya ada barbel untuk dilihat. Sama sekali tidak menarik."


Jessi mencebikkan bibir mendengar penuturan pamannya. "Itu juga berkat ulahmu yang mengajarkannya menjadi single abadi, naif!" Wanita tersebut lantas memakan keripik kentang di tangannya dengan kesal, hingga suara renyah terdengar cukup keras dalam mulutnya. "Kalian pikir itu romantis? Bodoh!"


Sebutir kacang atom mendarat di dahi Jessi yang menonton televisi. "Dasar bocah tengik! Mulutmu itu sama saja seperti ibumu, menyebalkan!"


"Tapi, dia cantik. Buktinya kau tak bisa berpaling." Jessi semakin mengejek pamannya. Di usia yang sudah terbilang tua, pria itu bahkan sama sekali tidak menikah karena hanya mencintai Samantha dan hal tersebut bisa terlihat oleh mata Jessi.


"Sialan kau!"


Obrolan mereka terhenti karena suara pintu apartemen yang terbuka. Tak lama kemudian, terlihat Damien datang dengan tas olahraganya. Pria tersebut langsung melangkah ke dapur untuk mengambil air minum.


"Dari mana, Kak?" tanya Jessi ketika melihat kakaknya menenggak minuman dingin langsung dari botol.


"Gym, kau kenapa ke mari? Tumben." Sejenak Damien menjeda acara minum untuk menjawab adiknya.


Jessi lantas mengambil ponsel di dalam tas kecilnya untuk menghubungi Jane, sedangkan Damien hanya bisa mencuri pandang di dapur dan memperlambat minum agar mendengar pembicaraan mereka.


Satu kali memanggil tidak ada jawaban. "Ish, ke mana Jane?"


Dua kali memanggil masih tidak ada jawaban. Kali ketiga barulah terdengar sambungan dari seberang. "Hallo." Suara bariton dari ponsel Jessi berhasil membuat Damien tersedak minumannya.


Sementara Jessi yang menggunakan panggilan video hanya tersenyum kecut melihat Damien dari ruang keluarga. "Pengacara John? Bukankah ini ponsel Jane? Apa kau sedang bersamanya?" tanya Jessi dengan antusias.


Oh, Tuhan. Terima kasih mendatangkannya di saat yang tepat. Mampus kau, Kak, batin Jessi melirik Damien yang terlihat kesal.


"Iya, ini ponsel Jane. Tapi, dia sedang istirahat." John mengarahkan kamera ke arah Jane, memperlihatkan wanita yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Yak! Apa yang kau lakukan hingga dia tertidur pulas?" Kalimat absurd Jessi berhasil membuat Pengacara John mengernyitkan dahi, tetapi tak mengambil hati karena wanita tersebut sudah terbiasa berbicara aneh kepadanya.


Sementara itu, Damien melebarkan mata membayangkan perkataan Jessi. Jane istirahat di atas ranjang tertidur pulas dengan seorang pria. Tanpa sadar pria itu meremas botol plastik di tangannya dengan kesal dan langsung membuangnya di tempat sampah.

__ADS_1


Dia berjalan menuju kamar dengan emosi yang menggebu hingga kemepul asap cemburu terlihat menguap di atas kepalanya. Setibanya di kamar Damien membanting pintu dengan sangat kuat hingga suara dentumannya membuat Jessi dan Alex terkejut dan saling tertawa kecil.


"Pengacara John, apa terjadi sesuatu dengan Jane?"


"Dokter bilang hanya kelelahan. Mungkin karena dia datang kemari sendirian. Biasanya 'kan ada dirimu di sampingnya."


Ya, biasanya dua sejoli kakak beradik itu layaknya sebuah amplop dan perangko, saling melekat ke mana pun mereka pergi dan tak terpisahkan. Ada rasa sedih di hati Jessi melihat kakaknya terbaring dengan tangan yang diinfus sendirian di sana.


"Pengacara John, apa dia sungguh hanya kelelahan?" Pria itu mengangguk, tetapi Jessi tetaplah khawatir melihat kondisi kakaknya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padanya? Nanti aku akan bilang."


"Katakan padanya agar segera kembali! Aku akan mengadakan resepsi pernikahan tiga hari lagi." Jessi mencoba menutupi kesedihan atas kakaknya dengan tetap tersenyum. "Jangan lupa kau juga datang menemaninya!"


"Tentu saja, mendapatkan undangan langsung aku pasti akan datang. Nanti akan aku sampaikan."


"Pengacara John." Pria itu hanya berdeham sambil menatapnya dari layar ponsel. "Aku titip Kakakku, kabari aku jika terjadi sesuatu!"


"Siap, Nona Kecil." Mereka pun mengakhiri panggilan dengan sama-sama tersenyum.


Sementara di dalam kamar, Damien hanya bisa mendengus kesal di bawah guyuran air mengalir dari shower. "Sial! Sial! Sial! Siapa pria itu?" Berulang kali pria tersebut memukul dinding kamar mandi untuk melampiaskan kekesalannya cukup lama.


To Be Continue....


Hallo teman-teman, selamat beraktivitas di hari senin. Jangan lupa Votenya ya.


Author hanya ingin memberi tahu, next part mungkin akan lebih banyak kisah percintaan antara Damien, Jane, dan Pengacara John.


Tentu saja diselipkan keseruan kehamilan Jessi dan anak buah lainnya. Jadi jangan bosan untuk menanti.


Rencananya buat Jane mau bikin sad ending nih. Apa kalian sanggup?


Jawab di kolom komentar ya.

__ADS_1


__ADS_2