
Pagi itu, seperti biasanya kediaman Light selalu riuh di saat semua penghuni rumah memulai aktivitasnya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, Jessi membantu kedua putranya bersiap dan sarapan serta menyiapkan bekal untuk mereka.
"Pagi, Mom, Dad, Kakak!" teriak Jessica riang menuruni tangga dengan wajah yang masih meninggalkan bekas bantal di pipi serta rambutnya yang tergerai acak-acakan.
"Oh, masih ingat rumah?" ucap Jessi pada putrinya dengan ketus sambil menuangkan susu putih ke dalam gelas kedua anaknya.
"Ish, Mommy ini. Putrinya pulang bukannya disambut malah marah-marah terus," gerutu Jessica yang memilih melangkah mendekati sang Ayah. "Pagi, Dad."
"Pagi, Sayang!" Nich membiarkan Jessica mendekatinya dengan merentangkan tangan dan bocah kecil itu pun menghamburkan diri ke pelukannya.
"Masih mau menganggap dia Daddymu ternyata. Mommy pikir kamu sudah bosan dan ingin mencari Daddy baru di luar sana," cibir Jesslyn pada putrinya.
"Sweety, sudahlah. Jangan marah-marah terus," ujar Nicholas membujuk istrinya yang masih di mode singa. "Duduklah, Sayang. Ayo kita sarapan," ucap Nicholas pada Jessica.
"Daddy memang yang terbaik," ucap Jessica sambil mengecup pipi ayahnya. Namun, malah mencebikkan bibir menatap ibunya. "Tidak seperti seseorang yang hanya tahu marah-marah saja," sindirnya melihat sang ibu.
"Kau—" Belum sempat Jesslyn berbicara Nicholas sudah lebih dulu memotong ucapan istrinya.
"Sayang, sudahlah. Jangan terus memojokkannya. Kasihan, kan, anak baru pulang malah diomelin." Nicholas sedikit tidak terima jika anak emasnya harus menerima kalimat sinis dari Jessi. Padahal wanita itu hanya menyampaikan sedikit pendapat.
Jesslyn hanya diam. Dia memutar langkahnya menjadi di belakang sang putri dan mengikat rambut di kecil menggunakan tali rambut di tangan. Meskipun masih marah. Akan tetapi, sebagai seorang ibu dia juga tidak ingin anaknya berpenampilan acak-acakan seperti itu.
"Kenapa tidak mandi dan siap-siap ke sekolah?" tanya Jesslyn sambil merapikan rambut putrinya.
__ADS_1
"Aku malas hari ini, Mom. Sepertinya aku kurang enak badan," ujar Jessica beralasan dengan menempelkan salah satu tangan sang ibu di dahinya.
"Alasan saja. Puas kamu bermain sama penculik itu?" gerutu Jesslyn yang langsung duduk di samping suaminya.
"Kamu diculik beneran, Je?" tanya Jonathan menatap penasaran pada sang adik.
Gadis kecil itu hanya mengangguk sebagai jawaban lalu memakan roti di depannya terlebih dahulu karena cacing di perut sudah keroncongan sejak tadi menunggu sarapan. "Kak, penculiknya sangat bodoh. Bahkan, aku mengerjainya. Bukankah aku sangat pintar?" ucap Jessica memasang wajah polosnya dengan mulut penuh roti.
"Makan dulu pelan-pelan, Sayang. Nanti tersedak," ujar Nicholas menggeleng kecil melihat tingkah putrinya sekarang.
"Ngomong-ngomong bagaimana caramu mengerjai mereka, Je?" tanya Jesslyn seolah penasaran dengan apa yang dilakukan putrinya dan tidak langsung menuduh berbuat sesuatu yang buruk.
Sebagai seorang ibu, ada baiknya mendengarkan terlebih dahulu cerita sang anak. Daripada langsung mencercanya dengan berbagai pertanyaan yang hanya akan menyudutkan posisi si anak tersebut. Mereka sebenarnya juga memiliki hak untuk bercerita versi orisinal dirinya sendiri dan menyimpulkan apa yang dia alami tanpa harus merusak imajinasinya dengan menduga apalagi menuduhkan hal yang belum pasti dilakukan oleh anak tersebut.
Benar saja, Jessica langsung meletakkan rotinya lalu berdiri di atas kursi makan seolah dia adalah pendongeng handal yang menceritakan sebuah kisah pada pendengarnya. Di mana di meja makan tersebut sudah ada Ayah, Ibu dan kedua kakaknya yang setia mendengarkan dengan seksama bibir mungil tersebut berceloteh ria.
"Jadi, kamu memberi mereka obat pencahar?" tanya Jesslyn untuk pertama kali setelah mendengar cerita versi putrinya.
"Iya, Mom. Aku pintar 'kan? Jelmaan Jesslyn Light," ujar Jessica bangga memiliki ibu seperti wanita di depannya sambil mencoba mengibaskan rambut, tetapi sayangnya sudah dicepol ke atas oleh sang ibu. Jessica mengusap sudut matanya yang berair setelah bercerita, lalu kembali duduk dan melanjutkan sarapannya.
"Lalu, bagaimana dengan bocah kecil yang bersamamu. Apa kamu mengenalnya?" Kali ini gantian Jonathan yang bertanya secara antusias pada adiknya. Namun, hal itu sudah mewakili rasa penasaran Jesslyn akan cerita bocah pria tersebut lebih lanjut.
"Tidak kenal. Aku bahkan tidak tahu namanya. Lagi pula dia seperti pria lemah yang sangat bodoh ditipu. Bagaimana seorang bocah bisa diculik sejak pagi? Bukankah itu bodoh namanya," jawab Jessica jujur dengan pemikiran kecilnya.
__ADS_1
"Mungkin dia hanya bosan dan ingin bermain para penculik sepertimu," jawab Jesslyn sambil menundukkan kepalanya. Ada rasa lega di dada mengingat memang bukan putrinyalah yang meletakkan racun tersebut pada penculiknya.
Bubuk pencahar hanya akan mencuci perut seseorang untuk sementara waktu, tetapi tidak sampai membunuhnya dan beruntung Jessica memang hanya mengerjai mereka bukan membunuhnya. Meskipun mereka tidak tahu siapa bocah yang sudah bermain-main bersama gadis tersebut.
"Sudah, sudah. Kalau hanya ingin mendengar cerita Jessica lebih baik nanti malam saja. Jo, Jay, ayo berangkat!" ajak Nicholas karena acara sarapan memang sudah berakhir dan waktunya untuk berangkat. "Aku pergi dulu, Sweety," ucap Nicholas sambil mengecup dahi istrinya. Lalu beralih pada si kecil. "Bermainlah di rumah dan jangan terus-terusan Mommymu khawatir!"
"Siap, Dad. Kecupan buatku mana?" ucap Jessica pada Ayahnya.
Setelah acara pamitan pagi itu dan semua orang sudah mulai melanjutkan aktivitasnya. "Mandilah sana, Nak. Baumu seperti bangkai dari kemarin tidak mandi," sindir Jesslyn sambil membersihkan piring kotor di atas meja.
"Tidak, Mom. Aku wangi. Pasti tadi malam Daddy sudah membersihkan tubuhku," ujar Jessica sambil mengendus baunya sendiri. "Daddy memang yang terbaik. Tidak ada pria yang mampu menandingi kebaikan, kasih sayang, ketampan, dan kekayaan Daddy Nicholas," lanjutnya kembali membanggakan sang ayah. Hingga Jesslyn yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan putrinya yang menjadikan seorang Nicholas Bannerick sebagai patokan dalam melihat seorang pria.
Jesslyn Light memang beruntung bisa bertemu seorang pria sebaik Nicholas yang kini menjadi pendamping hidupnya. Meskipun masih muda, nyatanya dia memiliki pemikiran dewasa sebagai seorang pria dan mampu menjadi pemimpin keluarga yang baik.
Jesslyn hanya tersenyum kecil mengingat bagaimana pertemuan mereka dulu sambil mengelap meja makan yang kotor padahal putrinya masih duduk di sana. Saat-saat di mana dia mengira suaminya hanyalah seorang pria miskin yang tengah dikejar penagih utang, tetapi ternyata merupakan pewaris yang banyak orang mengenalnya.
Belum lagi dengan mudahnya Nicholas percaya dan memberikan helikopter tempur secara cuma-cuma tanpa mengharapkan imbalan. Sungguh seorang sosok pria yang menjadi incaran banyak wanita, tetapi malah memilihnya yang notabene adalah seorang wanita janda. Padahal banyak wanita muda di luar sana yang lebih cantik, tetapi pria itu malah terus mengejarnya dan menunjukkan ketulusan serta rasa nyaman yang tak pernah Jesslyn dapatkan sebelumnya.
Sebagai seorang wanita yang memiliki suami seperti itu. Tentu saja merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi hidupnya dan berharap keluarga mereka akan bahagia selamanya.
"Kenapa Mommy senyum-senyum sendiri?"
"Sudah jangan banyak tanya! Cepat habiskan makananmu lalu mandi. Nanti kita belanja bersama."
__ADS_1
"Benarkah, Mom. Asik!" Jessica tampak begitu bahagia diajak berbelanja oleh ibunya. Dia kembali melanjutkan makan dengan lahap karena memang porsi makan gadis kecil tersebut lebih banyak jika di bandingkan yang lainnya.
To Be Continue...