
Anna yang melarikan diri dari restoran karena malu atas apa yang dialami memilih melarikan diri dan pulang ke rumah sewanya. Awalnya dia ke atap karena ingin mencari angin, tetapi malah Mario menyusulnya dan menarik gadis itu saat dia mencoba meraih sesuatu.
"Apa kau bodoh, hah? Kenapa mencoba bunuh diri hanya karena kata-kata si Brengsek itu?" Keduanya terjatuh ke lantai dengan saling bertumpang tindih.
Anna hanya bisa mengerjapkan mata melihat kemarahan Mario yang menuduhnya ingin bunuh diri di bawah tubuhnya. "Bunuh diri? Siapa yang ingin bunuh diri, Bos?" tanya Anna dengan wajah polos tanpa rasa bersalah karena memang dia tidak berniat melakukan hal itu.
"Bukankah kau naik ke sana karena ingin mengakhiri hidupmu?" tunjuk Mario pada bagian tepi rooftop tempat Anna berdiri tadi.
Wanita tersebut hanya menggeleng dan mengeluarkan seekor kucing dari dekapannya. Suara hewan tersebut mengeong membuat Mario sontak membelalakkan mata sekaligus malu sudah mengira Anna mencoba bunuh diri. "Minggir! Kamu berat."
Ada rasa lega sekaligus malu dalam diri Mario yang berpikir Anna gelap mata, tetapi melihat wanita tersebut hanya berniat membantu seekor kucing. Mario merasa tenang dan tak lagi khawatir.
"Maaf, Bos." Anna segera menyingkir dan langsung melepaskan kucing tersebut dari dekapannya. "Hati-hati ya, jangan naik ke sana lagi."
"Apa kau bodoh?" teriak Mario sedikit kesal pada Anna. Bisa-bisa seorang wanita mengenakan rok selutut naik ke atap hanya demi menyelamatkan seekor kucing.
"Kenapa mengataiku bodoh, Bos?"
"Kucing, walaupun dia jatuh dari langit tetap akan mendarat dengan sempurna di bawah sana. Kenapa kau malah repot-repot membantunya? Bukannya menolong, itu cari mati namanya!" sentak Mario sambil menepuk pakaiannya membersihkan kotoran yang menempel di kain itu karena terjatuh tadi.
"Kalau begitu, kenapa tidak, Bos saja yang mencoba lompat dari sini? Saya ingin melihat apa Anda bisa mendarat dengan sempurna di bawah sana?" tantang Anna pada Mario karena kesal bosnya selalu saja mengatakan dia bodoh. Padahal aslinya dia hanya polos.
"Kau pikir aku ini kucing?" Anna segera menggeleng mendengar penuturan Mario. "Lalu?"
"Anda terlalu tampan kalau jadi kucing, Bos. Kalau pangeran kucing bolehlah," ucap Anna lengkap dengan kekehan kecil di wajahnya.
"Ekhem, kau terlalu banyak mengkhayal!" Mario hanya bisa berdeham menahan senyumnya mendengar pernyataan Anna. Bunga-bunga dalam hati yang sebelumnya mati kini mekar kembali membawa semerbak aroma bahagia yang tak terduga sambil tangannya masih membersihkan pakaian. Sesekali pria tersebut melirik Anna di sampingnya yang kini tampak mempesona di matanya.
"Sini, Bos aku bantu," ucap Anna tanpa malu dan malah menepuk bokong sital Mario.
"Hei! Apa yang kau lakukan, hah?" teriak Mario karena terkejut, melihat Anna yang tampak biasa saja, tetapi berbeda dengannya yang langsung mengingat kejadian semalam dengan jantung yang kembali berpacu tidak karuan.
__ADS_1
"Membantumu membersihkan, Bos."
"Tidak usah," ketus Mario. "Bisa-bisa aku mati karena serangan jantung kalau Anna terus menyentuhku seenaknya saja," batin Mario.
Keduanya kembali terdiam untuk waktu yang cukup lama, sedangkan Anna mencoba duduk di lantai tepi tembok pembatas atap. Pikirannya melayang entah ke mana, sedangkan Mario bergegas ikut duduk di sampingnya.
"Kenapa kau pergi dari restoran itu begitu saja?" tanya Mario dengan lembut karena takut akan menyinggung Anna.
"Apalagi, Bos. Aku malu," ucap Anna sambil menundukkan kepalanya. Anna mengingat kembali bagaimana dia bisa bersama pria itu. Bukan karena mereka saling mencintai, tetapi lebih disebabkan rasa berutang budi.
Anna hanya memanfaatkan uang pria itu karena sudah membantu keluarganya. Ayahnya suka berjudi dan mabuk-mabukan hingga utangnya menumpuk pada rentenir. Hal tersebut tentu saja mengganggu kesehatan ibunya yang terus memikirkan Anna sebagai pundi-pundi kejaran para rentenir yang menagih utang padanya.
Dia sebenarnya juga enggan bekerja di klub malam saat itu, tetapi karena ayahnya yang memaksa Anna harus menurutinya. Demi menjaga diri dari pria hidung belang yang malah menganggapnya sebagai wanita penghibur. Anna memilih menerima pernyataan cinta pria itu. Namun, nyatanya semua juga hanyalah omong kosong belaka dan dia hanya dianggap sebagai sebuah bahan taruhan saja.
Keberuntungan Anna adalah bertemu dengan Jessi malam itu, membuatnya terbebas dari belenggu klub malam serta pria tersebut sekaligus. Dia memberanikan diri keluar dari sana walaupun konsekuensinya akan sulit mendapatkan pekerjaan kembali.
Namun, Anna kembali beruntung, di kala bertemu lagi dengan Jessi dan bekerja di bawah pimpinan Mario. Meskipun Mario juga mengurus klub malam dan perjudian, tetapi karena semua itu berjalan di atas aturan Jessi, tidak ada yang namanya wanita penghibur. Bahkan kesejahteraan karyawan selalu dijaga dan diperhatikan dan yang paling penting, Anna bukan lagi pelayan, melainkan sekretaris CEO datar yang kini berada di sampingnya dengan gaji yang terbilang sangat cukup untuk hidup enak.
"Aku tahu," jawab Mario singkat.
"Anda tahu, Bos?"
Mario hanya mengangguk. "Aku tidak sebodoh dirimu. Apalagi dengan sifat Nyonya Jessi ketika hamil. Kami sangat mengenal dirinya sejak dulu. Entah sudah berapa banyak pasangan yang menikah karenanya."
Pria tersebut menatap jauh awan sambil menghela napas panjang. Tidak terasa bertahun-tahun sudah dia dan adiknya mengikuti Jessi. Entah dalam hal baik, atau buruknya hingga mempertaruhkan nyawa. Namun, semua itu sebanding dengan apa yang mereka dapatkan. Bukan hanya kekayaan pribadi dari hasil bekerja, tetapi juga kesejahteraan sebagai seorang manusia yang dihargai. Hal itu membuat mereka menghormati Jessi lebih dari apa pun.
"Apa kau merindukan kampung halamanmu, Bos?" tanya Anna langsung melihat pikiran Mario yang melayang entah ke mana. Wajah Mario yang jelas bukan keturunan orang negara ini tergambar dengan nyata. Seseorang seperti itu pastinya pendatang, apalagi Maurer pun sama halnya.
Pria itu hanya menggeleng kecil. "Hanya ada kenangan pahit di sana. Bahkan semua tentang Ibuku tinggal tersisa di hati ini." Sejenak Mario kembali menghela napas panjang. "Mungkin aku dan Maurer tidak bisa bertahan hidup sampai sekarang jika tidak bertemu dengan Nyonya Jessi."
Melihat kesedihan yang menumpuk dalam diri Mario, Anna menepuk bahu pria tersebut perlahan. Tidak biasanya dia menceritakan apa yang dirasakan kepada orang lain, bahkan Maurer. Mario selalu memendam semuanya sendirian dalam hati. Hingga kala itu nyawanya hampir hilang lagi jika Jessi tidak segera menyelamatkannya dari rumahnya sendiri di Negara K.
__ADS_1
Mario tersenyum kecil mengingat kebodohannya kala itu. "Nyonya Jessi adalah malaikat bagi kami. Meskipun dia menyuruhmu merayuku dengan cara apa pun, aku hanya bisa membiarkannya. Bagi kami, dia adalah segalanya. Kami menyayanginya lebih dari apa yang kami miliki."
Mendengar penuturan Mario, Anna merasa tersentuh hatinya. Meskipun Jessi selalu berbicara pedas, nyatanya semua bawahannya adalah orang yang setia. Sebagai seorang wanita setangguh itu, tentu saja menjadikan Jessi seorang panutan bagi Anna. Meskipun dia mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan seujung kuku Jessi.
"Apa kalian sudah lama mengikutinya, Bos?"
Hanya anggukan kepala lagi-lagi yang menjadi jawaban atas pertanyaan Anna. "Mungkin saat itu usiamu masih dua puluh tahun. Dia menyelamatkan kami yang melarikan diri dari perdagangan manusia dan merawat kami layaknya keluarga sendiri."
"Apa kau tidak pernah berpikir untuk berkhianat, Bos."
Sebuah sentilan dari jari Mario sontak mendarat tepat di dahi Anna. "Hanya orang bodoh yang tidak tahu diri dan balas budi yang berani mengkhianatinya. Dia terlalu sempurna untuk menerima pengkhianatan seperti itu. Kalau kau berkhianat artinya kau tidak tahu terima kasih."
Anna hanya bisa tersenyum sambil mengelus dahinya yang merah dengan terus menatap Mario di depannya. Baru kali ini Anna melihat betapa cerewetnya bosnya itu. Padahal sebelumnya Mario selalu irit bicara seolah setiap kata mengeluarkan uang.
Namun, benar juga apa yang dikatakan Mario. Hanya orang bodoh dan tidak tahu terima kasih yang bersedia mengkhianati kepercayaan orang sebaik Jessi dan Anna tidak mau menjadi salah satu orang bodoh itu.
"Apa kau merindukan kampung halamanmu?" tanya Mario sambil menoleh pada Anna.
"Tentu saja aku rindu, Bos. Masih ada ibuku di sana, aku selalu khawatir kalau ayah berbuat kasar dan memukulinya nanti. Tapi, dia selalu bilang semuanya baik-baik saja." Wanita tersebut menundukkan kepala mengingat senyum sang ibu yang sudah lama tidak dia lihat. Berbulan-bulan dia hanya bisa menghubunginya lewat telepon tanpa tahu bagaimana kondisi sesungguhnya sang ibu.
"Ayo temui Ibumu!" Tanpa aba-aba, Mario langsung berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Anna hingga wanita tersebut mendongakkan kepalanya.
"Apa Anda serius, Bos?"
Mario yang mengangguk yakin langsung mendapatkan balasan uluran tangan dari Anna. Keduanya pun bergerak menuruni tangga meninggalkan bangunan atap itu dengan wajah berseri layaknya sepasang kekasih yang baru saja saling mengungkapkan cinta.
"Tunggu sebentar, Bos. Aku harus ke rumahku dulu mengambil barang."
"Tidak perlu! Nanti kita cari di jalan."
"Tapi, Bos—" Tidak membiarkan Anna banyak bicara Mario langsung membukakan pintu mobil di samping kemudi, sedangkan dirinya sendiri melangkah memutar dan mengemudikan kendaraan menuju tempat yang akan mereka kunjungi.
__ADS_1
To Be Continue...