Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Mustahil Bersama?


__ADS_3

Beberapa hari berlalu semenjak Damien melamar Jane dengan tak romantis. Bayangan saat itu membuatnya sedikit canggung ketika tinggal satu atap bersama. Meskipun ada Jessi, nyatanya wanita tersebut selalu saja membuat ulah yang malah menjadikannya salah tingkah. 


Kali ini Jane memutuskan untuk berkonsultasi kembali perihal tumor di kepalanya. Dia perlu memastikan dan yakin akan dirinya sendiri barulah menjawab lamaran Damien. Wanita tersebut awalnya ingin menyerah akan kehidupan yang fana di dunia. Namun, ternyata dalam hatinya berkecamuk menginginkan kebahagiaan walaupun hanya sekejap mata, setidaknya dia sudah meninggalkan kenangan indah untuk orang-orang yang dicinta. 


Kali ini, Jane berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan ulang di sebuah rumah sakit terbesar di ibukota Negara X tersebut. Namun, ternyata kehadiran di sana terlihat oleh seorang wanita yang juga tengah memeriksakan kondisi ibunya bersama sang adik. 'Bukankah itu wanitanya Mian,' batin Dove.


"Kamu bawa Mama ke mobil dulu Kakak ada urusan sebentar," ucap Dove kepada adiknya dan segera pergi mengikuti Jane. 


Dia mengernyitkan dahi di kala melihat Jane memasuki sebuah ruang Dokter Spesialis Onkologi. "Bukankah itu spesialis kanker? Siapa yang sakit?" 


Rasa penasaran membuat Dove menunggu wanita tersebut di depan ruangan. Dalam hatinya berharap jika itu sungguh Jane, hingga tak lama kemudian, tampak orang yang ditunggu keluar dari ruang dokter. 

__ADS_1


"Jane," panggil Dove tanpa basa-basi. 


Jane tentu saja terkesiap melihat asisten Damien di dekatnya. 'Apa dia mengikutiku?'


"Bisakah kita bicara sebentar?" ajak Dove yang mendapatkan anggukan dari Jane. 


Keduanya pun melangkah menuju sebuah taman di rumah sakit tersebut. Meskipun dalam hati Dove merasa iba, tetapi dia harus memastikan semua itu dan berharap Jane sungguh sakit parah, sehingga dia bisa memiliki Damien. 


Sesaat kemudian keduanya pun duduk di sebuah bangku bersebelahan. Namun, hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama, hingga suara tegas Jane berhasil mengejutkan Dove. "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?" 


Untuk pertama kalinya, Dove berhadapan langsung dengan Jane, tentu saja membuat wanita tersebut sedikit gugup. Namun, dia segera memberanikan diri. "Apa tadi itu kau yang sakit?"

__ADS_1


Jane hanya mengangguk kecil, sepertinya dalam hatinya punya firasat jika wanita tersebut memiliki inti pembicaraan yang tidak akan mengenakkan. Namun, Jane tetap menanggapinya dengan santai. "Apa yang ingin kau tahu?" tanyanya tanpa basa-basi. 


"Apa kau sungguh terkena kanker?" 


Mendengar pernyataan Dove, Jane hanya tersenyum sinis. "Lebih tepatnya tumor otak."


"Damien tahu tentang hal itu?" Jane hanya menggeleng kecil, tentu saja itu membuat raut wajah Dove menjadi bersemangat. Bukankah lebih mudah memisahkan sepasang kekasih karena penyakit mematikan tersebut, hanya tinggal sedikit provokasi maka dia yakin Jane akan kehilangan percaya diri. "Bisakah kau meninggalkan Mian untukku?" 


"Apa maksudmu?" Jane yang terkejut seketika berdiri dari posisinya dan menatap tajam ke arah Dove. Amarah dalam dirinya seakan berkumpul menjadi satu lengkap dengan kemelut cemburu di kala ada wanita lain yang menginginkan prianya. 


"Aku juga mencintai Damien, Jane! Dengan kondisimu yang seperti ini, mustahil kalian bisa hidup bersama dalam waktu lama." Dove tampak seperti iblis yang mulai memprovokasi manusia. Entah terbuat dari apa hati wanita itu, bukannya iba, tetapi malah menaburkan garam di saat Jane hendak menyembuhkan luka. 

__ADS_1


TO be Continue..


__ADS_2