
Belum genap satu hari pertempuran berakhir. Namun, publik baru saja dihebohkan dengan berita tentang kandidat terkuat Calon Presiden Negara N melakukan banyak tindakan kriminal.
Berita dimuat di berbagai laman, tak hanya mengungkapkan kejahatan para pejabat pemerintah yang saat ini masih berkeliaran bebas. Akan tetapi, juga pencabutan izin Partai Mentari Pagi.
Seluruh jajarannya pun diselidiki dan bukan hanya itu, Jerry Morning serta Barron Night kini masuk ke Daftar Pencarian Orang. Mereka langsung ditetapkan sebagai tersangka kasus kriminal tingkat tinggi atas bukti yang diperoleh.
Kejahatannya tidak bisa dianggap ringan, mereka melakukan pencucian uang melalui dana luar negeri, menjual organ ilegal, melakukan perdagangan manusia, menyelundupkan dan mengedarkan narkoba dalam jumlah tinggi.
Bukan hanya itu saja, Rumah Sakit Bahagia yang dibanggakan sebagai salah satu fasilitas berbiaya ringan untuk masyarakat pun ditutup dan dihancurkan langsung oleh amukan massa. Semua dokter gadungan ditangkap tanpa terkecuali dan para pasien dipindahkan ke Bannerick Hospital, sampai sembuh tanpa harus mengeluarkan administrasi sedikit pun.
Ya, sebelum menyusul anak serta menantunya bertempur, Michael dan Laura lebih dulu mengatur pembalasan dengan mempublikasikan bukti secara langsung melalui semua media cetak maupun elektronik. Sehingga pemerintah tidak lagi bisa mengelak amukan massa yang saat ini geram juga merasa dikecewakan dengan pemerintah.
Di sebuah rumah Kate yang malam itu melihat berita pun merasa geram. Seharian suaminya tidak memberi kabar, begitu juga dengan kakaknya–Jerry Morning.
"Sial! Ke mana mereka!" Kate mengumpat kesal sambil terus mencoba menghubungi keduanya. Namun, hanya sambungan operator yang menjawabnya.
"Akh! Brengsek!" Wanita tersebut membanting ponsel di tangannya dengan keras, hingga hancur berkeping-keping.
Sementara itu, para pelayan di rumahnya malah bersorak ria melihat nasib sang tuan rumah saat ini. Sambil sesekali mengintip Kate yang masih berada di ruang keluarga.
Kater berjalan ke sana kemari sambil menggigit jarinya sendiri. "Tidak, tidak, tidak! Aku tidak lagi bisa mengharapkan mereka. Aku harus segera kabur, iya kabur."
Dia langsung berlari menuju kamar, mengambil sebuah koper besar dan memasukkan semua perhiasan serta barang-barang mewah ke dalamnya. "Aku harus segera pergi dari sini."
Setelah itu wanita tersebut berlari ke bawah dengan tergesa-gesa sambil menyeret kopernya. Namun, sayang semua tinggal rencana, rombongan polisi sudah datang memasuki rumahnya.
"Nyonya!" panggil seorang polisi di lantai dasar.
Melihat hal itu Kate langsung melepaskan koper di tangannya dan kembali berlari ke arah kamar. "Aku tidak bersalah!"
__ADS_1
"Tangkap dia!"
Polisi lantas bergerak menaiki anak tangga, sayang Kate sudah memasuki kamar dan menguncinya dari dalam. "Komandan." Pria tersebut mencoba untuk membuka gagang pintu, tetapi tidak bisa.
"Dobrak pintunya!"
Polisi itu pun mengangguk, lalu mengeluarkan pistol untuk menghancurkan kuncinya tersebih dahulu. Setelah beberapa saat, barulah kamar tersebut busa terbuka dan mereka langsung menyerbu ke dalam. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya saja jendela kamar tersebut sudah terbuka, tirai pun berkibar karena angin malam yang menerpa.
"Sepertinya dia sudah kabur, Komandan." Di kejauhan terlihat seorang wanita tengah berlari menjauhi kediaman Barron Night, mungkin dia adalah Kate yang baru saja kabur.
"Ya sudah. Kita sita tempat ini dan bawa para pelayan sebagai saksi!"
"Siap, Komandan."
Di sisi lain, Kate yang berhasil kabur mencoba berlari sejauh mungkin. Tidak ada satu pun kendaraan yang berhenti ketika tangannya melambai meminta tumpangan. Hingga membuat wanita itu kesal karena harus terus berjalan.
"Sial sekali hidupku. Tidak, tidak, tidak! Aku tidak boleh seperti ini. Aku akan mendatangi teman-temanku, mereka pasti mau membantuku, ya pasti." Kate pun lantas bergerak mengunjungi rumah teman-teman sosialitanya selama ini.
"Tidak! Itu fitnah! Suamiku bukan orang yang seperti itu!" Kate berteriak dan mengamuk, dengan penampilannya yang kacau orang-orang hanya melihat wanita tersebut sebagai orang gila dan tidak menanggapinya.
____________
Di lain tempat, setelah selesai dengan urusannya menangkap Jerry, Damien lekas menyusul ke rumah sakit. Dia melihat Jane yang masih belum sadarkan diri dengan ditunggu oleh Alex.
"Paman."
"Kau sudah tiba?" Pria tersebut berdiri dari posisi duduknya sambil melihat wajah lelah keponakannya itu.
"Bagaimana kondisinya?" Damien melihat wajah Jane yang masih pucat dengan perban di pipinya, mungkin akibat luka yang dia dapatkan tadi.
__ADS_1
"Masih belum sadarkan diri. Kau tunggulah dulu! Aku akan melihat Jessi sekejap."
Alex mulai melangkah keluar sedangkan, Damien mendekat ke arah Jane. Sesuatu bergejolak dalam dirinya, hatinya sakit melihat wanita yang berhasil mencuri cintanya terbaring lemah. Namun, dendam kepada Jerry masih melekat dalam jiwanya.
Pria tersebut menggenggam tangan Jane dan meletakkan di pipinya. "Maafkan aku."
Hanya kalimat itu yang mampu Damien ucapkan. Awalnya dia berusaha mendekati Jane setelah mengetahui jika wanita tersebut adalah keturunan Jerry Morning, sehingga mengira bisa membalaskan dendam keluarganya dengan menyakiti wanita itu.
Namun, hal yang tak pernah dia duga, ternyata Jane begitu menyayangi adiknya hingga mampu melawan ayahnya sendiri. Di situlah Damien merasa bersalah karena telah memanfaatkan wanita itu sebagai sarana pembalasan dendam dan bukan disebabkan menyukainya sejak awal.
Akan tetapi, perhatian palsu itu telah tumbuh dan bersemi, memekarkan bunga cinta di dalam hatinya. Namun sayang, sepertinya niat itu sudah terbaca oleh Jane, sehingga wanita tersebut selalu menolaknya.
"Eugh." Jane melenguh ketika kesadarannya mulai berkumpul, sambil perlahan membuka kelopak matanya.
"Jane, kau sudah sadar?" Dengan panik Damien memencet intercom.
Sementara itu, Jane yang sadar akan situasi saat ini seketika memegang kuat tangan Damien. "Bagaimana kondisi Jessi dan Nenek Amber?" Hanya itu pertanyaan pertama yang langsung membuat wanita tersebut merasa khawatir.
"Jane, tenanglah! Mereka juga di rawat di rumah sakit ini?"
Wanita tersebut langsung menatap tajam ke arah Damien. "Apa terjadi sesuatu yang buruk dengan mereka?"
"Tenanglah dulu!"
"Aku tanya apa terjadi sesuatu yang buruk dengan mereka!" Jane langsung mengamuk dan berteriak keras, hingga terdengar deru napas naik turunnya. Wanita tersebut tidak memedulikan kondisinya sendiri yang masih lemah.
Namun, ingatan tentang kedua kesayangannya yang terluka membuat wanita tersebut kehilangan kendali diri seketika. Sementara itu, Damien hanya bisa menahan Jane yang ingin beranjak pergi dari ranjang dan tidak menjawab pertanyaan Jane.
"Jerry sialan! Jangan bilang kau tak bisa menangkapnya!" Jane mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan Damien dengan kuat. Sorot amarah membuat mata wanita itu merah karena emosinya.
__ADS_1
"Aku sudah menangkapnya, sekarang tenanglah!"
To be Continue...