
Hidup dan mati hanya berjarak satu tarikan napas. Kebanggaan atas kekuasaan yang didapatkan di dunia yang mustahil untuk dia gengam hanya akan menjadi butiran debu beterbangan di kala nyawa sudah tak lagi bersatu dengan raganya. Penyesalan terasa begitu menyakitkan ketika malaikat sudah menanti di depan mata. Hanya ada kepasrahan di saat jiwa itu melayang meninggalkan segala sesal yang kini terasa tidak berarti.
Meskipun semasa hidupnya Jerry Morning begitu jahat, tetapi kematiannya sanggup membuat orang lain menangis karenanya. Bukan disebabkan rasa kehilangan, melainkan iba terhadap nasib putrinya yang menanggung semua beban dan menyalahkan diri sendirian.
Cukup lama Jane dan Jessi terduduk di ruangan itu dengan saling berpelukan dalam derai air mata. Entah berapa banyak buliran sebening embun mengalir, hingga membasahi pipi keduanya. Mereka melepaskan segala beban dan dendam yang tersisa di hati. Sumber dari semua rasa sakit serta masalah sudah tak ada lagi, kehadirannya bahkan tidak menyisakan kenangan indah untuk mereka ingat.
Setelah merasa sedikit tenang, Jane berdiri dari posisinya serta melepaskan pelukan sang adik dan mengusap air mata di pipinya. Dia melangkah mendekati Olivia, menyerahkan jantung tersebut di tangan wanita itu. "Bakar tubuhnya dan berikan abunya padaku! Masukkan benda ini ke dalamnya seperti ini!"
Tatapan kosong terlihat jelas di wajah Jane, membuat Olivia hanya bisa mengangguk dengan perintahnya, sedangkan dari belakang Jessi mencoba untuk memanggilnya karena khawatir melihat kondisi kakaknya.
"Jane."
"Aku ingin sendiri, lanjutkan apa yang seharusnya kau lakukan!" Jane hanya tersenyum menatap adiknya, lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan lokasi itu dengan langkah gontai tanpa menoleh ke belakang.
Tidak ada satu pun manusia yang tahu bagaimana perasaannya saat ini. Hancur pasti, kecewa iya, marah, terluka, benci, tetapi tetap ingin menangis ketika melihat pria itu meregang nyawa di tangannya sendiri.
Jessi dan yang lainnya hanya bisa menatap langkah Jane yang semakin menjauh dengan guratan iba. Mereka mengerti semua ini bukanlah hal mudah bagi wanita tersebut untuk menghukum ayahnya sendiri.
"Nona." Olivia mendekat ke arahnya dengan memerlihatkan organ di tangannya. "Apa yang harus kita lakukan?"
Wanita tersebut hanya bisa menoleh, menatap gumpalan organ dalam tubuh manusia di tangan Olivia dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Haruskah dia tersenyum melihat kematian Jerry Morning saat ini.
Nyatanya bibir Jessi tak sanggup untuk melengkung di kala melihat betapa hancurnya hati sang kakak. Dia pun sama halnya menahan rasa sesak di dalam dada yang cukup menekannya. "Lakukan seperti apa yang dia perintahkan! Setelah itu, kau urus Johny! Lakukan apa pun yang kau inginkan!"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Jessi hendak melangkah pergi. Namun, kakinya kembali terhenti, meraih sesuatu di dalam sakunya. "Suntikkan ini kepada Brian!" Dia memberikan cairan dalam sebuah botol kepada Olivia, hadiah dari suaminya pagi tadi.
Kini wanita tersebut sudah rela para musuh mati dengan cara yang sama seperi apa mereka hidup. Bukankah masih ada keadilan di dunia lain. Jessi tidak ingin tertawa di atas penderitaan Jane. Biarlah semua cukup sampai di sini.
Langkahnya pun ikut meninggalkan markas dan bergerak menuju garasi. Pikiran wanita tersebut melayang entah jauh ke mana. Rasa bahagia menghabisi musuh nyatanya tak bisa dia dapatkan ketika ada saudaranya yang terluka karena hal itu.
Dia ingin mengendari motornya, tetapi perut Jessi sudah mulai mengembang, bisa saja tertekan bagian depan kuda besi itu. Untuk sesaat wanita tersebut tersenyum sambil mengelus gundukan tempat janin-janinnya tumbuh dan berkembang.
"Kalian ingin bertemu daddy, Sayang?" Entahlah di saat seperti ini Jessi malah teringat akan suaminya yang baru saja mulai bekerja di kantor. "Seperti Mommy harus membawa kalian untuk menemui Daddy. Ayo!"
Jessi pun lekas mengambil salah satu kunci mobil dan bergerak mengendarai menuju gedung Bannerick Gruop. Hormon kehamilan membuat suasana hatinya mudah sekali berubah-ubah. Kadang dia kejam dan ingin menindas orang lain, adakalanya tiba-tiba sedih tak tahu waktu. Namun, satu hal yang pasti, Jessi selalu ingin di dekat suaminya sejak wanita tersebut sadarkan diri.
Setelah beberapa saat Jessi mengendarai mobilnya, dia pun tiba di gedung Bannerick Gruop. Seperti biasa para karyawan menyapanya dengan senyum ramah.
"Nyonya," sapa resepsionis wanita yang cukup lama tidak berjumpa dengannya.
"Ada, Nyonya. Sepertinya sedang bersama klien."
"Baiklah, aku pergi dulu." Jessi pun melangkah pergi menuju ruangan suaminya. Entah mengapa mendadak suasana hatinya kembali berubah, bahkan dari dalam lift dia sudah mencium aroma parfum wanita yang membuat wanita tersebut kembali mengeluarkan taringnya.
Langkah Jessi semakin cepat menuju ruangan sang suami dan langsung membuka pintu tanpa mengetuknya. Tindakannya membuat empat orang di dalam ruangan tersebut terkejut melihat kehadirannya.
"Sweety, kau datang." Nich langsung meletakkan berkas di tangannya ke atas meja dan melangkah mendekati istrinya. "Kenapa tidak mengabariku jika ingin kemari!" ujarnya sembari memeluk tubuh sang istri untuk sesaat.
__ADS_1
"Apa aku tidak boleh datang?" Nada sinis Jessi membuat Nich tersenyum kecil melihat tingkah istrinya.
"Bukan begitu, Sayang. Kalau kau bilang ingin kemari 'kan aku bisa menjemputmu."
Jessi tak mengindahkan perkataan Nich, pandangannya mengedar, menelisik setiap orang di ruangan tersebut. Matanya berhenti di kala menatap sosok wanita seksi berbalut pakaian mini, menampakkan lekuk tubuh serta body goals yang bisa membuat lelaki berhasrat, meskipun hanya sekedar melihatnya sekilas.
"Apa kalau aku bilang akan datang kau akan menyembunyikannya?" Jessi menatap tajam ke arah sang suami, sedangkan Nich mengerutkan dahi melihat wajah merah padam sang istri.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Nich.
"Tuan, apa kita bisa melanjutkan pembahasan ini?" Wanita di belakang tiba-tiba saja menyela obrolan sepasang suami istri tersebut, membuat Nich menyadari apa yang membuat istrinya mendadak seperti macam kelaparan.
"Kerja sama kita batalkan!" Suara tegas Nich tanpa menoleh ke arah mereka membuat kedua tamunya terkejut dengan ucapan pria tersebut, kecuali Willy tentunya yang sudah hafal tabiat sang bos ketika bersama istrinya.
"Apa maksud Anda, Tujuan Nich?" Pria di belakangnya langsung berdiri dari posisinya dengan wajah merah padam. Begitu pula wanita seksi di sampingnya yang merupakan sekretaris lelaki itu.
Sejenak Nich mengembuskan napas kasar, lalu menoleh dengan tajam ke arah mereka hingga sorot matanya terlihat begitu mengerikan. "Silakan revisi ulang berkas Anda! Setelah itu datang lah lagi! Saya tidak mau membuang waktu untuk membaca dokumen yang sangat buruk penyampaiannya!"
Perkataan Nich sukses membuat mereka membelalakkan mata. Secara tidak langsung dia ingin mengatakan jika pengajuan mereka sangat buruk dan tidak layak untuk bekerja sama dengan Bannerick Gruop.
"Ah, saya sarankan agar Anda mengganti sekretaris yang lebih kompeten. Agar dia bisa bekerja menggunakan otak bukan tubuhnya. Silakan keluar, pintu terbuka lebar!" ujar Nich ketus.
Kalimat pedas Nich berhasil menyulut emosi wanita itu. Dia pun segera mengambil tasnya dan beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut tanpa menunggu tuannya yang masih termangu di belakang.
__ADS_1
"Permisi!" Dia menghunuskan tatapan tajam tepat di samping Jessi, membuat wanita itu hanya tersenyum mengejek melihatnya.
To Be Continue..