Dangerous Woman Jesslyn

Dangerous Woman Jesslyn
Bagaimana Caramu Bertanggung Jawab?


__ADS_3

Maurer yang melangkah cepat-cepat keluar dari rumah sakit untuk mencari taksi tiba-tiba saja dikejutkan oleh suara klakson sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di depannya. Gadis itu terjingkat sambil memegang dada dan mengumpat kesal karena terkejut. "Sialan!"


Hingga sedetik kemudian, kaca pintu mobil bagian depan diturunkan menampakkan sosok yang belum lama berpisah dengannya tadi. "Masuk," suruh Ben ketika melihat Maurer berdiri dengan keheranan. 


"Kenapa Anda di sini? Lalu siapa yang menunggu Rey?" tanya Maurer sedikit membungkukkan tubuh, tetapi tak berniat masuk dan kembali menoleh ke kanan serta kiri. 


"Cepatlah! Aku juga terpaksa mengantarmu karena ini permintaan Rey. Anggap saja sebagai terima kasih karena sudah menemaninya semalaman" ujar Ben menjadikan putranya alasan. 


Mau tidak mau, Maurer hanya bisa mencebikkan bibir lalu hendak membuka pintu bagian belakang. Namun, dihentikan kembali oleh suara bariton Ben. "Duduk depan! Aku bukan supirmu," sentaknya.


"Kalau tidak berniat menjadi supir, kenapa menawarkan tumpangan?" gerutu Maurer sambil berpindah posisi duduk di samping kemudi dengan wajah kesal.


Ben mulai mengemudikan mobilnya melalui jalan semalam, sedangkan Maurer mencoba menghubungi Jessi, tetapi cukup lama tak kunjung diangkat juga. "Ke mana mereka?" Dengan kesal dia pun akhirnya menghubungi  Anna, sekali tak ada jawaban. Dua kali juga tak ada jawaban. Hingga kali ketiga barulah wanita tersebut mengangkat panggilannya. 


"Di mana kamu?" tanya Maurer tanpa basa-basi pada Anna di ujung panggilan. 


"Rumah." Suara serak khas bangun tidur membuat Maurer mengira Anna mungkin tengah berada di rumahnya. "Apa Nyonya bersamamu?" 


"Tidak."


"Ya sudah." Maurer lantas mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Anna. "Antarkan aku ke kediaman Light!" ujar Maurer pada Ben tanpa basa-basi. 


Ben hanya mengangguk, sejenak dia mencerna setiap kalimat yang didengar dari Maurer. Pagi tadi gadis itu mengatakan jika majikannya sanggup membunuh kalau terlambat, baru saja Maurer menyebutkan seseorang dengan kata 'Nyonya'. Mungkin Maurer hanyalah seorang pelayan di kediaman Light, pikir Ben. 


Di sisi lain, Anna yang terbangun karena telepon dari Maurer baru mulai mengerjapkan mata mengumpulkan sisa kesadaran. Hingga sedetik kemudian, kedua bola matanya membulat sempurna merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya. Bukankah ini sedang di rumahnya, pikir wanita itu.

__ADS_1


 "Setan!" teriak Anna tanpa melihat siapa yang berada di belakang sambil menggulingkan diri ke bawah ranjang lengkap bersama selimutnya.


Namun, alangkah terkejutnya dia ketika melihat siapa pria yang tengah mengucek mata karena mendengar bising suara cemprengnya. "B–bos." 


Dia seketika membelalakkan mata hingga membulat sempurna menatap Mario di atas ranjang tanpa busana lengkap dengan kejantanan yang tegak sempurna. Anna pun mengintip penampilannya sendiri di balik selimut yang rupanya sama seperti atasannya itu. "Apa yang terjadi?" ucap Anna lirih pada dirinya sendiri.


"Kau ini kenapa? Pagi-pagi sudah ribut. Apa kau tidak tahu aku terlalu lelah membantumu sampai pagi tadi?" gumam Mario yang masih mengantuk dan bukannya bangun, tetapi malah mengubah posisi menjadi tengkurap. 


"Me–membantu? A–apa yang sudah kita lakukan, Bos?" tanya Anna sambil terbata karena tidak percaya jika mereka sungguh berbuat seperti itu. 


"Pikirkan sendiri! Kau pasti mengingatnya," ucap Mario sambil meraih bantal di samping untuk menutupi bokong sintalnya. 


Anna mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Namun, mustahil untuk dia ingat karena memang ingatan terakhirnya di saat Jessi meninggalkannya. Berulang kali wanita tersebut menggelengkan kepala sambil memukul layaknya televisi rusak tidak menemukan jaringan yang harus dipukul terlebih dahulu. 


"Ayo ingat! Ayo ingat!" gumam Anna berulang kali memukul kepalanya. 


Keduanya saling terdiam untuk beberapa saat. Angin pagi yang berembus mengibarkan bulu mata lentik Anna yang tak pernah Mario bayangkan sebelumnya. Mungkin benar kata orang, wanita paling cantik ketika bangun tidur. Karena belum ada sedikitpun polesan bahan kimia di wajahnya. 


Anna sama halnya. Dia hanya terdiam menatap terpesona wajah Mario di depannya. Di saat pria lain di negara ini memiliki bulu halus di dagu dan terkenal punya karakter wajah yang disukai banyak wanita karena terkesan maskulin dengan rahang tegas, tatapan mata tajam, beralis tebal, dan rambut wajah yang semakin mempertegas kelelakian mereka. Membuat para wanita yang suka pria yang manly dan hairy, pria-pria asal negara ini pasti jadi idaman. Belum lagi dada bidang mereka yang seakan mampu memberi perlindungan.


Akan tetapi, Mario? Daripada kesan tampan yang maskulin, karakter wajah tampan pria itu lebih berkesan lembut, awet muda, pretty dan flawless. Sejenak Anna tertawa kecil, melihat wajah Mario yang bahkan lebih lembut darinya. Meskipun pria itu sangat cuek bebek dan selalunya terkesan formal.


"Kenapa kau tertawa?" sentak Mario melihat Anna dengan wajah datarnya karena dia terkekeh sejak tadi. 


"Em, i–itu. Apa kita?" tanya Anna dengan berbata penuh kekhawatiran. Dia masih bingung apakah mereka benar-benar melakukan hubungan badan atau tidak.

__ADS_1


Melihat kebingungan dalam diri Anna membuat Mario menyeringai dalam hatinya dan berniat mengerjainya, setelah semalam berani merayunya. "Memangnya apa yang bisa dilakukan pria dan wanita berdua, di kamar, semalaman, dengan tubuh polos pagi harinya?" tanyanya sambil menaikkan salah satu alis seolah mengatakan sesuatu yang ambigu.


Anna sontak membulatkan matanya dengan rasa tak percaya. "Tidak mungkin," ucapnya tanpa sadar karena pikiran yang melayang entah ke mana. 


"Kenapa tidak mungkin? Aku juga pria normal." Kalimat ambigu Mario semakin membuat tubuh Anna terasa lemas. Pandangannya turun ke bawah di mana dada bidang Mario terpampang jelas di depan matanya. Pikiran Anna seketika melayang membayangkan di saat keduanya bergumul panas di ranjang itu. 


Tanpa sadar Anna malah tersenyum-senyum sendiri membayangkan hal itu, membuat Mario mengerutkan dahinya berlapis-lapis. Bisa dipastikan Anna membayangkan hal yang tak seharus karena rona merah mulai muncul di pipinya.


 "Apa yang kau pikirkan, Bodoh?" Sentilan keras jemari Mario di dahi Anna seketika menyadarkan wanita tersebut dari lamunannya. 


Anna yang tersadar langsung menarik diri ke belakang sambil memegang selimut yang menutupi tubuhnya semakin erat. "Bos, kau harus tanggung jawab! Aku tidak mau tahu! Berani-beraninya kau mengambil keperawananku! Bagaimana kalau nanti aku hamil? Aku tidak mau anakku lahir tanpa ayah. Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan. Bagaimana menjelaskannya nanti pada Ibu? Ah, haruskah aku menggugurkan kandunganku?" cerocos Anna berakhir dengan Mario yang langsung menjumput bibirnya yang sudah monyong sejak tadi tanpa henti. 


"Sudah cukup berandai–andainya! Seharusnya aku yang meminta pertanggungjawaban karena dirimu sudah berani mengambil keperjakaanku. Sekarang katakan padaku! Bagaimana caramu ganti rugi?" 


Anna hanya terdiam karena mulutnya yang masih terkunci. Sesaat kemudian, Mario melepaskan jarinya dan keluarlah sebuah kata dari mulut Anna. "Tidak mungkin," ucapnya tak percaya. 


"Apa yang tidak mungkin? Kau bahkan memperkosaku di kamar mandi. Apa kau sama sekali tidak ingat?" ujar Mario dengan nada sedikit tinggi. 


Sejenak Anna mencoba menerka-nerka. Benarkah yang dikatakan atasannya itu? Hingga sedetik kemudian sebuah bayangan di mana dia menarik dan mencium paksa Mario di kamar mandi membuat Anna semakin lemas. "Benarkah aku memperkosamu, Bos?" 


Mario mengangguk cepat, luruh sudah tubuh Anna dilantai melihatnya pengakuannya. "Mampus aku, apa yang sudah aku lakukan," gumam Anna seorang diri mengingat betapa bodohnya dia malam tadi. 


Anna semakin menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang menutup wajah. Ingin sekali rasanya dia menghilang saat ini juga dan bersembunyi di lubang semut agar Mario tak menemukannya.


Namun, sedetik kemudian, Mario berdiri dari posisinya. "Aku tunggu pertanggungjawabanmu dan ingat! Jangan berpikir untuk melarikan diri membawa benihku." Dia melangkah menuju kamar mandi sambil terkekeh, meninggalkan Anna yang masih tercengang pada setiap kalimatnya. 

__ADS_1


To Be Continue..


__ADS_2