
"Jessi! Moon mau melahirkan apa kau tidak ingin melihatnya? Malam pertama bisa dilakukan besok lagi." Mendengar teriakan Jane yang mengatakan kucingnya akan segera melahirkan membuat Jessi seketika mengenakan kembali pakaiannya, hasrat melayani suami entah pergi ke mana dalam sekejap mata.
Dia bergegas berjalan keluar kamar dengan senyum mengembang lebar di wajah cantiknya. "Benarkah! Apa kau sudah menghubungi Dokter Vincent"
Jane menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu ayo cepat!" Jessi langsung menarik kakaknya melangkah pergi meninggalkan kamar.
Hal tersebut sontak membuat Nich melebarkan mata, melihat dirinya yang diacuhkan di saat rudal rusia sudah berhasil diaktifkan. Sementara sang perempuan pengganggu kembali menoleh ke belakang, menjulurkan lidah sebagai tanda mengejek kepada pria yang gagal melepaskan keperjakaannya tersebut.
Nich yang merasa frustasi mengusap kasar rambutnya, kemudian membanting pintu kamar dengan keras dan berjalan kembali ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin. "Malangnya nasibmu, Boy! Niatnya mau tahan lama malah bersolo karir." Dia mencoba menonaktifkan kembali rudal rusia yang membuat kepalanya terasa pening karena hasrat yang tak tersalurkan.
"Tenang saja, Boy. Besok kita siapkan tempat besok agar kau bisa segera masuk ke lubang neraka tanpa hambatan dan pengganggu." Nich semakin mendinginkan suhu air, ramuan dari ibunya benar-benar mujarab. Rudalnya yang aktif sangat sulit untuk ditaklukkan, sayangnya dia mengalami nasib naas karena kucing Jessi yang melahirkan di waktu yang tidak tepat.
Setelah beberapa saat di kamar mandi, barulah Nich keluar dengan tubuh menggigil karena terlalu lama menonaktifkan rudal. Dia bergegas mengenakan pakaian yang sudah di siapkan istrinya tadi, lantas bergerak menyusul Jessi ke tempat para harimau. Meskipun, pria itu kesal, tetapi melihat wajah cantik istrinya membuat amarah dalam jiwanya seketika luruh.
Sang istri yang sudah ada di bawah sejak tadi mengelus perut Moon yang mengalami kontraksi, harimau itu mengaum kesakitan akibat pembukaan yang dia rasakan. Ternyata ketika seekor hewan melahirkan tak jauh berbeda dengan manusia. Mereka tetap harus berjuang demi mengeluarkan bayi yang ada dalam kandungannya.
Tak lama kemudian, suaminya datang menghampiri dengan senyum yang mengembang di wajahnya. "Apa dia yang mau melahirkan?"
Jessi mengangguk, Moon adalah seekor harimau betina putih yang sudah mengandung selama tiga bulan lamanya. Sejak ditemukan di halaman belakang hari itu.
Harimau yang lain hanya bisa menyaksikan keluarga mereka yang kesakitan. Mereka mengaum bergantian, seolah mengerti apa yang dirasakan oleh Moon.
"Sabarlah! Sebentar lagi dokter datang." Jessi terus mengelus perut Moon yang merintih kesakitan. Hingga beberapa saat kemudian, terlihat Dokter Vincent berlari tergesa-gesa menghampiri mereka. "Kenapa kau lama sekali?"
"Maaf, Nona. Saya sudah berusaha secepat mungkin." Dokter Vincent menjawab dengan napas yang terengah-engah akibat berlari tadi.
"Cepat periksa dia!" Jessi berdiri dari posisinya membiarkan sang dokter melakukan tugas.
Dokter Vincent lantas memeriksa kondisi fisik harimau putih yang terus menerus mengaum kesakitan tersebut. "Nona, kondisinya masih bagus untuk melahirkan, kita hanya bisa menunggu hingga bayi-bayi hari mau itu keluar."
"Bayi-bayi?" Jessi mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Dokter Vincent. "Bukankah itu berarti anaknya lebih dari satu?"
"Iya, Nona. Sepertinya dia akan melahirkan dua anak harimau."
"Benarkah!" Jessi terlihat begitu senang mendengar ucapan Dokter Vincent. Namun, sedetik kemudian, dia merasa sedih mendengar Moon yang mengaum kesakitan karena kontraksi. "Tapi, tak bisakah dia melahirkan secara caesar saja?"
Nich menyentil dahi istrinya. "Kau pikir dia manusia, Sweety?"
__ADS_1
"Nich, sakit." Jessi mengerucutkan bibir sambil mengelus dahinya yang merah akibat sentilan sang suami.
Pria itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu istrinya. Sudah dikatakan jangan mengerucutkan bibir di depan laki-laki lain, masih juga melakukannya. Jika saja bukan kondisi darurat, pasti dia akan langsung melahap Jessi hingga puas.
"Kita hanya bisa menunggu, Nona. Selama tidak ada kondisi darurat, semua akan baik-baik saja hingga bayi-bayi harimau itu lahir." Dokter Vincent mencoba untuk menjelaskan, proses melahirkan seekor hewan memang tidak bisa melalui operasi layaknya manusia, kecuali dalam kondisi tertentu.
"Baiklah, kau tetap berjaga di sini." Jessi kembali mengelus perut Moon. "Cepatlah keluar, Baby! Kasihanilah ibumu yang berjuang dengan kesakitan demi mengeluarkanmu."
Sepanjang malam Jessi setia menunggu harimaunya yang sedang berjuang dengan ditemani oleh Nich, Jane, dan Dokter Vincent. Mereka semua menantikan kelahiran sang bayi kembar pertama di kediaman Light.
Suara auman harimau yang meringis kesakitan terdengar sepanjang malam, hingga hampir pagi menjelang barulah terlihat kepala seekor bayi kucingnya mulai terlihat.
Dokter Vincent membantu jalannya proses melahirkan hingga selesai. Dua ekor harimau putih berhasil keluar dari zona nyaman di perut induknya. Mereka terlahir dengan sehat dan selamat. Sementara Moon masih terlihat begitu kelelahan.
Jessi yang melihat hal tersebut merasa terharu, dengan dipeluk oleh suaminya wanita itu menitihkan air mata. Melihat proses berjuang seekor induk harimau melahirkan bayi mereka membuatnya merasa iri.
"Sssttt, tenanglah, Sweety! Lihatlah cucu-cucumu yang lucu itu! Apa kau tak ingin menggendong mereka, hmm?" Nich mengelus lembut punggung sang istri dengan lembut.
Perkataan Nich sukses membuat Jessi menghentikan tangisnya. Dia mendekati anak harimau yang sudah selesai dibersihkan darahnya.
Binatang mungil itu belum kuat untuk berdiri tegak sementara. Jessi menggendong salah satunya dan menciumnya. Sementara yang satu lagi dipegang oleh Jane.
"Bayi yang kau pegang itu jantan, dan yang dibawa Jane betina."
"Kalian kembar dampit. Aku akan memberimu nama Light. Jane apa kau ingin menamakannya Stephani juga?" Jessi menautkan hidungnya dengan moncong bayi harimau tersebut.
"Boleh, kau milikku, Stephani," ujar Jane.
Setelah melihat para harimau sudah tenang dan dalam kondisi yang baik, mereka lantas kembali beristirahat, tak terasa matahari sudah mulai menampakkan sinar hangatnya. Menandakan bahwa padi hari telah tiba.
Dokter Vincent pun lantas berpamitan karena tugasnya sudah selesai. "Kalau begitu saya permisi dulu, Nona, Tuan."
Nich merogoh saku celananya. "Nah, anggap sebagai hadiahmu sudah berhasil membantu kelahiran cucu kami!" Dia memberikan Dokter Vincent sebuah cek kosong hanya berisikan tandatangannya.
"Tuan, ini." Dokter Vincent melongo seakan dibuat tak percaya dengan apa yang dia terima.
__ADS_1
"Kau pantas mendapatkannya." Nich menepuk bahu Dokter Vincent lantas bergegas memasuki kediaman bersama Jessi.
"Terima kasih Tuan, Nona." Dokter Vincent tidak menyangka jika kedua pasangan ini sangatlah royal sekali. Dahulu saja Jessi sudah memberinya hadiah yang lebih dari dari gajinya setahun. Kini, suaminya juga bersikap seperti itu. Apakah di kehidupan yang lalu aku berjasa pada negara?
Sementara Jessi yang memasuki kamar lantas merebahkan dirinya di ranjang karena rasa kantuk yang membuat matanya terasa berat. Nich yang melihat istrinya tertidur tengkurap dengan kaki yang menggantung membenarkan posisinya.
Nich membalikkan tubuh wanita itu dengan lembut meluruskan kaki Jessi, lalu menyelimuti sang istri hingga ke atas dadanya. Jessi sebenarnya belum terlalu terlelap, tetapi dia membiarkan sang suami melakukan hal tersebut.
Ketika Nich hendak berdiri dari posisinya Jessi mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. "Sayang, maafkan aku semalam."
"Akhirnya kau masih ingat juga, Sweety." Dia lalu mengecup bibir ranum Jessi sejenak. "Istirahatlah! Kau terlihat sangat lelah, kita lanjutkan kegiatan yang tertunda nanti malam."
Jessi mengangguk. "Apa kau akan ke kantor hari ini, Suamiku?"
Nich mengiyakan pertanyaan istrinya. "Aku ada rapat dengan para pemegang saham pagi ini. Nanti setelah beristirahat datanglah ke sana! Kita ke laboratorium untuk menjenguk Mario."
"Benarkah!" Jessi merasa begitu senang mendengar Nich yang akan mengajaknya ke laboratorium yang sudah lama membuatnya begitu penasaran. "Haruskah aku menyiapkan pakaianmu pagi ini?"
"Istirahatlah saja! Aku masih bisa melakukannya sendiri, Sweety?" Dia kembali mengecup seluruh wajah istrinya. "Tidurlah! Aku akan mandi dulu."
Jessi mengangguk patuh dan melepaskan tangan yang melingkar di leher suaminya, lantas memejamkan mata. Rasa kantuk yang mendera membuatnya tak butuh waktu lama untuk segera terlelap.
Sementara Nich, setelah melihat istrinya yang terlelap lantas membersihkan diri di kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Setelah selesai dia kembali mencium sang istri sebelum berangkat. "Aku mencintaimu, Sweety."
Dia bergegas turun ke bawah, membiarkan istrinya beristirahat. Ketika menuruni tangga, terlihat di ruang makan sudah ada Nenek Amber, Maria, dan juga Patricia.
"Kau mau berangkat, Nak?" ujar Nenek Amber.
"Iya, Nek. Aku ada meeting penting hari ini."
"Sarapan dulu, Nak."
"Nanti saja di kantor, Nek. Aku buru-buru." Nich berpamitan pada Nenek Amber selayaknya apa yang dia lakukan kepada Laura. Pria itu bergegas pergi ke garasi untuk mengambil mobilnya.
Sementara Patricia masih merasa canggung dengan Nich, mengingat dahulu dia pernah memperlakukan istrinya dengan buruk. Namun, kini Jessi malah menganggapnya sebagai keluarga.
TBC.
__ADS_1
Moon, Light, dan Stephanie.