
Hangat sinar mentari menerangi sepasang pengantin baru yang masih bergelut di balik selimut. Entah pukul berapa keduanya baru terlelap setelah kelelahan menghabiskan malam panjang yang terasa singkat itu.
Hanya mereka yang tahu bagaimana bahagianya bisa bersatu setelah berpisah sekian lama dan hanya memikirkan kemelut dendam yang tak ada habisnya. Beruntung cinta mengalahkan segalanya, hingga kini takdir merestui keduanya.
Jane semakin mengeratkan pelukan di dada bidang suaminya di kala merasakan cahaya mentari mulai mengintip menyilaukan mata. Sementara itu, Damien hanya bisa lebih tinggi dalam menyelimuti sang istri sambil mengecup pucuk kepalanya perlahan dan kembali mengeratkan dekapan, di mana tangan pria tersebut digunakan sebagai bantal oleh istrinya.
Akan tetapi, tak lama kemudian, suara dering ponsel di atas nakas membuat Damien segera meraih benda pipih tersebut dengan malas.
"Hello," ucapnya setelah mengangkat panggilan.
Untuk sejenak ketika mendengar jawaban dari seberang Damien langsung membuka matanya dengan sempurna. Namun, secepat kilat wajah Jane di depannya membuat pria itu mengernyitkan dahi di saat menyadari sesuatu. "Biar Jessi yang mengurusnya nanti! Kau bantu dia, ada apa-apa cari dia di rumahku dan jangan menghubungiku dalam tiga hari ini!"
Tanpa membuang waktu, Damien segera mematikan sambungan dan mengirim pesan singkat kepada adiknya, tak lupa pula dia menonaktifkan ponsel agar tidak lagi di ganggu.
__ADS_1
Setelah semua urusan itu selesai, pria itu lantas bangun dari posisinya dan sejenak membungkuk untuk mengecup bibir sang istri. "Sayang, bangun!" ucap Damien dengan lembut.
"Aku masih mengantuk, Mi." Bukannya membuka mata Jane malah menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya di kala merasakan semilir angin pegunungan dan sejuknya embun pagi menyapa kulitnya.
Damien hanya bisa menggeleng kecil melihat tingkah istrinya, lalu beranjak membersihkan diri dan menyiapkan roti juga susu untuk menu sarapan keduanya.
"Sayang, bangun! Sarapan dulu! Masih banyak agenda yang harus kita kerjakan hari ini." Damien meletakkan menu sarapan mereka di atas ranjang sambil mencoba membangunkan istrinya secara perlahan.
"Air Terjun."
"Benarkah!" Mendengar kata air terjun, Jane seketika bersemangat hingga lupa jika dia tidak mengenakan pakaian sama sekali.
Damien hanya bisa menelan ludah dengan susah payah ketika melihat aset berharga sang istri melambai-lambai meminta digerayahi. "Haruskah kita membatalkannya saja?"
__ADS_1
"Tidak! Tunggu sebentar!" Jane hendak beranjak dari posisinya dan melangkah pergi, tetapi dengan cepat Damien meraih tangannya hingga wanita tersebut langsung duduk di pangkuan suaminya.
"Kenapa?" tanya wanita itu dengan polosnya, hingga ketika tangan Damien meyarap ke mana-mana barulah Jane sadar jika dirinya masih polos dan tanpa sehelai benang pun.
"Sepertinya kita harus menunda agenda keluar hari ini," bisik Damien di telinga sang istri, hangat napas pria itu bahkan bisa Jane rasakan sebab seketika meremang karenanya.
Pria tersebut meletakkan kembali nampan sarapan ke atas nakas dan dengan cepat merengkuh tubuh sang istri yang hanya bisa pasrah ketika berada di bawah kungkungannya.
Sepasang suami istri tersebut kembali memadu kasih, bersama sinar mentari menjadi saksi dan kicauan burung menemani pagi. Tanpa memedulikan cacing di perut yang berdemo meminta diisi, dia lebih memilih mengisi rahim istrinya dengan benih-benih berkualitas miliknya.
To Be Continue.....
Hayooo siapa yang ganggu Jane lewat Telepon??
__ADS_1